Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
T A M A T


__ADS_3

...Selamat membaca....


Beberapa hari kemudian.


"Oaaa... sepertinya istriku sudah mulai merubah seleranya. Ya, ini sangat wajar dan normal. Selama ini dia sudah berhemat mati-matian dan sekarang dia boleh menghabiskan berapapun yang dia mau."


Ferdo yang baru saja menyelesaikan pertemuan dengan para manager hotelnya, melangkah kembali ke ruangan sembari menatap layar ponselnya yang mana sejak 30 menit yang lalu, ponselnya itu tak berhenti menerima pemberitahuan dari setiap pembayaran yang berasal dari card khusus untuk belanja sang istri.


"Seleranya memgalami kemajuan pesat. Bagus sayang," gumamnya lagi, setelah membaca list belanjaan Melina.


Drrrrt drrrrt drrrrrt.


Melina memanggil.


"Csssh, dia menelpon? Ayo kita dengar, dia mau bilang apa kali ini."


[Halo ... sayang!] sapa Ferdo.


Melina: [Sayang, aku belanja sangat banyak menggunakan kartu pemberianmu. Tolong jangan marah ya,]


Ferdo : [Iya, aku tidak marah. Kamu boleh membeli apapun sayang.]


Melina: [Kalau begitu, aku mau tarik tunai boleh? Ingin kubagikan ke para pengamen dan pengemis yang aku temui.] dengan nada memohon manja.


Ferdo : [Boleh, Mel.] sembari tersenyum.


Melina: [Makasih sayang, kamu memang baik. Daah,]


Melina pun mengakhiri panggilan.


"Baiklah sayang, lakukan apapun yang kamu inginkan biar tidak melulu memikirkan kegalauan tentang bayi." kembali Ferdo bergumam.


Ferdo lalu melanjutkan pekerjaannya.


Waktu menjelang malam. Melina baru tiba di rumah, berparkir manis di garasi dengan posisi sembarangan.


Wanita itu keluar dari mobilnya sembari meneriaki nama security.


"Iya, non?" Security tersebut mendatangi Melina.


"Tolong bawa belanjaan saya masuk." suruh Melina, membuat kening sang scurity seketika berkerut. Tidak biasanya nyonya muda satu ini mengeluarkan kalimat perintah.


"Maa, Abner!" Sapa Melina begitu tiba di dalam rumah, melihat Abner bersama mama Fema sedang berbincang sembari menonton televisi.


"Mel, baru pulang sayang?"


"Wah, kayaknya ada yang habis shoping nih," goda si adik ipar bungsu.


'Waw.' sang ibu mertua pun terperanjat melihat banyaknya paper bag bawaan menantu keduanya itu.


"Terima kasih ya," ucap Melina pada sang security yang telah membantunya. "Nih, buat bapak, bagikan juga ke yang lain ya," Melina menyerahkan bag berisi beberapa belanjaan, disertai dengan keramahan senyum manisnya.


"Mah, ini aku belikan sesuatu buat mamah," menyerahkan sebuah tas branded original kepada sang ibu mertua.


"Waaaaaaa, Melina, apa kamu serius? Ini tas impian mama loh," Fema berusaha terlihat kagum walaupun hatinya bertanya-tanya, sepertinya menantu yang biasanya selalu berhemat ini sedang kesambet sesuatu. Tiba-tiba pulang dengan membawa banyak sekali belanjaan.


"Kakak ipar, apa di rumah sakit tersedia tempat shopping?"


"Abner, tenang. Ini untukmu, diam dan jangan protes"


"Wah, aku juga kebagian? Sepatu baru? Kak, kau sangat mengerti seleraku. Tunggu, kakak tidak akan meminta bang Ferdo memangkas jatah bulananku kan?"


"Cissh, kau ini. Aku tidak ada urusan dengan itu." sahut Melina.


"Aku pulang!" Ferdo muncul dengan langkah gontai.


"Sayang ..." Melina merentangkan tangan menyambut Ferdo. Tidak malu-malu ia peluk erat suaminya itu.


"Kenapa? Tumben? Apa karena aku bolehkan kamu belanja sepuasnya?" tanya Ferdo.


