
Happy reading❤️❤️❤️
Suara deringan ponsel terus saja berbunyi dari dalam tas Khansa, dengan wajah yang sedikit menahan kantuk Khansa menekan tombol warna hijau.
"Assalamualaikum,"
"Wa'alaikumsalam Sa,"
"Ada apa dokter Azka? Hoaam..." Karena begitu merasakan kantuk Khansa sampai tidak bisa menahan mulutnya untuk menguap. Sejurus kemudian Aisyah dan Ibu Fatima memandang ke arahnya.
"Kamu kelelahan Sa?" Pertanyaan Azka membuyarkan pikirannya.
"Tidak Azka, aku baik-baik saja. Kamu ada perlu apa? Tumben menghubungiku?"
"Hari ini kata Fitri kamu praktek? Bukankah lokasi klinik dengan rumah mertua kamu lumayan jauh? Apa itu nanti tidak berisiko untuk kehamilan kamu?" Rantai jalur pertanyaan Azka sontak membuat telinga Kinara sedikit panas, Oh my Gosh! suaminya begitu mengkhawatirkan Khansa secara berlebihan.
"Kamu menghubungiku hanya untuk menanyakan itu?"
"Ehem-hm sebenarnya aku ingin memberitahu, kalau memang hari ini kamu praktek. Kinara akan memeriksakan kandungannya denganmu hari ini. Selisih kehamilan kalian hanya satu bulan, jadi aku harap Khansa kasih info dan vitamin terbaik juga untuk Kinara."
Hati Kinara yang tadinya terbakar cemburu, kini mulai mereda- bahkan kini matanya menyimpan genangan air mata. Dari sosok dingin seorang Azka ternyata masih mengkhawatirkan kehamilannya, yang berlatar belakang bukan anaknya.
"Baik dokter Azka, tak perlu khawatir. Aku akan selalu memberikan yang terbaik kepada seluruh pasienku. Nanti langsung ke klinik saja ya, jam 09.00 baru aku buka pelayanan."
"Oke, sampai nanti. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
***
"Apa ada masalah nak?" Bu Fatima khawatir dengan menantunya.
"Tidak ada bu, Azka hanya mendaftarkan istrinya untuk memeriksa kandungan dengan Khansa nanti."
"Oh- begitu, sini nak. Rebahkan kepalamu di sini. Agar kamu bisa istirahat sebentar, lumayan masih 20 menit."
Khansa merasa sungkan kepada ibu mertuanya, "Khansa tidak apa bu,"
"Kesini nak, ibu yang meminta."Terima kasih bu." Senyum merekah begitu saja dari bibir keduanya.
Perjalanan mendadak menjadi begitu menyenangkan bagi Khansa.
...****************...
"Aku harus meminta bantuan Billar dan Boby, kita tidak akan bisa menghadapi Alex sendirian Niko." Mimik Ramadhan kini menjadi sangat serius.
"Iya kak, kita tidak akan bisa melawan mereka tanpa backup apapun. Kakak masih pegang senpi?"
Ramadhan menggeleng, aku hanya membawa dua senjata saja. Sisanya masih di hotel dan ruang rahasia.
"Di mana ruang rahasia kamu?"
"Di ruang bawah hotel."
PLAK! Sebuah gesekan keras dari ruas-ruas jari mendarat keras di kepala Niko.
"Aduh! Sakit kak Ramadhan."
"Ya sama saja itu berarti di hotel, dodol." Ucap Ramadhan kesal.
__ADS_1
"Hehehe ya bedalah kak, di ruang bawah tanah sama di atas tanah kan beda?"
"Ya terserah kamu lah?"
"Ih kok kak Ramadhan sewot sih," Ucap Niko sambil mengusap-usap bagian kepalanya yang tadi di jitak.
"Kalian tunggu di sini. Aku mau ambil ponsel sebentar, ada yang harus aku bicarakan dengan Billar dan Boby."
"Baiklah kak, aku mau tiduran di sini dulu." Reza sedari tadi sudah menahan kantuknya.
"Aku ikut kak Ramadhan."
"Dasar buntut, ada orang mau telfon aja ikut." Ejek Reza.
"Biarin, aku kangen banget sama bang Ramadhan soalnya."
Niko berjalan mengekor dibelakang Ramadhan yang masih tertatih-tatih menggunakan tongkat untuk berjalan.
...****************...
