Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Sate Kambing!


__ADS_3

Di Perjalanan.


Ferdo tidak berhenti menggenggam tangan Melina. "Sayang, hari ini aku sama kamu temani mama shopping ya,"


"Shoping?"


"Iya. Mama terlihat sedih. Mungkin karena kangen Marsha atau kak Jerr yang sudah meninggalkan kami. Jadi, kali saja mama bisa bersenang-senang saat shopping."


"Oh, iya."


"Mel,"


"Hmmm?"


"Maaf lagi yah"


"Iya ..."


"Mel, kamu tuh bilang iya kok menakutkan gitu si?"


Melina hanya tersenyum. "Aku hanya berusaha tidak menyikapi segala sesuatu dengan cara berlebihan. Aku mau biasa-biasa saja" berterus terang.


"Apa maksudnya itu Mel? Jangan bikin aku sport jantung ah,"


Lagi-lagi, Melina memberikan senyum tipisnya. "Mulai sekarang bersikap biasa-biasa saja. Jangan berlebihan. Biar kalau ternyata kita bukan jodoh, rasanya tidak terlalu sakit."


"Mel, jangan bicara sembarangan. Sebentar lagi kita nikah kan sayang."


"Dari tindakanmu semalam, aku belajar bahwa, perasaan orang bisa berubah kapanpun. Begitu juga dengan kamu."


"Kalau begitu, ayo nikah sekarang, aku pengen kamu mempercayai keseriusanku."


Drrrrt drrrrt drrrrt.


Obrolan menjengkelkan itu pun terhenti karena telpon dari mama.


(Iya ma!)


(Katanya mau ajak mama jalan-jalan? Kok lama?)


(Iya. Ini lagi OTW jemput mama)


(Ya ...)


.


Tiba di kediaman Barata.


"Melina ... kamu datang?" Fema menyambut kedatangan dua orang itu lalu memeluk hangat Melina.


Memasuki Mall.


"Melina, yang ini sepertinya bagus untukmu."


"Silahkan ibuk, saya tidak belanja."


"Mel, kamu boleh ambil apapun yang kamu mau."


"Oh? Tidak perlu. Terima kasih buk,"


Fema pun mendekatkan kepalanya kearah Melina dan berbisik.


"Mell. Saya tau kamu pasti masih kesal sama dia. Ayo balas dia dengan belanja apapun yang kamu mau, biarkan dia yang membayarnya."


Melina menggeleng kuat sebagai jawaban.


"Sayang, kamu mau belanja apa? Pilih saja." Ferdo datang menghampiri dua wanita kesayangannya itu.


"Iya Mel, ayo pilih apa saja yang kamu inginkan"


Melina tetap pada pendirianya, tidak menginginkan apapun. Sebagai orang yang pengertian, mama dan Ferdo berinisiatif membelikan beberapa koleksi fashion yang bagus untuk Melina.


Diperjalanan pulang setelah mengantarkan Melina.


"Fer, sebenarnya mama murung bukan karena abang sama adik kamu."


"Apa maksud mama?"


"Itu karena mama marah sama kamu setelah apa yang mama lihat semalam."


"Astaga Mah, tidak terjadi apapun antara aku dengan mantanku."


'Dengan PDnya aku mengira mama bersedih karena ditinggal dua anaknya itu, ternyata akulah penyebabnya?'


"Iya, tapi mama ikut sakit hati melihat Melina yang menatap tajam kepergian kalian. Kamu tau? Dia sampai mengepalkan tangannya. Dia emosi meskipun dia terlihat tenang. Kalau saja dia wanita bar-bar, dia sudah pasti menyerang kalian berdua."

__ADS_1


"Maaf Mah, aku janji itu tidak akan terulang."


"Kalau kamu sudah komitmen dengan Melina, ya Melina saja. Jangan kecewain anak orang Fer."


"Iya Mah, aku maunya hanya Melina. Aku tidak akan berubah Mah,"


"Lalu kapan kamu ajak Mama Papa ketemu orangtuanya?"


"Segera Mah, tenang saja."


\=\=\=\=\=


Marsha dan Ethan kembali ke kediaman Yared.


Berjalan memasuki istana megah itu dengan langkah ringan.Tak lupa, Ethan menggenggam tangan Marsha. Para maid berbaris rapih serta menunduk membiarkan sejoli itu melewati mereka.


"Papi.... anak kita pulang" seru mami Angel, menyambut kedatangan anak dan menantunya.


"Ciee, pengantin baru. Kesiangan yah, jam segini baru pulang."


Pasangan itu hanya tersenyum simpul.


"Boy, kalian sudah pulang? Istirahatlah dulu, kalian pasti lelah."


"Iya Pi, Mam, kita ... ke kamar dulu yah, ayo sayang."


'Lelah apaan? Kita bahkan hanya tidur-tiduran.' Marsha membatin.


Di Kamar.


"Sha, apa kamu sudah siap?"


"Ahhhh? Siap apa kak?"


"Masih nanya? Bukankah itu yang ada dipikiranmu sejak tadi malam?"


"Hehehehe." Marsha auto tersadar.


Ethan mendekat. "Tiga hari lagi, kita berdua akan berangkat honeymoon ke Hawaii. Menurutku, kita akan menikmati malam pertama itu disana. Apa kamu mau, atau ..."


"Iya kak, lakukan disana saja," Marsha spontan menjawab.


"Baiklah, tapi aku mau pemanasannya sekarang." menarik tangan Marsha lalu ... menyatukan kedua bibir mereka.


"I love you" ucap Ethan, tersenyum.


\=\=\=\=


Di suatu pagi buta.


"Sepagi ini, dimana aku harus membeli sate?"


