
Happy reading❤️
"Tante, om? Ngapain ngintip-ngintip disini?"
Jeng-jeng!
Khansa tengah memergoki mama dan papa Fitria tengah mengintip ruangan Fitria dari sela-sela jendela.
"Ssssttt," Tante Sera menempelkan jari telunjuk di bibirnya tanda untuk diam,
"Tante sama Om lagi liatin Hafiz sama Fitria, om katanya takut Fitria di apa-apain."
Jelas Sera tentang pemikiran apa yang tengah menggelayuti otak mereka.
"Astaghfirullah, Hafiz walaupun slenge'an begitu insyaallah dia baik si om, tante. Boby yang terlihat baik malah justru melakukan hal sebaliknya kepada Fitria! Astaghfirullah kenapa aku jadi membandingkan orang. Ampuni dosaku ya Rob."
"Hm- benar juga si Khansa, ya Tuhan. Tante dan om jadi merasa bersalah sudah punya pemikiran yang tidak-tidak. Oia Khansa, tante sama om mau pulang sebentar ya. Ambil beberapa baju ganti Fitria dan mandi."
"Silahkan om, tante. Biar Khansa yang jadi satpam mereka berdua sementara."
"Baiklah, terima kasih ya sayang. Assalamualaikum,"
"Wa'alaikumsalam,"
Kini Khansa juga memutuskan menunggu mereka di kursi tunggu lorong ruangan saja. Khansa merasa jika dirinya sungguh tidak peka, bukankah tadi Hafiz sudah menyuruhnya istrahat lebih dulu di rumah? Karena Hafiz ingin menemani Fitria disini tanpa ada orang lain yang mengganggunya.
Khansa yang sangat tidak peka, Batin Khansa merutuki kebodohannya sendiri.
...****************...
"Fit," Hafiz memanggil namanya, yang entah mengapa kali ini terdengar begitu berbeda.
"Ya-" Tatapan mata yang begitu tajam dari Hafiz, membuat Fitria yang biasanya bermulut cablak mendadak menjadi setengahnya, oh- bahkan terlalu minim cablak.
"Kalau benar dalam kurun waktu 20 detik pasti suster akan datang membawakan makan dan obat untukmu. Janji harus dimakan sampai habis ya, aku yang suapi."
"Kalau kamu keliru, aku akan makan sendiri." Jawab Fitria asal.
"Okey, deal."
Dan Ting!
Tok! Tok!
Ceklek,
"Permisi, sudah jadwalnya makan sore dan minum obatnya ya bu." Suster menyerahkan nampan berisi satu paket lengkap itu kepada Hafiz.
"Makasih sus," Fitria hanya bisa tersenyum kecut.
"Jika ada keluhan atau perlu bantuan apapun, saya ada di ruangan sebelah ya bu. Saya permisi." Ucap suster itu sambil berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
"Ck, nyesel aku iya-in tadi. Im forget it, aku sedang berhadapan dengan siapa. HACKER!" Fitria berdecak kesal.
"Sudah mantan kok, jadi lupakan. Sama seperti kamu, sudah mantan. So lupakan dan buatlah perubahan ke arah yang lebih baik. Kamu pantas bahagia, dan dia pantas menyesalinya suatu saat nanti. Ayo penuhi janjimu- makan, minum obat lalu istirahat."
Walaupun rasa kecut dan pahit manjadi satu didalam hatinya, Fitria terpaksa menuruti apa yang Hafiz perintahkan dan lakukan kepadanya.
Khansa hanya bisa tersenyum simpul melihat pemandangan itu, "Kamu memang pandai mengambil hati orang Hafiz, good job."
Khansa yang merasa tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan dari Fitria dan Hafiz, melangkahkan kakinya menuju loby.
Berniat untuk menyusul suaminya dikantor, namun langkahnya terhenti ketika melihat sosok yang akan ditemuinya itu sudah berdiri didepannya bersama Boby sang biang kerok dari kekacauan yang terjadi tadi pagi.
"Assalamu'alaikum istriku," Ramadhan memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Khansa," Sapa Boby sekadar basa-basi.
