Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Rasa Ini


__ADS_3


🤩🤩🤩🤩🤩🤩🤩🤩


Ferdo tak tinggal diam. Pria itu bahkan menyibukkan papa Juan untuk mencari tahu keberadaan kekasihnya.


Beberapa menit menunggu, papa Juan kembali menghubungi Ferdo dan menyampaikan bahwa menurut informasi dari stafnya yang mengurus mahasiswa magang, Melina saat ini sedang cuti karena sakit.


"Jadi infonya, dia saat ini sedang menjalani operasi pengangkatan kista di RSUD, Ferdo."


"Apa? Dia sakit? Kenapa dia tidak cerita denganku?"


"Ya mana papa tau, kamu yang pacarnya saja tidak tahu, apa lagi papa, Tapi apa dia meragukan rumah sakit kita? Kenapa harus ke RSUD?"


"Biasalah Pa, dia pasti memgandalkan BPJS. Haaaiizzz! Melina benar-benar membingungkan"


"Sudah, tidak perlu resah. Segera pulang saja pagi-pagi besok. Pamit pada adikmu. Tapi ..."


"Tapi?"


"Jangan katakan pada adikmu tentang Melina. Nanti dia bisa khawatir."


"Baiklah Pa."


Panggilan pun berakhir. Ferdo terpaksa menugaskan sekertarisnya untuk memantau keadaan Melina.


'Mel, Mel ... gadis yang aneh! Setidaknya dia harus merengek padaku jika sedang sakit.'


\=\=\=


Dikamar lain. Nagea hanya seorang diri dikarenakan suaminya sedang keluar bersama Ethan.


'Apa sebenarnya yang aku inginkan? Apa aku benar-benar harus kembalikan rasaku padanya? Kenapa juga papi sama mami sangat mudah menerima dia jadi menantu mereka? Kenapa?'


'Baiklah, aku akan mencoba pelan-pelan buka hati aku lagi untuknya. Tapi perlahan saja, sambil memastikan semuanya aman dan akan baik-baik saja.'


Ditempat lain.


"Bang Jerry. Tumben sekali kau mengajakku menum bersama? Kau tidak seperti dirimu."


"Ethan ... Bukankah kita harus akrab? Kau bukan hanya sahabat adikku sekarang, tapi... juga calon adik iparku."

__ADS_1


"Iya bang, syukurlah, aku legah kau sudi menerimaku sebagai adik ipar."


"Kau adalah pilihan terbaik untuk adik kecilku itu" Jerry kembali meneguk soju (bir khas korea) yang dari tadi mereka nikmati.


"Terima kasih bang, aku ... akan berusaha menjaganya sepanjang hidupku."


"Ethan, kata orang, ketika kita sebagai laki-laki menyakiti wanita, maka hal itu akan dibalas pada adik perempuan kita. Itulah yang aku khawatirkan akan terjadi pada Marsha."


"Bang, sepertinya ... kau sudah mabuk. Bicaramu mulai aneh."


Jerry tersenyum lalu menunduk. "Ethan ... jika suatu saat adikku melakukan kesalahan, tolong jangan pernah menyakitinya. Atau ketika perasaanmu sudah tidak sama dan ingin berakhir dengannya, kembalikan saja dia baik-baik."


"Bang, ayo kita pulang. Istrimu pasti khawatir padamu. Lagi pula apa yang kau katakan ini? Seharusnya kalimat ini kau katakan saat proses pernikahan kami."


"Ethan, apa kau ingin mendengar cerita masa kecil kami? Aku akan menceritakannya jika kau mau dengar."


"Ceritakan saja bang, tidak ada yang tak ingin aku dengar tentang Marsha" Ethan lalu melipat kedua tangannya di dada, siap menyimak.


"Dulu, saat dia dan mama masuk ke keluarga Barata, baik aku, Ferdo dan Papa sangat tidak menyukai akan hal itu. Papa dan mama kami itu dijodohkan. Saat itu kami tinggal di apartemen. Aku begitu tak menyukai dia. Tiba-tiba saja aku harus menjadi seorang kakak dari gadis yang sangat kecil berusia 8 tahun, sementara aku sudah berusia 14 tahun."


"Aku dan Ferdo sering membuatnya menangis, tapi dia tidak pernah mengadu pada mama papa apa yang kami lakukan. Dia menuruti semua yang kami minta hanya karena sebuah pengakuan sebagai adik kami -"


"Bang! Kalian, kurang ajar sekali kalian berdua menjahati calon istriku?" Ethan memotong seenaknya cerita itu dengan kalimat bentakan. Rasanya sedikit tersulut emosi mendengarnya.