Jerry tengah membentur-benturkan kepalanya pada stir mobil. Sepagi ini Nagea sudah merengek ingin makan sate kambing.


"Tunggu! Apa wanita itu balas dendam padaku?"


"Aku merasa beberapa hari ini dia sangat kejam. Tadi malam dia meminta makan nasi kuning. Pagi ini dia ingin memakan sate."


"Selalu meminta sesuatu yang aneh-aneh. Apa dia sengaja menyusahkan aku?"


"Sesuka hati minta nafkah batin bahkan ketika aku sedang serius mengerjakan sesuatu atau ketika aku sedang terlelap karena kelelahan. Apa dia memang sengaja? Astaga Nagea, kau sangat kejam."


Jerry merasa benar-benar hampir sekarat. Beberapa hari terakhir ini, sifat istrinya itu benar-benar berubah. Setelah puas bercinta dengannya, dengan kejamnya wanita itu memaksa Jerry untuk pergi membelikan makanan yang aneh-aneh, tidak membiarkan Jerry beristirahat barang sekejap setelah kelelahan bermain.


"Sepertinya aku harus konsultasi ke mami atau mama."


"Arrrgh. Bagaimana jika mereka akan khawatir?"


Pria itu lalu menghubungi teman-temannya yang sekiranya bisa memberi petunjuk.


"Bro, tidak ada penjual sate sepagi ini." hanya itu jawaban yang dilontarkan teman-temannya.


"Apa karena dulu aku menjahatinya, jadi sekarang dia membalasku? Apa ini sepadan?"


Pria itu pun menghubungi Nagea.


Drrrrt Drrrt


"Halo cinta" suara manja istrinya itu menyapa, membuat Jerry tak tega.


"Sayang ... belum ada sate kambing sepagi ini Nagea, biasanya itu dijual pukul 10 menjelang siang hari. kamu sabar ya,"


"Huuaaaa.. hiks hiks hiks" wanita itu malah menangis.


"Sayang jangan menangis."

__ADS_1


'Ya ampun Nageaaa. Ada apa denganmu?' Jerry mengusap kasar wajahnya.


"Tadi malam kamu juga tidak mendapatkan Nasi Kuning. Sekarang giliran Sate kambing juga tidak ada? Cinta ... kamu tega! hii..." kembali terdengar sesegukan tangis.


"Oke sayang, aku akan usaha lagi yah, kalau ada nasi kuning, apa kamu mau?"


"Tidak. Aku ingin sate kambing. Titik."


Telepon pun berakhir.


Ia kembali melajukan mobilnya menuju kediaman utama Barata.


Dengan langkah gontai pria itu memasuki rumah yang sudah berminggu ia tinggalkan itu.


"Sayang? Kamu datang? Tapi kenapa kamu terlihat sangat kusut?" Kedatangan Jerry disambut pertanyaan beruntun dari ibunya.


Sang pangeran ke-1 yang biasanya selalu terlihat tampan di segala situasi itu, kini berubah 180 derajat. Tampang yang sedikit kucel, bahkan sangat terlihat jika dia belum mandi.


"Ma, aku sangat lelah" hanya itu jawaban pria itu, lalu duduk di kursi meja makan.


"Bang, ada apa? Dimana kakak ipar?" Abner pun ikut bertanya.


"Kak, kau kemari segera setelah baru bangun? Atau ... istrimu mengisirmu?" tanya Ferdo.


"Kenapa Jerr? Bertengkar dengan istrimu? Sehingga harus ke rumah ini untuk mencari sarapan?" Tanya papa pula.


Jerry tak berniat sama sekali menjawab pertanyaan dari keempat orang itu.


"Ma, istriku merengek ingin memakan sate kambing. Aku sangat putus asa."


Tug,


Semua mata tertuju pada Jerry.


"Di pagi buta ini istrimu meminta sate kambing?"


"Iya, dimana aku harus mendapatkannya?"


"Chef !" panggil Fema pada koki andalan keluarga itu.


"Iya nyonya?"


"Tolong buatkan sate kambing sekarang juga"


"Siap nyonya."


"Mah? Mama serius? Bisa menyediakan itu?"


"Iya, serius. Apa kamu lupa, adik bungsumu selalu meminta sate?"


"Aaarrrgh! Aku hampir mati kebingungan. Thanks Ma, Mama yang terbaik." Papa, Ferdo juga Abner hanya menggeleng pelan.


Segera pria itu mengambil ponselnya lalu menghubungi istrinya itu.


("Sayang!)


(Iya cintaaa)


(Satenya ada sayang, kamu tunggu ya)


(Benarkah? Trima kasih cinta,)


(Iya, sama-sama)


(Cinta, bisakah satenya delivery aja? Kamu pulang sekarang ya, aku kangen nih, pengen itu-)


(Iya sayang, aku pulang sekarang yah)


Telpon pun terputus.


Jerry dengan cepat memakan sarapan yang tersedia di depannya.


"Jerr, ada apa dengan istrimu?" tanya papa, merasa aneh.


"Kurang tau pah, aku kualahan menghadapinya. Dia tidak berhenti menginginkanku." jawab Jerry, tanpa memfilter kata-katanya.


"Bang, tadi kakak ipar bilang kangen (itu) maksudnya apa?" tanya Abner pula dengan wajah polosnya, membuat Ferdo yang berada di sebelahnya, hampir keselek.


"Berhenti bertanya bocah. Itu Obrolan 21+" Jerry segera bangkit untuk segera kembali ke apartemen. Tak lupa ia menghampiri mama untuk sekedar memeluk wanita itu. "Ma, aku pulang dulu, jangan lupa untuk mengirim sate kambing menyebalkan itu" sambungnya, lalu pergi.


.


.


Bersambung...🙏

__ADS_1


__ADS_2