Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
EPisode 108


__ADS_3

"Sayang ..." Jerry terlihat menahan gejolak.


Sesuatu yang tidak pernah dilakukan istrinya itu membuat Jerry merasa tak percaya. Selama ini, dirinyalah yang selalu meminta atau menghampiri istrinya lebih dulu. Tapi apa ini? Apa lagi, ini di tempat yang tidak semestinya.


"Cinta, apa rasanya enak?" sempat-sempatnya wanita itu bertanya dengan nada manja disela aktifitasnya memainkan barang berharga suaminya itu.


"Aaaghh! Kurasaa, kita harus cari tempat sayang, jangan disini." Jerry menghentikan istrinya itu, menyeretnya ke tempat aman.


Ruang kerja Ferdo.


Mengingat kamar pribadi di ruang kerja adiknya itu sedang dalam keadaan kosong, kesanalah Jerry membawa istrinya. Benarlah, acara pernikahan adik kesayangan mereka itu diadakan di hotel milik Ferdo Barata.


"Cinta, ini ruangan siapa?"


"Siapa lagi kalau bukan Ferdo. Jangan khawatir. ayo masuk."


Tiba di dalam, Nagea melanjutkan aksinya. Tindakan wanita itu benar-benar membuat Jerry cenat-cenut, panas dingin.


Terjadilah apa yang seharusnya terjadi.


"Sayang, apa yang terjadi denganmu? Ini sangat tiba-tiba. Tidak biasanya istriku seperti ini." Jerry akhirnya bertanya setelah pergulatan panas itu, walaupun ia tau, ini tak pantas dipertanyakan.


"Aku tidak tahu cinta, aku hanya sedang ingin melakukannya. Itu saja." jawab Nagea, salah tingkah.


"Waaah, sepertinya kamu ada perubahan sayang, itu mengejutkan, tapi aku suka."


"Cinta suka?"


"Hmmmm. Siapa yang tidak suka? Semua suami sangat suka jika istrinya meminta lebih dulu."


"Benarkah? Syukurlah kalau suka, hehehe. Cinta ... lagi yuk,"


"Ha? Apa? Lagi?" dengan tatapan syok.


Nagea mengangguk. "Sebentaaaarr, aja. Pleasee!" mohonnya.


"Oh? Ba-baiklah,"


Mereka pun mengulangi hal itu. Nagea tampak sangat bahagia, berbeda halnya dengan Jerry yang merasa otaknya dipenuhi dengan tanda tanya.


Drrrrt drrrrt drrrtt.


Beruntung ponsel pria itu berbunyi setelah hal itu selesai.


"Papa nelpon sayang, aku jawab dulu ya,"


Nagea pun mengangguk.


"Ya Pah?"


"Dimana kalian berdua Jerr? Acara sudah hampir bubar. Apa istrimu minta pulang?"


"Oh, ah, kami berdua, sedang istirahat sebentar Pah."


Setelah papa Juan mengakhiri telepon, sejoli itu bergegas merapikan diri, untuk kembali ke tempat acara.


Ceklek.


"Ferdo?"


"Kalian? Sedang apa kalian di ruangan pribadiku?"


"Oh, kami hanya istirahat sejenak" jawab Jerry.


Ferdo menatap keduanya bergantian, menyoroti mereka dari atas sampai bawah.


"Kalian hanya istirahat? Tidak menodai tempat tidurku?" tanya Ferdo kemudian, dengan tatapan penuh curiga.

__ADS_1


"Fer, apa yang kau pikirkan. Ayo cinta, kita keluar." Nagea kembali menyeret suaminya.


'Mereka berdua benar-benar mencurigakan' Ferdo segera berlari ke ruang pribadinya untuk melihat keadaan disana.


Tidak tampak aneh. Semua tampak sama setelah terakhir ia meninggalkan ruangan itu. 'Apa yang kupikirkan?'


Ferdo pun kembali keluar.


Acara telah usai. Sebelum berpisah dengan pengantin baru itu kedua keluarga berpamit untuk pulang, sedangkan Marsha dan Ethan, keduanya sudah pasti akan tinggal di salah satu kamar hotel yang disiapkan untuk mereka berdua.


"Jadi istri yang baik ya Sha," Melina memberi pelukan kepada sahabatnya itu.


"Iya Mel, kamu juga, cepatlah selesaikan kuliahnya, biar segera nyusul. Tar kak Ferdo ketuaan kalau lama-lama nunggu kamu." canda Marsha, yang hanya di semyumi oleh Melina.


Gadis itu pun pamit kepada dua keluarga itu.


"Loh Mel, dimana Ferdo?" tanya mama Fema.


"Oh, dia ... sedang ke ruangannya ibu," jawab Melina.


