Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)

Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)
TKP


__ADS_3

Happy reading❤️


Assalamualaikum wr wb teman-teman semuanya...


Yang terzeyeng, yang terkeceh, cantik dan tampan serta baik hati...


Maafkan author yang 3 hari tidak update cerita..


Ada masalah di dunia real plus sakit yang membuat author sama sekali blok tidak bisa menulis beberapa hari ini.


Perjuangan rumah tangga memang Masya Allah, luar biasa ujiannya.


Semoga rumah tangga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT.


Saya bahkan juga membaca beberapa artikel yang salah satu diantaranya menyebutkan, case kasus suami istri bercerai karena masalah pasta gigi. Well, pasta gigi bukannya hal yang sangat sepele sekali bukan? Tapi berhasil menggoyahkan tiang sebuah rumah tangga seseorang.


Masing-masing pernikahan memang mempunyai fase. Mengapa saya juga mengangkat kisah Ramadhan Imamku ini menceritakan kehidupan rumah tangga yang harus di sela beberapa bekal pembelajaran.


Fase pernikahan di tahun pertama adalah fase menggairahkan, namun juga di selingi beberapa perbedaan pendapat ringan, ini wajar karena dua pemikiran orang yang berbeda di lebur menjadi satu pasti ada perbedaan yang bertentangan di beberapa titik. Dan fase dua sampai 5 tahun, akan ada ujian-ujian selanjutnya. Entah dari segi ekonomi, keluarga mertua, atau pihak ke tiga sekalipun. Dan jangan salah masa puber ke dua juga bisa jadi tantangan rumah tangga di fase 5- 10 tahun.


Lagi dan lagi, doa kita semuanya- semoga kita tak akan berpisah atau terpisah dari orang-orang yang kita sayangi dan cintai.


Maaf sudah membuat kecewa dengan tidak up berhari-hari, insyaAllah akan segera author bayar hutang up nya.


...----------------...


Hari ini begitu melelahkan bagi Khansa.


Pasien yang membludak karena lama ia tak membuka praktek, sampai ia harus menambah jam prakteknya hingga pasien habis di ruang tunggu.


"Setengah jam lagi waktu buka puasa Bu, maafkan Khansa ya Bu, Aisyah. Jika Khansa tau pasien akan membludak seperti ini, pasti Khansa tidak akan mengizinkan Ibu Fatima dan Aisyah ikut ke klinik."

__ADS_1


"Tidak apa-apa sayang, yuk kita pulang sekarang." Ucap Bu Fatima.


"Aku ikut ya Sa, aku pake mobil bareng Hafiz. Aku masih kangen sama kamu." Rengek Fitria.


"Tapi nanti kita pasti pulang malam lo Fit, kamu ga capek?" Hafiz mencoba memperingatkan Fitria.


"Ga apa, aku ga akan capek. Karena aku bener-bener kangen sama Khansa. Dan biar sekalian kita tahu rumah mertuanya Khansa, jadi suatu saat kita bisa main kesana sendiri."


Fitria masih berusaha merayu Hafiz.


"Ya sudah, kita segera meluncur yuk. Biar ga buka puasa di jalan."


"Hm- tapi Fit, di rumah hanya ada para laki-laki jadi ga mungkin mereka masak untuk buka puasa." Khansa baru ingat dengan apa mereka dan para teman-temannya nanti buka puasa.


"Tenang beb, aku pesan Drive true. Jadi aku estimasikan, kita tiba terus makanan juga datang bagaimana?"


"Oke deh, yuk kita segera berangkat."


Sejujurnya Khansa dari tadi sudah merasakan kegelisahan. Karena ponsel suaminya sama sekali tidak bisa dihubungi.


Mayat-mayat bergelimpangan, darah segar berwarna merah juga berceceran, jasad kedua satpam di rumah mertuanya itu baru saja di evakuasi ke mobil ambulance untuk segera dilakukan otopsi oleh petugas medis.


Semua mata terbelalak melihat banyak mobil patroli polisi dan dua ambulance berada di depan rumah mewah itu. Sebagian warga bahkan telah berkumpul di sana untuk melihat langsung kejadian yang berhasil menggemparkan kompleks perumahan tersebut.


Aisyah berteriak histeris ketika melihat suaminya di gelandang oleh para polisi dengan borgol di tangannya. "Mau dibawa kemana suamiku? Kak Reza! Jangan tinggalin Aisyah!"


Brugh! Aisyah sampai terjatuh dari kursi rodanya.


"Aisyah!" Reza dengan sekuat tenaga ingin memberontak dan menolong istrinya yang terjatuh, tapi daya hanyalah angan. Tiga polisi yang menahan tubuhnya tak memberi kesempatan sedikitpun kepadanya untuk meraih sang istri. Reza dipaksa masuk kedalam mobil polisi untuk digelandang ke kantor polisi.


