
Jerry kembali ke hotelnya setelah mendapatkan buah salak keinginan istrinya itu. Tak tanggung-tanggung, wanita itu meminta Jerry untuk membelikan salak sebanyak 20 kg. 'Awas saja dia tidak memakan semua ini habis. Akan ku buat buah salak keras ini untuk melempari para koruptor negeri ini biar tobat.' gumamnya dalam hati.
Pria itu memasuki lift bersama dengan dua orang karyawan hotel yang membantunya membawakan 2 box buah salak.
Sementara di dalam ruang kerja pemimpin hotel itu Ferdo tengah panik setengah mati karena Nagea.
"Ayolah Ferdo, sebentaaaar saja. Pleaseee!" Nagea mendekati Ferdo, namun pria itu tentu saja menjauh.
"Nagea. Kau kenapa? Jangan macam-macam padaku!"
"Ada apa ini?" Jerry tiba-tiba muncul.
"Cinta!" Nagea menghampiri Jerry dengan senyuman cerianya.
Greepp.
Ia peluk suami tampannyaa itu dengan erat, seperti telah berpisah selama bertahun-tahun.
Jerry yang masih bertanya-tanya, tak membalas pelukan itu. Ia menyorot tatapan tajam ke arah adiknya.
Ferdo terlihat mengusap dada legah.
"Aku tanya, ada apa ini Ferdo? Apa yang terjadi antara kalian berdua selama aku tidak ada?"
"Yah? Memangnya apa yang terjadi? Aku kesini ingin membahas tentang pekerjaan bersama kakak. Tapi dia-"
"Dia? Dia siapa? Istriku? Kenapa kamu Nagea?" melepas pelukan tangan Nagea.
"Aaaarghh! itu tidak penting. Aku akan pergi."
"Tunggu Ferdo, berhenti disitu!" Nagea mendekati Ferdo dan mulai mengarahkan tangannya ke wajah pria itu.
"Hei, sayang kamu mau apa?" Jerry mencegah tangan Nagea.
"Kakak lihat kan? Kakak ipar sedang tidak sehat. Dari tadi dia merengek ingin menyentuh wajahku."
"What? Please Nage, ada apa lagi ini? Apa kau tidak memikirkan perasaan suami?" tanya Jerry dengan nada heran.
"Cinta, tapi aku sedang ingin sentuh pipi dia." rengek Nagea dengan tatapan polosnya.
"Tuh, lihat kan? Jangan buru-buru mencurigaiku yang tidak-tidak. Istrimulah yang aneh"
"Nagea, kenapa ingin sentuh pipi dia?"
"Aku hanya ingin." Menjawab sembari tersenyum, membuat Ferdo bergidik ngeri.
"Nage, kamu yakin cuma mau sentuh pipi-nya?"
Nagea mengangguk cepat.
"Tidak lebih?"
Nagea mengangguk.
"Ferdo tunggu!" Jerry menghentikan Ferdo yang hampr saja berhasil mengendap keluar.
"Biarkan dia melakukannya."
"Apa? Aku tidak sudi." tolak Ferdo.
"Sayang, berjanjilah cuma satu kali dan hanya 3 detik."
Nagea mengangguk manja.
"Biarkan dia melakukannya Fer, dia kakak iparmu."
"Sekarang kalian berdua sepakat menodaiku?" Akhirnya Ferdo pun hanya bisa menuruti. Lagipula hanya kali ini saja, pikirnya.
"Hiiiiiiiiiiiii, Ferdo, kamu sangat menggemaskan" Nagea mencubit kedua pipi Ferdo dan memainkannya.
Ferdo, dengan tatapan pasrahnya hanya bisa membatin. 'Apa wanita ini gila?'
"Nah. Sudah, Ferdo, kamu boleh pergi." suruh Nagea tanpa perasaan.
__ADS_1
"Seumur hidupku, baru kali ini ada orang yang berani melakukan ini padaku. Nagea, kau kenapa? Aku ini bukan bocah. Kita bahkan seumuran. Kau sangat aneh." Ferdo ngerap dengan kalimat panjang itu sebelum keluar dari ruangan kakaknya.
Nagea hanya terbahak mendengar ocehan itu. Sedangkan Jerry, ia menatap khawatir istrinya itu dalam diam. 'Setelah ini, akan ada keanehan apa lagi?' batinnya.
\=\=\=\=
Drrrt drrrrt drrrt.
Ferdo yang sudah siap menikmati tidurnya, kembali meraih ponselnya.
(SUCI) nama itulah yang sedang memanggil.
Dengan rasa malas, Ferdo menjawab.
[Iya Suci!]
