
Happy reading❤️
POV Hilal
Waktu telah terlalu keras menyeret jiwaku dalam hasrat untuk bertemu dirimu Khansa
Bahkan walau hanya sedetik
Akan aku bayar itu
Berapapun harganya sedalam apa yang harus ku kocek, demi sekadar melihatmu.
Takdir yang kejam tak inginkan kita bersatu
Kini kau telah bersamanya, tak ada ruang sedikitpun untukku
Terlambat semua ku sesali yang terjadi
Tak pernah ku sangka, jika aku akan sedalam ini memendam luka
Luka yang aku sendiri menciptakannya
Alasan yang membuatku bertambah berat dengan keadaan Naura
Naura yang selalu menyebut namamu
Naura yang selalu menginginkan hadirmu
Tapi aku telah gagal
Gagal mendapatkan mu kembali ke pelukanku
Andai saja aku bisa mengulang sang waktu
Takan pernah aku akan melakukan sebuah kebodohan
Kebodohan yang membuatku kehilangan mu untuk selamanya.
Rasa sesal ku kini tiada arti
Rasa ini tetap akan di hati, sekalipun aku mati.
Forever for you Adiba Khansa Az-zahra.
"Mohon maaf pak, tapi pemegang saham terbesar di Singapura meminta anda langsung yang datang dan menandatangani kontrak bersama mereka. Dari segi histori mereka pernah dikhianati pak, jadi wajar saja jika mereka meminta ini kepada kita." Hamid mencoba menjelaskan kepada Hilal segamblang mungkin, agar bosnya tidak naik pitam. Mengingat suasana hatinya yang selalu seperti seorang yang sedang menaiki roller coaster.
"Harus berapa hari aku berada disana?" Hilal mencoba to the point.
"Tiga hari saja tuan, selebihnya hanya jalan-jalan santai antar pemilik perusahaan. Jadi tuan bisa izin tidak bisa ikut, yang terpenting acara inti tuan Hilal sudah hadir."
"Baiklah, segera siapkan mobil. Antar saya ke rumah Khansa sekarang, ajak Naura. Tolong siapkan dia, katakan jika akan bertemu mama Khansa. Pasti ia tidak akan menolak."
...****************...
"Papa, mama Khansa mana? Kenapa belum datang juga?" Naura merengek menarik-narik lengan baju Hilal. Naura sudah begitu rindu kepada Khansa.
"Mama Khansa?" Reza dan Aisyah spontan berkata yang sama*.
"Mohon maaf sebelumnya, tapi aku sungguh tidak ingin menceritakan semua ini dua kali. Jadi lebih baik tunggu Ramadhan datang dan aku akan utarakan semua maksud dan tujuanku kesini."
"Hm- baiklah, aku tidak memaksa."
"Kak Ramadhan tolong pisah mereka berdua!"
Teriakan Khansa terdengar hingga keruang tamu. Hilal dan Reza segera berhambur keluar, dan benar saja kedua wajah pria yang sudah bonyok satu sama lain bisa dilihat dari teras rumah.
"Apa-apan si kamu Bob! Ini rumah istri gue, ada pondok pesantren gila aja lu berani buat keributan disini!" Ramadhan yang sudah terlanjur emosi terpaksa bertindak kepada kedua pria yang terlibat perkelahian ini, mendorong keras Boby dan Hafiz agar bisa terpisah dan tak melanjutkan perkelahian.
__ADS_1
Siapa lagi mereka jika bukan Boby dan Hafiz.
"Sekarang kita semua masuk! Kita harus selesaikan masalah ini sekarang! Apa ada bedanya kalian dengan bocah SD!? Masuk!"
Bak kerbau yang sudah di cocok hidungnya, mereka berdua masuk mengikuti perintah Ramadhan. Sementara Fitria hanya bisa menangis sesenggukan di pelukan Khansa, sambil mengekor masuk kedalam rumah.
"Mama Khansa!" Naura segera berlari dan berhambur memeluk Khansa.
