Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Permen Manis


__ADS_3

Di sekolah.


Seorang siswi kelas 7, yang baru-baru ini diketahui bernama Nagea, mendekati temannya, Ferdo. Dia benar-benar tidak tahan untuk tidak menggali informasi tentang kak Jerry yang beberapa hari yang lalu berhasil menguasai hati dan pikirannya.


Perlu diketahui, bahwa selama ini Nagea dan Ferdo tidaklah akrab. Ah.. mereka bahkan belum akrab, alias tidak saling sapa satu sama lain, walaupun belajar di kelas yang sama.


"Hai Ferdo..!"


"Eh, Nagea.. bagaimana? Kau belum cerita padaku tentang yang waktu itu!"


"Oh iya... hehe.. jadi waktu itu, aku lihat Cici anak kelas sebelah di ganggui preman. Jadi, aku menolongnya untuk kabur. Eh, malah jadi aku yang dikejar lagi sama mereka. Jadi aku tidak sengaja bertemu kakak kamu yang sedang berjalan kaki"


"Apa?.. Kak Jerry jalan kaki?" pekik Ferdo. Sulit mempercayai kakaknya itu berjalan kaki. Tidak, hal itu belum pernah terjadi.


Nagea pun menceritakan hal itu secara detile, termasuk tentang dirinya menghantam bogem mentahnya pada lengan cowok tak punya hati itu.


"Berani juga kamu pada kakakku, aku yang laki-laki saja tidak berani memukulnya"


"Itu karena aku kesal.. kakakmu tidak berperasaan. Aku sudah hampir pingsan berlari, dengan gampangnya dia minta preman itu untuk bawa aku"


"Iya... dia memang tak berperasaan" Ferdo membenarkan.


"Eh, tapi.. apa dia tidak bertanya tentangku?" Tanya Nagea kepo, entah apa yang yang dia harapkan. Memangnya kenapa juga Jerry harus bertanya tentangnya.


Ferdo terlihat sedikit menggaruk kepala dengan wajah yang sepertinya mengingat-ingat sesuatu. Sementara Nagea menunggu dengan wajah berbinar dan jantung deg-degan.


"Em... aku tidak mendengar dia menanyakan tentangmu," Jawab Ferdo dengan wajah polos.


"Ahhhh... iya, untuk apa pula dia menanyakan tentang aku! hehehe"


Waktu Istirahat.


Ethan yang merupakan siswa kelas sebelah, mendatangi Ferdo.


"Hai bro.. apa kau akan ke kantin?"


"Tidak, mamaku membekaliku makanan sehat dari rumah" jawab Ferdo cuek.


"Oh ya? Mana? Kau tidak berniat berbagi?"


"Tidak. Untuk apa aku berbagi masakan mamaku?"


"Kau sangat pelit"


"Langsung saja. Ada apa mencariku kesini?" tanya Ferdo, curiga.


"Kau ini.. padahal aku sedang basa-basi."


"Marsha cerita padaku."


"Oh.. adik cantik itu, iya, aku akan mengajarinya memainkan musik yang dia sukai."


"Benarkah?" Ferdo memicingkan mata. "Kau tidak berniat mengajari adikku pacar-pacaran kan? Awas saja kau berani macam-macam."


"Apa kau gila? Untuk apa aku melakukan itu? Tapiii.. kalau dia sudah besar nanti tidak apa kan?"


😏"Tergantung"


"Tergantung apa?"


"Tergantung kalau kau jadi orang baik."


\=\=\=


Ditempat lain.


Fema turun dari mobilnya dan mendatangi suaminya di kantor. Mumpung lagi jam istirahat. Wanita itu membawa bekal makan siang untuk di santap bersama.


Karena sekertaris yang bernama Nina itu tidak ada ditempatnya, Fema memutuskan untuk langsung masuk ke ruangkerja suaminya itu kali aja kedatangannya benar-benar surprise.


Ceklek..


Membuka pintu, tidak ada siapa-siapa.


"Kemana dia?"


Fema melihat pintu ruang pribadi Juan sedikit terbuka.


"Ah, suamiku pasti di dalam sana!"


Fema mendekati pintu itu dengan perasaan deg-degan.


Saat sudah tiba di depan pintu, Fema melihat suaminya sedang . . .


.

__ADS_1


.


.


