Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)

Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)
Trik Cantik Untuk Sebuah Pengakuan


__ADS_3

Happy reading❤️


"Apa kamu sungguh benar-benar tidak mencuri! Aku beri kesempatan untuk mengaku, maka akan ku lepaskan. Tapi jika tidak, maka aku akan memutar cctv dan melaporkanmu ke polisi, tak peduli walau kalian masih berstatus pelajar! Mencuri itu perbuatan yang tidak baik! Saya sudah lapor atasan saya lo, apa kalian masih ga mau ngaku?"


Teriakan petugas sales kosmetik itu meraih perhatian Khansa.


Sebelumnya perhatian Khansa tertarik lebih dulu kepada dua gadis yang menjadi ikon teriakan disana, saat ia jenuh menunggu Hafiz mengantar Fitria ke toilet. Pandangan Khansa sudah tertuju pada dua gadis muda berpakaian seragam SMA mengantongi satu buah lipstik di saku rok seragamnya. Perlahan Khansa mendekati sumber masalah ditempat itu.


Hafiz dan Fitria yang sudah selesai, hendak berteriak memanggil sebelum menghampiri Khansa urung. Mereka berdua perlahan juga mengikuti kemana arah Khansa berjalan.


"Sudah berapa kali ku katakan! Jika aku tidak mencuri!" Teriak salah satu gadis itu kepada petugas sales.


"Maaf permisi, karena mendengar perdebatan kalian. Saya menjadi tergelitik untuk kemari." Khansa mencoba menjadi penengah dari ketegangan kedua belah pihak ini.


"Mba siapa lagi nih, ga usah sok jadi jagoan terus ikut campur masalah kita!"


Ouh! Ini bocah piyik sudah mencuri, tak punya sopan santun pula. Ucapan yang keluar dari mulutnya melebihi pedasnya bon cabe level 25!


Sabar Khansa, sabar, Khansa yang cantik tidak boleh mudah terpancing.


Batin Khansa mencoba menasehati dirinya sendiri.


"Sekali saya katakan! saya tidak mencuri!" Ucap gadis itu dengan penuh penekanan.


"Oh- begitu, tapi benarkah? Perkenalkan sebelumnya, karena kita belum kenal. Nama saya Khansa," Sikap santuy Khansa membuat Hafiz dan Fitria sekaligus petugas sales itu bingung, apa yang sedang direncanakan oleh Khansa.


Dua gadis SMA itu hanya saling tatap lalu kembali menatap Khansa yang berada didepan mereka.


"Aku tahu, kalian berdua masih sangat remaja. Ingin tampil cantik untuk bisa digemari dan dikagumi teman kalian lainnya, terutama lawan jenis. I know that and I've had that time," Senyum satu sentimeter menyeruak kepermukaan bibir Khansa.


"Mba Sales yang bekerja disini bukan?"


"Benar mba, nama saya Vina."


"Sebenarnya saya ga tanya nama, tapi okelah mba Vina. Boleh saya minta tolong, ambilkan saya satu paket make up terbaik yang mba punya disini? Beri saya 2 paket." Petugas sales itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, memang benar jika Khansa tak menanyakan namanya. Tapi naluri untuk menyebutkan namanya begitu menarik, mengingat wanita anggun yang berasa didepannya ini adalah malaikat mendadak yang menolong ya saat ini.


Vina tak bisa membayangkan jika ia menghadapi seorang diri dua pelajar keras kepala ini.


"Ini 2 paket kosmetik yang mba Khansa minta," Vina menyodorkan 2 paket itu kepada Khansa.


"Okey girls, sekarang saya akan melakukan sistem barter kepada kalian berdua. Nama kalian siapa?"


"Widi!"


"Sela,"


"Ok good, sekolah dimana?"


"SMA Putra Putri Udayana,"


"Thats good itu sekolah saya juga dulu bersama sahabat saya, ini orangnya." Khansa menunjuk Fitria yang berdiri dibelakangnya.


"Well, di tanganku sekarang sudah ada dua paket kosmetik lengkap yang terbaik loh. Jika kalian mau berkata yang sebenarnya, aku akan kasih kalian free! No bayar-bayar, langsung angkut dibawa pulang, tanpa biaya admin lagi."

__ADS_1


Hafiz dan Fitria terkekeh, ingin tertawa, tapi mereka tahan sekuat tenaga. Ini pembicaraan serius, malah jadi pengen ngakak. Batin Hafiz mengumpat.


Dua gadis itu, saling tatap. Dan akhirnya Sela angkat bicara.