Melina menggeleng. "Bukan, aku hanya kangen"


"Csssshh. Gombal kan?"


"Bukan. Aku hanya ingin berterima kasih, hari ini aku sangat senang."


"Jadi, dengan siapa tadi jalan-jalan?"


"Sendirian."


"Nakal, tidak ajak suami. Tebar pesona ya?"


Melina malah cengegesan.


"Sayang aku membelikanmu juga. Sini," menyeret Ferdo, duduk bersama.


"Biiiiiik, Juss Buah Naga!" teriak Melina dari ruang tengah.


"Sayang, kenapa si treak-treak?" protes Ferdo, pada Melina. Tak biasanya Melina meminta sesuatu dengan cara kurang sopan seperti ini.


"Biiiiik, buruan. Aku haus ni ...!" Melina kembali berteriak dan tidak memperdulikan teguran suaminya.


Tak sengaja mata mama, Ferdo dan Abner bertemu dan dari sorot mata itu tampak menyimpan sebuah pertanyaan. 'Kenapa dengan Melina?' dan mading-masing dari mereka trrlihat menggidikkan bahu.


"Terima kasih ya bik," ucap Melina setelah mendapatkan Juss buah naga permintaannya, lalu menyerahkan beberapa bag belanjaan untuk si bibik. "?Ini untukmu dan yang lain. Bawalah dan berikan milik mereka juga." ujar Melina. Si bibik pun berterima kasih, merasa senang mendapatkan ole-ole belanjaan dari sang majikan muda.


"Sayang, kamu membelikan untuk semua orang?" tanya mama Fema, dengan wajah tersenyum.


"Iya, mah. Ini buat papa, ini buat baby dan kak Nagea. oia, aku tidak membeli sesuatu buat kakak ipar (Jerry) soalnya, aku tidak tahu mau membeli apa untuknya." jelas Melina, tanpa terbatah.


"Sayang, lagian kamu ngapain kurang kerjaan belanja ini semua untuk semua orang?"


"Lagi pengen aja." jawab Melina, lalu menyerup juss buah naga yang terlihat sangat menggiurkan itu. "Nih, sayang" menyodorkan gelas berisi juss itu mendekati mulut Ferdo.


"Buat kamu aja, Mel." tolaknya halus.


"Oke," Melina pun menghabiskan juss tersebut tanpa sisa.


"Sayang, ke kamar yuk," ajak Ferdo.


"No, sayang. Aku baru aja delivery order beberapa makanan. Aku akan menunggunya."


"Kak Mel, pesan makanan apa?" tanya Abner, bersemangat.


"Pizza, KFC sama BTS Meal." jawab melina sembari terus memeriksa paperbag mencari belanjaan miliknya.


"Kalau begitu, biar aku yang menunggunya Kak, mungkin ... bang Ferdo ingin makanan pembuka dari-mu dulu seperti biasa." tutur si bontot dan berhasil menuai tatapan mematikan dari sang mama.


Tak ingin berdebat dengan sang ibu, Ferdo pun pergi dengan langkah cepat menuju kamarnya dengam senyum tampan khas dirinya.


"Yah udah, Ner, ini uangnya. Kakak akan menyusul abang-mu dulu, ya. Ma ... aku naik dulu." Pamit Melina lalu benar-benar pergi menyusul sang suami.


Mama Fema terlihat mengusap wajahnya. 'Ferdo ini benar-benar, untuk apa kata-kata istilah ditanamkan ke otak Abner?' gumamnya putus asa.


.........


"Sayaaaang."


"Iya Mel,"


"Terima kasih yah karena kamu sudah jadi orang kaya dan menikah denganku." ucap Melina.


"Yah? Bicara apa kamu?" tanya Ferdo, bingung.


"Ya, pokoknya aku sangat senang hari ini, boleh membeli apapun. Sekarang gantian, aku akan bikin kamu senang." Melina membuka bajunya tanpa sungkan.


"Owh, sayang ... apa ... ini?" refleks Ferdo bertanya, melihat Melina yang kini berjalan kearahnya.


