Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)

Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)
Janji Allah Kepada Kita Yang Mau Bersabar


__ADS_3

Happy reading ❤️❤️❤️


Lentera sang surya mulai menandakan senja, awan-awan putih menggelayut di bawah langit yang biru. Tupai-tupai saling mengejar satu sama lain di setiap alur kabel listrik yang terbentang, melintang di antara pohon satu dengan pohon yang lainnya. Saling beradu, bercumbu, menindih satu sama lain.


Senyum kecil merekah melihat tingkah tupai yang bak sepasang sejoli manusia di candu asmara itu. Saling tertarik satu sama lain, saling memberi satu sama lain.


Khansa dan Ramadhan menikmati es krim yang baru saja Hafiz dan Fitria bawakan untuk mereka. Bahkan dari kejauhan sekalipun, Khansa masih bisa melihat senyum bahagia yang merekah di wajah Fitria dan Hafiz beradu cerita satu sama lain. Menikmati indahnya senja dengan bertukar cerita satu sama lain.


"Suamiku ...." Khansa ingin memulai percakapan, sorot netra-nya baru menyadari. Bahwa tempat duduk yang ia tengah duduki bersama sang suami adalah tempat mereka bertemu pertama kali tanpa mereka saling tahu bahwa mereka akan berjodoh.


"Ya," walau masih terdengar kaku, paling tidak Ramadhan sudah mau merespon ucapan Khansa. Itu sudah merupakan awal yang bagus bukan?


"Tempat ini, tepat kita pertama kali bertemu. Aku bahkan ingin tertawa, karena tanpa sadar kita duduk di tempat yang sama," senyum getir Khansa telan sendiri, karena Ramadhan terlihat masih berpikir. Ini menunjukan bahwa ia benar-benar belum mengingat semuanya sepenuhnya.


"Tak perlu terlalu dipaksakan suamiku, asal kamu sudah sedikit mengakui diriku ini sebagai istri saja ... aku sudah begitu bahagia,"


"Bisa kembali ceritakan kenangan-kenangan kita? Aku ingin sekali mendengarnya," pinta Ramadhan sambil menyendok es krim ke dalam mulutnya.


"Sungguh ingin dengar aku bercerita?" pancaran binar kebahagiaan menyembul dari wajah ayu Khansa.


"Tentu ...."


"Baiklah, aku akan mulai bercerita ... tapi sayang janji jangan ngantuk ya?"


Mendengar sang istri menuturkan kata sayang, membuat Ramadhan menoleh ke wajah sang istri untuk beberapa saat. Namun setelah itu matanya fokus kembali kepada sang es krim.


"Aku tak ingat lagi, tepatnya saat itu aku berusia berapa tahun. Yang aku ingat, aku hanya sedang bermain di sini ...." Khansa menunjuk satu sisi taman sebagai posisi di dalam ceritanya. "Kak Ramadhan berlari menuju ke arahku dengan baju penuh darah. Aku sangat khawatir waktu itu, jiwa cita-citaku yang ingin menjadi dokter meronta-ronta dan hendak menolong kak Ramadhan. Namun apa daya, baru saja aku bertanya kepada kak Ramadhan bagian mana yang sakit ... aku justru mendapat luka tusuk dari seseorang yang tak ku kenal di perutku. Dan waktu itu Kak Ramadhan harus meninggalkanku begitu saja, karena nyawa kak Ramadhan juga dalam bahaya."


Semakin berpikir, kepala Ramadhan semakin pusing. Semakin berat, sesekali kilatan adegan yang Khansa ceritakan melintas di otaknya.


Khansa yang belum menyadari dengan keadaan Ramadhan yang menjadi pusing karena kisah kilas balik yang ia ceritakan, masih tetap melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


"Dan hal yang masih begitu aku ingat adalah ketika almarhum Abah dan Umi memberikan wasiat perjodohan kepada kita. Aku masih ingat ketika Aisyah menceritakan semuanya.


Aisyah bilang bahwa selama ini Aisyah sudah menaruh hati kepada laki-laki yang Insyaallah baik agamanya, dia juga hendak melamar Aisyah. Namun kedatangan Kak Ramadhan membuyarkan pikiran Aisyah. Aisyah tidak tega jika saat itu akan langsung menolak Kak Ramadhan yang sudah lebih dulu melamar Aisyah. Bahkan Aisyah juga menunjukan foto Reza kepada Abah, dan Abah merasa jika Reza hampir mirip dengan Kak Ramadhan.


Dalam hatiku sekarang mengerti, kenapa Reza begitu mirip dengan suamiku.


Abah juga berkata jika memang pria ini serius akan meminang putriku maka suruh ia datang besok sore di pondok pesantren, jika Abah cocok dengan pilihan Asiyah. Maka Kak Ramadhan akan Abah jodohkan dengan kakakmu Khansa.


