
Happy reading ...
Marco dan Polo bergegas melepaskan tali yang mengikat kuat di tangan Ramadhan.
"Mau diapakan lagi kak Ramadhan woi!
Jangan sakiti kak Ramadhan lagi, sakiti aku saja. Apa kalian tidak melihat jika kak Ramadhan tak bergerak sedikitpun?!" ungkap Niko dengan napas yang memburu.
"Eh bego! Berisik amat, ini kita mau bawa ke rumah sakit. Itu juga karena permintaan istrinya bos besar, kalau ga- mati pun kalian, kita ga bakal peduli!" sanggah Marco yang tak kalah kesalnya.
Berdiri kokoh bangunan rumah sakit bernuansa serba putih sudah dapat di lihat. Untuk menutupi kecurigaan dari para pasien yang lain, Marco langsung memarkirkan mobilnya di bibir pintu ruang IGD.
"Tolong sus, saudara kami kecelakaan dan baru ditemukan kondisinya seperti sekarang. Betapa malangnya saudara kami, tidak ada satu orangpun di lokasi yang membawanya ke rumah sakit. Tolong lakukan yang terbaik dokter, suster. Berapapun biayanya akan kami bayar," Akting Marco begitu memukau, ingin sekali Polo memberinya piagam penghargaan the best aktor terbaik se-Indonesia.
Kedatangan Prita dan Alex disambut langsung oleh Polo, " Di mana Marco?" tanya Alex to the point.
"Sedang mengurus administrasi bos, rencananya nanti siang langsung dijadwalkan operasi untuk luka berat di tempurung kepalanya dan patah tulang di kakinya," jelas Polo dengan begitu detil tak terlewat sedikitpun .
"Kamu sudah lihat sendiri kan? Ramadhan sudah dengan baik ditangani oleh para dokter di rumah sakit ini. Sekarang kita pulang," titah sang baginda raja.
"Aku mau ke toilet sebentar."
"Aku antar," jawab Alex segera.
"Jangan! Em- maksud aku biar Polo saja mengantarku dari kejauhan. Aku tidak ingin merepotkan kamu Alex. Aku mohon jangan memaksa."
Akting Prita kali ini, juga tak kalah mumpuni untuk mengelabui Alex.
"Baiklah, jangan lama-lama."
Mata Alex melirik tajam ke arah Polo, Polo yang mendapat kode tajam itu langsung mengekor di belakang Prita. Untuk memastikan barang paling berharga milik bosnya itu akan selalu baik-baik saja.
__ADS_1
Pov Prita ...
"Permisi bu, saya ketinggalan ponsel saya di rumah. Boleh saya meminjam ponsel ibu sebentar untuk mengirim pesan kepada kekasih saya?" Aku mencoba berbicara selirih mungkin agar Polo yang tengah menanti diriku di depan pintu toilet wanita tak mendengarnya.
"Oh ya- silahkan. Tapi sebentar saja ya, karena saya juga sedang sibuk."
"Baik bu, satu pesan saja. Saya janji."
"Oke."
Chat ...
[ Kak Hilal, ini aku Prita. Aku mohon tolong kak Ramadhan dengan cara (halus) di rumah sakit Pelita Kasih. Kondisinya kritis, ini aku Prita dan tolong jangan gegabah memberitahu tentang aku, atau menghubungi nomor ini balik. Karena ponsel ini milik orang lain yang tak ku kenal. Hati-hati, orang yang menyiksa kak Ramadhan bukan orang sembarangan. Aku akan mencoba menyelamatkan menurut versi cara yang aku bisa.]
Aku langsung menghapus pesan dan berhambur keluar lebih dulu apar Polo tak curiga.
Kesedihan yang aku alami saat ini, semoga masih ada kesempatan untuk hari esok berubah menjadi bahagia.
Hidup dan masalah yang aku hadapi ini, pasti masih ada hikmah yang terselip di belakangnya. Aku merasa terpuruk, dan hancur di sini ... memang dulu Alex pernah mengisi hatiku, tapi kali ini aku benar-benar telah mati rasa kepadanya. Orang yang aku cinta sekarang adalah kamu kak Hilal, dan sekarang keadaanku benar-benar tak berdaya.
