
Happy reading
Ketika senja telah datang
Aku telah merasa setengah diriku menghilang
Bagaikan tak berdosa dan tak punya asa
Kau hancurkan rasa yang selama ini ku tanam
Saat semuanya telah pergi
Bayangmu kembali tetap mengisi
Entah apa yang kau mau
Ku tak berhak lagi 'tuk mengungkit kembali
Menghapus tinta cinta yang pernah kau lukis di kanvas hatiku
Merobek semua bayangan yang tampak di relung Sukma ku
Tingginya ego telah menghasut ku
'Tuk pergi meninggalkanmu sendiri
Namun logika berkata anonim dari hatiku
Jauh
Jauh
Dan semakin jauh
Malam semakin jauh dari hangat
Begitu juga cintaku semakin hilang tak berujung
Rinduku semakin terang tapi jalanku semakin gelap
Khansa, izinkan aku sejenak untuk bisa mengenang dan sekaligus menginginkanmu
Lelah!
Kuharap kata itu segera datang kepadamu
Lelah hidup dengan pria bernama Ramadhan itu.
Ku hirup wanginya aroma tubuhmu,
Pada baju-baju yang pernah kamu pakai namun masih tertinggal disini.
"Sayang, tau ga- kera- kera apa yang harus di hapuskan dari dunia ini?" Tanya Hilal kepada Khansa yang sedang mengerjakan beberapa soal evaluasi Biologi dihadapannya.
Khansa memutar kedua bola matanya, sepertinya ia enggan berpikir terlalu jauh.
"Nyerah deh nyerah, aku lambaikan kedua tanganku kehadapan kamera."Ujar Khansa tentu dengan senyum manis yang begitu indah miliknya.
"Ye- malah gitu, emang dikira kita lagi uji nyali dunia lain, hahahaha." Hilal begitu mengingat tawa bahagianya saat bersama Khansa, bagian demi bagian puzzle kebersamaannya dengan Khansa bermunculan dalam lamunannya.
"Terus jawabannya apa?"
"Oh- pengen tau jawabannya ternyata, aku kira ga pengen tau, hehehehe. Sun dulu dong sayang, baru aku kasih tau jawabannya."
Hilal mencoba mencari keberuntungan yang terselubung.
"Itu Sun-nya ada diluar." Jawab Khansa dengan polosnya, mengangkat dagu menunjukan matahari yang mulai miring menuju tempat persembunyiannya.
"Ck! Itukan matahari sayang, sun yang lain. Janji kasih ya, setelah aku kasih tau jawabannya?" Namun Khansa menjawabnya hanya dengan gelengan kepala.
"Kera- kera apa yang harusnya dimusnahkan atau dihapuskan dari muka bumi ini adalah, kera-guanmu terhadap cinta mati ku ini Khansa. Hehehehe,"
"Ck! Pertanyaannya lucunya dimana?"
__ADS_1
"Emang siapa yang lagi ngelawak? Kan kita dari tadi tebak-tebakan. Ayo penuhi janjinya kasih aku sun." Hilal menyodorkan pipinya kearah Khansa.
"Ya baiklah, aku ngalah. Tutup dulu matanya, biar lebih afdol."
Iye afdol berbuat dosa ye- Batin Khansa cekikikan sendiri.
"Oke i close my eyes now." Hilal masuk ke dalam jebakan Khansa.
Sementara Khansa bergegas membereskan buku-bukunya.
"Tahan sebentar ya- aku deg-degan nih." Akting Khansa begitu memukau.
Hilal yang terbawa suasana telah berangan jauh, membayangkan bagaimana rasanya Khansa akan mencium dirinya.
"Kok lama banget sayang?" Hilal mulai curiga.
"Open your eyes Hilal!" Teriak Khansa dari kejauhan.
"Katanya sun! kok malah pergi!?" Hilal terpaksa berteriak, karena jarak mereka kini sudah lebih dari 15 meter.
"Sun-nya dari jauh mmmuach! Dadah sayang."
"I love you Khansa," Teriak Hilal dari tempat duduknya.
"Love you more Hilal," Jawab Khansa dengan melambaikan kedua tangannya kepada Hilal.
Tanpa sadar Hilal tersenyum dan begitu terhanyut dengan lamunannya itu.
Aku tahu itu hanya sekadar bayangan semu.
Yang jelas, aku ingin kita duduk bersama lagi seperti waktu itu.
Dekat tanpa sekat mengutarakan cinta satu sama lain, saling mengasihi satu sama lain.
Berikan sedikit waktu itu kepadaku nanti Khansa.
Senyummu yang masih sama, manis dan cantikmu juga tak pernah berubah walau banyak waktu telah berlalu.