"Mama Khansa? Kapan lu bunting sama melahirkannya Khansa? Kok gue ga tau?"
"Udah jangan berisik lu Fit, kita urus dulu masalah kamu. Malah sibuk tanya gue bunting and melahirkan segala." Khansa tak habis pikir dengan sahabatnya yang satu ini.
"Hehehe, kepo dikit gapapa kali."
**
Suasana tegang ruang tamu Khansa kini sudah melebihi tegangnya ruang sidang.
Ramadhan masih berusaha mengatur napasnya dengan wajah marahnya berwarna merah, perlahan terlihat mulai bernapas teratur dan tak merah lagi wajahnya.
"Naura, main dulu sama bibi sebentar di luar ya, jika mama Khansa sudah selesai nanti akan langsung menemui Naura. Please, Naura anak pintar ga boleh melawan ya. Nanti kalau mama Khansa marah, mama Khansa gak akan mau bertemu Naura." Rayu Hilal dengan segudang kata-kata manisnya.
"Baik, Naura nuyut. Tapi mama Khansa janji habis ini lama sama Naura nya yah?"
"Oke girls, lets go."
Punggung Naura mulai menghilang dari balik pintu utama. Setelah semua aman, tidak ada anak kecil lagi didalam ruangan. Ramadhan mulai membuka topik permasalahan.
"Kenapa kalian berdua langsung adu jotos? Apa kalian tidak bisa lihat didepan sana ada pondok pesantren? Apa kata orang-orang nanti jika melihat kalian seperti ini dirumah anak pemilik pondok? Image pondok akan buruk! Kira-kira hukuman apa yang pantas untuk kalian berdua? Jawab!"
Taka ada satupun yang berani berbicara disini, jika posisi ini terjadi dimalam hari. Mungkin yang menjawab kata-kata yang dilontarkan Ramadhan hanyalah suara jangkrik, krik krik krik.
"Boby memaksa ingin berbicara dengan Fitria, tapi caranya sangat tidak sopan. Boby langsung menyeret lengan Fitria, bukankah itu tidak boleh? Aku mencoba melepas tangannya yang menggenggam tangan Fitria, tapi sepertinya Boby tidak terima. Dia memukulku, jadi terpaksa aku memukul dia balik." Jelas Hafiz kepada semua orang yang berada disana.
"Benar itu Boby? Sorry walau saya sudah melihatnya tapi sebagai laki-laki yang gentle kamu harus mengatakannya sendiri."
"Maaf," Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Boby.
Semua yang berada diruangan itu hanya menoleh kearah Boby, yang masih tetap tak bergeming.
"Ehem- Jagalah pandangan dan jagalah hawa nafsu dengan lawan jenis jika belum halal, atau bahkan tidak mungkin menjadi halal. Karena orang yang dipandang itu sudah menjadi istri atau suami orang." Sekali tepuk dua nyamuk mati, ungkapan itu sangat tepat dilontarkan Ramadhan.
Ramadhan yang sedari tadi menangkap basah beberapa kali Boby mencuri pandang ke arah Fitria dan Hilal mencuri pandang ke arah istrinya sendiri. Sontak kata-kata Ramadhan tadi membuat Boby dan Hilal sedikit gelagapan.
"Ehem- begini Bob, kamu kan laki-laki tulen kan? Ayo dong segera selesaikan ini dengan baik. Aku masih punya pembahasan yang lebih penting dan lebih rumit harus tersendat karena ulah kalian." Hilal mencoba berbicara untuk sedikit menghilangkan kecanggungan nya yang sudah terlanjur tertangkap basah.
Dengan segenap kekuatan melawan malunya Boby mengatupkan kedua tangannya didepan dadanya. "Maafkan aku Fitria, maafkan aku Hafiz. Rasa kalut dan frustasi begitu menguasai diriku saat ini, dengan tulus dari hatiku yang paling dalam. Terlebih aku sudah membuat kamu kecewa dan hampir celaka Fitria," Boby memandang ke arah Fitria sejenak, lalu kembali menundukkan wajahnya kembali.
