
Beberapa hari kemudian.
HAWAII.
Destinasi wisata terfavorit di seluruh dunia ini, memang memiliki sejuta pesona yang menakjubkan. Salah satunya adalah wisata pantainya yang eksotis.
Wisata Pantai Waikiki menjadi pilihan pertama bagi Marsha dan Ethan untuk menikmati masa bulan madu mereka. Sembari menunggu sunset, kini keduanya sedang berjemur ala-ala orang kulit putih, setelah tadi sempat menceburkan diri.
Matahari yang mulai tenggelam memang sangat dinanti-nantikan sebagian orang. Pesona sunset yang memberi kesan romantis sangat disukai, apalagi mereka yang datang dengan pasangan.
"Sayang, aku juga mau seperti mereka." Marsha menunjuk beberapa orang yang berpasangan.
"Oke, boleh sayang," tanpa ragu Ethan mendekatkan wajanya dan menahan tengkuk Marsha, menyambar bibir cantik istrinya itu, melakukan kissing seperti yang sedang dipertontonkan oleh pasangan lain.
'Bukan ini maksudkuuu' teriak Marsha, namun dalam hati saja. Ia pun turut larut dalam hot kissing itu, saling bertukar saliva dan bertempur lidah dengan suaminya. Mereka berdua, sangat menikmatinya, sehingga sepertinya tidak ingin saling melepaskan.
"Sayang, ayo kita lanjutkan ini di hotel," Ethan berbisik.
Marsha tersenyum malu, lalu mengangguk pelan.
Hotel Halekulani.
Disinilah kedua insan itu menginap selama berbulan madu.
Masuk kedalam kamar hotel, keduanya pun membersihkan diri bersama. Untuk pertama kalinya sejak menikah, pasangan ini mandi bersama.
"Buka saja sayang, jangan malu. Aku kan suami kamu," Ethan dengan santainya melepas semua yang melekat di tubuhnya.
'Astaga, dia tidak tahu malu' Marsha membuang pandangannya ke arah lain, lalu memilih mencuci wajahnya terlebih dahulu.
Ide jahil terlintas di pikiran Ethan untuk mengerjai Marsha.
Pria itu pun masuk ke dalam bathup yang dipenuhi oleh taburan bungan aromatherapi.
"Sha, awas ada cicak!"
"Aaaaa, cicak, mana, mana mana cicak?" Tanpa sadar, Marsha sudah berada di atas suaminya itu, yang sedang dalam posisi nyaman.
Ekspresi panik Marsha sontak ditertawai oleh Ethan.
"Kenapa tertawa?"
"Kau terlihat sangat imut sayang."
"Apa?"
"Sha, tidak ada cicak. Aku hanya bercanda." Ethan kembali tersenyum menahan tawanya.
Menyadari kejahilan suaminya, Maraha mencubit gemes kedua pipi suaminya itu."Hiiiiiiii, jahat ya"
"Sengaja, biar kamu kesini." menahan pinggang istrinya.
"Nakal ya,"
"Ayo buka, kayak aku!"
"Hiiii! Malu!"
__ADS_1
"Ah, yang bener? Malu apa mau?"
"Yaaaaak! Kamu yah" sembari menutup wajah.
"Sha, ayolah sayang!" Tangan mulai nakal, menjelajah. Ia tahan pergerakan istrinya dengan segera menyerang bibir manis yang terlihat sangat menggoda itu.
Menyadari istrinya yang sudah larut dalam permainannya, ia pun tersenyum dan entah bagaimana, kini tubuh mereka sudah sama-sama polos.
"Ayo buka segel sayang" bisiknya, menggoda. Marsha hanya tersenyum manja.
Segera ia gendong istrinya itu keluar dari sana menuju ring tempat pertempuran sesungguhnya.
"Sayang!"
"Hemmm?"
"Menurut yang aku baca, akan terasa sakit saat pertama kali-"
"Iya sayang, aku akan pelan-pelan!"
