
Happy reading❤️
Belajar dari keteladanan sosok Khadijah
Nabi Muhammad SAW adalah lelaki terbaik sepanjang zaman. Beliau-lah manusia yang paling bertakwa kepada Allah. Walau demikian, beliau adalah manusia biasa yang mungkin saja mengalami ketakutan.
Pada saat itulah, peran seorang istri shalihah sangat diperlukan di dalam menstabilkan keguncangan psikis yang dialami sang suami.
Khadijah adalah istri teladan. Dia adalah wanita yang menafkahkan dirinya dan hartanya untuk perjuangan Islam. Dia senantiasa setia menemani suaminya dalam segala keadaan, bahkan dalam kondisi tersulit sekalipun. Pantaslah bila Nabi SAW merasa sangat kehilangan ketika Khadijah wafat, dan beliau terus mengenang istrinya itu sepanjang hayat.
Khadijah adalah gambaran keteladanan seorang istri. Ia mendampingi suaminya dalam usaha untuk meraih surga, dan mereka berdua berhasil meraihnya. Khadijah mendorong suaminya untuk bangkit berdakwah, manakala sang suami mengalami ''trauma psikologis'' saat menerima wahyu pertama.
Allah menghargai peran serta Khadijah di dalam perjuangan Islam. Sebuah rumah di surga telah disediakan untuk Khadijah, sebagaimana termaktub dalam sebuah hadis. ''Nabi SAW memberi kabar gembira kepada Khadijah berupa rumah yang terbuat dari permata, tiada suara bising di sana, dan tiada pula keletihan.'' (Shahih Al-Bukhari 12/188, hadis no. 3535).
...----------------...
Ramadhan Imamku...
Bagiku engkau tetap yang terbaik,
Baik kau orang berpunya atau tidak,
Aku tak butuh itu dan tak mau tau tentang itu
Yang ku butuh hanya suamiku mencintaiku dan selalu ada di sisiku
Memang kita perlu kecewa sebelum bisa bertemu bahagia...
Tak terasa waktu berlalu, adzan Maghrib telah berkumandang. Melihat Khansa yang menjadi pendiam dadakan, Fitria memutuskan untuk menunda pulang. Fitria memilih agar dirinya pulang nanti berbarengan dengan Naura pulang.
Mereka semua shalat berjamaah di masjid pondok yang di pimpin langsung oleh Reza.
Selesai shalat berjamaah, pondok langsung diramaikan oleh para santri putra dan santri putri dewasa yang rata-rata penduduk sekitar pondok yang akan belajar mengaji disana.
Beruntung ada sosok Naura kali ini, Naura yang begitu periang dan banyak bicara sedikit bisa mencairkan suasana hati Khansa yang terasa sangat beku karena kejadian tadi.
"Khansa, kita ke lantai dua yuk. Kangen sama tempat main kita dulu diatas." Fitria mencoba peruntungan agar bisa sedikit menghibur sahabatnya itu. Khansa hanya mengangguk lirih untuk menjawab ajakan Fitria.
"Naura ga boleh nakal ya kalau di lantai dua, soalnya ber-ba-ha-ya oke?"
"Oke tante Fitria yang cantik, muaach." Naura mencium lembut pipi Fitria yang tak kalah gemoynya dengan pipi Naura.
"Waaah! Lihat Mama Khansa, bintang-bintangnya banyak sekali." Si gemoy Naura benar-benar begitu pandai membuat orang yang berada disekitarnya dengan mudah mencintainya.
Khansa hanya terdiam sambil ikut memandangi bintang-bintang di langit yang berkelap-kelip.
"Mama Khansa," Panggil Naura sambil memandangi wajah Khansa yang terlihat sayu itu.
"Ya, Naura." Kali ini Khansa membalas tatapan Naura yang menggemaskan itu.
"Kata papah Hilal, jika orang-orang baik meninggal- nanti mereka akan jadi bintang dan akan bersinar terang."
"Oh- papa Hilal berkata seperti itu?"
"Iya Mama, Naura pernah dengar pak dokter berkata jika Naura tidak akan hidup lama. Berarti Naura akan meninggal ya Mama? Nanti Naura akan jadi bintang, dan Mama Khansa harus berjanji. Akan selalu melihat Naura jika Naura sudah menjadi bintang."
