Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)

Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)
Untaian Doa Itu Romantis


__ADS_3

"Khansa ...! Lo liat fotonya Boby ya? Mampus dah gue, please jangan bully gue Sa ...." Dengan pipi merah padam menahan malu Fitria berteriak-teriak.


"Kenapa jadi panik begitu sih ... aku cuma ga senagaja liat fotonya Boby kok di Wallpaper, kenapa kamu jadi kaya panik gitu?"


Fitria beberapa kali mencoba mengatur pernapasannya dan menghabiskan air putih yang sedari tadi sudah menemaninya.


"Aku hanya belum terbiasa akan kehilangan aku Sa, semua butuh proses bukan? Sedangkan kejadian Boby itu sangat mendadak bagi aku. Jadi ...." Kalimat yang diucapkan Fitria menggantung begitu saja di udara.


"Kenapa kamu jadi sibuk menjelaskan kepadaku Fitria sayang? Untuk apa? Hanya untuk membuatku percaya bahwa kamu sudah tidak mencintai Boby lagi? Tidak perlu Fit, simpan saja ulasan dan alasan kamu. Sebagai sahabat kamu aku hanya bisa mengingatkan, jangan terlalu lama bergelut dalam masa lalu. Hidup terus berjalan Fit, begitu juga dengan aku ... yang sekarang sedang berjuang melawan ingatan Kak Ramadhan yang masih berkutat dalam masa lalunya." Senyum kecil mengembang dari bibir manis Khansa.


Perumpamaan sebuah cermin teman yang baik dan teman yang buruk itu bisa diibaratkan seorang penjual minyak wangi dengan seorang pandai besi. Jika berteman dengan penjual minyak wangi, kamu akan tertular harumnya. Namun jika berteman dengan pandai besi kamu juga akan menghirup khas bau besi yang terbakar.


"Setiap untaian doa itu sangat romantis, walau setiap pengucapannya harus terhias dengan tangis. Tapi aku yakin, suatu saat ia akan berbuah manis. Untuk mantan kekasih hatiku yang telah membuka tangis."


_By; Fitria


...----------------...


Tak butuh waktu lama memang, sepiring nasi beserta lauk opor ayam yang tadi mengitari sang nasi, kini sudah ludes berpindah tempat ke perut Fitria.


"Sa, kalau abis makan gini ... kayanya enak nih kalau bobo dulu, hehehe. Tapi nasi belum turun juga sih,"


"Aku mandi dulu ya Fit, kamu tunggu Azka datang dulu sebentar. Abis tu gantian kamu yang mandi, jangan tidur setelah makan. Nanti asam lambung kamu bisa naik, kurang bagus."


"Siap bos," senyum sumringah terpancar dari bibir Fitria.

__ADS_1


"Tapi jangan lupa juga, segera hapus foto mantan dari segala kenangan."


"Iya Khansa, ya Allah ... ga usah pake lirikan maut juga ngomongnya, kan aku atut."


"Kamu kalau ga digituin ga ngerti nanti, ya udah aku mandi ...."


"Siap tuan puteri,"


Berselisih waktu hanya lima menit Azka datang, dengan perutnya yang sudah keroncongan langsung menyantap habis makanan yang tadi sudah Khansa siapkan. Selesai membaca doa setelah makan, Azka membersihkan peralatan makan yang ia pakai.


"Ga usah Azka, nanti gue aja yang cuci piringnya. Lo kan laki," celetuk Fitria sambil memainkan jemarinya pada ponsel kesayangannya. Terlihat Fitria mulai menghapus beberapa foto dari album galeri.


"Kenapa? Karena gue laki ga boleh cuci piring gitu? Salah besar kali, pekerjaan membersihkan peralatan rumah tangga tu bukan hanya kewajiban perempuan saja, laki-laki juga. Memang laki-lakinya ga makan kalau di rumah? Makan juga 'kan?"


"Insya Allah Hafiz juga begitu kok pemikirannya, dia juga tipe pria yang bertanggung jawab ... walaupun agak pemalu."


"Kok jadi ke Hafiz sih?" Bibir Fitria mengerucut kesal. Acap kali Azka memang selalu menyudutkan dirinya tentang Hafiz.


Selesai dengan membersihkan piring dan gelasnya, Azka mengeringkan tangannya menggunakan hand dryer.


"Fit, Khansa kemana?"


"Mandi,"


"Kamu sibuk ga?"

__ADS_1


"Santuy aja,"


"Itu ngapain scrol-scrol Fb mulu? Stalking-stalking mantan ya?" Kali ini Fitria menoleh penuh kepada Azka.


"Mau cari ribut?"


"Ye, gue 'kan tanya ... kalau kamu marah, berarti bener pertanyaan gue, hahahaha."


"Mending diem deh, ga asik banget."


"Fit, gue mau ngomong serius."


"Ngomong aja kali, gue pasti dengerin."


"Gue lemah kalau di posisi seperti ini, mau sampai kapanpun. Cinta dan sayang gue buat Khansa selalu ada, tapi kalau liat Ramadhan deket sama Kinara lagi. Gue jadi merasa ada kesempatan buat balik ma Khansa, gue merasa kalau Tuhan masih mau berbaik hati sama gue Fit," ucap Azka dengan mimik yang sangat serius.


"Kenapa aku mulai mual ya Azka?"


"Fit, please ... aku serius. Cuma Khansa yang ada di hati ak- u ...." Suara Azka tercekat ketika melihat orang yang ia cintai sudah berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang begitu tajam.


"Azka," suara Khansa terdengar begitu parau.


Irama jantung Azka berdegup begitu cepat, keringat dingin seketika mengucur deras. Hati Azka gelisah, apa Khansa akan marah besar kepadanya? Terlebih ia mendengarkan setiap ucapan perkataannya kepada Fitria mengenai dirinya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2