"Duduklah," Melina mendorong tubuh Ferdo hingga jatuh terduduk ke kasur dan tanpa basa-basi membuka resleting celana suaminya lalu mulai mengemut sesuatu disana.


"Aaaah," Terdengar desahan Ferdo. "Mel, sayang! Tumben, kamu berinisiatif?" tanya-nya.


"Ini karena aku lagi senang sayang, aku merasa makin cinta sama kamu,"


"Kalau begitu, aaah! Kamu, bersenang-senang aja lagi besok, hmmm?"


"Tidak. Bisa-bisa aku di pecat papa, kalau bolos kerja terus." jawab Melina.


.........


2 Minggu kemudian.


Melina baru bangun dan sepertinya sedang berusaha mengingat-ingat sesuatu.


'Sepertinya ... aku, sudah lama tidak datang bulan. Kenapa aku bisa melupakan itu?'


Segera Melina masuk ke kamar mandi untuk melakukan tes kehamilan melalui tespack.


Benda ramping yang panjangnya sekitar 13cm itu segera ia masukkan ke dalam tas. Melina tidak siap untuk melihat hasilnya saat ini. Ia merasa tidak siap untuk kecewa untuk kesekian kalinya.


"Sayang, kenapa kamu terlihat tegang?" tanya Ferdo yang sedang bersiap untuk berangkat kerja.

__ADS_1


"Tak apa. Sayang, maukah mengantarku kali ini?"


Ferdo mengeryitkan dahi mendengarkan "Sejak kapan aku tidak mau memgantarmu kemanapun?"


"Oke, oke ..."


Siang harinya. Melina masuk ke ruang istirahat dokter untuk beristirahat sejenak.


"Dokter Melina, dari tadi ponsel anda berdering." ucap 2 orang teman sesama dokter yang lebih dulu berada disana dan sedang menikmati makan siang.


Melina pun berjalan menuju ponselnya yang terlihat menyala di atas meja.


'Ferdo?'


Melina pun menghubungi suaminya itu.


[Mel, sayang ... lagi sibuk?] tanya Ferdo setelah menjawab telpon.


[Aku baru saja masuk ruang istirahat, nih]


[Sayang, 30 menit lagi aku tunggu di ruangan papa yah]


[Yah? Mau mgapain sayang?]


[Mau bahas rencana kita dengan papa dan mama. Aku rasa, kita harus memulainya segera sayang.]


[Oke deh, tapi ... saat pemeriksaan dan hasilnya tidak menyenangkan, kamu tidak akan marah kan?]


[Bicara apa sih, aku tidak akan kecewa. Masih ada alternatif lain. Kita ... adopsi saja, di panti asuhan banyak.]


[Oke, oke sayang!]


Setelah suaminya itu menutup panggilan, Melina pun merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Baru saja akan menutup mata, tiba-tiba Melina mengingat sesuatu. Segera ia merogoh tas-nya yang menggantung di sisi ranjang.


Melina menggenggam erat alat tes kehamilan itu, tidak berani membukanya. Beberapa kali ia tarik dan buang napas sebelum melihat hasil yang ada di sana.


"Semoga ... semoga ... semoga ..."


Tak lupa wanita itu berdoa dalam hati, meminta kekuatan untuk bisa menerima kenyataan yang ada.


GARIS DUA berwarna merah terlihat sangat nyata tertera disana. Yang mana membuat Melina seketika membelalakkan mata.


Beberapa kali ia mengucek kedua matanya untuk memperjelas penglihatan.


"Aku ... po ... si ... tif, ha ... mil?"


"Dok? Apa anda baik-baik saja?" Tanya seorang rekan melihat ekspresi aneh dari Melina.


"Dok, sepertinya, saya hamil." Ujar Melina, singkat.


"Ya? Alhamdullilah!" Keduanya pun mendekati Melina dan ikut melihat jelas garis 2 hasil tes kehamilan dari menantu sang pemilik Rumah Sakit tempat mereka memgabdi saat ini.


Mereka pun membawa melina menuju ruang USG untuk memastikannya.