"Naura! Naura tidak boleh bicara seperti itu lagi, Mama Khansa tidak mau Naura berkata seperti itu lagi." Air mata Khansa dan Fitria tumpah, Khansa memeluk Naura begitu erat.
Ya Tuhan, kenapa kau berikan cobaan begitu berat kepada gadis kecil seperti Naura.
"Berjuanglah untuk sembuh Naura, selama apapun itu. Mama Khansa akan mendampingimu dan menyayangimu."
Kata-kata Khansa begitu meresap di hati Naura.
Sejenak Naura melepas pelukannya dengan Khansa. "Benarkah itu Mama Khansa? Naura berjanji, Naura akan rajin minum obat dan akan selalu menurut apapun perintah Mama Khansa. Jika Mama Khansa selalu mendampingi dan menyayangi Naura."
"Janji?"
"Janji Ma," Kini mereka berpelukan kembali, lebih dekat, lebih hangat, bagaikan seorang ibu yang benar-benar memeluk anaknya.
"Hm- Assalamualaikum,"
"Wa'alaikumsalam," Jawab Naura, Khansa dan Fitria serentak.
Pria tampan dengan rambut sedikit basah itu begitu menggiurkan, bak seonggok roti bertabur Meises Ceres tergeletak dimeja makan saat perut lapar. Ingin rasanya memakannya hingga habis tak tersisa, ya Rob- kenapa aku baru menyadari jika suamiku begitu manis. Ah- otak Khansa masih sempatnya saja memikirkan yang tidak-tidak pada situasi seperti ini.
"Sekarang waktu sudah menunjukan pukul 19.00 waktu indonesia bagian rindu Naura, jadi sudah waktunya Naura untuk pu-lang," Ramadhan memasang wajah termanis yang ia punya.
"Kak Ramadhan please, jangan beri Naura ajaran sesat. Sel-sel otak diusianya sangat cepat menangkap dan mengingat sesuatu yang ia dengar. Sejak kapan ada waktu indonesia bagian rindu?"
__ADS_1
"Hehehehe," Ramadhan terkekeh sendiri.
"Khansa, Naura biar pulang bareng sama aku sekalian ya- Ayo Naura, Salim dulu sama Mama Khansa sama om Ramadhan." Naura langsung melakukan apa yang baru saja diperintahkan oleh Fitria, dengan senyum manisnya Naura mencium punggung tangan Khansa dan Ramadhan bergantian. "Om, Naura titip Mama Khansa ya- jangan sampai buat Mama Khansa sedih. Dan Mama Khansa, sampai ketemu Naura lagi besok yah. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam, dadah Naura."
Setelah Naura dan Fitria menghilang menuruni anak tangga, Ramadhan memeluk istrinya dari belakang. "Apa istriku yang cantik ini merasa kelelahan hari ini?"
"Kak, kita ada di balkon. Malu kalau sampai ada orang yang liat kita dari luar sana." Khansa mencoba melepaskan pelukan suaminya yang begitu memenjarakannya itu.
"Malu kenapa sayang? Kitakan suami istri, justru sunah dan mendapatkan pahala."
"Iya- tapi malu kak, kita ke kamar saja."
"Hm- istriku sudah mulai nakal, sudah berani mengajak ke kamar duluan." Ramadhan mencubit hidung istrinya dengan lembut. "By the way itu siapa ya sayang, yang pesan brownis tapi brownis nya dilupakan begitu saja di meja ruang tamu?"
"Akh- itu aku kak, aku yang memesannya tadi sore." Khansa benar-benar lupa jika sudah memesan kue secara online tadi sore, untung saja ia sudah membayarnya menggunakan saldo gogopapay Jadi ia tak merepotkan Bude yang menerima paket lalu harus membayar pula.
No iklan, no promosi gengs🤭
"Mari kita bersiap shalat Isya, mengirim doa untuk Abah dan Umi. Lalu setelah itu sayang ceritakan padaku. Dari aku pergi tadi, sayang ngapain aja dirumah bersama Naura dan Fitria."
"Baik bos, eh- siap bos. Hehehehe,"
...****************...
