
Tok tok tok.
"Akhh... anak itu benar-benar datang!" Kembali Jerry mendumel.
Ceklek.
Tersuguhkan Wajah cantik dengan senyuman penuh dari adik perempuannya itu begitu pintu terbuka.
"Kau benar-benar ingin tidur di kamar ini?" tanya Jerry tanpa mempersilahkan adiknya itu masuk.
Marsha menjawab dengan anggukan semangat, membuat Jerry tak tega mengusirnya.
"Masuklah, tapi kali ini saja" suruhnya.
'Punya adik perempuan manja sepertinya ternyata sangat berpotensi menggagalkan malam pertamaku.' kesal Jerry dalam hati, dengan PDnya membayangkan bisa menikmati malam pertama dengan istrinya malam ini.
"Hai kak Nagea!" sapa Marsha kepada kakak iparnya yang sepertinya sudah bersiap untuk meluruskan badan diatas kasur. Nagea pun menyapanya balik.
Ia seret lengan abangnya itu untuk naik ke atas tempat tidur. "Kak Jerr di tengah ya."
"Tidak, aku akan tidur di sofa itu" sembari menunjuk sofa yang ia maksud. "Untuk apa aku tidur diantara dua wanita?"
"Yah, kakak, kan aku pengen tidur bersama kakak sebelum aku menikah dengan kak Ethan!" Marsha memanyunkan bibirnya.
Terpaksa Jerry menuruti adiknya itu.🙄
"Menikah? Apa kau sudah kurang waras? Mana ada anak-anak boleh menikah!" protesnya.
"Anak-anak? Aku sudah dewasa kak,"
"Memangnya tidak ada hal yang ingin kau lakukan selain menjadi istri orang itu?"
Marsha menggeleng. "Aku akan menikah dengan kak Ethan, punya anak-anak dan hidup bahagia."
"Lalu bagaimana janjimu untuk melanjutkan posisi Papa di rumah sakit?"
"Jadi dokter? Aku sudah tidak ingin jadi dokter. Aku sudah tidak mau pusing memikirkan pelajaran."
Lama kakak beradik itu berbincang, Nagea hanya jadi penyimak dan akhirnya tertidur.
"Tidurlah, jangan bicara lagi. Nanti kakak iparmu terganggu."
Jerry pun hanya berbaring dalam posisi terlentang. Andai saja tidak ada adiknya ini, pria itu pasti sudah berbalik dan memeluk istrinya. 'Marsha benar-benar pengganggu' kesalnya.
Dua jam kemudian. Nagea terbangun. Dilihatnya penampakan yang kurang mengenakkan. Dimana adik iparnya, tertidur sambil memeluk lengan suami yang mulai disukainya itu. Belum lagi kaki mulus gadis itu berada diatas kaki suaminya.
Ia berikan gulingnya untuk di peluk oleh Marsha.
Saat kembali membaringkan tubuhnya, suaminya itu berbalik dan membuka mata. "Hai sayang." bisiknya.
Degh~
'Dia terbangun? '
__ADS_1
Karena gugup, Nagea berbalik memunggungi Jerry.
"Hei ... lihat aku." Memaksa tubuh istrinya kembali berhadapan dengannya.
"Kamu cemburu sama adikku sekarang?" goda Jerry, lalu menarik Nagea masuk ke pelukannya.
"Aku ingin tidur dengan memeluk istriku."
Mendengar itu, Nagea tersenyum dalam dekapan suaminya itu. 'Ya ... harus seperti ini. Peluk aku saat tidur.' Nagea lebih memilih menikmati dekapan hangat itu dari pada membalas perkataan suaminya.
Disisi lain, ada Marsha yang tengah berpura-pura tidur dan kini memunggungi pasangan itu. Perasaan gadis itu sangat senang mengetahui kemajuan dari hubungan kakaknya itu dengan sang istri. 'Terima kasih kak Nagea, aku pastikan kakakku tidak akan mengecewakanmu setelah ini '
Gadis itu pun mulai menutup matanya untuk menikmati tidur yang sebenarnya.
Keesokan harinya.
Marsha bangun lebih awal dari pada sejoli itu. Gadis itu pun keluar dari kamar adem yang terasa penuh kehangatan itu.
"Sha? Kamu dari mana?" tanya mama yang baru saja keluar dari kamar putrinya itu dan tercengang melihat si Tuan Putri berjalan memeluk bantal dan selimutnya.
"Dari kamar kakak Mah," jawabnya cuek.
"Kakak siapa?" tanya Mama, memicingkan mata.
