
Malam mulai menyapa.
Dengan perasaan tidak sabaran Fema menunggu kepulangan Juan.
"Papa pulang.." Juan memasuki istana keluarganya dan langsung mendapati istrinya yang sedang mondar-mandir seperti setrikaan panas, tidak bisa diam. Sampai-sampai wanita itu tidak menyadari kedatangan suaminya.
"Mama sayang..!"
"Eh...Papa sayang, sudah pulang?" Fema menyambut suaminya dengan wajah bahagia penuh. Sudah persis ekspresi wajah orang yang baru saja melunasi cicilan mobil. Legah.
Juan menjulurkan satu tangannya siap mendapatkan kecupan salam dari sang istri. Tapi, ternyata kenyataan melebihi harapan. Fema mendekati suaminya dengan setengah berlari dan langsung memeluk erat, sedikit meloncat-loncat bahagia dan terus memeluk suaminya.
"Hei.. apa yang membuat istriku sangat senang kali ini?" Juan tak mau asal menebak lagi.
"Seperti ini dulu sayang..." masih memeluk erat.
"Sayang, disini ada pelayan. Mama sayang tidak malu?" Juan lalu membalas pelukan.
Fema hanya menggeleng dalam pelukan suaminya.
"Lihatlah.. mereka berbisik. Pasti sedang membahas kita." Canda Juan. Padahal mana berani mereka bertindak seperti itu, para pekerja di rumah ini sangat sopan dan segan karena menghormati majikannya.
Tapi, ternyata Fema tak peduli. sepertinya dia memang benar-benar merasa senang.
Keduanya tak menyadari ada 3 pasang mata anak-anak itu yang tak sengaja menyoroti mereka, ketika anak-anak itu kebetulan menuruni tangga bersamaan.
Upsss.. Ferdo spontan menutup mata Marsha. menurutnya, anak kecil ini tidak boleh melihat pemandangan ini. Begitu juga dengan Jerry yang reflek menutup mata Ferdo dengan telapak tangannya.
"Kak.. kenapa kau menutup mataku?" desis Ferdo pada Jerry.
"Kau juga masih dibawah umur."
"Lalu, siapa yang menutup matamu?"
"Aku sedang merem." jawab Jerry.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Ferdo lagi. Sementara Marsha, anak itu hanya diam dengan matanya masih tertutup oleh tangan kak Ferdo.
"Berbalik, kembali ke kamar masing-masing!" perintah Jerry.
"Baiklah kak" Ferdo dan Marsha menyetujui.
\=\=\=
"Papa Juan pasti menyayangi mama" Batin anak perempuan itu senang saat tiba di kamarnya.
"Jadi, mama tidak akan meninggalkan kami? buktinya tadi berpelukan sama papa.! Yes... yes... yes..." Ferdo tak kalah berjingkrak-jingkrak di samping tempat tidurnya.
Jerry, anak itu berbaring di atas kasur empuknya. Memikirkan pemandangan yang tadi dilihatnya, hatinya merasa sangat senang. "Mama... Papa.. teruslah seperti itu.. teruslah bersama." gumamnya.
...........
Keluarga Barata itu kini menikmati makan malam bersama. "Jadi, bagaimana Juan, Fema.. apa rencana kalian setelah berpisah? Tanya kakek Mahendra tiba-tiba.
Tek.
Sendok dan garpu yang tadinya saling bertubrukan kini terhenti. Juan dan Fema tampak bingung, karena merasa hal ini sudah kelar tak perlu dibahas lagi. Berbeda halnya dengan dua remaja itu yang nampak sangat tegang.
Melihat itu, kakek Mahendra melancarkan serangannya. "Meskipun sudah berpisah, jangan buru-buru melupakan kami ya Fema, Marsha!"
Marsha terlihat sangat santui, menikmati makanannya.
"Kenapa anak kecil ini tidak merengek? Biasanya dia akan langsung menangis karna tidak mau pisah dengan papa!" (batin Ferdo)
"Apa Marsha tidak apa-apa berpisah dengan papa?" (Jerry membatin)
__ADS_1
Jerry dan Ferdo sama-sama berharap rengekkan Marsha saat ini. Menurut keduanya, hanya Marsha yang bisa menggagalkan perpisahan kedua orangtuanya. Oke, mungkin si mama sudah mengatakan jika dia tidak akan meninggalkan mereka, tetapi kedua anak itu lupa memastikan perasaan ayah mereka.
"Pah.. jangan bahas hal itu di depan anak-anak. Tidak baik" tegur Juan pada Mahendra.
"Apa? Jadi Papa mau pisah?" tanya Ferdo dengan nada meninggi.
"Kakek!.. Papa dan Mama tidak akan berpisah!" Sahut Jerry, datar.
"Bukankah kalian berdua senang?" tanya kakek pada kedua anak itu.
"Dan kalian berdua, hanya perlu menandatangani surat perceraian. Aku sudah mengurusnya." sambung si kakek tua itu lagi kepada Juan dan Fema, yang tentu saja membuat dua remaja itu bertambah kesal.
"Haaaizs" Kedua remaja itu menghempaskan sendoknya dengan kasar, lalu berdiri, pergi meninggalkan ruang makan dengan perasaan marah.
Kakek dan Marsha malah tos-tosan kegirangan berhasil mengganggu ketentraman hati dua ABG labil itu.
"Pa... Kalian berdua!" serentak Juan dan Fema meninggikan nada karena menyadari kejahilan Mahendra dan Marsha.
