
Happy reading❤️
A-aku mendengarkan." Khansa duduk kembali di kursi singgasananya.
Mendengar gadis sekecil Naura menderita penyakit serius dan sangat mematikan itu membuat terkejut dan merasa sangat tidak adil.
Kenapa harus gadis sekecil Naura?
Tidak tidak aku saja?
Aku rela mempunya penyakit seperti itu, karena aku juga sudah terlanjur memiliki bekas luka yang ternyata berisiko untuk hidupku kedepannya, hanya menunggu waktu saja.
Tidak dengan Naura, masa depannya masih jauh terbentang. Dia berhak bahagia, dia berhak bertumbuh sama seperti anak-anak kecil lainnya.
"Kejadian satu malam dengan Yuta dulu, itu benar-benar kecelakaan Khansa. Aku benar-benar dijebak, tapi hingga kini aku sama sekali belum menemukan pelakunya. Semua bukti justru mengarah kepada Yuta."
"Aku bersedia mendengarkan tentang Naura, bukan tentang kalian." Ucap Khansa dengan perasaan yang berapi-api.
"Tapi itu awal mulanya Khansa, jadi kamu harus tetap tau dan mendengarkan penjelasan yang sebenarnya dariku. Hingga akhirnya Yuta melahirkan Naura di Paris, nama Naura Khansa
aku yang memberikannya. Tadinya Yuta sangat tidak setuju, tapi keputusanku sudah bulat. Jika kecelakaan satu malam itu tidak terjadi, seharusnya aku sudah mempersunting mu Khansa. Dan seharusnya juga aku sudah mempunyai putra-putri dari rahimmu."
Khansa memilih diam seribu bahasa, tak bergeming sedikitpun atas penjelasan Hilal.
"Namun takdir berkata lain, sejak Naura menginjak usia 2,5 tahun. Ia divonis memiliki penyakit serius, yaitu kanker otak. Semenjak ketuk palu dari dokter yang menyatakan bahwa Naura mengidap penyakit mematikan itu dan terancam hidup tak akan lama, Yuta dengan teganya meninggalkan Naura. Aku tidak pernah menikahi Yuta, Khansa. Jadi aku tidak berhak untuk menuntut atau mencarinya bukan?"
"Kenapa bertanya kepadaku yang tentu saja kamu sudah punya jawabannya." Gerutu Khansa kesal.
"Aku hanya memastikan jika kamu masih mendengarkan aku." Senyum pria bergigi gingsul itu merekah.
Jika wanita normal pasti akan langsung meleleh setelah melihat senyum seorang Hilal. Tapi seorang Khansa memang benar-benar wanita yang tidak normal. Baginya pria termanis dan tertampan dihatinya kini adalah sosok Ramadhan.
"Sejak saat itu aku memutuskan untuk mengenalkan sosok dirimu sebagai ibu Naura, sosok wanita yang bisa mencerminkan wanita baik-baik melalui rangkaian foto-fotomu yang terpampang disetiap sudut ruangan rumah kami. Bukan seperti sosok Yuta yang melakukan hal sekejam ini kepada Naura."
Hilal melanjutkan kisahnya.
"Jadi aku harap, disisa hidup Naura. Kamu mau mengasihinya hingga ia tiada nanti." Mata hilal mulai berkaca-kaca, membendung air mata yang kapanpun bisa langsung jatuh.
Tak jauh berbeda dengan yang Hilal rasakan, hati Khansa merasa terpukul telak oleh keadaan ini.
__ADS_1
Di satu sisi ia punya suami yang harus ia taati perintahnya. Dan di satu sisi lainnya, ia tak tega melihat anak sekecil Naura berbelas kasihan mencari kasih sayang sosok seorang ibu. Dengan penyakit yang perlahan terus saja menggerogotinya.
"Mas Hilal," Suara Khansa sempat tercekat di kerongkongan-nya. Otaknya loading, sedang memfilter kata-kata yang halus dan tidak menyakiti Hilal dalam menyampaikan maksudnya.
"Hidup dan mati seseorang itu ada ditangan Allah. Manusia hanya bisa menerka-nerka, menimbang pilih, mengakumulasi, memperkirakan, menganalisa dengan kebenaran yang belum tentu adanya. Serahkan semua kepada Allah, hanya kepada-NYA kita mengadu dan melepaskan seluruh kekhawatiran kita di dunia ini. Aku tidak menolak permintaanmu mas, tapi kamu tidak amnesia bukan? Aku punya suami, yang perintah dan izinnya adalah surga untukku. Sudah pasti neraka menjadi tempatku jika aku membangkang dan melakukan sesuatu tanpa izin darinya terlebih dahulu. Jika memang ini semua benar adanya, temui lah suamiku. Dia pria yang baik dan pemberani, kamu dan Naura pasti akan menyukainya.
