
Happy reading❤️
Area taman kota yang luas, membuat mereka berjalan sedikit jauh dari arah tempat parkir.
Tanda tanya besar ada didalam benak Ramadhan dan Khansa. Siapa ayah dan ibu dari anak ini.
Gadis kecil itu berlari, menghampiri laki-laki tampan yang tentu saja. Khansa begitu mengenalnya.
"Papah, Naura sudah bertemu dengan mama Khansa. Kenapa papah tidak memeluk dan bergandengan dengan mama Khansa? Malah om ini yang bersama mama Khansa?"
"A-Azka?"
"Khansa? A-aku bisa jelaskan ini nanti Khansa.
Naura, papah sekarang ada pasien. Waktu kita tidak banyak, ayo kita pulang dulu. Lain kali kita akan bertemu dengan mama Khansa lagi.
Khansa, jangan lupa jadwal cek rutin kamu minggu ini."
Azka langsung menyambar tubuh gadis kecil itu kedalam pelukannya.
"Tapi Naura maunya sama mama Khansa,
Papa jahat huuuuhuuu." Naura menangis dan memukul kecil pundak pria yang ia panggil papah itu.
Tanpa berpamitan dengan Khansa dan Ramadhan, Azka langsung pergi meninggalkan sepasang suami istri yang masih butuh penjelasan banyak dari seorang Azka.
Wajah tampan Ramadhan terlihat memikirkan sesuatu.
"Bukankah dokter Azka itu temanmu sedari kecil Khansa? Bagaimana bisa dia sudah punya anak tapi kamu tidak mengetahuinya? Bahkan anaknya bisa begitu memastikan kamu adalah mamanya? Apa ada yang kamu sembunyikan dariku Khansa?"
"Demi Allah demi Rosul Allah sayang, aku benar-benar tidak tahu jika Azka sudah punya seorang putri. Dan aku juga tidak pernah tau jika dia sudah menikah, jika dia menikah pasti kita semua tahu sayang. Tapi Azka tidak pernah menikah."
Khansa mencoba menjelaskan kebenaran yang apa adanya. Tapi Khansa bisa merasakan jika suaminya belum bisa menerima penjelasannya.
"Apa sayang meragukan ku? Apa sayang tidak percaya padaku?" Tanya Khansa memastikan apa yang berkecamuk dalam pikiran suaminya itu.
"Aku tidak bisa menjawabnya Khansa, bahkan aku yang sebagai suamimu saja belum pernah menyentuhmu sama sekali." Timpal Ramadhan datar sambil berlalu berjalan meninggalkan Khansa.
Desiran air mata melewati batas kelopak netra Khansa. Benar dugaannya, suaminya meragukannya. Tapi apa yang dikatakan suaminya itu benar, sebulan lamanya mereka menikah. Belum pernah mereka melakukan hubungan layaknya suami dan istri sekalipun.
Aku tak bisa membiarkan kesalahpahaman ini berlarut-larut. Aku harus menemui Azka dan menanyakan kebenaran tentang anak itu. Bagaimana mungkin Azka punya anak, sedangkan Khansa saja tidak pernah melihat Azka dekat dengan wanita manapun.
Batin Khansa berkata demikian.
Khansa tak menghiraukan Ramadhan lagi kemana perginya, Khansa langsung tancap gas menuju rumah Azka yang tak jauh dari lokasi taman kota.
Baru saja Khansa memarkirkan mobilnya didepan gerbang rumah Azka, ia sudah disambut lebih dulu oleh satpam penjaga rumah Azka.
"Hai non Khansa, tumben kemari. Sudah lama banget kayanya non ga pernah kesini lagi."
"Assalamualaikum pak, Azka ada dirumah?" Tanya Khansa mencoba to the point.
"Wa'alaikumsalam non Khansa, tapi tuan Azka sedang tidak ada dirumah. Dari tadi pagi tuan belum pulang kerumah, didalam cuma ada para pembantu." Jelas pak Bambang.