"Baiklah, cari dia Mel, minta antar kamu balik."


"Oh uya bu, saya akan tunggu di lobi."


Melina pun pergi.


Tiba di Lobi, terdapat pemandangan yang sangat mengganggu matanya.


Ferdo, sedang dipeluk oleh seseorang.


Lama, Melina berdiri disana menyaksikan momen yang sama sekali tidak mengenakkan itu.


Para pegawai hotel yang ada disana terlihat saling berbisik.


Kemudian, Ferdo dan seseorang itu keluar dari hotel, tak lupa, seseorang yang adalah gadis cantik itu menggandeng lengan Ferdo.


Melina hanya menatap kepergian keduanya dengan tubuh yang terasa bergetar. Ia remas jemarinya hingga membentuk sebuah genggaman.


"Ferdo sama siapa itu?" tanya Fema.


Melina, hanya menggeleng dengan raut wajah yang tak bisa dijelaskan.


Untuk mengusir rasa ingin tahu mereka, Fema memanggil resepsionis yang ada disana.


"Dengan siapa putra saya pergi?"


Terlihat kegugupan dari ekspresi gadis yang ditanya itu. "Maaf nyonya, Tuan, saya-"


"Katakan saja. Dengan siapa dia?" Juan menginterupsi.


"Em... dia ... mantan kekasih pak Ferdo Tuan."


degh-


Melina merasa hatinya tertusuk. Biar kata mantan, tapi ... bisa saja CLBK.


"Mel, kamu dengar, itu hanya mantannya." jelas Mama Fema, yang mengerti akan perasaan kekasih putranya itu.


"Oh, tak apa. Iya ... saya tidak apa." Melina berusaha tersenyum, lalu dengan sopan berpamitan lagi pada kedua orang tua itu.


"Mel, biar kami antar pulang ya," tawar papa Juan.


"Tidak perlu bapak, saya ... sudah pesan taxi" tersenyum hangat, lalu pergi. Pergi membawa jantungnya yang seakan terasa ingin berhenti berdetak.


"Permisi Non, Tuan Muda meminta saya untuk membawa Nona pulang" seorang kepercayaan Ferdo menghampiri Melina.


"Oh, trima kasih pak, tidak perlu, saya ... pulang sendiri saja."

__ADS_1


"Tapi Non, nanti saya dimarahi Tuan."


Melina tidak menghiraukan, dia memasuki Taxi yang baru saja mengantar seseorang.


"Jalan pak," perintah Melina, lalu menyebutkan alamatnya.


Tiba di kamar sempitnya, Melina segera berganti pakaian.


Tanpa membersihkan diri, gadis itu menghambur kedalam selimut tebalnya.


"Huuuffffpp"


"Ibuuuuuuuuk"


"Bapaaaak"


"Abaaaang"


Ia panggil nama-nama anggota keluarga yang sangat menyayanginya itu dengan perasaan bersalah. "Rasanya sakit, buk, ini karena aku tidak dengar nasihat ibuk"


Gadis itu menangis didalam selimutnya. Menangis sejadi-jadinya.


'Ibuk benar, pria kaya akan bebas dengan wanita manapun karena mereka memiliki segalanya. Buk, aku tidak bisa dibeginikan. Rasanya sakit buk,'


\=\=\=


Berbeda dengan Melina yang sedang menangis sedih, sahabatnya yang baru sah menjadi seorang istri itu sedang merasa sangat bahagia tentunya.


Kamar yang dipenuhi dengan nuansa keromantisan ini, akan menemani malam pertama Ethan dan Marsha sebagai pasangan suami istri.



Menatap Marsha.



Marsha memberi senyum termanisnya.


"Jangan menatapku begitu. Aku malu"


"Sini!" Menarik Marsha hingga jatuh ke pangkuannya.


"Terima kasih sayang, sudah mau jadi istriku"


"Hmmm," Marsha mengangguk.


"Tidur yuk," Ethan mengangkat tubuh istrinya itu ke tempat tidur.


"Apa ... kita hanya akan tidur?"


"Iya. Ayo tidur Marsha sayang!"


"Ah, baiklah."


Keduanya pun menikmati malam pertama itu dengan Tidur nyenyak dan saling memeluk.


....


Kediaman Barata.


Ferdo melangkah masuk ke kediaman keluarganya itu dengan penuh semangat.


"Hai Mah," sapanya pada Mama yang ternyata masih bangun, tapi ibunya itu justru membuang pandangan lalu menghilang di balik pintu kamar.


'Mama kenapa? Lagi sensi? Oh iya, anak gadisnya sudah jadi milik orang lain. tentu saja mama sedih.' Ferdo pun lanjut menuju kamarnya. "Besok saja aku hibur mama" gumamnya.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2