[Ferdo, maaf mengganggumu]
[Kenapa?]
[Aku hanya ingin berbicara denganmu]
[Suci, aku ... sedang bersama dengan kekasihku]
[Ferdo, aku sudah bercerai]
[Oh, ya. Sangat disayangkan.]
[Aku ingin memulai lagi Fer]
[Iya, semoga kau segera mendapatkan pengganti yang lebih baik]
[Ferdo, aku berpikir kau masih menungguku]
[Kau ... terdengar sangat percaya diri.]
[Baiklah Ferdo, maaf sudah mengganggu kebersamaan dengan pacarmu.]
[Iya, tak apa]
Dari tampatnya berada, wanita yang bernama Suci itu terlihat menyunggingkan senyum kecil.
"Aku tidak menyangka telah meninggalkan seorang Ferdo Barata demi kebahagiaan singkat dengan pria yang hanya mengandalkan ketampananya" bergumam sendirian.
\=\=\=
Pagi Hari.
Di Apartement.
"Sayang bangun!"
Jerry kembali mendekap tubuh istrinya yang masih tidur nyenyak. Saat melihat Nagea yang sedang tertidur, ada rasa iba melihat kedamaian yang tercipta di raut wajah istrinya.
"Huuuummmmh" Nagea menggeliat.
"Pagi Cinta ..." memeluk Jerry.
"Sayang, maaf ya, pernah menjahati kamu."
"Uuhhhh, jangan di ingat lagi cinta, aku jadi baper ni."
"Aku serius sayang! Aku merasa sakit mengingat perbuatanku dulu sayang."
"Aku sudah maafkan kamu cinta, aku tidak mau mengingat bagian itu lagi."
"Baiklah. Sayang, apa kamu masih ingat pertama kali kita ketemu?"
"Ingat, waktu itu pas aku di kejar orang jahat. Heheh"
"Apa waktu itu kamu mulai jatuh cinta sama aku?"
"Iya, aku jatuh cinta ke kamu sejak saat itu."
__ADS_1
"Trima kasih ya sayang, karna kamu mau menikah denganku"
"Iya ... apa kamu sangat bahagia?"
"Iya, aku sangat bahagia."
"Kalau begitu, kita main lagi yuk,"
"Main apa sayang?"
"Main ini" tangan mulai menjelajah.
"Tapi kita baru melakukannya 2 jam lalu. Apa kamu tidak capek?" mengelus kepala istrinya.
Nagea menggeleng.
.........
Kediaman Barata.
"Selamat datang" mama Fema dengan wajah bahagianya menyambut kedatangan Jerry dan Nagea.
"Mah, aku pengen sate kambing lagi,"
"Yah? Sate kambing?" Fema melepas pelukannya, sembari melirik putranya.
Bukannya membalas pelukan ibu mertuanya, Nagea tanpa basa - basi mengatakan apa yang dia inginkan.
Jerry hanya mengangkat bahu sebagai respon atas tatapan mama.
Segera Fema meminta koki andalan keluarga itu membuat sate sesuai permintaan menantunya.
30 menit kemudian.
Nagea, hanya seorang diri menghadap meja makan, sedang menyantap sate yang tampak sangat lezat tak terkira. Dari posisi tak jauh darinya, seluruh keluarga Barata sedang menatap heran kearahnya.
"Pah, apa kakak ipar tidak berniat menyisakan sedikit untukku? dia terlihat sangat kelaparan." ujar Abner.
Juan Barata hanya menggeleng.
"Mah, jangan heran. Aku pikir kakak ipar sedang tidak sehat. Belakangan ini, dia terlihat sangat aneh." Ferdo berbisik.
"Jerr, benarkah istrimu aneh belakangan ini?"
"Benar mah! Dia sering tersenyum dan menangis dalam waktu hampir bersamaan. Terkadang aku merasa kasihan, tapi juga merinding saat di dekatnya."
Cukup lama mereka berbisik, akhirnya Nagea selesai juga memakan sate itu dalam sekali duduk, tanpa menyisakan satu tusuk pun.
"Hoeekk hoeeeeek"
Tiba-tiba saja Nagea seperti akan muntah dan segera berlari ke kamar mandi.
"Sayang ... sayang ... ada apa denganmu?"
Jerry pun menyusul istrinya, karena khawatir.
"Ferdo, siapkan mobil, kita antar kakak ipar kamu ke rumah sakit"
"Baik mah,"
"Pah, aku menduga sebentar lagi status kita berdua akan berubah."
"Kenapa mama sayang?"
"Itu, sepertinya ... kita akan punya cucu."
"Yah? Kamu curiga Nagea sedang hamil?"
"Hmmm."
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...