Kamu dan aku akan menjadi kita, kita yang pernah mencinta satu sama lain. Dan kita yang pernah saling merindu satu sama lain. Maafkan aku yang pernah menorehkan luka di hatimu.
"Woi! Ngelamun aja mikirin siapa tuh! Asik bener kayanya, sampe senyum-senyum ga jelas gitu." Sinta dengan sekejap membuyarkan segala lamunan Hilal.
"Eh kecebong! Dari dulu lu gada sopan-sopannya sama abang lu! Katanya mau buat Khansa sama Ramadhan pisah! Kenapa malah kamu jebak Boby? Boby gada hubungannya sama rencana kita! Kasihan dia."
"Memang gada hubungannya kak, tapi pacarnya yang udah buat aku malu setengah mati. Dia pernah menampar wajah ku didepan Ramadhan kak, gengsi dong. Harus dibalas biar ga tuman orang kaya Fitria. Sekali-sekali memang harus dikasih pelajaran biar kapok!"
"Hm- terus rencana selanjutnya apa?"
"Udah deh, lu tinggal terima beres aja. Pura-pura ga tau apa-apa dan whatever apa yang mau lu lakuin. Yang penting ga ganggu atau ngerusak rencana gue."
"Tapi lu harus inget, Khansa ga boleh terluka fisik walau hanya seujung kuku, oleh rencana yang lu buat."
.
"Rebes bos! Dah ah- gue mau ke clubs lu mau ikut ga? Mumpung tugas dari PBB masih kosong jadi gue mau puas-puasin hang out bareng temen-temen."
"Sana aja lu pergi sendiri. Jiwa dan raga gue udah jadi milik Khansa seorang,"
"Ye- bucin banget si lu, inget umur kenapa. Si Naura mana?"
"Udah tidur, tumben amat lu nanya Naura. Biasanya juga kagak pernah."
"Ye- ditanya salah. Kagak ditanya salah, ribet memang abang gue. Ya udah bye-bye,"
Punggung Sinta menghilang di balik pintu, kini Hilal kembali pada alam kesendirian dan kesepiannya lagi.
...****************...
Jika Hilal larut dalam kenangan masa lalu yang begitu bahagia menurutnya, Khansa dan Ramadhan justru tengah mempraktekkan kebahagiaan yang sebenarnya.
Setelah rangkaian drama Khansa menangis karena begitu bahagia atas kejutan Ramadhan lewat sebuket bunga mawar dan kata-kata puitisnya, mereka berdua melaksanakan shalat Sunnah bersama. Memohon keberkahan atas apapun didalam rumah tangga mereka. Berharap juga diberi keturunan yang Sholeh dan Sholehah nantinya.
Jiwa dan raga dua insan yang tengah melebur menjadi satu. Cinta menjadi saksi, antara persatuan insan yang satunya hasil dari belahan bumi dan surga. Sedangkan yang satunya hasil dari belahan bumi dan langit.
__ADS_1
Sungguh perpaduan yang begitu sempurna bukan? Jika nanti perpaduan itu berhasil maka akan menghasilkan bumi kuadrat surga langit.
Boleh nanti kita buka kitab maha tahu segalanya sang google untuk mencari nama dengan arti demikian, nonsense 😁.
Tak perlu beronde-ronde, hanya dalam satu putaran saja- Ramadhan berhasil memporak-porandakan benteng pertahanan Khansa. Setelah kegiatan perpaduan itu berakhir, mereka berdua larut dalam obrolan yang Aisyah sempat tanyakan kepada Khansa tadi.
***
"Assalamualaikum Fitria, kami udah tidur belum? Kata Khansa besok kamu udah boleh pulang, mau aku antar kerumah?"
Dahi Fitria mengkerut, ia sama sekali tak menyangka jika seorang Hafiz akan WhatsApp dia demikian.
"Wa'alaikumsalam, sebelumnya terima kasih. Tapi ga perlu- ada mama sama papa yang bantu aku. Kamu baik-baik aja kan Hafiz? Apa kamu ada salah makan? Atau mungkin tadi jidat kamu kejedot pintu?"
"Alhamdulilah kalau begitu, jadi aku ga perlu khawatir lagi kamu pulang sama siapa dari rumah sakit. Alhamdulilah, lambungku normal. Tensi darah juga normal 120/80, dan aku raba jidatku- kondisinya masih mulus. Jadi sudah bisa dipastikan bisa dijual dengan harga tinggi, hanya lecet sedikit akibat pemakaian."
Fitria terkekeh membaca massage dari Hafiz itu.
"Oh- begitu ya, mau dilelang harga berapa memangnya?" Justru Fitria malah meladeninya.
"Dilelang harga seperangkat alat shalat dibayar tunai."
"Ini ga kebalik ya?"
"Oh iya ya, kita ke balik posisinya😁. Btw ini sudah larut malam, segera istirahat ya. See you tomorrow. Assalamualaikum Fitria."