Sudah bisa kita akhiri pembicaraan ini? Aku harus menjenguk Fitria di rumah sakit ba'da Maghrib nanti."
"Terima kasih, segera atur waktu agar aku bisa menemui suamimu. Sungguh aku iri dengan Ramadhan Khansa. Ia sangat beruntung bisa mendapatkan istri sepertimu. Tidak seperti aku yang harus kehilanganmu karena kebodohan ku."
"Aku hanyalah wanita akhir zaman yang mencoba belajar dari kedangkalan ilmu agamaku mas Hilal. Semoga kamu segera dipertemukan wanita baik yang akan menjadi jodohmu, berbenah diri dan berbuat baiklah. Insyaallah semua kebaikan itu akan kembali lagi padamu. Aku juga masih banyak belajar dari banyak hal yang belum ku ketahui sebelumnya. Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosa yang pernah umat-umatnya perbuat."
Senyum tipis itu menyungging dari wajah oriental berhias gingsul itu. Terlihat kaku- dingin seperti es batu, terlihat songong, sombong dan sotoy. Tapi sebenarnya hatinya selembut kapas.
Ceklek! Pintu ruang praktek Khansa kini terbuka. Hilal melangkahkan kakinya hendak meninggalkan Khansa.
"Tunggu kertas cek uangmu tertinggal!"
"Aku akan kembali, aku serius tentang operasi kecil itu. Sisanya kamu bisa untuk membantu orang yang membutuhkan! Assalamualaikum,"
Teriak Hilal sambil berlalu.
Kamu benar-benar tidak pernah berubah sedikitpun mas, astaghfirullahhaladzim.
Terlalu jauh Khansa berucap.
Sementara itu Hafiz menatapnya dari balik meja pendaftaran dengan hembusan napas yang sangat berat.
...****************...
Ramadhan yang baru saja mengendus hal tidak beres melihat dari rekam jejak ponsel Fitria, langsung melakukan olah tkp didalam ponsel Fitria.
Dan benar saja, pesan masuk berisi foto-foto Boby menikah dengan Winda bertebaran di riwayat chat WhatsApp Fitria pada salah satu nomor baru disana.
Games!
Rasanya Ramadhan ingin menghajar Boby hingga tak berdaya jika seperti ini, ia berpacaran dengan Fitria. Tapi justru ia menikahi Winda, apa ada unsur udang dibalik bakwan dari seorang Boby?
Ia tak menyadari bahwa tindakannya ini hampir merenggut nyawa Fitria dari dunia yang fana ini.
__ADS_1
Dengan memesan ojek online lewat aplikasi yang bertengger rapi di ponselnya, Ramadhan melesat menuju kantornya.
Sang driver ojek online yang sudah berpengalaman lebih dari 5 tahun di bidangnya, ditambah ia sudah menguasai arena balap. Membuat Ramadhan dengan begitu cepat tiba di kantor yang berada lumayan jauh dari lokasi rumah sakit.
"Ambil saja kembaliannya bang," Ucap Ramadhan sambil berlalu meninggalkan sang driver yang berhasil mengantarnya dengan selamat itu.
"Alhamdulilah, terima kasih pak." Timpal sang driver yang senyum sumringah kegirangan.
*Alhamdulilah, terima kasih atas rezeki darimu ya Allah. Jadi bisa buat beli susu dedek dirumah.
Semoga bapak penumpang saya tadi selalu dilimpahkan kebahagiaan dalam hidupnya, Amiin🙏
MasyaAllah doa-doa tulus dari seorang pekerja keras begitu indah, begitu Masyur terdengar*.
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai 4 kantornya. "Dimana Boby?" Tanya Ramadhan singkat kepada Sinta yang tengah mencopy beberapa file diatas mesin fotocopy disana.
"Ada di ruangannya," Jawab Sinta tanpa mendapat tatapan sedikitpun dari seorang Ramadhan.
Sinta hanya tersenyum sinis diperlakukan demikian oleh Ramadhan, "Ini baru permulaan Ramadhan, kali ini Boby dan Fitria. Dan setelah ini ku pastikan giliran kamu dan Khansa!"
Bersambung...
...Dialah Nabi Pelita cahaya yang memberi petunjuk orang-orang yang bimbang...
...Di padang mahsyar panjinya sebagai pemberi naungan...
...Sampailah kepadanya hikmah tanpa perantara apapun...
...Dengan hikmah itu hujanlah langit (dengan rahmat) di segala penjuru barat dan timur...
...Dengan hikmah itu hujanlah langit (dengan rahmat) di segala penjuru barat dan timur...
...Wahai yang jauh dariku dan tempatnya di lubuk hati yang terdalam,...
...Jawablah wahai saudaraku seruan yang memenuhi segala penjuru,...
...Jawablah wahai yang diriku adalah terbenam dalam rindu padamu, dan mengalir pada...
__ADS_1
...Jawablah wahai yang diriku adalah terbenam dalam rindu padamu....