"Aku sudah ikhlas mas Boby, kita tidak berjodoh itu yang menjadi kenyataannya saat ini. Andai kata aku tidak mengikhlaskan ini, diriku sendiri yang akan rugi. Demi Allah aku sudah memaafkan mu bahkan sebelum kamu meminta maaf sekarang. Jangan ada permusuhan lagi, Hafiz tidak tau apa-apa dalam hal ini ikut menjadi korban. Maafkan aku Hafiz,"
Fitria mencoba melepaskan semua beban yang ada dipundaknya dalam beberapa hari ini.
"Bagaimana Hafiz, apa kamu juga memaafkan Boby?" Potong Ramadhan agar semuanya segera clear.
"Fitria sudah memaafkan, maka saya juga memaafkan. Allah yang maha segalanya juga selalu memaafkan hambanya yang bergelimang dosa."
"Salaman dulu biar lebih afdol,"
Bak itik yang digiring induknya, Hafiz dan Boby berpelukan sebentar lalu bersalaman, saat berpelukan luka di sudut bibir mereka masing-masing terkena baju satu sama lain. Mereka berdua meringis kesakitan bersama dan tersenyum kecil bersama.
"Sekarang apa yang mau kamu bicarakan denganku dan Khansa, Hilal?"
"Maksud dan tujuanku kesini adalah meminta izin darimu, agar Naura sementara bisa selalu bersama dengan Khansa." Hilal tanpa basa basi langsung tebas ke inti pembicaraannya.
Deg!
Tatapan mematikan? Itu yang terlihat dari mata elang Ramadhan, sementara ekor mata semua orang yang berada disitu memandang Ramadhan dengan isi otak yang menduga-duga.
__ADS_1
Baru saja satu masalah clear, sekarang Hilal memantik masalah yang baru.
Apakah yang akan terjadi?
Apa Ramadhan akan menggebrak meja lalu mengusir Hilal?
Atau meninju Hilal sama seperti Boby dan Hafiz yang saling adu jotos tadi?
Temukan jawabannya pada episode berikutnya.
*Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...
Salah satu dari kita pasti pernah merasakan
Saya begitu menggebu-gebu ingin menggapainya, memilikinya namun setelah memilikinya hanya sebulan dua bulan
"akh- ternyata dia begini, ternyata dia begitu tak sesempurna seperti yang kita bayangkan sebelumnya,"
Percayalah, di zaman seperti ini tidak ada yang manusia yang sempurna. Bahkan termasuk diri kita sendiri. Apabila kita sudah memutuskan untuk menambatkan hati
Dalam Islam, proses menuju pernikahan itu melewati tiga tahap, yaitu taaruf, khitbah dan akad nikah. Tren taaruf sendiri kini kian merambah jadi pilihan syar'i untuk menemukan belahan jiwa. Tapi sebelum memulai taaruf, kita wajib menanyakan apakah seseorang yang terpilih itu sudah dikhitbah atau belum.
Karena taaruf dan khitbah itu terjadi sebelum menikah, mungkin sebagian dari kamu masih ada yang bingung, apa sih perbedaannya? Nah, untuk paham konkretnya, simak uraian berikut ya.
Taaruf adalah proses mengenal, sedangkan khitbah adalah proses melamar.
Stereotip tentang taaruf yang bikin kamu kurang kenal calon pasangan sebab minim interaksi itu gak bener kok! Apalagi dinilai seperti 'membeli kucing dalam karung'. Lewat masa taaruf, kamu bisa gali sebanyak mungkin informasi tentang si dia, baik hobi, sifat, kondisi kesehatan, impian dan sebagainya. Hanya saja prosesnya harus syar'i yaitu didampingi perantara atau mahram. Intinya sih saling mengenal tanpa interaksi berlebihan.
