
Happy reading❤️❤️
Yuta langsung turun dari mobil, berteriak memanggil Khansa.
"Khansa! Khansa! Khansaaa!" Tapi khansa sama sekali tidak mendengar teriakan Yuta.
Yuta berusaha mengejar Khansa, namun langkahnya tersendat oleh teriakan petugas parkir didekatnya.
"Mba! Tunggu! Ini mobil di benerin dulu parkirnya, jangan asal tinggal begini."
Termakan waktu memarkirkan mobil, ditambah masuk ke gedung kepolisian Yuta harus melewati serangkaian pemeriksaan karena tak memiliki Id untuk masuk.
Beruntung, Fitria dan suami Khansa langsung datang bersama antek-anteknya yang tak Yuta kenal.
"Dimana istriku? Dimana?" Ramadhan berteriak-teriak seperti orang kesurupan.
"Tadi aku lihat dia ada di ruang briefing bersama Sinta, pak Ramadhan." Ucap salah satu Kompol yang tengah membawa berkas disana.
Ramadhan langsung berlari ke arah ruang briefing. Boby, Fitria dan Yuta mengekor dibelakangnya.
Brak!
Pintu ruangan dibuka kasar begitu saja oleh Ramadhan.
Deg!
Terkejut, panik, tak leluasa berpikir jernih, badan seketika sedingin es. Itu yang terjadi ketika Ramadhan melihat Khansa dan Sinta duduk di kursi, berkalung kabel dan memangku sebuah bom berbentuk persegi empat.
Khansa! Semua otomatis berteriak disana.
Semua memasang wajah cemas, namun Sinta justru kebalikannya. Senyum cengengesan terpancar dari wajahnya.
__ADS_1
Ramadhan melirik waktu yang berjalan dari kotak bom 40 menit 29detik.
"Semuanya dengarkan aku! Evakuasi seluruh orang yang berada di gedung ini. Segera! Ada dua bom diruangan ini! Cepat!" Perintah Ramadhan sambil mendorong kearah luar Boby, Fitria dan Yuta.
Gerak cepat langsung diambil Boby, ia langsung mengevakuasi seluruh orang yang berada di gedung dan memberi perintah kepada tim penjinak bom untuk segera ke lokasi. Sementara Yuta memilih menghubungi Hilal, dan dengan wajah merah padam Hilal langsung tancap gas menuju lokasi Khansa dan Sinta berada.
"Ja-jangan takut sayang, kita hadapi ini bersama." Ramadhan menatap begitu dalam istri tercintanya yang kini berada diambang maut.
"Hai Ramadhan, apa kamu mau membuat kesepakatan denganku? Waktu kita hanya tinggal 40 menit lagi. Jika tidak ada kesepakatan yang jelas, maka aku dan Khansa akan meledak bersama. Tidak akan ada yang kamu miliki sama sekali, dan tak ada yang memilikimu juga tentunya."
Khansa terlihat syok dengan hal ini, air matanya menetes begitu saja. Ramadhan tak tahu, apa saja yang sudah Sinta lakukan kepada istri tercintanya itu.
"Apa kamu mencintai Khansa?"
"Pertanyaan macam apa itu, tentu aku sangat mencintai istriku. Baik sebelum hidup hingga setelah mati ku. Baiklah, kesepakatan apa yang kamu minta?"
"Ceraikan Khansa dan menikah denganku, jadilah ayah dari anak-anak kita kelak."
"Apa kamu sudah gila Sinta!" Ramadhan tercengang dengan kesepakatan yang diminta Sinta.
Jelas Sinta tanpa beban dan dosa.
Hilal yang baru saja tiba, berdiri diambang pintu, terkejut dengan kata-kata Sinta yang baru saja dia ucapkan, tentu kata-kata itu bisa memastikan juga bahwa ia akan kehilangan Khansa.
"SINTA!"