"Dokter Khansa...!" Mira begitu histeris menyambut kedatangan Khansa pagi itu.
"Assalamualaikum Mira,"
"Wa'alaikumsalam dokter." Mira memeluk Khansa dengan erat, kali ini harus berebut dengan Fitria. Karena baru saja Fitria dan Hafiz datang.
"Khansa gue kangen, huft..."
"Pelan-pelan peluknya ya nak, Khansa sedang hamil soalnya," Ibu Fatima khawatir karena melihat teman-teman Khansa memeluk terlalu girang.
"Hehehehe iya, maaf ya tante... Kami terlalu bersemangat."
"Maaf para dokter-dokter yang cantik, sepertinya para pasien kita sudah banyak menunggu." Hafiz melirik-lirik ke arah ruang tunggu yang perlahan terlihat mulai padat.
"Ibu, tunggu Khansa di meja resepsionis bareng Mira dulu gapapa ya bu, sama Aisyah? Kalau ibu mau keliling-keliling sama Aisyah juga boleh bu. Di sini banyak view-view indah di belakang."
Khansa menawarkan beberapa opsi agar mertua dan adiknya tidak bosan menunggunya.
...****************...
"Aisyah, apa mau jalan-jalan sama Ibu?"
Aisyah dengan cepat mengangguk, matanya berkaca-kaca. Hatinya berkecamuk, tak karuan. Aisyah begitu merindukan sosok Ummi, raut wajah dan pancaran netra ibu Fatima. Membuat rasa rindu yang amat berat itu kembali terkuak.
Perlahan bu Fatimah mendorong kursi roda Aisyah menuju taman depan klinik.
"Bu," Ucap Aisyah lirih.
"Ya Aisyah,"
"Maaf Aisyah lancang bu, apa boleh Aisyah mencuci kaki ibu dan memeluk ibu."
Gembong kereta api yang membawa bulir-bulir air mata lewat begitu saja, tak bisa di bendung sama sekali.
Bu Fatimah setengah berjongkok, mencakup kedua tangannya di wajah Aisyah. Dengan perlahan namun pasti, bulir- bulir air mata itu Fatima hapus. "Kenapa Aisyah menangis? Tak perlu izin nak, ibu juga ibu mertua kamu. Sama dengan Khansa, kalian tak ada bedanya bagi ibu."
"Tapi Aisyah belum mengandung seperti kak Khansa bu, atau mungkin Aisyah tidak akan bisa mengandung." Ucap Aisyah dengan segenap rasa pesimis di dadanya.
"Astaghfirullah, Aisyah tidak boleh bicara seperti itu. Sabar nak, rezeki dari Allah berbeda-beda. Aisyah tidak boleh berbicara seperti itu lagi janji?"
__ADS_1
Aisyah mengangguk, kini Ibu mertua dan menantu itu tenggelam dalam pelukan hangat.
****
Diposisi berbeda dengan waktu yang sama
tembakan secara membabi buta menyerang dua orang satpam yang tengah berjaga di pos jaga rumah Ramadhan.
Beruntung senjata yanh di gunakan oleh para pelaku menggunakan senjata api kedap suara. Sehingga tak menimbulkan suara letupan yang memancing warga.
Pak Hakim dan Pak Teguh tergeletak bersimbah darah, begitu kejamnya para pelaku bahkan tak memberi kesempata pak Hakim berbicara saat menegur mereka hendak menemui siapa.
Srt! Srt! Bagian kunci pintu utama di tembak.
Brak!
Pintu di tendang keras oleh para pelaku yang terdiri dari 5 orang. Ramadhan bersama Niko yang sedang menelpon konferensi dengan Billar dan Boby langsung terkejut bukan main.
"Angkat tangan kalian! Jika memberontak akan ku pecahkan kepala kalian sekarang juga!"
Bersambung...
...****************...
Kali ini, izinkan author menyampaikan sedikit motivasi ya reader, di masa-masa sulit seperti ini. Terkadang kita butuh saling waras dan support satu sama lain, butuh saling cinta dan menguatkan satu sama lain. Percayalah, kita semua pasti sama, punya masalah dan hal sulit masing-masing. Tapi kita juga tidak pernah lupa untuk selalu kembali dan bersandar kepada Sang Pemilik Kehidupan...
Jujur pada dunia diri.
Kerinduan akan keberhasilan tak menampik ada pada benak kita masing-masing. Keluarga dan dunia saya bahkan berkata, bermimpi dan bertindaklah sesuai porsi yang ada.