"Pak Bambang ga bohong kan? Terus Naura dimana pak? Apa dia benar anaknya Azka?"
"Naura siapa ya mba? Wah kalau masalah itu non Khansa tanya langsung sama tuan Azka saja. Saya ga tau non, kalaupun saya tau juga pasti ga boleh kasih tau, hehehhee."
"Uh, ga majikan ga satpamnya sama aja. Rese semua sok misterius! nyebelin! Kalau begini terus aku yang sangat di rugikan!"
"Loh, kok non Khansa jadinya marah-marah begitu. Salah saya apa non?"
"Ga tau dah, aku pamit aja pak Bambang!
__ADS_1
Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumsalam, aduh non Khansa aneh deh."
Khansa kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat Azka praktek dan beberapa kali menelponnya. Namun hasilnya nihil semua.
Kemana Azka pergi? Kenapa dia seakan menghindari aku setelah kejadian ini?
*Sebenarnya siapa Naura?
Kenapa kamu tega menyembunyikan semua ini dariku Azka?
Bugh*!
Khansa memukul stir kemudi mobilnya karena kesal, hari ini yang ia cari hanya selalu mendapatkan jalan buntu saja.
Tak terasa waktu menunjukan pukul 18.35
Waktu Maghrib telah datang.
Khansa memutuskan untuk mengakhiri pencarian Azka hari ini, dan melaju pulang.
Ramadhan pasti sudah menunggunya dari tadi dirumah.
"Assalamualaikum," Seru Khansa saat baru saja membuka pintu utama rumah.
"Wa'alaikumsalam kak, perlu ku buatkan teh kak? Atau susu?"
"Tidak perlu Aisyah," Seutas senyum membalas pertanyaan Aisyah.
"Tidak perlu Aisyah, kakakmu itu akan segera belajar kursus memasak sendiri. Agar dia bisa segera membedakan antara gula dan garam." Kata-kata Ramadhan itu terdengar sangat dingin. Bahkan rasa dingin itu bisa Khansa rasakan hingga menusuk tulang.
"Betul kak?" Wajah Aisyah berseri melihat perubahan kakaknya yang benar-benar begitu drastis itu.
"I-iya dek," Khansa menjawab dengan begitu ragu.
"Ba-baik mas, kakak permisi dulu dek Aisyah."
Khansa langsung segera membersihkan tubuhnya, diguyur gemercik air dari shower diatas kepalanya membuat ubun-ubun yang tadinya mendidih menjadi sedikit lebih dingin.
Dalam sekejap Azka merusak sikap Ramadhan kepadanya, tidak ada kemesraan sama sekali yang terurai. Hanya kata-kata dingin yang begitu menusuk relung hatinya.
Tak berlama-lama karena waktu Maghrib sangat singkat, Khansa langsung berwudhu dan melaksanakan shalat Maghrib-nya seorang diri.
"Assalamualaikum warahmatullah,"
Khansa membaca ayat-ayat Alqur'an yang berada di pangkuannya itu.
Tak sempurna qiro'nya karena sudah lama sekali Khansa tidak belajar mengaji lagi.
Tak terasa waktu isya sudah tiba.
Khansa yang baru saja menyudahi mengajinya itu, terkejut dengan hadirnya Ramadhan didepannya.
Khansa paham, dan langsung menjadi makmum pada saat itu.
Mencium punggung tangan Ramadhan seolah menjadi canggung saat itu.
"Khansa-"
"Hm- ya," Khansa mencoba mengurangi rasa gugup dan takutnya itu.
"Aku ingin kita menyempurnakan agama sekaligus pernikahan kita malam ini, apa kamu tidak keberatan?"
__ADS_1
Sejujurnya aku juga butuh kepastian dengan hatiku ini Khansa, apa kamu pernah menjadi milik orang lain?
Jika aku menuntut kejujurannya, aku merasa malu. Aku tau diri pernah melakukan kesalahan dengan masalah kejujuran kepadamu Khansa.