"Wa'alaikumsalam Hafiz."
Hoaaam sebenarnya Fitria masih memikirkan keanehan tingkah Hafiz baru-baru ini, namun hal itu sudah kalah dibandingkan dengan rasa kantuknya. Fitria memilih memikirkan hal ini lagi esok.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai teladan utama dan pertama, walaupun beliau memiliki banyak kesibukan dan kepadatan aktifitas sebagai seorang pemimpin sekaligus nabi.
Nyatanya beliau tetap bisa menunjukkan sisi romantis dalam rumah tangga beliau dengan berbagai gambaran dan bentuknya.
Romantisme yang digambarkan Rasulullah bukan hanya sekedar ungkapan cinta biasa, namun bagaimana cinta itu bisa menghantarkannya kepada cinta Allah
(Menggapai Cinta Allah SWT).
Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan tentang romantisme beliau ini dalam berbagai hadits.
“Dahulu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersandar di pangkuanku sedang aku dalam kondisi haid, lalu beliau membaca Al-Quran.” (HR. Bukhari; 297, dan Muslim; 301).
Dalam hadits lain, Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakr rahimahullah mengisahkan;
“Dahulu bila Aisyah radhiyallahu ‘anha marah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa memijit hidung Aisyah dan beliau berkata, Wahai Aisyah, bacalah do’a: “Wahai Allah Tuhannya Muhammad, ampunilah dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan.” (HR. Ibnu Sunni; 455, dha’if).
Meskipun hadits ini dha’if dari segi sanadnya, namun tetap memberikan inspirasi romantisme ukhrawi yang luar biasa. Kala sang istri sedang marah, Rasullullah SAW dengan baik dan bijak mengingatkannya agar berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah.
Inilah pokok utama yang diperintahkan Allah Ta’ala dalam firman-Nya yang artinya: “Dan pergaulilah mereka (istri-istri kalian) dengan baik.” (QS. An-Nisa’: 19)
Sisi romantisme lain yang tak kalah indahnya adalah petunjuk yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para istri tatkala merasa menyakiti suaminya atau merasa tersakiti oleh suaminya, sebagaimana dalam hadits:
“Maukah aku memberitahu kalian tentang istri-istri kalian yang akan menjadi penduduk surga, yaitu yang penyayang, banyak anak (subur), dan banyak memberikan manfaat kepada suaminya; yang jika ia menyakiti suaminya atau disakiti, ia segera datang hingga berada di pelukan suaminya, kemudian berkata, “Demi Allah, aku tidak bisa memejamkan mata hingga engkau meridhaiku.” (HR. Nasai dalam Sunan Kubra; 9093, hasan).
Kisah lai yang tak kalah indah datang dari seorang sahabat Nabi, yaitu pasnagan Abu Darda dan ummu Darda.
Tatkala Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu menderita sakit di akhir hayatnya, sang istri tercinta, Ummu Darda’ ash-Shugra rahimahallah mengucapkan satu pinta suci.
“Wahai Abu Darda’, sesungguhnya engkau telah melamar diriku kepada kedua orang tuaku di dunia ini, lantas mereka menerimanya dan menikahkanmu denganku, sebab itu, aku ingin melamar dirimu (agar tetap menjadi suamiku) di akhirat kelak.”
Abu Darda’ menimpali, “Kalau begitu, maka janganlah menikah lagi sepeninggalku.” (Siyar A’laam an-Nubalaa’; 4/278).
Permohonan sederhana nan indah dari Ummu Darda’ ini melukiskan betapa indahnya biduk rumah tangga yang terbingkai oleh hiasan iman, taqwa dan ketaatan. Itulah yang harus senantias adijaga dalam mengarungi bahtera rumah tangga.
Romantisme terindah tidak hanya terletak pada sisi materi, kata-kata puitis, canda tawa, dan sederet trik keromantisan duniawi lainnya saja.
Romantisme terindah itu lahir dari keimanan dan ketakwaan kita yang menghantarkan pada ridho Allah dan keberkahan.
Maka dari itu sisi romantisme pasangan suami istri itu haruslah berorientasi pada akhirat, sikap taqwa, dan penyucian jiwa (tazkiyatunnafs) baik dengan saling melantunkan doa tatkala berdua, duduk berdua saling mengevaluasi ibadah dan kepribadian, mengerjakan ibadah dan ketaatan tertentu secara bersama-sama, ataupun sisi keromantisan ukhrawi atau agamis lainnya yang dapat dikerjakan bersama-sama.
Tapi kembali lagi, kesibukan duniawi juga terkadang berhasil merenggut perhatian kita kepada-Nya.
__ADS_1
Teman-teman merasakan itu tak?
Author terkadang sangat merasakan itu 😥