
Hai... kalian... ya kalian.. dimanapun berada, aku ucapkan terima kasih banyak telah membaca dan berapresiasi atas cerita ini. Kita lanjut yaπ
.......................πππππ......................
Fema sudah menyelesaikan acara memasak nasi goreng seperti yang diminta Ferdo. Karena anak itu sudah kembali ke kamarnya, Fema lalu mengantarkan makanan itu.
Tok tok tok
Fema membuka pintu. Ceklek
"Fer.. ini makanannya,"
Tak ada sahutan dari Ferdo. Fema meletakkan piring nasi goreng tersebut di nakas samping tempat tidur anak itu lalu hendak pergi dari sana.
"Mama"
Deg.
"Mama?" Fema berbalik.
"Mamaaa.." panggilnya lagi.
"Fer, kamu.. barusan panggil mama?"
Anak itu kemudian berdiri dari duduknya, lalu mengangguk ke arah Fema. "Itu yang tante suka kan? Tante maunya di panggil mama kan?"
"Apa ini? Dia sedang marah atau.....?"
"Aku akan memanggil tante dengan nama itu, jadi tetaplah disini. Jangan pergi.. Jangan tinggalkan papa dan tetaplah baik padaku dan kakak." ucapnya dengan nada datar namun bergetar.
Fema mendekati anak itu dan....
Grreep,
Fema memeluknya. Memeluk hangat anak remaja tampan itu. "Sayang, kita akan tetap bersama. Tidak ada yang akan kemana-mana."
"Benarkah?" Tanya Ferdo, dengan nada yang kian bergetar nan serak.
"Iya.. sayang"
"Janji?"
"Iya janji.."
Ferdo kembali terisak. Ia merasa sangat takut kehilangan mama tirinya. Tapi ia legah karena mama sudah berjanji tidak akan pergi.
Beberapa menit menangis dalam dekapannya, Fema meminta anak itu makan. "Sayang, makan dulu yah.. nanti keburu hilang enaknya masakan mama."
"Hmmm.. tapi di suapin,, ma"
'Apa? Suapin? Dia terdengar lebih manja dari Marsha '
"Oke.. mama suapin yah.."
Fema dan Ferdo kini duduk berhadapan. Ferdo duduk di kursi dan posisi mama di sisi tempat tidur. Ferdo begitu menikmati makananya.
"Aku memang menganggapmu bayiku disaat membuatkan susu hangat penghantar tidurmu. Tapi aku tak menyangka saat ini harus menyuapimu seperti bayi." Fema tersenyum dalam hati.
"Sayang, nanti, minta maaflah pada pelayan dapur yang sudah kamu bentak-bentak tadi. Kasihan mereka, sepertinya mereka takut melihatmu."
"Iya.. aku akan meminta maaf jika itu yang ... mama inginkan." menjawab santai.
'Kenapa mama tahu tadi aku membentak? Apa mbak Nenik memberitahunya? Hmmm.. tumpis.'
.........
Ditempat lain.
Jerry Barata.
Anak remaja itu baru saja selesai mengadakan pertemuan dengan pelatih bela diri teman-temannya di salah satu kafe.
Ia sengaja pulang tanpa meminta jemputan dan berjalan kaki saja.
"Hei.. mau lari kemana kau?" Suara seorang pria tiba-tiba mengagetkan Jerry.
__ADS_1
"Kak...kak.. kak.. tolong kak," Seorang anak perempuan menghampiri Jerry dengan wajah ketakutan.
"Kau siapa?" si remaja dingin itu malah bertanya.
"Hei.. kau.. jangan kira bisa melindunginya." bentak pria itu pada Jerry.
Bukannya berlari kabur, Jerry dengan tenangnya bertanya. "Kalian siapa?"
"Hei.. kami tidak punya waktu berkenalan denganmu. Gadis itu, serahkan dia."
Jarak mereka kini cukup dekat.
Jerry mengerutkan alisnya lalu menoleh pada gadis yang kini sedang memeluk lengannya erat.
"Heh.. Lepaskan aku.. kau tidak dengar mereka memintamu?"
"Silahkan bawa dia paman. Aku juga tidak mengenalnya." Enak sekali Jerry memberi kode pada orang yang yang mungkin saja berniat jahat itu.
"Haiizzsssh.."
Bugh.. gadis itu menghantam tinjunya kuat pada lengan Jerry lalu berlari untuk kabur dari sana.
"Hei... mau kemana kau? Urusan kita belum selesai." Kedua preman itu kembali mengejar anak perempuan itu.
"Apa? anak itu... Dia meninju lenganku? Tunggu! kau harus membayar ini." Jerry pun ikut berlari menyusul gadis yang berlari ketakutan itu dan berhasil mendahului dua preman yang mengejarnya.
"Shhiiiit. Kemana anak itu?" Dua preman terpaksa kehilangan jejak gadis itu."
