Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)

Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)
Naura Khansa


__ADS_3

Happy reading❤️


Setiap harinya, dalam pikiran manusia kerap dipenuhi dengan bayangan-bayangan di masa depan.


Kedepannya bagaimana, harus apa, bagaimana jika ini itu ono terjadi dan masih banyak lainnya.


Memikirkan masa depan memang perlu.


Namun jika terlalu sangat mengkhawatirkan memikirkan masa depan, sama seperti membeli furnitur untuk rumah yang bahkan belum dibangun.


Ketika furnitur tersebut berada di tangan, kita tidak punya tempat untuk meletakkannya. Akibatnya, barang-barang itu akan memadati hidup di masa sekarang.


Dengan kata lain, terlalu memikirkan masa depan sama artinya dengan mengisi hari-hari dengan pikiran, perhatian, antisipasi, dan kecemasan yang mungkin tidak akan pernah terjadi.


Acap kali kita sebagai manusia biasa kerap memiliki kecenderungan bergegas ke masa depan demi kebaikan yang dirasa ada di sana.  Tetapi tidak ada yang bisa menjamin hari esok. Tidak ada jaminan apa pun darinya.


Ketika kita menaruh terlalu banyak harapan di hari esok, hal ini berisiko membawa hasil yang berbahaya. Manusia akan mulai merasa berhak atas masa depan tertentu yang mungkin tidak pernah datang.


Ketika masa depan yang diharapkan itu tidak terjadi, manusia bisa menjadi sangat emosional dan sengit. Lebih parah, manusia bisa kehilangan momen menikmati berkah yang didapat di momen saat ini.


Allah SWT telah memberi tahu tentang itu dalam Alquran dengan sangat jelas. Dalam QS An-Nahl ayat 1, Allah SWT berfirman,


"Ketetapan Allah pasti datang, maka janganlah kamu meminta agar dipercepat (datang)nya. Maha suci Allah dan Maha tinggi Dia dari apa yang mereka persekutuan".


Ayat ini mengingatkan tentang sifat Hari Akhir yang tidak diketahui, tetapi juga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang akan telah diatur akan datang pada saatnya. Manusia diminta untuk sabar hingga saatnya tiba.


Kita hanya bisa bertemu dengan kesenangan di akhirat dengan mengambil tindakan di masa sekarang.  Jadi mari berharap untuk rahmat Allah dan menyerahkan masa depan kehidupan ini kepada kehendak Allah.


Nabi Muhammad SAW juga tidak bisa mengetahui masa depannya atau mengubahnya.


Allah SWT berfirman dalam Alquran QS Al-A'raf ayat 188,


"Katakanlah (hai Muhammad), "aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman".


Di balik kekhawatiran-kekhawatiran itu, seharusnya manusia memahami jika setan kerap memanfaatkannya. Seperti Nabi Muhammad, umat-Nya juga tidak memiliki kuasa atas apa yang terjadi di masa depan. Ketika manusia membebani pikirannya tentang hari esok, bisa jadi manusia menjadi mangsa salah satu trik setan.


Aisyah menangis tersedu-sedu dengan pemikiran dan kekhawatirannya itu.


"Jadilah Aisyah yang aku kenal selama ini sayang, rasa khawatir yang berlebihan akan masa yang bahkan kita sendiri belum bertemu dengannya itu sangat tidak baik. Menerka-nerka hal buruk terjadi itu juga tidak baik sayang."


Reza berusaha meyakinkan hati istrinya bahwa Abi dan Umi nya tidak menilai seseorang hanya dari fisiknya saja.


"Tapi Abi dan Ummi pasti tidak menyadari bahwa salah satu menantunya tidak punya sepasang kaki mas, lihat foto pernikahan kita."


Aisyah menunjukan foto terpampang lebar di dinding kamar mereka.


"Foto pernikahan kita, sama sekali tidak terlihat bahwa aku tak mempunyai sepasang kaki. Bagaimana kalau Abi dan Umi nanti kecewa dan tak menerima aku mas." Kali ini air mata Aisyah semakin deras.


"Istighfar Aisyah, aku yakin ilmu yang kamu punya sudah kamu pelajari dengan baik. Berprasangka baiklah pada takdir yang Allah berikan nanti Aisyah, jika kamu meragukan kedua orang tuaku itu sama saja kamu juga meragukan aku dan kak Ramadhan."


Aisyah mendongak memandang suaminya, apa hubungannya Abi Umi dengan kak Ramadhan juga?


"Maaf Aisyah aku belum sempat memberi tahukan kepadamu bahwa aku adalah adik dari kak Ramadhan. Karena kamu juga tidak pernah mempertanyakannya." Timpal Reza berusaha meluruskan agar tak muncul kesalahpahaman lagi.


"Apa kak Khansa sudah tau akan hal ini?" Aisyah mengkhawatirkan kakaknya yang satu itu.

__ADS_1


Reza mengangguk, "Saat kakakmu meminta cerai, kak Ramadhan sudah menjelaskan semuanya. Dan sekarang kakakmu sudah mulai menerima kak Ramadhan, Aisyah bisa lihat sendiri kan, bagaimana Khansa memperlakukan kak Ramadhan sekarang?"


"Baiklah, jika kak Khansa bahagia. Aku juga akan bahagia. Tapi, bolehkah jika aku bertanya kepada kak Khansa perihal Abi dan Umi akan kesini mas?"


