Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Menagkap Pria Itu


__ADS_3

ceklek.


Penampakan persis seperti yang di duga.


Posisi kaki saling menindih, dan yang paling tertindas disini ialah Marsha, dimana kaki semua orang menindis kadua kakinya, belum lagi ada tangan yang menindih wajah gadis cantik itu, Akan tetapi, gadis itu terlihat sangat menikmati tidurnya.


Juan dan Fema hanya melipat kedua tangan di atas perut, tanpa ada keinginan untuk membangunkan anak-anaknya yang terlihat seperti bocah itu.


"Sayang ... melihat mereka seperti ini aku jadi teringat saat dulu mereka masih remaja."


"Iya pah, dulu, Marsha akan mati-matian melakukan apa saja demi mendapat pengakuan dari kakaknya itu. Ah... aku jadi baper mengingatnya," terlihat Fema menyeka sisi matanya yang terasa menghangat.


"Aku juga tidak menyangka, dua anak nakal itu akan menyayangi Marsha seperti sekarang." Juan membawa istrinya masuk kedalam pelukannya.


"Ternyata... kita berdua memang berjodoh sayang," sambungnya lagi.


Fema tersenyum dalam pelukan hangat milik suaminya itu.


Suami istri itu pun kembali keluar dari kamar yang penuh kehangatan itu.


"Sayang, makasih yh, kamu sudah mendidik anak-anak sejak awal kita menikah sampai saat ini."


Fema kembali tersenyum menanggapi.


"Iya pa, tapi ... aku tidak begitu sukses mengurus mereka. Aku, terlalu buta akan rasa sayangku terhadap anak-anak, sehingga aku tidak menyadari tau-taunya ... pangeranku yang pertama sudah jadi mantan penjahat. Aku yang salah sayang."


"Sudah sayang. Lagi pula aku sudah mengurusnya. Aku sudah menghajar anak itu. Dia tidak akan mengulanginya lagi."


"Tapi aku merasa bersalah sayang."


"Sudah-sudah ayo kita sarapan saja,"


...........


"Hmmmm..."


Ferdo mulai menggeliat dari tidurnya. "Haizzzzs! Apa ini?" Erangnya ketika merasakan sesuatu yang berat tengah menindis punggung belakangnya. "Abnerrr... pindah..." usirnya dengan suara malas.


Tidak ada pergerakan sama sekali dari remaja itu.


"Eh, bocah, minggiiir"

__ADS_1


"Aaakhh"


Tiba-tiba terdengar jeritan setelah Ferdo menyenggol paksa tubuh Abner yang tadi menindisnya. Alhasil, tubuh bocah itu menimpa tubuh kakak perempuan yang tertidur disebelahnya.


"Hei ... bangun" Ferdo kembali menarik tubuh adik lelakinya itu dari atas tubuh Marsha.


"Ya ampun, anak ini, benar-benar tidur mati." Beberapa kali tubuhnya di bolak balik seperti roti bakar, remaja itu tidak juga bangun, begitu juga dengan Marsha. Jelas-jelas sudah menjerit tapi tidak juga membuka mata.


Ternyata efek bergadang sampai subuh tadi membuat dua adiknya itu tidak mampu membuka mata.


Mendengar ocehan Ferdo, membuat Jerry terbangun dari tidurnya.


Tak lupa kedua kakak itu membenarkan letak selimut kedua adiknya sebelum keluar dari kamar.


\=\=\=\=\=


Sebelum menempuh perjalanan bersama dengan Ferdo, Jerry menyempatkan diri untuk menghubungi istrinya, namun seperti biasa tidak ada jawaban. Di chat pun syukur-syukur di read setelah beberapa jam. 'Benar-benar minta disusul ni Nagea,' batinnya.


Dalam Perjalanan.


Ferdo - Jerry dan kedua teman Ferdo, yakni Galih dan Tomi, sedang dalam perjalanan menuju salah satu desa untuk mendatangi pria yang telah memenculik Marsha, membuatnya selama 13 tahun terpisah jauh dari keluarga Barata.


Desa ini terbilang lumayan jauh dari perkotaan. Setelah menempuh perjalanan udara, lanjut lagi dengan menempuh perjalanan darat, dengan menaiki mobil travel.


"Maaf, apa kita istirahat saja sejenak? Biar anda semua bisa santai-santai dulu mungkin?" saran si abamg supir, merasa tidak enak atas ketidaknyamanan penumpangnya.


"Lanjut saja, sampai ke rumah orang yang tadi aku maksudkan" ucap Jerry, datar.


Waktu saat ini menunjukkan pukul 05.00 sore. Mobil yamg membawa keempat pria itu berhenti di sebuah rumah kecil yang sudah layak disebut sebagai gubuk.