Berdiri menghadap tembok kaca, menikmati hamparan kota yang tersaji di depan matanya. Bukan, pria itu menutup matanya. Entah apa yang sedang dia pikirkan.


Fema menghampiri Juan dan memeluk suaminya itu dari belakang.


Meskipun tidak melihat wajah orang yang tengah memeluknya, tapi Juan sudah tahu bahwa ini adalah istrinya. aroma parfum dan tangan yang sedang melingkar di perutnya, Juan tahu bahwa itu Fema.


"Papa sayang... apa yang sedang kamu pikirkan?"


"Aku? Aku sedang merindukan orang yang memelukku ini."


Mendengar jawaban itu, Fema berpindah posisi memeluk suaminya itu dari depan. "Papa sayang, aku datang kesini karena merindukanmu. Beberapa hari ini aku hanya mengurus anak-anak, sampai-sampai lupa pada suamiku. Maaf ya sayang!"


"Benarkah merindukanku?"


"Iya.. tentu saja.."


Kali ini, Fema ingin lebih terlihat agresif. Wanita itu mulai mendorong pelan hingga suaminya terduduk diatas kasur.


"Sayang.. kamu.."


Hmpp.. Fema melakukan penyerangan lebih dulu. Pergerakannya benar-benar membuat Juan terperanga dalam beberapa detik. Tangan wanita itu dengan lincahnya membuka kancing kemeja suaminya.


"Sayang.. kita kunci pintu dulu" ucap Juan dengan nada serak.


"Aku sudah menguncinya tadi pah!"


"Baiklah.. ayo lanjutkan sayang.."


Setelah melepaskan semua yang menutupi tubuh suaminya, Fema mengemut permen manis yang sudah sangat dia rindukan itu, membuat suaminya mengeluarkan suara enak yang terdengar sangat menggoda telinga.


Puas mengemut permen manisnya yang sudah mengeras sempurna, Fema naik ke pangkuan Juan memberi jatah untuk mulut bawahnya.


"Sayang.. I Love You" kata indah itu keluar begitu saja dari mulut Juan, sembari menikmati gunung kembar yang kini naik turun di hadapan wajahnya.


Fema tersenyum puas mendengarnya.


"Jangan pernah seperti ini dengan wanita lain ya sayang" pinta Fema di sela aktifitas naik turun diatas suaminya.


"Iya sayang.. tidak akan"


Keduanya pun terus melakukan itu sampai... waktu yang tak dapat di tentukan. Sungguh tak dapat lagi dijelaskan dengan kata-kata.


Kembali ke sekolah.


Nagea yang baru saja keluar dari kelasnya melangkahkan kaki dengan membawa tas sekolahnya, celinga-celingu seperti sedang mencari seseorang.


Siswa/i yang memang sudah bubaran untuk pulang ke rumah masing-masing membuat sekolahan terasa agak sepi. Tapi, seseorang yang dicari Nagea tidak kunjung terlihat.


Tin tin... supir pribadinya sudah datang menjemput. Dalam perjalanan, Nagea menatap kedalam tasnya yang mana terdapat sebuah coklat berpita. "Ahhh.. hadiahnya sudah mulai usang, tapi belum sempat kuberikan padanya." gumam Nage.


Sebenarnya sangat ingin anak gadis itu menitipkan pemberiannya itu lewat Ferdo, akan tetapi dia malu dan takut ketahuan oleh teman lainnya.


Di tempat lain,


Ferdo dan Ethan masuk ke sebuah pusat perbelanjaan ditemani oleh seorang sekertris kakek Mahendra. Tujuan mereka kesini adalah untuk membeli satu set alat musik Band.


Ferdo sengaja mengajak Ethan karena remaja yang satu itu sangat mengenal alat musik dengan sangat baik. Ferdo mempercayakan Ethan untuk memilih semuanya mulai dari gitar bass, rythem, keyboard, dan drum.


Di posisi lain.


Jerry meminta supirnya untuk mengantarkan dirinya ke butik mama. Remaja itu rasanya sudah bosan dirumah dan ingin keluar bermain sebentar. Karena ingin berada di dekat mama, maka dia minta diantar ke butik.


Tiba di kantor mama, sang empunya ruangan tersebut rupanya tidak ada. (Maaf Jerr, kamu datang disaat yang tidak tepat).


Karena mama tidak berada disana, maka Jerry memutuskan untuk menunggu, sambil membolak balikkan majalah fashion yang ada disana.