Dan ... terjadilah, malam pertama untuk pasangan itu.
\=\=\=\=
Di tempat lain.
Jerry tengah memimpin rapat dengan para investor untuk membahas tentang rencana pembangunan hotel cabangnya yang akan di bangun di salah satu kota yang terletak di NTT. (Jauh banget bang).
Ponsel pria itu tiba-tiba bergetar dan menampilkan nama istri tercintanya sedang memanggil. Dengan santai pria itu membalik ponselnya agar tidak mengganggu.
Di ruang kerja Jerry.
Nagea sedang menangis sesegukan, terlihat sangat sedih. Entah kenapa lagi dengan wanita itu.
Ceklek,
Pintu terbuka.
"Sayang?" Jerry mendekati istrinya dengan langkah tergesa. "Kenapa sayang?" mengelus kepala istrinya itu dan memeberinya pelukan.
Berhari-hari menyaksikan keanehan istrinya membuat Jerry terbiasa dan selalu berusaha memberikan ketenangan.
"Aku kangeeen" lirihnya sesegukan.
"Kangen? Oke, aku peluk yang lama ya,"
"Tapi aku mau (itu lagi)" rengek Nagea, mulai mengelus.
"Ahhhgh! Oke sayang, dengan senang hati."
Ia angkat tubuh istrinya itu masuk ke kamar pribadinya, tak lupa mengunci pintu.
Wajah Nagea berubah sumringah saat sudah berada di atas tempat tidur.
'Kenapa istriku begini? Dia tidak berkepiribadian ganda kan? Baru saja dia menangis, sekarang sudah tersenyum senang.' Jerry merasa merinding untuk sesaat.
Selang beberapa menit usai melakukan itu-
__ADS_1
"Cintaaa,"
"Iya sayang,"
"Pengen sosis lagi!"
"Sosis? Lagi?" Jerry terlihat berpikir keras. Perasaan, istrinya ini belum pernah meminta sosis sebelumnya.
"Memangnya, kapan terakhir kamu makan sosis sayang?"
"Yang barusan. Sosis yang ini-" menyentuh milik Jerry.
"Owh, aku merasa sangat pusing sayang," mengusap kasar wajahnya. "Bisakah nanti malam lagi sayang?"
Nagea malah memanyunkan bibirnya sembari memainkan jari tangan.
Jerry menatap heran istrinya itu dalam diam. 'Apa yang sedang merasuki wanita ini Tuhan?'
'Sepertinya kami berdua harus membahas ini dengan serius. Dia menganggap aku ini lelucon atau apa?'
"Ya sudah, kalau tidak mau, aku pergi aja cari sosis yang lain"
'Whattt?'
"Eit, tunggu, tunggu Nagea sayang," menahan kepergian istrinya. Jerry menarik napas dalam. "Oke, oke! Apapun sayang, sosis atau apapun itu yang kamu mau akan aku kasi."
"Benarkah?" Nagea tersenyum semangat. Entah kemana perginya ambekannya yang barusan saja aktif.
Jerry hanya mengangguk dengan penuh rasa was was.
"Ayo lanjut lagi cinta, sekaliiii aja"
Dan ... hal itu pun kembali terjadi.
\=\=\=\=\=
Saat istrinya sedang terlelap, Jerry menghubungi ibunya.
Drrruuut drrruut drruuut,
Mama:
(Iya sayang!)
Jerry:
(Ma ... aku ingin pindah ke rumah utama bersama istriku. Boleh kan?)
Mama:
(Kenapa harus bertanya? Tentu saja boleh)
Tut tut tut
"Yesss. Mari kita akhiri sandiwaramu Nagea." gumamnya, lalu segera pergi berburu buah salak keinginan Nagea yang harus sudah ada saat dia bangun nanti.
'Kali ini buah salak. Setelah ini, entah apa lagi yang wanita itu inginkan. Arrrghh untung aja aku sayang'
__ADS_1