"Boleh, silahkan saja bicarakan bersama dengan Khansa. Tapi Aisyah harus berjanji tidak boleh sedih lagi. Oke?"


Reza mengembangkan senyum manisnya kepada Aisyah. Memeluk istrinya yang terlihat gelisah itu dengan penuh cinta.


...****************...


"Mama Khansa!"


Suara bocah kecil yang sangat cantik kurang lebih sekitar berumur 4/5tahun itu berteriak memanggil mama Khansa dengan mata yang berbinar-binar.


"Mama Khansa? Sayang kenal gadis kecil ini?"


Ramadhan menanyakan hal itu kepada istrinya dengan degup jantung yang lebih kencang dari biasanya.


Ia takut, sangat takut dan teramat takut jika sesuatu yang buruk pernah terjadi.


"Aku tidak kenal dengan gadis ini sayang-


Hai gadis cantik, apa kamu memanggilku?"


Tanya Khansa dengan nada lembut.


"Tentu, aku sangat mengenal mamaku


mama Khansa."


Khansa yang kebingungan semakin bingung dengan gadis ini, bagaimana bisa gadis kecil ini mengenal dan mengetahui namanya. Bahkan dia memanggil Khansa dengan sebutan Mama?


"Apa ada yang sayang sembunyikan dari aku?


Siapa anak ini sayang?" Ramadhan mulai cemas.


"Sungguh demi Allah sayang, aku tidak mengenal anak ini.


Hai gadis cantik, lihat tante sebentar.


Tante boleh tau siapa nama kamu sayang?


Lalu kesini dengan siapa? Kenapa kamu memanggil tante dengan sebutan mama?


Apa tante mirip dengan ibu kamu?"


Jantung Khansa berdebar-debar, ia takut Ramadhan salah paham dengan keadaan ini.


"Kenapa mama tidak mengenaliku?


Aku Naura Khansa ma," Terlihat raut wajah kesedihan menyeruak dari wajah mungil nan ayu itu.


Tangan Khansa bergetar, ia tak berani memandang wajah suaminya sendiri.


Apa yang mau dijelaskan, karena memang tak ada yang bisa Khansa jelaskan.

__ADS_1


"Sayang?" Seolah Ramadhan butuh penjelasan.


Khansa hanya menunduk dan menggeleng, tak tau harus berkata apa kepada suaminya.


"Naura! Naura! Ya ampun, kenapa bisa sampai kesini?" Terlihat seorang baby sister berlari tergopoh-gopoh mencari gadis kecil ini.


Lalu meraih tangan mungil bocah bernama Naura itu.


"Ga mau bibi, Naura mau sama mama Khansa. Naura ga mau pisah lagi sama mama Khansa, Naura udah ga kuat pisah terus sama mama Khansa." Air mata mengalir deras, genggaman erat seolah sulit dilepaskan, mencengkram kuat gamis Khansa sehingga Khansa sulit melepasnya.


"Non Naura jangan begini dong, nanti bibi di marahi tuan. Tuan sudah menunggu di mobil, ayo non Naura."


"Bolehkah aku mengantar anak ini bertemu ayahnya sayang? Tapi sungguh aku tidak mengenalnya." Guratan kekhawatiran coba Khansa tutupi dengan menatap suaminya.


"Ayo sayang, sekalian aku juga ingin bertanya kepada ayahnya. Bagaimana bisa anaknya memanggilmu mama."


Saat Khansa akan menggendong anak itu, Ramadhan dengan cekatan mencegahnya.


"Tunggu! ingat luka diperut mu Khansa, aku tidak mengizinkan kamu menggendongnya!"


"Om jahat, Naura kan ingin digendong mama Khansa. Naura sangat rindu dengan mama Khansa." Celoteh gadis kecil itu.


"Kita jalan bergandengan saja ya Naura cantik, tante masih sakit. Jadi belum bisa menggendong Naura."


"Jangan ucap kata tante lagi, tapi mama. Mama Khansa," Protes gadis kecil itu.


"Dimana ayah gadis ini mba?"


"Lewat sini mba," Baby sister itu menuntun kearah ayah Naura.


Area taman kota yang luas, membuat mereka berjalan sedikit jauh dari arah tempat parkir.


Tanda tanya besar ada didalam benak Ramadhan dan Khansa. Siapa ayah dan ibu dari anak ini.


Hayo, ada yang bisa nebak ga- Naura ini anak siapa?


Aku tahan sampai episode selanjutnya ya, biar makin deg-deg ser😁


Tak lupa juga, untuk selalu like- coment, vote, dan hadiahnya ya🙏


...Cerbung...


...Hai semuanya!...


...Salam hangat dari penulis recehan, alias remahan rengginang yang masih gurih untuk jadi cemilan....


...Tolong tinggalkan jejak kalian disini ya, klik Like, comment dan Votenya. Mmm- Hadiahnya juga boleh kali ya....


...Jika berkenan jangan lupa untuk mampir juga di karyaku yang lainnya yang tak kalah serunya ya....


↘️↘️↘️↘️↘️↘️↘️


...~Terjebak Pernikahan Mr Bule Di Bali...


...~Siapakah Jodohku?...

__ADS_1


...~Obsesi Tingkat Tinggi...


__ADS_2