Kembali ke Papa Mama.


Juan dan Fema rupanya tertidur setelah melakukan ritual panas mereka.


"Hoooaammmmp"


Fema mulai menggeliat dan terbangun. Suaminya masih terlelap dalam posisi terlentang, dalam keadaan polos pula. Ya.. tadi keduanya hanya mengandalkan selimut sebagai penutup.


Juan, pria itu mulai bergerak dari lelapnya ketika merasa ada sesuatu yang sedang terjadi dengan dokter kecilnya. Menggelikan. Itulah yang Juan rasakan. Ia pun membuka mata dan melihat, tangan istrinya sedang bermain-main dengan dokter juniornya yang dianggap permen manis oleh istrinya itu.


"Mama sayang,,"


"Iya papa sayang, mama masih kangen nih.." Fema kembali menggoda suaminya sambil terus memainkan tangkai permen manis itu.


"Ada apa dengan istriku hari ini?"

__ADS_1


"Kangen kamu sayang.. aku sangat merindukanmu"


"Apa terjadi sesuatu pada hormon istriku? Mungkinkah dia mau datang bulan? Atau.. jangan-jangan dia... hamil?"


"Papa.. lagi,, mau yah..."


"Iya sayang.. dengan senang hati"


Lagi dan lagi.. mereka mengulanginya.


Setelah puas dengan hal itu, keduanya memutuskan untuk mandi bersama. Dan, tak disangka, Fema masih saja meminta hal itu didalam kamar mandi. Alhasil, keduanya melakukannya lagi di dalam bath-up.


Walaupun Juan sudah sangat kelelahan, tapi demi keinginan batin istrinya, pria itu melakukan yang terbaik.


Selesai dengan acara mandi bersama itu, Juan dan Fema mengganti pakaiannya.


"Mama sayang, bajumu--"


"Iya, aku membawa pakaian ini dari butik Pah."


"Ternyata mama memang berniat itu ya,"


"Iya lah papa,"


"Kalau begini caranya, bisa-bisa isi butikmu pindah semua kesini!" canda Juan, dan Fema hanya tertawa.


"Pah.. begini saja. Bagaimana kalau nanti malam aku memilih beberapa setelanku dan papa bawa kesini besok?"


"Ide bagus sayang" jawab Juan.


Drrruuut drrruuut drruuut.


Ponsel Fema memberi tanda ada yang memanggil.


"Halo, ada apa Tuti.."


"Ini bu, ada anaknya ibu datang ke butik"


"Anak saya yang mana Tuti? Marsha?"


"Bukan bu.. anak ibu yang paling besar!"


"Jerry? Lalu, apa yang dia katakan?"


"Tidak mengatakan apapun bu, anaknya sedang menunggu di ruangan ibu."


"Sudah berapa lama Tuti?"


"Sudah sekitar satu jam bu!"


"Baiklah Tuti, dan tolong kamu pesan nasi bungkus untuk kita semua ya Tuti."


"Baiklah bu!"


Tut tut tut..


"Pah.. pangeran ke satu sedang mengunjungiku" Fema bergegas memperbaiki penampilannya.


"Anak itu, mau apa lagi dia sayang?"


"Tidak tahu, mungkin dia merindukan mama cantiknya ini."


"Hah... untung saja tadi dia tidak mengganggu proses pembuatan adik barunya." gumam Juan dan Fema hanya tertawa singkat.


"Pa, maaf tidak bisa menemanimu makan. Sekarang anakku sedang menungguku." Fema mengecup sekilas pipi suaminya sebelum meninggalkan ruangan itu.


"Sayang, tinggalkan kunci mobilmu. Biar supirku yang mengantarmu."


"Dan nanti sore papa sayang yang menjemputku di butik. Oke, ini kuncinya, aku pergi dulu.


Fema pun menghilang dari ruangan Juan.


"hah... enak saja dia meninggalkanku setelah kenyang memakanku habis-habisan!" gumam Juan, kembali memikirkan kelakuan ganas istrinya siang bolong ini.


Tiba di butik.


Fema langsung saja ke kantornya di lantai paling atas.


Ceklek..


pintu terbuka dan ternyata Jerry tertidur di sofa dengan wajah tertutup majalah.


"*Maafkan mama membuatmu menunggu sayang, kau pasti bosan menunggu hingga tertidur!"


.

__ADS_1


.


Bersambung*.


__ADS_2