Jerry membawa gadis itu berlari melewati jalan tikus. Mereka terus saja berlari. Hingga sampailah mereka di suatu tempat yang terlihat aman. Gadis itu kembali melingkarkan tangannya pada lengan Jerry. Mereka berdua bersembunyi dengan napas ngos-ngosan karena habis berlari.
"Astaga.. aku sangat lelah.." keluh Jerry.
"Itu karena kakak membawaku berlari kencang. Tapi,, terima kasih telah menyelamatkanku kak."
"Aku tidak menyelamatkanmu. Aku ingin menuntutmu."
"Apa?"
"Ganti rugi karena telah menyakiti lenganku."
"maaf kak, itu karena aku kesal kakak mau menyerahkanku orang jahat itu."
"Orang jahat? Kenapa kau berurusan dengan orang jahat?"
"Mereka ingin menjahati temanku, lalu aku menolongnya. Jadi mereka mengincarku lagi."
"Hah.. cuma hal seperti itu? Ku kira apa!"
'Hiiiiii... rese ya kakak ini, '
"Kau sedang memakiku dalam hati?"
Gadis itu menggeleng kuat.
"Terlihat dari raut wajahmu"
Setelah beberapa lama bersembunyi, keduanya baru sadar jika mereka mengenakan seragam sekolah yang sama.
"Ayo kita pergi dari sini!" Ajak Jerry.
"Kemana kak?"
"Memangnya kau ingin menginap di tempat sepi ini? Aku akan pulang. Terserah kalau kau mau tinggal."
"Tut... tunggu kak..." gadis itu mengejar Jerry dan kembali menempel di lengannya.
"Lepaskan tanganku.."
"Tidak.. aku masih takut"
"Lepas.. cuma adikku yang boleh manja padaku."
"Kakak punya adik perempuan?"
"Tentu saja ada"
__ADS_1
"Apa dia cantik?"
"Kau tidak bisa berpikir? Aku ini tampan. Sudah pasti adikku cantik!"
"Lebih cantik mana dibanding sama aku?"
"Tentu saja adikku lebih cantik" Jerry menyunggingkan senyum disalah satu sudur bibirnya.
"Siapa namanya?"
"Marsha"
"Marsha? Apa dia menyukai beruang?"
"Kau terlalu banyak bertanya. Diamlah!"
Tibalah keduanya di depan gerbang sebuah rumah yang mirip istana.
"Pulanglah.. aku akan masuk karena aku tinggal disini."
"Pulang? Kak.. aku sangat haus, biarkan aku minum dulu di rumahmu."
"Aku sudah menolongmu, sekarang kau tidak tahu malu meminta minum?" Jerry menatap heran.
Gadis itu hanya diam dengan raut wajah kasihan.
"Ayo ikut aku!"
Kedatangan dua remaja itu disambut hormat oleh para pelayan.
"Jerrr!" Fema menghampiri si sulung yang baru saja pulang dengan seorang gadis di sampingnya. Membuat Fema sedikit syok alias bingung.
'Apa lagi ini? Dia akan memperkenalkan pacarnya sekarang? '
"Em.... dia haus!" lapor Jerry pada Fema, lalu pergi begitu saja.
"Jerr, tapi siapa ini? Teman atau..."
Jerry menghentikan langkahnya. "Aku tidak mengenalnya. Aku hanya kasihan karena dia haus.. tolong ma..ma.. berikan dia minum yang banyak dan suruh dia pulang. "Ahhh, sungguh aneh menyebutnya mama!" gumamnya.
Jerry seketika menghilang dari pandangan.
"Mama? Jadi tante ini mamanya?"
Fema pun melayani tamu anaknya itu dengan sangat baik.
"Tante.. saya pamit pulang ya tante.. terima kasih banyak atas minumannya!"
"Oh iya.. tapi,, bagaimana kau pulang? Diantar supir tante saja ya.."
"Tidak perlu tante.. sudah ada yang menjemputku! Sekali lagi terima kasih banyak tante.."
"Nagea?" Suara seseorang memanggil nama Nagea.
"Fer-- Ferdo? Kamu..."
"Iya.. aku tinggal disini. Ini rumahku."
"O...." Ternyata gadis itu bernama Nagea.
"Fer, kamu kenal dia?" tanya mama Fema.
"Iyy-ya ... ma.."
"Kami di kelas yang sama tante.." sahut Nagea.
"Jadi, kenapa kamu disini?" Ferdo melihat sekeliling.
"Dia datang bersama kakak kamu." jelas Fema.
"Kamu kenal kakak aku?"
Nagea menggeleng.
"Lalu, bagaimana kamu ikut denganya kesini?"
__ADS_1
"Ferdo, besok aku ceritakan di kelas ya.. aku.. pulang dulu, ceritanya sedikit panjang!" jelas Nagea, kemudian permisi dan pergi meninggalkan rumah itu, meninggalkan Ferdo yang masih penasaran alias kepo.