"Dok, selamat ya, anda sekarang hamil muda. Dan ..."


"Dan apa dok?" tanya Melina, harap-harap cemas.


"Ini terlihat kembar tiga"


"Yaaa? Tiga? Maksud dokter, saya mengandung 3 bayi?"


"Benar sekali. Kembalilah periksa bulan depan untuk memastikannya kembali." Saran sang dokter kemudian.


..........


Ferdo tiba di Rumah Sakit sang ayah tersebut tepat 30 menit seperti yang telah ia katakan.


Sementara Melina, wanita itu sudah tiba di depan pintu ruang kerja sang ayah mertua.


Tok tok tok.


Ceklek.


"Permisi dok." Sapa Melina, tetap profesional.


"Mel, masuklah" suruh Juan dengan santai sembari membatin 'Kenapa dia terlihat sangat senang?'


Melina pun melangkah masuk dan duduk manis disana setelah dipersilahkan.


"Mah, bawa apa itu?" Tanya Melina, melihat sesuatu  di tentengan sang ibu mertua.


"Ini makan siang untuk kita berempat sayang." Jawab Fema.


Melina pun membantu menata makanan tersebut.


Keempat orang itu pun duduk di sofa bersamaan, mengelilingi meja yang sudah tersedia makan siang.


"Sayang, kenapa kamu terlihat sangat senang?" Bisik Ferdo.


"Makanlah dulu, berhenti berbisik." Tegur sang mama.


Ferdo dan kedua orang tuanya menyelesaikan makan lebih dulu. Sedangkan Melina sepertinya masih sibuk mengunyah dan terus makan lagi dan lagi.


"Mel, kamu tidak diet kali ini?" Tanya Mama sopan tanpa menyinggung.


"Ma ... aku tidak diet sekarang." Jawab Melina dan terus saja makan.


"Sayang, setelah ini aku ada meeting penting. Kalau nunggu kamu makan bagaimana aku memulai pembicaraan?"


"Fer, kamu mau bicara apa? Langsung saja. Biarkan istrimu makan. Tidak masalah kan Mel?"


"Iya, Pah ... tidak masalah sama sekali. Bicara aja sayang, aku masih ingin makan."


Ferdo pun memulai pembicaraan. Ia utarakan maksudnya untuk memulai program bayi tabung. Tentu saja kedua orangtuanya itu sangat setuju.


"Itu bagus. Kalian coba saja. Siapa tau saja berhasil." Tukas mama dan papa pun mengangguk.


"Sepertinya, aku berubah pikiran. Tidak perlu program bayi tabung."


"Mellll? Apa maksudmu?" - Ferdo mengeryitkan dahi.


"Mel, kamu belum siap sayang?" - Mama.


Sementara Juan hanya diam. Memaklumi.


"Aku ..." Melina sengaja menggantung perkataannya. yang mana membuat sang suami terlihat sedikit kecewa. Wanita muda itu pun mengambil sesuatu dari tas-nya lalu menyerahkannya pada Ferdo.


"Apa ini Mel, garis ... dua?" menatap Melina dengan perasaan campur aduk dan diangguki oleh isterinya itu.


Papa dan Mama pun menatap kagum, heran dan terlihat sangat bahagia.


"Sayang, aku ... akan jadi ayah? Benarkah?" Ferdo kembali meyakinkan perasaannya.


"Iya, itu benar!" jawab Melina, tersenyum bahagia.


"Makasih sayang! Makasih banyak ya," -memeluk Melina erat. "Akhirnya, istriku akan mengandung anakku. Aku sangat senang. Pah, Mah, aku sangat senang."


"Iya Fer. Kau memang terlihat sangat senang." ujar Mama, tersenyum kearah Ferdo.


"Begini Mel, papa khawatir dengan keadaanmu. Bagaimana kalau mulai besok cuti saja. Lakukan aktivitas yang lain dirumah."


"Tapi Pah, aku ...-"


"Sayang ... benar kata papah. Kalau bekerja di rumah sakit, kamu akan terlalu banyak bergerak. Kita takut terjadi apa-apa denganmu." sambung mama pula.