Plak! Tamparan keras Hilal mendarat di wajah Sinta.
"Kenapa kak Hilal? Kak Hilal takut kehilangan Khansa? Tapi kakak ga takut kehilangan aku kan?" Sinta meringis, ada darah mengalir diujung bibirnya.
Hilal berjongkok, mengamati pola dan bentuk bom yang berada di depannya. "Sinta! pola bom ini rancangan kamu sendiri bukan?" Tanya Hilal, namun tak ada jawaban dari Sinta.
__ADS_1
"Si-sinta," Sekian abad terdiam kini Khansa membuka suara.
"Di dunia ini, ada hal yang tak bisa kita paksa datangnya. Yaitu cinta," Mereka bertiga seketika menoleh pada Khansa.
Pasukan Gegana (Tim penjinak bom) datang dan langsung mengeksekusi bom dipangkuan Sinta dan Khansa.
"Awal pernikahan aku dan kak Ramadhan, aku sama sekali tak mencintainya. Tapi sekarang aku begitu mencintainya dengan ikhlas. Dan asal Sinta tahu, kamu tak perlu repot-repot membuat bom ini untukku. Karena tak lama lagi juga aku akan tiada, jika kamu kemarin meminta kak Ramadhan dengan cinta. Pasti akan ku berikan, tapi kamu memintanya dengan ambisi. Bukan cinta, maka hatiku tidak ikhlas memberinya kepadamu."
"Maksud kamu apa Khansa? Kenapa kamu berbicara begitu?" Mata Ramadhan mulai berkaca-kaca, bersiap akan kemungkinan terburuk yang akan istrinya katakan kepadanya.
"Pak, mohon tinggalkan ruangan ini. Agar tak bertambah korban jika bom ini meledak," Ucap salah satu dari tim Gegana (tim penjinak bom).
"Biarkan kami disini pak, jika takdir kami mati, ya sudah- mati bersama." Jawab Hilal asal.
"Bekas luka tikaman di perutku 10 tahun yang lalu, kondisinya makin memburuk. Tidak ada donor usus yang cocok denganku, sekalipun milik kak Ramadhan." Ramadhan yang hendak berbicara tercekat.
"Menurut Azka, penurunan kondisi fisikku akan terjadi tak lama lagi. Jadi Sinta, pikirkanlah kembali. Pikirkan hidupmu, bukan hidupku. Kamu sehat, hidupmu masih panjang. Sedangkan aku, tak perlu kamu bersikeras memisahkan aku dan kak Ramadhan. Pada akhirnya kita juga akan berpisah di lembah kematian." Khansa tersenyum namun air mata di pipinya tak bisa bohong, ia terus mengalir semakin deras.
"Kha-khansa," Entah dari mana datangnya, Sinta merasa tersentuh dengan kata-kata Sinta.
"Bersabarlah sebentar Sinta, dan sentuh hati kak Ramadhan dengan cinta bukan dengan ambisi. Kemungkinan besar kamu akan mendapatkannya setelah aku tiada."
"Stop Khansa!" Ramadhan dan Hilal berkata bersamaan.
"Pak Ramadhan kami mohon kalian keluar ruangan ini terlebih dahulu, agar kami lebih fokus untuk menentukan kabel mana yang akan kami potong. Hanya 5 menit."
"Ayo Ramadhan ini semua demi Khansa," Ucap Hilal menambahkan.
"Maaf Ramadhan, sejujurnya aku tidak tahu kabel mana yang harus dipotong. Sumpah, demi Tuhan. Aku hanya menggertak kamu, apa kamu mau memilihku lalu meninggalkan Khansa." Sinta tertawa.
Tanpa diduga Khansa merebut alat pemotong kabel yang dipegang oleh salah satu tim Gegana, Khansa langsung memotong kelima kabel yang melilit di dadanya.
__ADS_1
"Tidaaak!" Semua orang berteriak kata yang sama.
Bersambung...