"Sungguh? Semua itu free?" Tanya Sela seolah ingin memastikan.


"Of course, saya tidak pernah berbohong dengan diskusi saya. Atau kurang? Tambah lagi mba Vina, parfum mungkin biar makin menggiurkan." Tanpa Khansa sadar tatapan penuh cinta dan kekaguman yang hakiki tengah memandangnya dengan penuh ketenangan.


Setelah drama saling pandang dan peperangan batin antara mereka berdua, Sela akhirnya bersuara.


"Itu, sebenarnya-"


"Ah- sungguh menyebalkan!" Prak! Widi meletakan sebuah lipstik dengan begitu kencang di meja etalase berbahan kaca itu lalu berjalan meninggalkan mereka semua begitu saja. Namun hal itu dihalangi oleh Vina.


"Biarkan saja dia pergi mba Vina," Ucap Khansa tetap dengan senyum manis khas dirinya.


Kini hanya tersisa Sela yang berdiri didepan Khansa, "Sekarang, berarti semu itu jadi milikku kan?" Wajahnya mendongak mengarah paket kosmetik yang Khansa pegang. "Mba bilang tadi kalau berkata jujur mengaku, maka itu semua akan jadi milikku? Benar begitu bukan?"


"Memang apa yang sudah kamu katakan?"


Tanya Khansa balik kepada Sela.


"Widi tadi mau mengeluarkan benda yang dicurinya, itu semua karena aku." Sanggah Sela.


"Apa kata Widi yang telah mencuri, itu keluar dari mulutmu tadi Sela? Tidak bukan? Kamu begitu lemah pada alur persahabatan yang salah. Dan kamu terlalu jadi pengecut untuk memperingatkan kepada sahabatmu sendiri bahwa mencuri itu dosa." Khansa juga tidak mau kalah.


"Ah- sungguh sial!" Gadis itu mengumpat lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan wajah kesal.


Damn...sejak kapan Hilal berada disana.


Fitria berhambur memeluk Khansa, "Keren banget kamu beb, cara kamu itu lo. Very smooth but dor! dor! Fyuuh! skak mat."


"Begitulah kenyataan kehidupan beb Fitri, baik masih kecil atau sudah dewasa akan sama. Mereka mengaku teman di mulutnya, mengaku akan saling menjaga satu sama lain, namun ketika melihat keuntungan besar dihadapannya, maka otomatis akan berkhianat." Khansa melakukan penekanan pada kata khianat dengan sekuat tenaga Khansa menutupi kesedihan di matanya. Bukan sedih karena pernah ditinggal Hilal dulu yang pergi bersama Yuta. Tapi lebih hanya kepada rasa sakit dibohongi yang sulit dilupakan 100% begitu saja.


Saya yakin para readers pasti pernah merasakan perasaan yang dirasakan Khansa ini. Tak cinta, tapi tetap masih ada rasa sakit jika mengingat kebohongannya.


"Dengarkan aku beb Khansa, aku tidak akan pernah melakukan hal itu kepadamu. Never- ever-, we will always be together forever." Fitria kembali memeluk Khansa dengan erat, Khansa menundukkan wajahnya. Ia tak ingin memandang terlalu lama laki-laki yang haram untuknya.


Hilal mendekat ke arah Khansa dan Fitria berdiri.


"Khansa- saya selaku pemilik Mall ini, sangat berterima kasih kepadamu. Kamu menyelesaikan masalah ini tanpa menimbulkan keributan sedikitpun, sehingga kenyamanan para pelanggan yang sedang berbelanja disini tak terusik barang sedikitpun. Mohon terima bingkisan ini, besok kita akan bersama menemui kedua pelajar itu disekolah nya. Sekolah kita dulu." Ucap Hilal sambil mengulum senyum dibibir sexynya.


"Saya akan kesana sendiri, karena memang ada penyuluhan juga kesana. Tak perlu bersamamu, terima kasih sebelumnya."


"Tapi-," Drrrt! Drrt! Ponsel Khansa berdering, sehingga Hilal tak bisa melanjutkan kata-katanya.


📞"Assalamualaikum,"


📞"Wa'alaikumsalam Khansa, kamu dimana? Ingat! Hari ini jadwal kontrol, jangan melewatkannya lagi. Aku tunggu kamu di ruang praktekku segera.


📞 Baik dokter Azka yang bawel, aku segera kesana. Assalamualaikum,"


📞 "Wa'alaikumsalam, hati-hati dijalan."

__ADS_1


Khansa langsung melangkahkan kakinya, melewati Hilal dan barisan para asistennya. Fitria dan Hafiz juga mengekor dibelakangnya.