Galih menatap heran. Ternyata ... masih ada orang yang mau tinggal di tempat seperti ini. Gubuk ini bahkan layak disebut rumah hantu. Pikirnya.


"Benarkah disini tempatnya bang Jerry? Aku ... khawatir gubuk ini akan rubuh saat kita semua memasukinya.


Sang supir yang mengantar keempat pria itu terlihat bertanya-tanya, apa maksud orang-orang ini mencari pria pendiam itu.


Akhirnya, keempat pria tampan itu keluar dari mobil dan meluruskan langkahnya memasuki rumah gubuk itu.


Bugh. Bugh.


"Si-siapa kalian?" tanya pria itu, kaget melihat kedatangan orang asing memasuki gubuknya tanpa salam, tanpa permisi, dan langsung menyerangnya.

__ADS_1


"Aku kakaknya Marsha. Aku datang kesini untuk membuat perhitungan denganmu." ucap Jerry terang-terangan, mengeratkan remasan tangannya pada kerah baju pria itu.


"Kenapa kau menyiksa adikku? Apa alasanmu?" tanya Ferdo, dengan wajah penuh amarah dan tanpa perasaan menghantam kepalan tangannya ke tubuh bagian perut pria itu.


"Heh... jadi anak itu benar-benar sudah pulang?"


Pertanyaan yang terdengar meremehkan itu kembali membuat pria itu menerima hadiah dari bogem kakak beradik itu.


Lalu apa yang dilakukan Tomi dan Galih? Dua orang itu hanya pemain cadangan. Cukup diam menyaksikan saja, dengan perasaan tak tenang memikirkan keselamatan mereka apabila gubuk ini tiba-tiba rubuh.


Seakan tak membiarkan pria itu mati ditangan dua kakak beradik yang memukulnya dengan membabi buta itu, polisi yang di hubungi oleh teman si abang Jerry pun tiba disana.


Terpaksa dua orang itu berhenti dari aksi mereka dan ikut dibawa oleh polisi untuk dimintai keterangan.


.


Setibanya di kantor polisi terdekat, pria itu pun diinterogasi dan memberi keterangan.


"Ayah mereka! Ayahnya yang adalah seorang dokter itu, telah gagal menyembuhkan putriku satu-satunya. Dia mengatakan bahwa akan berusaha yang terbaik untuk menyelamatkan putriku, tapi dia gagal. Putriku meninggal. Sebab itu aku mengambil putrinya dan menyiksa gadis itu saat aku sedang teringat akan anakku."


Gila! Hanya itu satu-satunya alasan kenapa pria itu tega mengambil Marsha dari keluarganya. Tidak untuk merawatnya, melainkan untuk menyiksa Marsha disaat-saat tertentu. Ini tentulah akan menjadi pukulan besar bagi papa Juan jika mengetahuinya.


Selama ini, papa merasa bersalah karena tidak menjadi ayah yang baik, yang tak bisa menemukan keberadaan putri yang sangat menyayanginya itu. Bagaimana jika tahu bahwa alasan hilangnya Marsha adalah karena dendam terhadap dirinya? Tentu saja papa akan merasa semakin sedih, bersalah sekaligus berdosa terhadap putri satu-satunya, yang bahkan bukan darah dagingnya itu, tetapi harus menanggung penderitaan atas dendam seseorang terhadap dirinya.


Bagi keluarga Barata, kepulangan Marsha sudah lebih dari cukup. Jika bukan karena bekas luka adiknya yang teramat menyedihkan, keluarga Barata itu juga tidak akan mencari keberadaan pria sakit mental ini.


.


Setelah berurusan dengan polisi, keempat pria itu pun hendak kembali ke kota untuk setidaknya beristirahat di hotel atau semacamnya, sebelum besok kembali ke kota asal mereka.


Ternyata, rencana hanya tinggal rencana. Hujan deras melanda daerah itu sehingga pemilik mobil yang mereka tumpangi mengatakan bahwa perjalanan tidak akan bisa mereka lanjutkan ke kota dikarenakan sudah pasti banjir dan lumpur dan jalanan pasti licin.


Pria itu pun mengajak penumpangnya untuk menumpang dirumahnya saja malam ini, dan akan kembali ke kota esok hari ketika jalan sudah aman. Mau tidak mau, keempat orang itu hanya menurut saja, kemudian berterima kasih.


'Melina. Benar, bukankah Melina berdomisili di daerah ini? Dia mengatakan bahwa tinggal dikampung yang sama dengan adikku'


Tanpa sadar, pria itu senyum-senyum sendiri, berhasil menuai tatapan curiga dari kedua temannya.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2