Hal itu memang benar adanya, bahkan hal itu berhasil memenjarakan sebagian besar dari jalan hidup saya, bahkan mungkin sebagian besar dari kita untuk takut bermimpi. Takut tidak akan ada pundak yang siap untuk kita bersandar saat kapal saya karam diterjang ombak realita kehidupan.
Terlahir dari keluarga yang miskin membuat keadaan memaksa saya untuk melihat kenyataan bahwa mimpi saya tak akan pernah bisa di raih. Jangan ketinggian mimpi nanti jatuhnya encok! Bahkan keluargaku sendiri berkata demikian.
Sedari kecil berangan dan bermimpi menjadi dokter, lalu setelah sedikit menjadi dewasa berubah menjadi penulis. Beberapa kali mencoba mengejar beasiswa yang berkaitan dengan kedokteran yang ku tuju, Allah belum mengabulkannya.
Cacian, hujatan dan makian sempat saya terima bahkan dari keluargaku sendiri. Otak sakit dipaksa sadar bahwa dunia memaksa saya melihat realita sebagai orang tak punya. Saya hanya sebutir batu ditengah tumpukan berlian.
Bertindak sesuai porsinya, jalan ditempat dan takut mengambil keputusan, justru membuat saya menjadi pribadi yang tidak berkembang. Membuat saya bukan saya sebenarnya. Tak ada satupun hembusan angin surga yang datang. Tak ada kemajuan sedikitpun, terlebih ketika keputusan yang saya ambil tak sesuai dengan keinginan hati. Hanya kata penyesalan yang akan hadir di akhir cerita.
Ini semua yang ku alami. keroposnya hati, emosi tak bertepi dan kehilangan separuh diri. Hingga akhirnya saya bertemu dengan sebuah wadah yang berisi manusia-manusia yang sejalan dengan logika hati. Manusia-manusia yang berhasil membuat saya jatuh cinta pada kepercayaan bahwa masing-masing dari kita memiliki potensi diri yang terselubung. Saya memutuskan untuk berkompromi dengan hati dan pikiran yang telah berjalan tanpa keinginan.
Mulai jujur pada diri sendiri, pada keadaan, kepada orang lain disekitar saya dan terutama kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Percayalah! Pada faktanya, jujur kepada dunia akan wujud dan jiwa diri kita sendiri, itu penting adanya untuk kehidupan kita selanjutnya.
Motivator yang pernah saya kunjungi berkata demikian. Hidup menjadi lebih ringan namun kegiatan dan tujuan yang kita lakukan justru lebih maksimal.
Langkah selanjutnya jujur kepada orang lain. Saya mencoba menjadi pribadi yang profesional dan jujur, kebetulan dalam konteks pekerjaan yang bersinggungan dengan orang lain. Kata jujur perlahan akan terpatri dalam diri, sehingga secara otomatis mempermudah dan memperlancar diri kita dalam meraih rezeki. Faktanya dalam kurun waktu yang singkat saya bisa naik jabatan sebanyak dua kali.
Lalu yang terakhir kejujuran kepada sang pencipta. Ini merupakan hal yang sangat sederhana, namun fakta yang sering terjadi. Saya dan kalian sering lalai. Bercerita, jujur kepada-NYA, telah membuka hati saya sebening embun. Saya butuh uluran dan campur tangan Allah, saya butuh ditemani dan dikuatkan Allah dalam setiap langkah. Saya merasakan itu semua akan membuat setiap langkah yang kita ambil seolah mulus seperti jalan tol.
Allah akan selalu memberi yang terbaik untuk hidup saya, hidupmu dan hidup semua umat.
Jujur membawa banyak manfaat bukan hanya di dunia, tetapi juga menjadi jalan yang mengantarkan seseorang menuju ke surga, seluas itukah kejujuran?Tapi jawabannya memang hanya kata Ya!Mendapatkan tempat yang baik di hati sesama manusia terlebih disisi Allah.
Orang yang jujur akan senantiasa mendapat kenikmatan dari Allah, diantaranya mendapat pertolongan dan doa-doa nya dikabulkan. Disukai banyak orang sehingga relasi menjadi sangat luas.
Jadikan Jujur adalah pakaian utama dari diri saya, kamu dan mereka.
__ADS_1
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan hendaklah kalian beserta orang-orang yang jujur."
(Q.S. At Taubah : 119)