Jason dan Jacob yang dulu pernah menangkapnya di atas jembatan tak terlihat, mungkin ia sedang ada di mansion. Sedangkan Marco dan Polo tengah sibuk mengurus segala administrasi untuk kak Ramadhan. Ada kesempatan sebentar untuk aku kabur, aku harus menemui kak Hilal. Aku harus menceritakan semua ini, keadaan kak Ramadhan adalah yang terpenting. Kak Khansa pasti sekarang sangat sekarat mengkhawatirkan keadaan kak Ramadhan yang ia tak tau sama sekali. Kak Ramadhan harus menderita di tangan orang yang tak tahu diri seperti Alex. Ya Tuhan, kembalikan Alex seperti dahulu kala. Alex yang tidak jahat, Alex yang penyayang dan penurut. Argggh ... sepertinya aku harus membuat alasan agar bisa pergi sebentar ketika Alex lengah.
Aku ingin berpura-pura akan ke kantin agar bisa menyelinap, lalu melarikan diri sementara.
Aku hanya ingin melihat wajah Kak Hilal sebentar saja. Batin ku berkecamuk tak karuan.
"Boleh aku minta uang?"
Laki-laki tampan yang berdiri di samping pintu ruangan rawat Ramadhan langsung menoleh.
"Untuk apa? Apa yang kamu perlukan nanti bisa Jacob atau Jason carikan."
__ADS_1
"Tidak! Ini masalah perempuan, mereka tidak akan tau pembalut apa yang cocok untukku."
"Kamu datang bulan?"
Aku mengangguk.
Alex menyodorkan yang seratus ribu kepada Prita, "Segera! Aku ada pertemuan penting satu jam lagi."
"Baik," Poli juga bergegas membuntuti Prita dari belakang. Setelah aku mendapat uang dan sedikit melihat kelengahan Polo di lorong yang kebetulan begitu ramai ini. Aku langsung belok keluar dari area lorong rumah sakit yang langsung tembus ke samping area parkir rumah sakit tersebut.
Menyetop Taxi yang kebetulan melintas dan pergi menuju kantor Hilal.
Hari ini memang sangat beruntung bagi Prita, ia kebetulan melihat langsung Hilal keluar dari kantornya, jam menunjukan sudah pukul 17.38 WIB. Benar saja, itu waktu yang pas dengan orang pulang kantor.
Mimik wajahnya terlihat begitu khawatir dan buru-buru. Mungkin Hilal sudah membaca pesan darinya tadi. Entah mengapa walau Prita hanya bisa melihat wajah Hilal dari kejauhan, ia merasa begitu bahagia. Ia seperti tengah menemukan kembali serpihan hidup di dalam hatinya. Puas memandangi wajah Hilal dari kejauhan, aku memutuskan untuk kembali ke rumah sakit dengan segera. Ia merasa yakin, jika Alex akan mengamuk setengah mati. Dan aku sudah mempersiapkan segala alasan, fisik dan hatiku juga tentunya untuk dicincang Alex.
Pov Alex ...
Damn it! Kurang ajar, berani-beraninya dia kabur dariku.
Aku berusaha menghubungi ponsel Jason berulang kali namun, jawaban tetap sama. Prita tidak ada pulang ke rumah. Dan Alex merasa jika Prita juga tidak mengetahui rumah persembunyiannya itu.
“Segera cari istriku! Tak peduli di manapun ia berada. Kalian harus segera mendapatkannya, dan tidak boleh ia terluka sedikitpun. CAMKAN ITU!”
Laki-laki berbadan kekar itu segera menuruti perintah. Marco Polo lari tunggang langgang sambil terus menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Prita.
Awas saja kamu Prita, ternyata kamu berani cari masalah denganku. Aku akan menggenggam kedua orang tua kamu seperti kamu menggenggam dan mempermainkan hatiku!
...****************...
"Kami mohon maaf sebelumnya, kami sudah berusaha sebisa mungkin. Tapi Tuhan berkehendak lain, kami tidak bisa menyelamatkan bayi yang dikandung pasien. Kondisi pasien sudah sangat lemah dan terlihat begitu traumatik. Sehingga kami tidak bisa berbuat banyak, hasil dari USG janin juga sudah mulai luruh. Jadi kami langsung melakukan kuret saat itu juga."
__ADS_1
Bagai disambar petir di siang bolong, Fitri yang mendengar hal itu langsung terduduk lemas tak berdaya. Ia kebingungan dan tak kuasa menyampaikan berita buruk ini kepada sahabatnya.