Fitria yang begitu khawatir dengan Khansa, terutama dengan kehamilannya langsung memegangi pundak sahabatnya itu.

__ADS_1


"Khansa, aku mohon kamu tenang dulu. Kita pelan-pelan cari kak Ramadhan." Tangan Fitria yang memegang erat Khansa langsung di tampik begitu saja. "Lepaskan aku Fit, aku mau cari suami aku." Suara Khansa begitu bergetar. Raut kecemasan dan rasa putus asa begitu terlihat.


Di mana suamiku...


Aku mohon ya Allah, suamiku harus baik-baik saja.


Kata-kata itu menjadi gumaman dalam hati Khansa.


"Stop! Kalian tidak boleh masuk!" Sergah seorang petugas polisi yang pasang badan di depan garis polisi.


"Saya harus melihat suami saya pak! Suami saya ada di dalam. Dia harus baik-baik saja." Tubuh Khansa mencoba menerobos untuk merangsak masuk.


"Tapi di dalam sudah tidak ada orang nona, pria tadi yang di borgol di bawa ke kantor polisi adalah satu-satunya orang yang ada di dalam dan masih hidup. Lainnya sudah dalam bentuk jenazah." Petugas polisi itu seakan ingin mempertegas dengan menunjuk dua mobil ambulance yang sudah berisi kedua jenazah.


"Jangan kacau kan kinerja tim forensik, agar kasus ini segera diusut tuntas." Seketika tubuh Khansa lemah, bergetar tak berdaya mendengar penuturan tersebut. Dari penuturan petugas tersebut, otaknya berasumsi jika sang suami juga telah tiada. Tanpa aba-aba tubuh Khansa limbung tak sadarkan diri. Beruntung Hafiz dan Fitria berada di dekat Khansa, sehingga tubuh mungil itu tak tersungkur di tanah. Keadaan menjadi semakin panik, Fatima bingung- di satu sisi dia harus menenangkan menantunya Aisyah. Di sisi lain menantunya Khansa juga butuh kekuatan darinya.


Hafiz langsung membopong Khansa masuk ke dalam mobil dan meletakan tubuh Khansa di kursi depan. "Fitria, dengarkan aku baik-baik." Hafiz mencakup kedua pipi Fitria dan menatapnya sangat tajam. "Sekarang aku percayakan Khansa kepadamu. Bawa dia ke rumah sakit terdekat dan jaga dia baik-baik. Langsung minta bantuan petugas medis di sana jika sudah sampai di loby rumah sakit. Aku akan ke kantor polisi menemui Reza dan mencari tau keberadaan kak Ramadhan. Please, trust me Fitria. Aku mohon kamu jaga Khansa selama kami tidak ada di samping kalian."


Tubuh Fitria ikut bergetar, ia kembali mengingat kejadian demi kejadian yang pernah Khansa ceritakan saat yang paling menegangkan bersama kak Ramadhan dan Hafiz saat di serbu oleh para ******* Cyber.


"Ayo Fitria, kamu pasti bisa. Sekarang saatnya kak Ramadhan dan Khansa membutuhkan kita. Jangan percaya dengan orang asing, siapapun itu. Ayo, kita sudah tidak punya waktu lagi Fitria." Hafiz mengusap dua bulir air mata di wajah Fitria yang baru saja jatuh. Seperti menerima energi positif berlipat ganda, Fitria langsung menyalakan mobilnya, menginjak pedal gas menuju rumah sakit.


Semoga tidak terjadi apa-apa dengan kalian semua, ya Rob... Lindungilah semua orang-orang yang hamba sayangi.


Hati Fitria terus saja berdoa, sesekali ia melirik Khansa yang masih tak sadarkan diri. Mata Fitria seketika membulat ketika melihat aliran darah merembes pada celana Khansa yang berwarna putih itu. Kekhawatirannya semakin membuncah dan menaikkan kecepatan mobilnya agar segera tiba di rumah sakit terdekat.


...****************...


Prita mulai membuka kedua matanya secara perlahan, bias sinar dari lampu ruangan langsung menyapa netra indahnya. Mencoba mengenali area sekitar namun tetap ia tak mengenali tempat itu, begitu asing dan tak pernah ia lihat sebelumnya.


Senyum simpul penuh kemenangan menyapa dirinya, sontak Prita langsung terduduk dan mundur dari pria yang berada dihadapannya itu.

__ADS_1


"Prita--" Sapa pria gagah itu dengan mata yang berbinar-binar.


Bersambung...


__ADS_2