"Kalian akan menemui Fitria?" Tanya Khansa dengan melirik ke arah Boby lalu kembali ke arah wajah Ramadhan.
"Iya sayang,"
"Aku melarangnya," Khansa mengarahkan telunjuknya ke arah Boby. " Fitria baru saja mau berbicara dan makan karena ada Hafiz, jika Boby datang. Aku yakin sekarang pasti Fitria akan terpuruk lagi, kalian boleh bertemu. Tapi sekarang bukanlah waktu yang tepat." Menurut Ramadhan kekhawatiran Khansa sangatlah wajar mengingat mereka berdua telah bersahabat begitu lama.
"Baiklah, jika begitu sayang perintahkan Hafiz keluar ruangan menemui kami. Ada hal penting yang akan ku bicarakan dengan Hafiz, jika secara kebetulan ia ada disini. Dan sayang sementara temani Fitria, tapi ingat. Selepas Maghrib sayang harus sudah pulang. Jangan tunggu aku, karena mendadak ada kasus yang harus aku clear-kan secepatnya sayang." Ramadhan mencium lembut kening istrinya yang sebagian tertutup jilbab itu.
Khansa menganggukkan kepalanya, berjalan kembali menuju ruang inap Fitria. Mengganggu dua sejoli yang sudah terlihat akrab itu tentunya. Namun Khansa mengesampingkan rasa tidak enak itu, lalu meminta Hafiz untuk menemui suaminya. Kini hanya tersisa Khansa dan Fitria yang masih saling terdiam.
"Bagaimana? Udah merasa baikan?"
Fitria tetap diam tak bergeming.
"Ga lucu deh," Akhirnya sang Dewi bernama Fitria itu mau buka suara namun masih malu-malu kucing.
"Hm- aku kok merasa kamu ga adil sama aku ya beb. Tadi saat Hafiz bareng kamu, aku liat kamu semangat banget ngobrol sama dia. Giliran aku datang, malah di kacangin kaya kacang asin." Khansa terlihat mulai merajuk.
"Gue malu sama lu Khansa," Air matanya mulai berlinang begitu saja, bahkan kata-kata itu sempat tercekat di tengah-tengah kerongkongan Fitria.
"Malu kenapa? Untuk apa malu dengan sahabat sendiri." Khansa mengernyitkan satu alisnya, karena merasa masih tidak mengerti kemana arah pembicaraan sahabatnya ini.
"Gue merasa jadi orang yang paling bodoh dan lemah didunia ini Khansa, Allah baru ngasih secuil ujian buat gue. Tapi gue merasa seakan dunia gue udah runtuh, udah hancur- habis tak bersisa. Impian gue nikah sama Boby, taunya Boby malah berkhianat. Dalam sekejap aku lupa, bahwa aku masih punya papa mama dan sahabat-sahabatku lainnya seperti kamu yang selalu care sama aku. Huaaaa... Huaaa..."
Tangis Fitria makin histeris, namun Khansa sedalam mungkin memeluk sahabat tercintanya itu. Papa dan Mama Fitria yang baru saja tiba diambang pintu, disuguhkan pemandangan seperti ini. Juga menjadi tak kalah terharunya.
Baik sadar atau tidak, masing- masing dari kita juga pernah ga si- merasa atau berpikir seperti yang dirasakan oleh Fitria?
Tentu pernah bukan? Walau memang tak se-over yang dilakukan oleh Fitria.
Dan tanpa kita sadari lagi bahwa, mindset yang tertanam di otak kita juga akan sangat mempengaruhi kesehatan kita dalam waktu jangka panjang.
Bisa kita ambil contoh, "Wah gue kehujanan nih, pasti besok sakit dah gue." Gelombang saraf pada otak akan seolah menerima perintah demikian dan terjadilah, keesokan harinya kita akan benar-benar sakit.
Hayo, sampai sini ada yang merasa ga?😁
__ADS_1
Pola pikir dapat memengaruhi tingkat kesehatan seseorang. Orang yang berpikir positif cenderung lebih sehat, karena mampu menghadapi stres yang dimilikinya dengan baik. Mereka juga cenderung lebih mudah menjalani gaya hidup sehat, sehingga tidak rentan terserang penyakit.