Doa Abah yang tersirat saat itu mungkin Kak Ramadhan bisa merubah ku yang suka membantah dan tak tahu diri ini." Khansa mulai berurai air mata.


"Aku juga masih ingat, ketika Kak Ramadhan dengan menghembuskan napas berat, lalu dengan mata berbinar-binar memandang diriku yang jelek ini begitu lekat, tak terlewatkan sedikitpun dari ujung kaki hingga kepala. Walau sebenarnya aku risih ditatap seperti itu, lalu Kak Ramadhan juga segera menundukkan pandangan dan Reza segera berkata, "Aku setuju, karena bagaimanapun keadaanmu aku tetap akan menikah denganmu Aisyah." Reza berucap begitu mantap.


Walau Aisyah sempat bertanya karena kondisi fisiknya yang cacat karena kecelakaan itu Reza tetap dengan mantap meyakinkan pada jawaban yang sama.


"Tak peduli kamu cacat, aku mencintaimu sedari awal karena Allah. Maka aku juga akan menjagamu dan menerimamu karena Allah."


Ucapan Reza itu sangat membuat hati ku tenang kala itu, adikku tercinta benar-benar telah menemukan cinta sejatinya.


Di tengah pikiran dan kepala Ramadhan yang mulai pusing, terlintas kata-kata yang ia ucapkan di dalam hatinya kala itu.


Batin Ramadhan.


Sedikit demi sedikit kini Ramadhan mendapatkan kembali serpihan-serpihan ingatannya yang sempat hilang.


"Lalu mas Ramadhan bagaimana? Saat itu Aisyah bertanya demikian. Dan dengan mantapnya Kak Ramadhan mengatakan, "Ya- aku sangat setuju dengan wasiat terakhir Abah. Selagi beliau didunia kita bisa menuruti perintahnya, namun sekarang beliau sudah tiada. Kita hanya bisa menuruti wasiat terakhirnya, betulkan Khansa?" Ramadhan memancing respon Khansa.


Dahulu aku sempat protes dengan wasiat yang almarhum Abah berikan waktu itu. Aku sempat protes dalam sanubari ku


Abah, apa sosok pria ini yang akan menjadi pendamping hidupku?


Apa tidak ada sosok pria lain Abah?

__ADS_1


Jika Abah bahagia di alam sana melihatku dengan pria ini. Maka aku akan melakukannya.


Batin ku meronta-ronta merasa ini tak adil." Tak terasa banyak kata yang ia ungkapkan, es krim di tangannya kini sudah habis.


"Sayang ...." suara itu begitu mengejutkan Khansa.


Tubuh Khansa bergetar, mendengar sang suami kembali memanggilnya dengan sebutan sayang ....


Terima kasih ya Rob, Engkau telah menjawab do'a-do'a ku ....


Melihat sang istri berurai air mata, Ramadhan langsung memeluk istrinya dengan erat, dan mengusap punggungnya beberapa kali.


Janji Allah kepada hambanya yang sabar memang tak perlu di ragukan lagi.


ALLAH SWT memerintahkan kepada hambaNya untuk selalu bersabar atas segala ujian. Sang Pencipta sangat cinta kepada orang-orang yang sabar. Hikmah di balik kesabaran adalah kebahagiaan. Allah meninggikan derajat orang yang sabar. Karena kesabaran malah, maka ganjarannya adalah surga.


Kesabaran hanya dimiliki oleh segelintir orang, mereka yang hatinya senantiasa tenang dan meyakini benar bahwa Allah di atas segalanya. Orang-orang yang terlalu materialis susah untuk sabar dan sering putus asa saat ditimpa berbagai ujian.


Kenapa pentingnya sabar?


Inilah janji Allah dalam Alquran Surah An Nahl ayat 96;


مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ ۖ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ ۗ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ


“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Gusti Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An Nahl 96)


Sabar diartikan sebagai tahan menghadapi cobaan, tidak mudah marah, dan tidak lekas putus asa. Sabar juga berarti tenang dan dapat mengendalikan emosi dan diri saat diterpa banyak godaan dan ujian.


Keutamaan dan janji Allah untuk orang yang sabar banyak terdapat di dalam Alquran. Berikut keutamaan dan balasan bagi orang yang sabar.


"Memang sabar itu tidak mudah, tapi akan selalu ada jalan untuk kita mencoba lebih bersabar dalam segala ujian. Memang sabar itu sulit, tapi janji Allah tidak akan pernah ingkar sekalipun hambanya dalam keadaan sulit."

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa dukung author dengan selalu like, comment and gift di setiap episodenya yah😊


__ADS_2