
Happy Reading❤️
Matahari sudah di ujung petang,
Langit senja seolah tak lagi sama.
Ramadhan membopong tubuh Khansa,
ia juga segera menghubungi dr Azka untuk segera memeriksa keadaan Khansa.
Beruntung dr Azka bisa segera tiba dan memeriksa Khansa.
Diperiksanya dengan teliti pasien sekaligus cinta pertama Azka didalam hidupnya itu.
Tuhan masih baik kepada Khansa, tidak ada tanda-tanda radang luka atau memar diperut Khansa.
"Siapa yang mengizinkannya berolahraga Kendo lagi Ramadhan?" Tanya Dr Azka to the point.
"Entah, saat aku pulang dari cek lab bersamamu di rumah sakit. Aku mencari-carinya, dan mendapati istriku ternyata tengah membabi buta menyerang alat peraga manusia buatan anyaman bambu diruangan itu. Jika aku lihat sekilas sepertinya ruangan itu sudah lama tidak terpakai." Ramadhan menjelaskan apa yang ia lihat dengan detil ruangan Khansa itu.
"Jelas sudah lama, setelah insiden penusukan yang dialami Khansa. Abah tidak mengizinkan Khansa berolahraga Kendo lagi. Olahraga ini terlalu berisiko dengan luka di bagian perutnya. Dan aku masih ingat, sifat dan sikap Khansa berubah setelah kejadian ini. Khansa memang pernah bermimpi menjadi seorang atlit Dojo.
Ya sudahlah, mungkin ini sudah garis takdir Khansa. Melihat intensitas Khansa tak sadarkan diri jika kelelahan, sebaiknya donor usus halus harus cepat di tentukan." Azka mulai mengutarakan usulannya.
"Iya dokter Azka, semoga hasilnya nanti cocok dengan Khansa. Agar aku bisa segera mendonorkan sebagian usus halus ku."
"Tunggu sebentar, pipimu terluka Ramadhan. Biar ku beri salep dan plester."
"Ya Allah Ramadhan, apa kamu benar-benar tidak bisa menjaga istri kamu dengan baik walau hanya sebentar? Kenapa Khansa akhir-akhir ini jadi sering pingsan setelah menikah dengan kamu. Sebelum Khansa menikah dengan kamu dia yg tidak pingsan-pingsan seperti ini." Bude Aminah yang baru saja datang, tapi sudah membuat geger.
Aisyah yang berada di ambang pintu, hanya bisa pasrah melihat kakaknya terbaring lemah.
"Astagfirullah di tahan emosinya bu, saya baru saja memeriksa keadaan Khansa. Ini bukan salah Ramadhan, ini murni kesehatan Khansa yang menurun. Sebentar lagi waktu Maghrib akan tiba, saran saya biarkan Khansa istirahat terlebih dahulu. Saya pamit, Ramadhan, Bu Aminah, Aisyah. Assalamualaikum,"
Pamit dokter Azka.
"Terima kasih banyak, waalaikumsalam,"
Timpal Ramadhan.
"Kakak ipar, lebih baik kakak mandi dulu. Biar Aisyah menunggu kakak Khansa, setelah itu biar kak Ramadhan sudah bersih menanti kak Khansa bangun." Tawar Aisyah.
"Terima kasih banyak Aisyah."
"Sama-sama kak."
**
"Bude juga mau mandi Aisyah, ga paham bude dengan Khansa akhir-akhir ini kelihatan begitu murung. Padahal menurut bude dokter Azka tadi lebih cocok jika menikah dengan Khansa."
Ucap Bude Aminah yang sedari tadi rem di mulutnya sudah blong.
"Astaghfirullah Bude, ga boleh bicara seperti itu." Aisyah merasa tidak enak, pasti kak Ramadhan tetap bisa mendengar apa yang Bude Aminah tadi ucapkan.
"Astaghfirullah maaf Bude keceplosan, bude pergi mandi kalau begitu." Bude Aminah melarikan diri begitu saja.