"Adikku itu bahkan setiap malam datang ke kamarku untuk menanyakan perihal pelajaran Matematika. Padahal aku tahu, dia adalah murid yang pintar. Dia selalu mendekati kami hingga kami terbiasa dengan sikapnya. Dia selalu bersikap manja saat kami tidak berbicara dengan nada sinis. Saat kami berdua mengaktifkan mode tak bersahabat, dia selalu bertingkah lucu."


"Beberapa bulan berlalu, perasaan kami mulai berbeda. Aku dengan Ferdo bahkan merasa ketergantungan dengan masakan buatan mama, susu hangat terenak setiap malam, kami selalu menunggu mama mengantar susu hangat ke kamar setiap malam."


"Semakin hari, kami semakin akrab dengan mereka. Aku dan Ferdo semakin menyukai mereka berdua. Terutama papa, papa juga semakin harmonis dengan mama."


"Dan beberapa tahun kemudian, adik yang sangat kami sayangi itu menghilang. Dia menghilang entah kemana. Dari situ aku mulai melakukan sebuah kesalahan. Aku menyalahkan Nagea atas itu. Tanpa menyadari jika akulah yang harus diasalahkan karena tidak menjaga adikku."


"Sepertinya, kisah istrimu akan dimulai. Oke, lanjut bang."


"Aku menghukum dan menyakiti Nagea sesuka hatiku. Dengan tanganku sendiri aku menyakiti dia dan terus menuduhnya telah membuat adikku menghilang. Hingga dia kabur, melarikan diri dariku selama 5 tahun. Setelah kepergiannya, aku bertambah kacau. Aku merasa ada yang hilang lagi dariku. Aku marah tanpa menyadari kalau sebenarnya aku sudah jatuh cinta pada Nagea." Jerry mulai menitikkan air mata.


"Aku, membenci hidupku dan mulai bermain dengan dunia malam, gonta ganti jalang menenemani tidurku. Saat aku bersama mereka, yang ada dipikiranku hanya Nagea dan Nagea."


"Bang, kau... adalah mantan penjahat? Sulit dipercaya."


"Aku terus memerintahkan orang-orangku untuk mencari Nagea. Hingga suatu saat, Nagea muncul lagi dan aku kembali menyeretnya ke dalam kehidupanku. Hingga pada hari itu, aku mulai menyadari bahwa aku jatuh cinta padanya, tapi ... ternyata dia sangat membenciku sampai hari ini."

__ADS_1


'Waaa.. jangan bilang kalian bahkan belum pernah melakukan malam pertama? Atau kah kau telah memperkosa istrimu?'


"Itu yang aku maksudkan. Jangan pernah menyakitu adikku Ethan, jadilah suami yang baik untuknya"


"Iya bang, tapi kami bahkan belum menikah. Terlaku awal untuk mengatakan itu padaku."


"Baiklah, ayo kita pulang Ethan. Aku sudah mengantuk."


Keduanya pun beranjak kembali ke rumah.


Tiba di kamar, Jerry memandang istrinya yang sedang tertidur. ia pun merebahkan tubuhnya disamping Nagea, lalu memeluknya.


'Apa yang dia lakukan? Dia sedang mabuk.' Nagea yang ternyata hanya berpura-pura tidur dapat mencium aroma soju dari hembusan napas suaminya itu.


"Nagea sayang, I Love you. Maafkan aku sayang."


"Itu terus, aku sudah mendengarnya 999 kali. Jangan bicara lagi. Tidurlah. Jangan bicara ngelantur."


Tak terdengar lagi lanturan Jerry, Nagea begerak keluar dari pelukan hangat itu. 'Kau bahkan tidak melepaskan sepatumu.' Nagea terpaksa beranjak untuk melepaskan sepatu suaminya.


Selepas itu, Nagea keluar kamar untuk mengambil air minum.


"Nagea, kau belum tidur?" Ethan yang sedang duduk menyendiri di ruang makan.


"Ethan? Kau sendiri kenapa jam segini belum tidur?"


"Aku sedang susah tidur. Suamimu pasti sudah tidur ya?"


"Iya. Kenapa kau membuatnya mabuk?"


"Dia yang mengajakku tapi aku tidak minum banyak. Dia saja yang minum sampai mabuk. Sepertinya ... dia sedang frustasi Nagea."


"Frustasi?"


"Jangan terlalu mengabaikan dia Nagea, ingatlah bagaimana dulu kau menyukai dia. Sekarang saatnya untuk mendapatkan cintanya."


"Cssss. Kau ini, kau terlalu banyak bicara Ethan" Nagea pun berlalu kembali ke kamar membawa secangkir air mineral.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2