"Sorry ya Lal, kali ini gue ga bisa berbuat banyak. Semoga persahabatan kita semua bisa kembali lagi seperti dulu." Ucap Fitria kepada Hilal sebelum pergi mengekor langkah Khansa.


**


Setelah memeriksa Khansa, kita harus bertemu, Hilal.


Answer


Okey, udah tau kalau lu Hilal. Kalau lu berubah jadi iron man baru kenalan lagi ma gue.


Jawab Azka asal.


***


Pencurian dilarang dalam ajaran islam. Hukum untuk mencuri adalah haram.


Syariat islam bertujuan memberikan kemaslahatan dan ketertiban manusia dalam menjalani peran kehidupannya.


Hukum islam adalah hukum yang sempurna. Meliputi segala aspek. Menyangkut hubungan dengan manusia dan hubungan dengan Allah ta’ala.


Hukum islam memberikan perlindungan kepada manusia. Adanya perintah dan larangan menegaskan aturan.  Hal ini sejalan dengan maksud-maksud hukum (al-makasid syariah) yang mengandung 5 (lima) tujuan syariat ; memelihara nyawa, memelihara akal, memelihara keturunan, memelihara kehormatan, memelihara harta benda.


Hukum islam berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Nilai-nilai hukum islam menjadi rujukan sebagai hukum asal. Berlaku umum dan diterima masyarakat.


Namun telah terjadi case khusus pada saat kepemimpinan Umar bin Khatab.


Boleh cerita sedikit ya?


😁


*Suatu ketika orang-orang membawa seorang wanita yang diduga telah melakukan zina kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Setelah berada di hadapan Sang Khalifah, wanita tersebut mengakui bahwa dirinya telah berzina dengan seorang temannya.


Seketika itu, Khalifah Umar bin Khattab langsung memerintahkan agar wanita tersebut dihukum rajam (hukuman mati dengan dilempari batu). Namun Sayyidina Ali bin Abi Thalib meminta Khalifah Umar memberikan kesempatan kepada wanita tersebut agar menyampaikan penjelasannya.


Perihal apa alasan yang membuatnya melakukan perbuatan zina. Khalifah Umar menyetujui usulan tersebut dan wanita itu mulai menjelaskan kronologinya.


Wanita itu berkata jika, dia kehausan dalam sebuah perjalanan. Tidak air minum padanya dan tidak ada air susu pada untanya. Ketika itu, ia kemudian meminta minum pada seorang temannya, yang untanya masih ada air susunya. Temannya itu bersedia memberikannya minum asal dia ‘menyerahkan diri (diperkosa).’  Mendengar jawaban seperti itu, wanita tersebut langsung menolaknya.


Bagaimana mungkin dia harus menyerahkan diri untuk mendapatkan seteguk air minum. Ia meminta minum sebanyak tiga kali, namun jawaban temannya tetap sama; ia akan memberi air susu unta jika mau menyerahkan diri. Hingga akhirnya wanita tersebut merasa tak berdaya lagi. Merasa begitu payah dan sudah akan mati kalau tidak segera meneguk air susu tersebut. Lalu kemudian dia menuruti permintaan temannya itu dan akhirnya mendapatkan air minum.


Riwayat lain menyebutkan kalau wanita tersebut meminta minum kepada seorang gembala. 


Khalifah Umar menggelar musyawarah usai mendengarkan penjelasan dari wanita tersebut. Apakah tetap menjatuhinya hukuman rajam atau melepaskannya atau bagaimana. Ali bin Abi Thalib yang ikut dalam musyawarah menyakinkan sang khalifah bahwa wanita tersebut tidak lah berdosa karena dia melakukan itu karena terpaksa dan tidak sengaja hendak melanggar atau melampaui batas. Khalifah Umar akhirnya membebaskan wanita tersebut. Demikian diceritakan dalam Umar bin Khattab (Muhammad Husain Haekal, 2015*).


Semoga kita semua, para hamba Allah yang hidup di akhir zaman ini. Bisa mengambil hikmah dari setiap penggalan kisah dari Baginda nabi dan para sahabat-sahabatnya.


Nilai ibadah kita yang hidup diakhir zaman justru akan lebih dalam, karena kita hidup di zaman yang rentannya sangat-sangat jauh dari zaman para nabi Allah.


Apa kita masih bisa dimasukan sebagai umatnya? Apakah kita masih bisa mendapatkan syafaatnya. Ya Allah ya Karim, dengarkan doa kami. Hamba mu yang sangat kecil tak berdaya. Amiin.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2