POV Yuta
Saat kau menggenggam tanganku di club' malam
Dan kau menciumiku begitu dalam di lantai dansa
Aku berharap kita bisa selalu seperti itu
Kenapa kita tak bisa seperti itu ?
Padahal aku milikmu
Kita tetap menyembunyikan hubungan kita
Tiap ku melihatmu, aku serasa tersiksa sedikit demi sedikit
Tidak akan pernah cukup
Sudah jelas kau tercipta untukku
Tiap bagian dirimu sangat cocok denganku
Tiap detik, tiap ku berpikir, semakin dalam rasaku padamu
Tapi ku takkan pernah menampakkannya di wajahku
Tapi kita tahu ini
Cinta yang kita punya tak ada harapan
Ah- bukan cinta kita, tapi tepatnya cintaku saja- cinta sepihak yang begitu menyesakkan dada
Kenapa kau tak bisa menggenggam tanganku?
Kenapa aku tak bisa mencium mu lagi di lantai dansa?
Aku berharap kita bisa seperti itu
Kenapa kita tak bisa seperti itu? Padahal aku milikmu
Saat kau bersamanya, kau selalu menghujaninya dengan cinta
Sedari dulu memang tak ada yang tahu, jika aku sedang jatuh cinta pada pacar sahabatku sendiri
Sejujurnya aku tak ingin menyembunyikannya
Aku ingin mengatakan pada dunia tentang cinta yang aku punya untukmu
Aku hidup untuk hari itu bersamamu, hanya hari itu.
Kenapa aku tak bisa mengatakan jika aku sedang jatuh cinta ?
Aku ingin meneriakkannya dari atap gedung
__ADS_1
yamg menjulang tinggi ini
Aku harap kita bisa seperti itu
Kenapa kita tak bisa seperti itu ?
Padahal aku milikmu Hilal!
Yuta menghabiskan satu gelas penuh whisky dalam sekali teguk.
Pikirannya melayang menembus awan.
Kalut, sangat terbawa perasaan ketika Sinta memberitahunya. Jika Hilal akan berada di Singapura selama 3 hari. Akh- Yuta juga berada di Singapura, tapi entahlah. Yuta sudah begitu lelah, selalu saja ia yang haru mengejar Hilal. Sedangkan Hilal? Sedetikpun ia tak pernah menganggap Yuta ada.
Penyesalanku...
Saat kamu selalu menghujaniku dengan segala kasihmu yang tulus, aku justru menghujaninya dengan banyak luka.
Khansa...
Kini hanya penyesalanku yang selalu menemani langkahku
Aku sedang mencoba menikmati indahnya penyesalan
Kesalahan terbesarku adalah terlalu percaya diri
Aku terlalu bangga hati, akan dengan mudah merebut Hilal darimu Khansa.
Siksa batin yang harus ku hadapi sendiri selama 6 tahun terakhir
Ku rasa itu semua masih belum cukup
Karena aku belum pernah mengantongi kata maaf darimu Khansa
Aku yang telah menjebak Hilal
Aku yang telah rakus ingin memilikinya
Segenggam nafsu cinta
Telah melupakan buih kebaikan yang selama ini kau berikan kepadaku Khansa...
Maafkan aku... Adiba Khansa Az-zahra...
Aku akan terbang Khansa
Aku akan kembali
Aku akan pulang
Aku akan mengemis permintaan maaf darimu
Kau sudah membuat aku sadar Khansa
Setinggi apapun aku ingin menggapai langit
Serendah itu juga aku akan selalu berada dibawah, karena aku hanya tanah.
Tiga hari lagi, tiga hari lagi aku akan pulang.
Akan ku terima apapun yang akan kau lakukan padaku nanti Khansa...
Benci?
Amarah?
Tak menganggap ku ada?
Akan ku terima semuanya.
Bersambung...
Hai-hai para readers yang sudah membaca Ramadhan Imamku
Terima kasih ya- sudah mengikuti novel ini sampai sejauh ini.
Don't be shy dong, untuk selalu like dan comment setiap bab-nya yah.
Karena kata-kata kalian adalah semangatku dalam berjuang.
__ADS_1
Semoga kita semua selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan Amiin🙏