Akhirnya, Melina pun mengiyakan. Selain ini adalah permintaan orang-orang yang menyayaginya, Melina pun sangat khawatir dengan dirinya sendiri, mengingat betapa sulitnya ia untuk memperjuangkan garis dua itu.


MALAM HARINYA.


"Sayang, ada yang mau aku bilang ke kamu."


"Apa itu Mel?" tanya Ferdo yang sedang memainkan rambut sang istri.


"Yang ada di dalam sini," -menunjuk perutnya sendiri. "Ada tiga bayi"


"Yah?" Ferdo terlihat syok. "Kamu jangan bercanda Mel."


"Beneran sayang! Lihat ini." -menunjuk kertas kecil persegi, hasil usg.


"Kamu yakin sayang?" - Ferdo mulai terlihat lebih bersemangat.


"Iya, dokter yang mengatakannya. Tapi jangan beritahu ke yang lain dulu, ya. Ini akan menjadi kejutan buat mereka."


"Ya ampun sayang, Tuhan baik gini ya, sama kita! Aku hebat sayang, bisa cetak sampai tiga." ujar Ferdo, bangga.


Keesokan Harinya, pagi-pagi sekali kak Nagea yang sudah tinggal terpisah bersama dengan suami dan anaknya, datang ke kediaman Barata dan bertemu dengan Marsha yang baru saja tiba di antar oleh sang suami. Kedatangan dua wanita itu tak lain adalah untuk memberi ucapan selamat pada Melina.


"Marsha? Kak Nagea?" -Melina yang tengah sarapan berdua dengan sang suami, terkejut atas kedatangan dua wanita cantim itu.

__ADS_1


"Melll, selamat ya, akhirnya." Mereka memeluk gemas, Melina.


"Eit, stop stop stop. Tolong jangan berlebihan anakku bisa terganggu." Ferdo memperlihatkan keprotektifannya pada sanga istri.


"Ya ampun kak, kita hanya peluk istrimu sebentar." protes Marsha.


"Iya, tapi jangan lama-lama. Ingat perut buncitmu bisa membahayakan perut istriku." sambung Ferdo., sembari mengelus perut sang istri, membuat Marsha dan kaka Nagea menggulirkan bola mata bersamaan.


.....


Hari-hari pun berlalu. Selama kehamilannya, Melina mendapatkan perhatian khusus dari seluruh keluarga. Antusisme keluarga besar terlebih lagi sang suami dalam menantikan kehadiran keturunan baru keluarga Barata itu, membuat Melina merasa sangat dicintai. Wanita itu sangat bersyukur dirinya dikelilingi orang-orang yang baik.


Meskipun, tak jarang Melina terlihat berubah-ubah karakter atau kepribadian yang terkadang terlihat sangat mengesalkan karena memerintah sesukanya pada para pelayan namun ada saatnya terlihat menggemaskan ketika dirinya sudah dalam mode normal. Disamping itu, wanita itu juga makin dikenal memiliki kepribadian yang sangat baik melebihi siapapun, suka berbagi dan menolong banyak orang susah yang membutuhkan. Bukan untuk sehari dua hari, setiap hari ia lakukan itu.


Melihat itu semua, membuat Ferdo curiga bahwa hal itu adalah sifat bawaan dari 3 anak yang sedang dikandung istrinya itu.


Bulan demi bulan pun berlalu.


Putra ganteng kak Jerry memasuki usia 1.6 tahun, dan anak itu terlihat semakin tampan seperti sang ayah, namin wajah tampannya itu lebih mirip sang ibu, Nagea.


Berbeda dengan kak Jerry, Marsha dikaruniai anak perempuan yang sudah pasti sangat cantik. Kini, baby cantik itu berusia 4 bulan.


Ferdo mengumumkan kepada seluruh keluarga besar bahwa hari ini sepertinya anak pertamanya akan segera launching.


Benar-benar kejutan bagi seluruh keluarga dan mereka pun merapat menuju Rumah Sakit dengan penuh semangat, datang memberi dukungan kepada Melina.


Setelah bejuang di dalam ruang bersalin, akhirnya ... anak-anak itu lahir dalam keadaan sempurna, tanpa kekurangan satu apapun.