Suami istri itu segera menyusul dua remaja yang sedang kesal itu. Jangan sampai restu berharga dari dua bocah itu menghilang ditelan kemarahan.
Keduanya berbagi tugas. Fema menemui Jerry sedang Juan menemui Ferdo.
Setelah berusaha menjelaskan keadaan yang sebenarnya, akhirnya kedua anak itu mengerti dan sudah tidak kesal lagi. Lebih tepatnya, keduanya merasa legah.
Kakek juga datang dan menjelaskan maksudnya, bahwa dirinya ingin kedua anak itu mengakui keberadaan mama tiri mereka itu. Kakek sengaja agar keduanya menyadari perasaan mereka terhadap mama tirinya itu.
...........
"Sayang, aku benar-benar legah.. anak-anak itu akhirnya mengakuiku sebagai ibu mereka."
"Iya sayang.. aku mengerti perasaanmu. Kau sudah puluhan kali mengatakannya." jawab Juan cuek.
"Ternyata kau bosan mendengarnya!" gumam Fema, lalu masuk ke dalam selimut, siap untuk tidur.
"Jangan tidur dulu.." Juan ikut masuk kedalam selimut dan sudah pasti mengganggu ketenangan istrinya. Menyentuh, meraba bagian manapun yang dia inginkan.
"Terserah papa sayang.. aku sedang lelah. Aku tidak ada tenaga untuk melawan."
"Tok tok tok..
"Papa...."
"Sayang, pangeran kedua panggil tuh,"
Juan membuang napasnya kesal "Ferdo, mau apa lagi dia semalam ini?" Juan mendengus.
Ceklek.
"Ada apa boy???" Melirik bawaan Ferdo. "Apa maksudmu membawa bantal dan selimut ke kamar papa?"
"Pa.. boleh ya, tidur bareng mama sekali aja." mohonnya.
"Ap-- apa?..."
Ferdo pun masuk ke kamar papa tanpa dipersilahkan.
"Fer?? Ada apa sayang?" tanya Fema.
"Cuma mau merasakan tidur disamping mama malam ini saja!"
"Eh?" Fema sedikit terkejut.
'Tadi sudah di masakin, disuapin, sekarang dia minta dikelon? Dia benar-benar seperti bayi? '
Juan dan Fema hanya diam. Ferdo jadi salah tingkah. "Jadi tidak boleh ya?"
__ADS_1
"Tentu saja boleh Fer.. sini, disebelah mama" melirik Juan sebentar.
"Ferdo, papa biarkan asal malam ini saja."
"Iya papa.. janji.."
Akhirnya, ketiga orang itu tidur di ranjang yang sama dengan posisi Fema ditengah keduanya.
Tok tok tok..
"Pa... Ma...."
Fema yang kebetulan masih terjaga, mendengar panggilan dan ketukan pintu. "Sayang... sayang.." mencubit-cubit tangan yang sedang memeluknya.
"Apa lagi...!"
"Papa..." suara Jerry terdengar.
"Pangeran mahkota memanggilmu Pah!"
Juan kembali membuang kasar napasnya.
Ceklek. Penampakan serupa tersuguhkan di hadapannya.
"Boy? Marsha? Ada apa?"
"Anak kecil ini yang memaksaku ke kamar papa." Jerry menjawab membuat pembelaan, melirik Marsha.
"Pa.. kak Ferdo nginep di kamar ini kan? Kita berdua juga mau ikutan." ucap Marsha apa adanya.
Akhirnya Fema menghampiri tamu tengah malam itu. "Masuklah.. kalian berdua sudah bawa bantal."
"Ingat, kali ini saja kalian boleh tidur disini. Cukup malam ini" tegas Juan.
Fema dan Juan akhirnya mengalah, membiarkan ketiga anak itu menguasai ranjang besar yang menjadi saksi percintaan mereka selama ini. Alhasil, keduanya memilih menggelar bad cober sebagai alas tidur di lantai.
Saat mentari kembali menyapa, Marsha menggeliat dalam tidurnya. Namun, anak itu merasa ada benda yang sangat berat menimpa kakinya hingga sulit untuk digerakkan.
Saat membuka kedua matanya, Marsha terkaget mendapati kaki kedua abangnya itu sedang menindis kakinya. "Kakaaaaaaaaaak" teriak Marsha kesal.
"Anak kecil, diamlah. Ini masih pagi buta. Jangan teriak-teriak" dumel Ferdo dengan suara malas.
"Eh? Kenapa kak Jerry sama Marsha tidur bersamaku? Dimana Mama?"
"Kakak, singkirkan kaki kalian, beraat" keluh Marsha.
####
Setelah melalui latihan dalam beberapa minggu ini, akhirnya tiba juga saatnya turnamen bela diri antar siswa dari tiap-tiap sekolah akan dimulai.
Fema mengatakan pada suaminya agar turut hadir untuk menyaksikan pertarungan yang akan diikuti oleh putra sulungnya hari ini.
"Mama sayang, aku usahakan akan datang. Tapi kamu bersedia kan hadir lebih dulu, biar anak itu merasa kita mendukungnya dan bersemangat! Aku tidak ingin melihatnya kalah!"
"Pah.. kamu terdengar egois.. anakmu memang jago karate. Tapi, yang namanya pertandingan akan ada yang menang dan ada yang kalah."
"Iya sayang.. aku akan aku mengerti. Tapi aku tidak ingin anakku terkalahkan."
🙄"Kau ini benar-benar"
.
.
.
__ADS_1
Bersambung......