Berbeda dengan khitbah yang merupakan pinangan. Taaruf adalah rangkaian proses sebelum khitbah itu sendiri. Gak mungkin kan dua orang bertunangan tanpa saling kenal? Menyebarkan kabar lamaran ke publik gak wajib kamu lakukan kok, karena khawatirnya terjadi hal-hal yang gak diinginkan sebelum akad nikah berlangsung.
Dalam taaruf kamu masih bisa mundur, sedangkan khitbah mengikatmu untuk maju
Sebaiknya fase taaruf itu gak baper alias bawa-bawa hati, sebab prosesnya gak mudah. Boleh jadi kamu sreg dengan profilnya, tapi dia kurang cocok sama kamu. Bisa juga sebaliknya. Taaruf itu masa penjajakan antara kamu dan dia untuk menemukan kecocokkan. Kalau pun ternyata gak cocok, kamu dan dia bisa mundur baik-baik tanpa sakit hati yang berlebihan.
Jika dalam taaruf kamu masih bisa diberi pilihan, beda dengan khitbah yang jadi masa untuk berkata, "aku pilih kamu". Tapi ada juga jalan khitbah yang niatannya muncul dari pihak laki-laki, artinya tanpa kesepakatan berdua. Di sini pihak perempuan yang dikhitbah bisa menerima atau menolak. Kembali lagi, proses taaruflah yang sangat mempengaruhi khitbah itu berhasil atau gagal
Sebelum taaruf bekali diri dengan ilmu, sebelum khitbah bekali diri dengan restu
Meskipun secara bahasa taaruf itu proses mengenal, tapi istilah taaruf yang berkembang menggambarkan perkenalan laki-laki dan perempuan untuk membuka pintu pernikahan. Karena niatannya langsung mengikat hubungan serius, kamu wajib membekali diri dengan ilmu seputar penikahan sebelum memulai taaruf. Mulai dari apa aja hak dan kewajiban suami istri sampai cara mendidik anak yang gak ada di mata kuliah.
Saat taarufmu sedang berjalan, kamu juga perlu komunikasikan perihal sosok calonmu pada orangtua sebab kamu wajib mengantongi restu mereka sebelum melangkah ke tahap khitbah. Sepakati kriteria calon yang kamu dan orangtua harapkan. Salat istikharah, doa dan restu orangtualah yang bakal membimbingmu memilih langkah terbaik.
Taaruf memberimu waktu untuk berpikir, sedangkan usai khitbah, waktu pernikahan baiknya disegerakan
Dalam masa taaruf, kamu dan dia diberi kesempatan untuk berpikir. Jeda sejenak dari komunikasi penjajakan biasanya digunakan masing-masing pihak untuk shalat istikharah, berdoa, berdiskusi dengan orangtua atau meminta saran sahabat. Kalau pun keinginan mengkhitbah sudah datang dari pihak laki-laki, pihak perempuan punya hak untuk berpikir sampai dia menemukan jawaban.
Berbeda dengan khitbah yang jadi pembuka jalan pernikahan. Saat kamu dan dia sudah saling menerima dalam pinangan, maka baiknya proses pernikahan segera dibicarakan. Bukan waktunya lagi buat kamu untuk ragu, sebab usai khitbah obrolanmu bakal beralih pada tanggal nikah, seputar dekorasi, resepsi dan sebagainya.
Kenapa waktunya harus disegerakan? Sebab usai khitbah, hati sangat mudah ditumbuhi bunga-bunga cinta yang dikhawatirkan bisa menjerumuskan kamu dan dia dalam dosa atau keintiman yang belum saatnya. Belum lagi dengan godaan lain yang bisa menggagalkan pernikahan. Jadi memutuskan untuk menikah lebih cepat, itu lebih baik.
__ADS_1
Nah, itulah perbedaan taaruf dan khitbah yang sama-sama dilakukan sebelum akad nikah. Buat kamu yang mau tutup masa lajang, uraian di atas semoga bermanfaat ya.