Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Handphone Ganti Rugi


__ADS_3

Tap tap tap..


Langkah kaki seseorang terdengar dan kini persis berada di belakang Fania, yang masih diam menatap pintu ruang kerja Papa Juan. Fania yang menyadari ada seseorang dibelakangnya, membetulkan posisi topi yang memang menutupi kepala dan setengah wajahnya, lalu membalikkan tubuh.


Sejenak, ia berhadapan dengan orang tersebut, akan tetapi tidak berani melihat wajahnya. Orang itu juga tidak melihat dengan jelas wajah Fania karena tertutup Topi.


"Permisi, apa kakak ingin menemui Papaku?" tanya orang tersebut.


"Dia ... Abner?" batin Fania.


Fania menggeleng, lalu pergi.


Tiba di dalam ruangan papa Juan, Abner langsung melaporkan apa yang baru saja ia lihat. "Pah.. tadi di luar ada seorang kakak perempuan. Apa dia menemui papah?"


Pernyataan Abner membuat Juan reflek berdiri dari duduknya. "Kakak perempuan? Lalu mana dia?"


"Dia sudah pergi Pah,"


Abner pun memberitahukan ciri-ciri orang yang ia maksud.


Juan melangkah cepat keluar, tapi tidak menemukan siapapun. Karena penasaran dan merasa curiga, Papa Juan menyusuri rumah sakit sampai diluar, tapi tidak menemukan gadis seperti yang dijelaskan oleh putra bungsunya.


Juan segera menghubungi ruang CCTV untuk melihat rekam jejak gadis itu.


"Apa dia Marsha?? atau seseorang yang mengenalnya?"


Setelah mendapatkan beberapa foto yang sialnya tidak tampak jelas, Juan lalu menghubungi orangnya untuk mencari keberadaan gadis itu, sambil berharap keajaiban akan kabar putri satu-satunya.


\=\=\=


Di tempat lain.


Melina sedang sibuk merapikan tata letak pajangan di butik hingga tidak sadar ada seseorang yang kini berdiri didekatnya.


“Eh... gadis kasar!” suara itu tiba-tiba mengejutkan Melina.


“Ehh? Copot! Kamu?” Melina mengusap-usap dadanya, menetralkan jantungnya yang terkejut. Bagaimana tidak, si Ferdo tiba-tiba muncul dan menyapanya dengan sebutan yang tak mengenakkan. “Mau apa lagi manusia tak bertanggungjawab ini?”


“Bisa kita bicara sebentar?”


“Eeeh? Bicara denganku?” Melina menunjuk dirinya sendiri.


“Iya.. siapa lagi!”


Melina lalu memperhatikan kesekelilingnya. Karena dirasanya aman tak ada yang memperhatikan, tanpa sadar ia mengambil tangan Ferdo dan menyeretnya ke tempat yang terlihat sepi, yakni dapur.


“Hei.. kenapa kau lancang memegang tanganku? Lepaskan!”


Melina lalu menghempas tangan itu dengan kasar. “eh.. aku kasih tau kamu yah, walaupun kamu anak dari bu boss aku, tapi jangan seenaknya memanggilku seperti tadi. Itu bisa merusak citraku di hadapan teman-teman kerjaku! Mengerti?”

__ADS_1


'What? Gadis kecil ini sedang memarahiku?'


“Ternyata kau masih memikirkan tentang nama baikmu” Ferdo mendekat kearah Melina. Tentu saja Melina reflek melangkah mundur dong! Mentok pula ke dinding. “Asal tahu saja, citramu itu sudah hancur sejak kemarin! Apa kau lupa telah meninggikan suara padaku dihadapan orang-orang? Kau bahkan melempari aku dengan bangkai ponselmu. Kau lupa?” Ferdo menjelaskan,dengan nada dan Volume pelan, tepat di depan wajah Melina yang terlihat tegang. Gugup dong! Deg deg deg deg.. entah, suara jantung siapa itu, terdengar sangat jelas.


Hening.


Hening.


“Uppppsss.. ma—maaf” salah seorang karyawati lainnya tak sengaja memergoki dua orang itu. Dirinya auto balik kanan. Memergoki? Memangnya mereka sedang apa? Tak ada yang terjadi kan?


“hei.. a.. em.. e.. a..” Melina tergagap. Saat ini, dia yakin akan menjadi tranding topik dalam sekejap.


“Ikuti aku!” kini gantian, Ferdo yang menyeret tangan Melina, membawanya naik ke lantai 3. Tentu saja aksi ini menuai tatapan seluruh kariyawati lainnya.


'Mati akuuuuu! Apa yang harus aku katakan pada mereka nanti? Dan kenapa pula makhluk tampan ini harus menyeret tanganku seperti ini?'


Cklek..


Pintu terbuka. Nampaklah mama Fema di dalam sedang duduk manis.


“Permisi Mahh..!”


Tak sengaja mata mama menangkap tangan putranya yang menggenggam pergelangan tangan Melina. 'Astaga, putraku seperti sedang membawakanku calon menantu. Apa ini pegang-pegang tangan?' Akan tetapi, wanita itu berusaha terlihat biasa saja. “Iya sayang, hei.. Melina,!”