"Dari kamar kak Jerry Mah," menjawab dengan nada santainya.
"Kamu, dari kamar kak Jerry?" tanya mama lagi, dengan tatapan tak percaya, sembari mendekat kearah putrinya itu.
"Aaaakkkh aaak... akh akh akh.. Mamaaaa.. sakit.. awhw!" Marsha mengadu kesakitan, mendapat jeweran mama di telinga berharganya itu.
"Awh... akh... to-tolong, mama ampun,"
"Ma ... stop." Ferdo datang dan menarik tangan nakal ibunya itu.
"Mama kenapa? Kok adikku dijewer?"
Ferdo benar-benar meninggikan suara terhadap ibunya itu.
"Kakak, sakiiiit" Adu Marsha, memegang kupingnya yang memerah.
"Itu karena dia jahil merusak kebahagiaan pangeran kesatunya mama."
"Apa maksud Mama? Memangnya kak Jerry kenapa?" Ferdo menarik adiknya itu untuk memeluknya.
"Sudah tau si abang baru baikan dengan istrinya, adik kamu ini malah kurang kerjaan ikut nimbrung ke kamar mereka. Makanya mama kesal."
"Ya ampun Ma, lagipula mereka tidak keberatan, kenapa mama jadi marah? Lain kali jangan seperti ini lagi ke Marsha Ma. Aku tidak akan membiarkan siapapun membuat adikku meringis kesakitan. Mama pahamkan maksudku?"
"Fe-fer, kamu bentak mama?" tanya Fema, menunjuk dirinya sendiri.
"Ya bukan begitu juga Ma, tapi kan-"
"Siapa bilang aku tidak keberatan? Aku merasa akan gila karena dia sangat mengganggu malam berhargaku." Kak Jerry tiba-tiba muncul dengan wajah bantalnya.
__ADS_1
"Ada apa ini?" hadir pula papa Juan bersamaan dengan si bontot yang sepertinya masih berusaha mengumpulkan kesadarannya di pagi buta ini.
"Pah ... anak gadis ini, dia mengganggu malam pertama abangnya." adu sang Mama ke suaminya itu.
"Apa itu benar Jer? yang mama bilang?" tanya Papa pada Jerry.
"Iya, benar, dia datang ke kamar kami ingin tidur bersama." Jerry melapor.
"Kakak, tapi kan aku sudah janji sekali saja, kenapa kakak marah sekarang?"
"Itu supaya kamu tidak mengulanginya Sha."
"Lalu kenapa kakak tidak mengusirku tadi malam? Kenapa sekarang baru bilang keberatan?"
"Itu karena kakak sayang kamu. Mana tega kakak mengusirmu."
"Ya sudah, Sha, berjanjilah tidak mengulanginya." titah papa, dan Marsha sudah pasti mengiyakan.
"Tunggu-tunggu, apa yang diributkan ini? Apa itu malam pertama?" Abner bertanya dengan wajah polosnya.
"Astaga, papa sampai lupa, disini ada bocah. Abner, malam pertama itu sama dengan bulan madu." jelas Papa, singkat.
"Dan kalau abang kamu berhasil malam pertama, artinya kau akan segera jadi paman. Kau mengerti?" jelas Mama pula.
"Ada apa ini?" sang menantu satu-satunya itu baru keluar dari kamar dan sedikit bingung kenapa keluarga ini sudah nampak tegang sepagi ini.
"Selamat pagi kakak ipar! Kembalilah lagi ke kamar, lanjutkan malam pertama bersama bang Jerry. Aku ingin segera menjadi paman." sapaan berujung perintah itu keluar dengan polosnya dari bibir menyebalkan si bontot.
"Aaah? Eh? Apa maksudnya?" Nagea nampak sedikit menahan malu.
"Yah sudah bubar. Mama mau bikin sarapan." Mama berusaha menyudahi drama pagi itu sebelum terlanjur jadi runyam.
"Tapi mama belum minta maaf pada adikku."
Kalimat yang berasal dari kak Ferdo itu terpaksa membuat mama menghentikan langkah.
"Ya sudah Sha, mama minta maaf ya sayang, berjanjilah tidak membuat mama kesal setelah ini."
"Iya Mah," jawab Marsha, patuh.
.
"Sayang, mau kemana? Karena baru di bahas, aku jadi ingin menyeretmu ke kamar" Jerry menahan istrinya yang hendak menyusul mama untuk membuat sarapan.
"Jangan gila, ini sudah pagi."
"Jadi nanti malam sudah boleh?" bisiknya lagi.
.
.
Bersambung
__ADS_1