
Happy Reading❤️
Temaramnya cahaya lampu-lampu jalanan menjadi satu-satunya benda yang menemani langkah Prita, yang kini berjalan gontai di sepanjang trotoar.
Kencangnya hembusan angin malam musim kering menerpa setiap pori-pori di tubuhnya, yang terasa menusuk tulang tidak membuatnya menggigil, Prita sangat merasakan kedinginan. Namun hatinya lebih sakit dan terasa beku bagaikan es batu.
Rasa sakit, nyeri di ulu hati, begitu lemah dan lunglai. Langkahnya terseok dengan keringat dingin bercucuran yang semakin banyak membasahi wajah pucat berlinang air mata itu, hingga akhirnya ia terjatuh dengan isakan yang terdengar menyayat hati.
"Berhenti di sana. Bos Alex sudah menunggu anda di mansion, sekali lagi anda kabur. Terpaksa kami akan melakukan kekerasan kepada anda. Ini perintah dari tuan Alex langsung!"
Prita hanya menatap orang-orang suruhan Alex itu dengan tatapan kosong, seperti mayat yang sudah tak punya kesempatan hidup. "Bunuh saja aku! Aku tidak mau bertemu dengan dia lagi! Cepat tembak aku! Asal kalian tidak membawaku kepada Alex lagi!" Stok air mata seakan sudah habis tak bersisa, sesenggukan dan dada terasa begitu terhimpit. Itu jelas tergambar dari sosok perempuan yang terbiasa bersikap sok kuat.
"Kamu mau bunuh kami juga kalau kami bunuh kamu? Kalau kamu mau mati sendirian aja jangan ajak kami, bodoh!"
Plak!
"Tolol kamu Jasson, kalau bos tau kamu bersikap begini kepada wanita yang dia cintai. Bisa jadi hiasan lampu gantung kepala kamu." Ucap Jacob geram.
Sekali lagi Prita tersenyum dengan raut sendunya, membuat perasaan para anak buah Alex diliputi rasa gelisah apalagi saat melihat bagaimana hidung wanita itu yang mengeluarkan darah, dan menoleh ke kanan dan ke kiri seperti sedang merencanakan sesuatu.
"Damn!"
“Brengsek! Sial!” Umpatan demi umpatan terlontar begitu saja dari bibir para anak buah Alex setelah melihat Prita hendak melompat dari jembatan.
Sreet! Bahkan baju Prita sampai terkoyak, karena tarikan yang begitu keras dari Jason.
"Benar-benar nekat plus gila ini cewek!" Umpat Jason lagi.
"Hm...! Hm...!" Prita berusaha memberontak.
Namun perlawanannya kalah begitu saja, sapu tangan berbalut obat bius sudah lebih dulu mendarat di hidungnya. Prita terkulai pingsan tak berdaya dengan mata terpejam.
Alex terus menghubungi nomor Jacob, seseorang yang selalu menjadi tangan kanan yang tak pernah mengecewakan dirinya.
Kenangan-kenangan yang dulu bersama Prita menjadi ikon sisa-sisa yang sangat membahagiakan bagi Alex. Keterbatasan ekonomi, cacian serta makian yang menghujam nya, menjadikan cambuk Alex masuk ke dunia hitam bersama Gabriel. Hidup di pinggiran kota membuat Alex berteman dengan Prita semasa kecil. Namun ucapan dari Ayah Prita dulu membuat Alex tertunduk dan malu.
"Saya dan anak saya sudah dari keluarga tak punya, semoga kelak Prita mempunyai jodoh yang setidaknya dari orang yang bukan dari kalangan seperti saya juga."
Kata-kata yang begitu menusuk dan masih terngiang di otaknya hingga kini.
__ADS_1
“Brengsek!! Angkat teleponmu Jacob.” Alex terus saja mengumpat. Guratan rasa khawatir dan cemas membuat ia selalu berkata kasar. Jika sampai Prita tak kembali, lihat saja kalian.
Alex kembali duduk di kursi singgasananya, menatap bengis Ramadhan dan Niko yang tengah berdiri dengan kedua tangan di rantai diatas.
Bugh!
Bugh!
"Akh-"
"Argh!"
"Kira-kira hukuman apa yang pantas aku berikan kepadamu Ramadhan? Kamu dengan kejamnya telah melenyapkan nyawa adikku satu-satunya. Haruskah aku melenyapkan nyawa adikmu juga? Atau istrimu? Mana yang harus aku pilih? Keduanya cantik, oh tidak- sepertinya istrimu jauh lebih cantik." Alex memperlihatkan foto jika istrinya Khansa sedang berpelukan dengan Fitria dan Mira di klinik, dan foto Sera turun dari mobil dan melangkah masuk gerbang sekolah.