Berbagai masalah manusia, mulai dari gangguan tidur, depresi, stres, kecemasan, penuaan dini, hingga kenaikan berat badan sering kali dapat diatasi dengan berpikir positif.
Nah, maka dari itu. Mulai hari ini, aku akan mengajak kita semua untuk mulai menyingkirkan segala pikiran negatif yang ada dalam otak kita dan mulailah berpikir positif demi kesehatan yang lebih baik.
Fighting💪
...****************...
"Assalamualaikum Hafiz,"
"Wa'alaikumsalam Ramadhan,"
Mereka bertiga bersalaman, Ramadhan, Boby dan Hafiz.
Lalu Ramadhan mengutarakan maksudnya untuk meminta bantuan Hafiz menghack nomor ponsel yang sudah Ramadhan curigai.
"Sebentar lagi tiba waktu Maghrib bro, bagaimana kalau kita shalat berjamaah dulu? Secara ya-kan, ada yang habis buat anak orang hampir bertemu malaikat sakaratul maut. Masih ada waktu untuk bertaubat,"
Mata Hafiz menatap tajam Boby yang sedari tadi memilih menunduk menyadari kesalahannya.
"Kamu pimpin shalat Bob, shalat Qabliyah dulu baru shalat Maghrib."
"Baik,"
Ketiga pria tampan itu berjalan beriringan menuju mushola masjid yang berada di sebelah kiri dekat dengan area parkir luar.
Bersambung ...
###
*Bagi sebagian orang, mengetahui manfaat atau keutamaan dari suatu amalan dapat membantunya berkonsentrasi dalam ibadah atau merutinkan ibadah tersebut. Jika termasuk salah satu orang dengan tipe ini, mengetahui keutaman shalat qobliyah dan ba’diyah bisa jadi hal yang penting untuk bisa meraih kekhusyuan ibadah.
Shalat Sunnah Qobliyah dan Ba’diyah
Shalat sunnah qobliyah sendiri adalah shalat sunnah yang dilakukan sebelum melakukan shalat wajib 5 waktu. Sedangkan shalat ba’diyah adalah shalat sunnah yang dilakukan setelah melakukan shalat wajib. Kedua shalat sunnah pengiring shalat wajib ini juga sering disebut sebagai shalat rawatib.
Masing-masing shalat rawatib memiliki jumlah dan waktu yang berbeda-beda. Tergantung dengan waktu shalat wajib yang diikuti. Jumlah shalat rawatib yang dianjurkan untuk dilakukan adalah sebanyak 12 rakaat. Jumlah ini terbagi menjadi 4 rakaat sebelum Dzuhur, 2 rakaat setelah Dzuhur, 2 rakaat setelah Maghrib, 2 rakaat setelah isya, dan 2 rakaat sebelum Shubuh.
Keutamaan Shalat Qobliyah dan Ba’diyah
Dapat meninggikan derajat di surga
Memperbanyak shalat sunnah adalah salah satu cara yang dapat dilakukan seorang hamba agar bisa mendapatkan derajat yang tinggi di surga.
Menutup kekurangan dalam shalat wajib
Kekurangan dalam shalat adalah sesuatu yang umum terjadi. Termasuk juga dalam shalat wajib 5 waktu. Karena itulah shalat sunnah seperti shalat qobliyah dan ba’diyah disyariatkan. Dengan begitu, setiap orang bisa menutupi kekurangan shalat wajibnya dengan melakukan shalat sunnah sesuai yang disyariatkan.
Dibangunkan rumah di surga
__ADS_1
Mengerjakan shalat sunnah qobliyah dan ba’diyah secara rutin sebanyak 12 rakaat setiap harinya akan dijanjikan surga oleh Allah. Anjuran dan janji Allah ini bisa Anda temukan di banyak hadits dan sirah para sahabat. Termasuk juga hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Aisyah ra. Nabi SAW bersabda:
Barang siapa merutinkan shalat sunnah 12 rakaat dalam sehari, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga*.