Selesai mandi, Ramadhan langsung bergegas melaksanakan shalat Maghrib. Setelah selesai Ramadhan segera berterima kasih kepada Aisyah. Hingga Aisyah pamit, Khansa belum juga bangun.
"Maafkan aku sayang, ternyata aku yang telah membuat kamu banyak berubah. Keinginanmu menjadi seorang Atlit harus kandas karena bertemu dengan orang bodoh sepertiku."
__ADS_1
Rasa bersalah semakin menyayat hati Ramadhan, ia benar-benar sebuah malapetaka di hidup Khansa.
Perlahan Ramadhan mencium kening istrinya, dan menggenggam erat tangan istrinya itu.
Memang tidak ada cinta di hati sang istri untuknya, tapi Ramadhan yakin. Jika suatu hari nanti Khansa akan dengan ikhlas mencintainya.
Kesalahan demi kesalahan yang telah Ramadhan buat di masa lalu, semakin menambah jarak masa depan antara Ramadhan dan Khansa.
Gerakan demi gerakan muncul dari tangan kelopak mata Khansa.
Ramadhan tersenyum melihat sang istri mulai sadarkan diri.
"Tolong menjauh dariku," Suara Khansa begitu lemah, namun masih jelas untuk didengar.
"Menjauh bagaimana istriku, kamu harus makan lalu minum obat. Biar aku suapi pelan-pelan." Ramadhan masih dengan sabar menghadapi istrinya.
"Aku tidak mau dekat dengan seorang pembohong, aku bisa makan dan minum sendiri. Jika kamu tak mau menjauh, biar aku yang keluar dari kamar ini."
Deg! Jantung Ramadhan serasa akan copot. Pembohong!
Apa istriku sudah mengetahui identitas yang ku sembunyikan?
Tapi dari mana?
Apa Reza sudah menceritakan semuanya?
"Maksud sayang apa? Aku tidak berbohong,
aku berbohong apa Khansa?"
Dengan terpaksa Ramadhan belum bisa mengakui yang sebenarnya kepada Khansa.
Drt!
Boby Calling...
Ramadhan langsung meninggalkan Khansa yang berada dikamar, ke ruang shalat yang masih juga berada dalam satu kamar mereka.
Melihat gelagat suaminya yang begitu mencurigakan, Khansa mencoba membuka telinganya lebar-lebar. Khansa berusaha se-sunyi mungkin agar samar-samar bisa mendengarkan percakapan suaminya dengan penelpon itu.
📞Assalamualaikum Bob? (Ramadhan menjawab dengan suara setengah berbisik)
📞Wa'alaikumsalam Ramadhan, situasi semakin gawat. Segera baca email dari institusi nasional Indonesia, mereka mulai mengincar pangsa pasar statistik Indonesia. Ku dengar kemarin mereka secara terbuka memanggil dan mengadakan pertemuan dengan para hacker Indonesia yang pernah ikut ambil andil dalam pembuatan pasword di gedung itu. Aku tak bisa berbicara banyak di telepon Ramadhan, jika pesawat tidak delay. Kemungkinan pukul 07.00 aku sudah mendarat di Bali."
📞Baiklah Bob, aku pantau kondisi selanjutnya. Aku akan bergerak jika ada perintah bergerak dari bagian pemerintah. Aku sedang bersama istriku, aku tidak bisa berbicara banyak disini.
📞Ya, jaga selalu identitas mu kawan. Jangan sampai keberadaan mu terendus mereka.
📞Baik, Assalamualaikum
📞Wa'alaikumsalam.
Khansa yang sedari tadi menempelkan daun telinganya di tembok mushola kamarnya langsung lari tunggang langgang kembali ke kasurnya saat mendengar Ramadhan mengakhiri telepon dengan mengucapkan salam.
Bob?
Boby?
Bukankah kekasih Fitria juga bernama Boby?
__ADS_1
Ah, tidak mungkin ini hanya kebetulan saja.
Ya Rob, sebenarnya apa saja yang suami hamba sembunyikan dari hamba.