Ceklek,


Ferdo keluar dari ruangan setelah menggendong ketiga buah hatinya secara bergantian serta mendoakan ketiganya, mengungkapkan syukur dan memohon kesehatan bagi ketiga buah hatinya itu. Dan ibu dari ketiga anak itu, sudah pasti mendapatkan yang lebih dari itu. Berulang kali pria memberi kecupan selamat dan ucapan terima kasih pada sang istri atas perjuangan besar itu.


"Fer, semua baik-baik saja kan sayang?" Mama mendekati putranya yang muncul dari ruang bersalin dengan linangan air mata.


"Ma ... aku ... sangat bahagia" - Ferdo mengusap bawah matanya.


Mengerti akan perkataan Ferdo, mama Fema mendekap putranya dan memberi usapan pada punggung pria itu. "Selamat sayang, kamu sudah jadi bapak."


"Ma, ... terima kasih karena mengajarkanku hal baik selama ini. Aku bertumbuh jadi pria baik karena mama bertahan bersama kami. Ma ... aku berjanji akan menyayangi anak dan istriku. Aku tidak akan mengabaikan mereka dengan alasan apapun."


Suasana haru kini memenuhi seluruh ruang tunggu itu. Semua orang terlihat sangat terharu mendengar apa yang Ferdo katakan.


"Fer, mama percaya kamu bisa. Kamu akan jadi ayah yang baik."


Sang ayah dan kak Jerr pun ikut mendekat dan memberi ucapan selamat pada Ferdo yang bahagianya tak ketulungan saat ini.


"Ferdo, papa sangat bahagia kamu sudah menjadi ayah seperti kakak kamu. Papa sudah bernazar, apabila anak-anak papa yang sudah dewasa ini masing-masing telah dikaruniai buah hati, papa akan membebaskan semua biaya persalinan untuk semua warga dikota ini selama satu tahun penuh mulai hari ini." ujar papa Juan, membuat semua yang berada disana menatapnya kagum.


"Tidak pah, tidak cukup setahun. Aku akan mensponsori niat papa itu selama 3 tahun. Anakku, lahir dalam keadaan selamat dan sehat. Tidak hanya 1 tapi .. aku mendapatkan 3 bayi. Istriku melahirkan 3 bayi."


"Apaaaaa?" pernyataan Ferdo membuat semua orang disekitarnya terkejut. Ini benar-benar kejutan.


"Kau mendapat tiga bayi? Bagaimana mungkin?" kak Jerr terlihat sangat tidak percaya.


"Anakku, mereka 2 laki-laki dan 1 perempuan." terang Ferdo lagi, dengan wajah bangga mengumumkannya.


"Kalau itu benar, aku juga akan sponsori niat papa." sahut kak Jerr kemudian, tak mau kalah.


Abner yang masih remaja itu, tersenyum bangga atas niat baik dari ayah dan dua abangnya. "Kalau saja aku sudah dewasa, aku juga akan jadi sponsor" celetuk Abner, membuat dirinya sontak menjadi pusat perhatian.


"Belajar saja bocah, jangan berandai-andai" sahut Ethan yang berada di sebelahnya. Yang mana membuat semua orang tertawa.


"Kakak ipar, bukankah kau paling sultan disini? Apa tidak berniat jadi sponsor amal itu?" tanya Abner, membalas kakak ipar yang belakangan ini berbaik hati memberi dukungan materi untuknya.


Tak di sangka, pertanyaan Abner padanya itu membuat seluruh keluarga beralih memandang ke arah Ethan, menantikan jawaban pria itu.


"Kenapa kalian semua menatapku? Tentu saja aku akan melakukannya." jelas Ethan kemudian, sembari merangkul adik iparnya, si pembuat ulah hanya dengan mulutnya itu.


Tak lama, pintu ruangan bersalin kembali terbuka. sebuah box baby di dorong keluar dari sana dan benar berisi tiga bayi lucu.


Triple K.


Baby Kenzo, Kinza dan Kanzee.


"Waaa ... mereka mirip kecebong. Sangat kecil.