Ferdo mengambil paperbag yang sebelumnya ia letakkan di atas sofa ruangan mama. “ini! pengganti ponselmu.” menyerahkan bag tersebut pada Melina.


Karena penasaran, Melina lalu membukanya. “Haaaaaaa? 😱😱😱Handphone apple busuk idaman semua orang?” batin Melina.


“terima saja, orang sepertiku tidak akan membeli ponsel dengan merek tak jelas seperti milikmu itu. Memalukan!” hah.. padahal Ferdo meminta sekertarisnya yang pergi membelinya.


“Apaaa, ini gratis?” tanya Melina dengan wajah ingin tahu.


Si mama hanya diam memperhatikan. Wanita itu sudah tahu Ferdo akan mengganti ponsel Melina yang bahkan bukan dia yang merusaknya, melainkan kecerobohan Melina sendiri.


'Jangan sampai gajiku akan dipotong setiap bulan untuk melunasinya!' Bagi Melina, tidak perlu memiliki ponsel mahal jika dirinya harus banting tulang mencicilnya.


“Itu gratis!” jawab Ferdo, singkat. Ia mengerti akan kerisauan Melina yang sangat tampak terlukis diwajahnya.


“Benarkah?” Melina seketika terlihat sangat senang. Wajahnya memang tak bisa berbohong. “terima kasih!” ucapnya lagi, bahkan kini kedua tangannya menggenggam erat lengan Ferdo, merasa gemes, kesenangan. Upss.. itu hanya reflek, alami, terjadi begitu saja karena kesenangan. Namun, berhasil mengganggu aktivitas jantung Ferdo.


Ferdo mematung, membalas tatapan wajah berbinar wanita cantik dengan tingkah manja itu.


“Uwuuuu, terlihat menggemaskan,” batin mama.


Diam-diam wanita itu menjepret momen manis itu dan mengirimnya pada papa Juan.


“Ehmmmm” mama berdehem.


Melina seketika menyadari tingkah konyolnya, lalu menarik kedua tangan lancangnya ini. 'Astagaaa.. apa yang aku lakukan? Dia tidak akan mendendaku gara-gara ini kan?'

__ADS_1


Ferdo dan Melina terlihat sama-sama salah tingkah.


\=\=\=


Di tempat lain.


Jerry berkunjung ke apartemennya, dimana Nagea berada. Saat sudah tiba di dalam, ternyata gadis itu sedang tertidur di sofa dengan televisi yang menyala. “Dia terlihat sangat cantik.”


Dalam posisi berdiri, Jerry menatap Nagea dengan raut wajah yang tak bisa diartikan. Raut wajah bersalah mungkin? Benar.. melihat wajah teduh yang sedang tertidur itu berhasil mengobrak abrik perasaan Jerry. 'Maafkan aku Nagea, aku menarikmu ke dalam hidupku dengan cara yang tidak masuk akal. Aku janji, setelah ini, aku akan membayar semua kesedihan, ketakutan dan kesakitanmu dengan kebahagiaan.' Janjinya dalam hati.


Malam harinya.


“Fania.... dari mana saja kamu? Kau buat aku menunggu lama.”


“Benarkah? Aku pikir aku datang lebih awal, hehehe!”


Melina dan Fania sedang berada di warung makan. Bersiap untuk makan malam.


“Ini, ponselnya aku kembalikan!” Melina mengembalikan ponsel yang bahkan belum satu hari menjadi miliknya.


“Loh kenapa?... Mel.. tenang saja, itu belinya pakai uang halal kok!”


“Sorry, aku punya ponsel yang lain. Taraaaaaaa” Melina mengeluarkan sebuah ponsel keluaran terbaru yang dibagian belakangnya terdapat Apple bekas digigit, yang mungkin sudah membusuk.


“Haaaaaaaaa!😱😱😱 Mel....... benarkah ini?? Dimana kau mencurinya?”


“Mencuriiiii.. enak saja!.. itu ponsel ganti rugi dari anaknya bu boss aku!” Melisa tersenyum malu saat mengingat anak bu boss yang dia maksudkan!


Pelayan datang dan meletakkan makanan di meja.


“Astaga... kenapa harus memberimu ponsel semahal ini?” Fania membolak-balik ponsel bermerek Appe tersebut, menatapnya tak percaya. “Mahasiswi beasiswa sepertimu tidak pantas mmiliki ini Melina!” ujar Fania, masih menatap ponsel itu lama.


Pletakkk..


“Awwwwww” Fania terpekik. “Kau memukul kepala berhargaku Melinaaa!”


“iya.. enak saja mengataiku tidak pantas pakai ini” merebut ponsel dari tangan Fania. “Jadi menurutmu, gadis pengangguran sepertimu lebih pantas?” keduanya pun tertawa bersama, lalu mulai menyantap makanan yang tersedia.


“Eh, Fania,, sepertinya, ibu bossku tertarik padaku..” berkata sambil mengunyah.


“Tertarik bagaimana? Apa kau akan dipromosikan?” Fania bertanya balik sambil mengunyah..


“Tidak, tapi sepertinya bu Fema berniat menjodohkanku dengan putranya yang bernama Ferdo”


“Uhuk uhuk uhuk...” Fania tersedak.


.


.

__ADS_1


.bersambung.....


__ADS_2