"I-iya, kak. Khansa ke toilet dulu."
Jantungnya berdegup begitu kencang, Khansa mengobrak-abrik peralatan personal care miliknya di kamar mandi.
Sikat gigi lagi, tak cukup dengan itu Khansa berkumur dengan Listerine untuk memastikan mulut segar dan tidak bau saat berciuman dengan Ramadhan. Menggunakan body serum di sekujur tubuhnya agar merasa lebih fresh.
"Ku rasa ini semua sudah cukup, aku tidak akan malu berhadapan dengan suamiku."
Materi-materi saat ia duduk di bangku kuliah banyak yang menyinggung perihal hubungan intim awal mula pembuahan hingga terbentuknya janin, sehingga itu semua membuat Khansa sudah mempunyai pikiran yang berkelana kemana-mana dan sugesti dirinya, ia akan mempersiapkan dirinya saat melakukan hubungan intim dengan suaminya itu dengan baik.
Khansa tak ingin mengecewakan suaminya nanti.
"Apa yang kamu lakukan di kamar mandi Khansa? 30menit kamu berada disana."
"Hm- aku, aku- perutku mules kak Ramadhan. Maaf menunggu lama."
Senyum simpul hadir di bibir Ramadhan, ia tahu jika istrinya sibuk mempersiapkan dirinya untuk menghadapinya.
Dengan lembut Ramadhan melepas jilbab yang Khansa kenakan.
"Apa kamu gugup?" Ramadhan melihat tangan Khansa bergetar saat ia melepas jilbab Khansa.
"Ti-tidak, aku tidak gugup." Pandangan Khansa ia lempar ke sembarang arah.
Wangi khas shampo yang Khansa kenakan menyeruak, ketika jilbabnya berhasil tanggal ditangan Ramadhan.
Ramadhan menarik tengkuk Khansa agar mendekat dengannya, nafas yang memburu bisa Khansa rasakan saat itu juga.
Perlahan namun pasti Ramadhan mencium bibir istrinya yang berwarna merah muda itu.
Dan Khansa langsung memejamkan matanya.
"Jangan merem dong Khansa, nanti kalau ternyata yang cium bukan aku gimana?"
Ledek Ramadhan yang hatinya terasa mulai mencair karena mencium Khansa.
"Kak Ramadhan jahat," Khansa memukul lembut dada bidang Ramadhan, namun saat itu juga Khansa langsung mengalungkan tangannya ke leher Ramadhan.
Khansa seolah memimpin permainan kala itu, akibat ejekan Ramadhan seolah menantang dirinya untuk memimpin sementara jalannya pemanasan kali ini.
Saat Khansa sibuk ******* bibir Ramadhan, Ramadhan menggunakan kesempatan ini untuk menanggalkan baju yang menempel pada Khansa dan dirinya.
Dan adegan olahraga yang tak mungkin dilakukan oleh para jomblo itupun terjadi saat itu juga.
Ea- ea- para jomblo dan yang belum menikah jangan berhalusinasi lalu praktek ya. Belum boleh, nanti ujian prakteknya saat sudah lulus ikrar pernikahan saja. Jadi ditahan dulu, bagi yang sudah menikah, monggo langsung bisa eksekusi sekarang. Lebih cepat lebih baik😂😁
...Cerbung...
...Hai semuanya!...
...Salam hangat dari penulis recehan, alias remahan rengginang yang masih gurih untuk jadi cemilan....
...Tolong tinggalkan jejak kalian disini ya, klik Like, comment dan Votenya. Mmm- Hadiahnya juga boleh kali ya....
...Jika berkenan jangan lupa untuk mampir juga di karyaku yang lainnya yang tak kalah serunya ya....
↘️↘️↘️↘️↘️↘️↘️
...~Terjebak Pernikahan Mr Bule Di Bali...
__ADS_1
...~Siapakah Jodohku?...
...~Obsesi Tingkat Tinggi...