"Jika sampai kamu berani menyentuh keluargaku dan istriku, kamu akan berhadapan denganku Alex!" Ramadhan begitu geram melihat orang yang dikasihinya dibuntuti oleh anak buah Alex.
"Hahahaaha! Hahahaahha." Alex tertawa terpingkal-pingkal. "Apa kamu sedang membuat joke receh dengan aku Ramadhan? Bukankah kita sekarang sudah berhadapan? Apa yang bisa kamu lakukan sekarang?"
Alex menekan kuat kaki Ramadhan yang belum sembuh total.
"ARGGGH!" Ramadhan mengerang sekuat tenaga, begitu ngilu- sakit dan perih. Cidera patah tulang yang belum begitu sembuh kini kembali menganga mengeluarkan darah segar karena cengkraman Alex.
"Hentikan!" Niko yang tak kuasa melihat kak Ramadhan yang terlihat begitu menahan rasa sakit yang menjalar.
Bugh!
Pukulan kini mendarat diperut Niko.
"Tidak usah ikut campur kamu bocah Ingusan!"
"Lepaskan Niko, keluargaku dan istriku, Alex. Urusanmu hanya dengan aku! Jangan jadi pengecut!"
Bugh! Alex kembali mendaratkan pukulan di wajah Ramadhan.
"Pengecut kamu bilang? Lalu apa bedanya denganmu? Ketika adikku sudah terpojok sendirian, masih kamu tembak dadanya! Dan kamu beramai-ramai bersama para cecunguk-cecunguk itu." Dua bulir air mata jatuh begitu saja, membasahi pipi Alex yang lebar dan mempunyai rahang yang kuat.
Drrt..! Suara deringan benda berbentuk pipih dari balik kantong Alex berdering.
Jacob Calling...
__ADS_1
"Hallo! Kemana saja kamu? Mati? Sekali lagi saya telepon tidak langsung kamu angkat, jari kelingking kananmu akan hadir di meja makan besok pagi."
Sadis! Sama anak buah sendiri ga ada baik-baiknya. Umpat Niko di dalam hatinya
"Kalau ga sadis dia ga mungkin jadi mafia!"
Bisik anak buah Alex yang dari tadi berada di samping Niko.
"Kampret, bisa baca isi otak orang emang lo?" Niko heran kenapa tebakan anak buah Alex bisa tepat. Sementara yang ditanya hanya nyengir kuda.
"Cepat bawa Prita ke markas! Awas sampai kalian lengah lagi!" Ancam Alex kemudian.
Prita?
Bukankah nama teman Hilal yang mengurus Khansa saat sakit juga bernama Prita?
Damn! Semoga bukan wanita itu orangnya.
"Aku sudah tidak punya waktu untuk bermain-main denganmu Ramadhan. Karena aku akan sibuk dengan orang yang aku cintai."
Alex mengambil besi, dan kayu besar yang teronggok dilantai. Memang benda-benda itu sudah di siapkan untuk menyiksa Ramadhan secara perlahan.
"Aku tetap tidak akan membunuhmu secara mudah Ramadhan, kamu harus merasakan kematian sedikit demi sedikit setiap harinya. Sampai aku menunggu kamu memohon kematian dirimu sendiri kepadaku. Hahahahah."
Prank! Hantaman kuat besi berbentuk persegi panjang itu menghantam dada Ramadhan.
Tak cukup sampai di sana. Kali ini benda tumpul berbentuk kayu besar menghantam kepala Ramadhan dengan dahsyatnya.
Bugh! Seketika Ramadhan tak sadarkan diri, darah segar kental berwarna merah kehitaman juga mengalir deras dari batok kepala bagian depan.
"Tidaaak! Kak Ramadhan!" Niko berteriak histeris melihat Ramadhan di siksa demikian.
"Marco! Polo!"
"Siap Tuan!"
"Siksa mereka berdua sampai pingsan, Jika mereka sudah bangun siksa lagi! Sampai mereka memohon kematian mereka!"
"Siap tuan!"
__ADS_1
Tanpa rasa bersalah, Alex meninggalkan area gudang itu untuk membersihkan dirinya yang akan menyambut kedatangan Prita.
Bersambung...