Apakah Khansa berdosa jika akan menyelidiki pekerjaan suami hamba sendiri?
Aku yakin jika suamiku bukan guru honorer atau guru madrasah atau apapun itu yang menjadi alibinya selama ini.
Akh sebaiknya aku tidak marah padanya, dan berpura-pura seperti biasa saja.
Agar dengan mudah aku bertanya atau meminta apapun yang aku mau sebagai trik untuk mencari tahu tentang hal yang sedang disembunyikannya. Batin Khansa berkecamuk memikirkan hal-hal yang tak pasti.
"Kak Ramadhan, tolong suapi aku makan. Aku mau minum obat shalat Isya lalu tidur."
"Apa Khansa ku sudah tidak marah lagi kepadaku?" Ramadhan agak curiga tiba-tiba istrinya menjadi baik demikian.
Apa istriku menguping pembicaraanku tadi?
Jika dia menguping,dan mendengar pembicaraanku dengan Boby tadi. Seharusnya reaksinya adalah marah karena tahu aku menutupi sesuatu dibelakangnya. Tapi kenyataannya dia malah tidak marah. Ya sudahlah, yang terpenting Khansa ku tersayang sudah tidak marah lagi kepadaku.
Dengan telaten Ramadhan menyuapi Khansa, Ramadhan selalu saja menatap mata indah Khansa sambil menyuapinya. Sedangkan Khansa dengan santai menerima suap demi suapan nasi dari Ramadhan namun fokus matanya sibuk chat bersama Fitria menanyakan tentang latar belakang dan pekerjaan Boby yang Fitria ketahui selama ini.
......................
Walau pada kenyataan, berbohong hukumnya haram, tetapi dalam keadaan tertentu, Islam memberikan kelonggaran.
Namun, ia bukan dalam konteks yang terlalu ketat. Rasulullah SAW pernyataan, yang menyatakan niat ingin mendamaikan orang lain atau untuk seseorang, dalam masyarakat, dia tidak ada, jadi hukumnya boleh, bahkan bisa hukmunya wajib, bila benar-benar untuk menyelamtakan jiwa sesorang.
HR. Bukhari Muslim dari Ibnu Mas'ud:
"Kejujuran menuntun pada kebajikan, kebajikan dapat menghantarkan ke surga. Sesungguhnya kebohongan itu benar-benar manusia pada kejahatan, sedang kejahatan itu dapat dilakukan pada neraka. "
HR. Bukhari dari Ibnu Abas: "Barangsiapa mengaku bermimpi sesuatu padahal dia tidak memimpikannya maka ia akan dituntut untuk menyambung dua ujung rambut."
Bahkan dalam Islam dipandang sebagai salah satu sifat kekufuran dan kemunafikan. Di dalam Al-Qur'an Alloh SWT berfirman,
"Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah mereka yang tidak mengimani (mempercayai) tanda-tanda kekuasaan Alloh. Mereka adalah kaum pendusta".
(An-Nahl: 105)
Beliau bersabda,
"Empat hal jika semuanya ada pada seseorang ia adalah munafik semurni-murninya munafik. Jika satu di antara yang empat itu ada pada dirinya maka terdapat saru sifat kemunafikan hingga ia dapat mencampakkannya; Jika berbicara ia berduta, jika diberi amanah ia khianat , jika gugatan ia melanggar dan jika membantah ia semua. "
...Cerbung...
...Hai semuanya!...
...Salam hangat dari penulis recehan, alias remahan rengginang yang masih gurih untuk jadi cemilan....
...Tolong tinggalkan jejak kalian disini ya, klik Like, comment dan Votenya. Mmm- Hadiahnya juga boleh kali ya....
...Jika berkenan jangan lupa untuk mampir juga di karyaku yang lainnya yang tak kalah serunya ya....
↘️↘️↘️↘️↘️↘️↘️
...~Terjebak Pernikahan Mr Bule Di Bali...
...~Siapakah Jodohku?...
__ADS_1
...~Obsesi Tingkat Tinggi...