Bang ! Ini Amazing grace! Hanya dengan sekali melahirkan, istrimu memberimu tiga bayi. Luar biasa, Bang!"


Abner, remaja yang rupanya semakin menawan itu tak henti-hentinya mengagumi kakak ipar cantiknya yang baru saja keluar dari pintu persalinan.


Perkataan remaja itu menuai tertawaan dan kritikan dari para kakaknya.


"Kau ini ada-ada saja Abner, bayi abangmu dibilang kecebong." mama pun menjewer telinga putra bungsunya itu.


"Ma, berhenti menjewer telingaku. Aku sudah menjadi paman dari 5 orang generasi penerus." protes Abner sembari mengusap telinganya yang terasa panas.


Sedangkan Ferdo, pria itu rasanya masih tak percaya bahwa ia benar-benar menjadi seorang ayah dari tiga bayi dalam satu masa yang sama.


"Sayang, ini nyata. Kita sudah menjadi orangtua sekarang. Orang tua dari 3 bayi lucu."


Senyum Melina mengembang melihat betapa menggemaskannya suaminya itu. Ferdo terlihat sangat bahagia. Seolah ada beban berat yang terlepas dari pundak pria itu. Wajah tampannya terlihat begitu legah menatap ketiga buah hati-nya.


Seluruh keluarga itu kini berkumpul untuk mengucapkan selamat buat Melina yang betapa hebatnya melahirkan 3 bayi.


Ferdo pun memgambil potret ketiga bayinya itu lalu mengirimnya keoada sang kakek yang sedang tidak bersama dengan mereka.


....


Di kediaman Barata. Fema dan Juan sedang bersiap untuk beristirahat dari lelahnya bekerja hari ini.


"Mama sayang, apa aku sudah terlihat tua?" tanya Juan pada Fema.


"Kenapa? Papa sayang merasa gugup sekarang? Karena sudah punya 5 cucu?"


"Bukan. Aku hanya ingin tau pendapatmu tentangku." jawab Juan.


"Kau tetap tampan papa sayang. Meskipun usiamu sudah tidak muda. Apa kau menolak tua sekarang?"


"Tidak. aku hanya tidak ingin terlihat sangat tua sementara istriku masih sangat cantik dan awet muda."


"Jangan begitu. Kita hanya terpaut 8 tahun pah. Ini yang dinamakan menua bersama. Hmmm? Tidak terasa anak-anak itu akan tumbuh dan mulai berbicara. Mereka akan memanggil kita kakek, nenek, oma, opa, aku tidak sabar ingin mendengarnya." ujar Fema.


Keduanya menyadari betapa manisnya hubungan mereka sejak awal. Meskipun diawali dengan perjodohan yang dipaksakan, tapi mereka berhasil menumbuhkan cinta dan saling menerima anak-anak masing-masing seperti anak kandung sendiri hingga sampai saat ini, keduanya bersama dalam kehangatan yang selalu bertambah tiap hari.


Ditambah lagi dengan lahirnya jagoan bungsu yang memiliki mulut pedas meresahkan, namun Abner itu sangat sayang keluarga.


Kini, memiliki 3 orang menantu baik hati dan 5 cucu manis menjadi pelengkap kebahagiaan bagi keduanya.


.


.


...Cerita ini akhirnya tamat....


Terima kasih untuk kalian, pembaca budiman. Atas dukungan Like, Komen bahkan hadiah dan vote dari kalian.


Maaf jika author banyak kesalahan.😁


I love you all🥰🥰.


Semoga kita semua senantiasa ada dalam lindungan yang kuasa.


Jangan lupa untuk selalu mematuhi protokol kesehatan ya🥰.


.


.


Yuk guys, ikutin cerita othor yang lainnya.😊


karya on going👇



Udah 60an part loh. 👆.


Satu lagi. karya tamat othor👇


Karya pertama yang menguras air mata banget🤭 👇



yuk ikutin, dan semoga kalian suka ya..😁


.


.


Sekali lagi, terima kasih guys😊😊😊😊


Good bless🙏

__ADS_1


__ADS_2