
Happy reading❤️
"Mau aku antar kemana?" Tanya Hafiz begitu dingin dan tetap menatap lurus ke depan di balik kemudinya.
Fitria masih tetap terdiam, ia terlihat masih shock mengalami hal ini. Niat membela seseorang, namun ia justru malah jatuh dan tertimpa tangga. Di tancapkan duri tajam, mungkin itu kata kiasan yang cukup untuk menggambarkan keadaan hatinya.
Melihat Fitria melamun dan terus terdiam, Yuta mengambil keputusan, "Mampir ke rumah aku dulu kali ya Hafiz, biar Fitri ganti baju dulu pake baju aku. Ga enak dilihat tante Sera, nanti pasti muncul pertanyaan yang aneh-aneh dari beliau."
Hafiz mengangguk dan melajukan mobil Fitria dengan kecepatan sedang.
"Setelah 100 meter, belok kanan untuk menuju rumah Yuta karena kalau belok kiri menuju rumah mantan, hahahahaha." Yuta memberi informasi arah jalan kepada Hafiz dengan candaan namun berujung pada semprotan.
"Ga lucu!" Timpal Fitria singkat.
"Aku kan lagi ngomong ke Hafiz, lu pura-pura ga denger aja bisa ga si. Nah tu Fiz yang pagar coklat gede tu rumahnya Boby xixixixi."
Sekilas Hafiz meliriknya, namun tatapannya kembali fokus pada jalan didepannya.
Finally, mereka tiba dirumah Azka. Disambut baik oleh satpam yang selalu setia menjaga.
"Assalamualaikum, Wa'alaikumsalam. Lucu ya beb, kalau rumah kosong begini, salam sendiri di jawab sendiri." Yuta tak hentinya berceloteh, namun Fitria tetap tak bergeming.
"Ini beb, aku yakin baju ku muat di kamu, body kita ga jauh berbeda kan?"
Fitria masih tetap diam, hanya menyambar setelan dress berwarna peach lengan 3/4 yang di berikan Yuta, terlihat cocok dengan warna kulitnya yang kuning Langsat condong putih.
"Hafiz,"
"Ya Yuta,"
"Kayanya Fitria galon banget deh, seumur-umur nih. Aku baru liat dia diem begitu, kamu tahu sendiri kan kalau dia tu orangnya paling rame?"
Drrrt, drrtt! Ponsel Yuta bernyanyi tanda telepon masuk.
📞 Assalamualaikum kak Azka,
📞Wa'alaikumsalam, kamu dimana?
📞Di rumah kak, sama Fitria dan Hafiz, baru aja nyampe.
📞 Ramadhan mau ke Jakarta sama adiknya nanti malam, kamu bisa jaga Khansa dulu sampai besok pagi? Kalau kakak yang jaga takut ada fitnah, sedangkan Aisyah harus jaga pondok dan rumah juga, gada orang disana.
📞Tentu bisa dong, terus Naura gimana? Ga baik juga nginep di rumah sakit untuk seumuran Naura.
📞Naura sama aku dirumah, kamu kesini dulu tapi.
📞Oki doki deh, aku mandi dulu kak. Baru cus kesana, sama ambil mobil Hilal yang aku tinggal di minimarket udah ada setengah bulan lebih satu hari hehehehe.
📞Gila lo Yut, kalau tu mobil hilang gimana?
📞Ya tinggal cek Cctv sama lapor polisi lah, ribet amat.
📞Haduuuh, iya dah terserah, cepet ya. Jangan lama-lama, ni Naura udah ngantuk, nemplok terus sama Khansa udah kaya amplop sama perangko. Kasian Khansa ga bisa istirahat. Assalamualaikum
📞Wa'alaikumsalam abang ku yang ganteng tapi ga laku-laku, hehehehe. Tut...tut..tut..
"Ada apa Yuta? Khansa baik-baik saja kan?"
Tanya Hafiz penasaran, karena tak mendengar sepenuhnya yang dikatakan oleh Azka.
"Baik, kok- kak Ramadhan katanya mau ke Jakarta, jadi malam ini aku temenin Khansa di rumah sakit." Jelas Yuta.
"Yuta,"
"Hm- buju buneng cantik banget, sohib gue pakai dress gue. Dress mahal tu, ketolong lu sama baju gue, hehehehe."
"Gue pengen makan kolak." Ucapan yang tak pernah terpikirkan oleh Yuta terucap begitu saja dari Fitria.
"Woi maemunah, Lu ngidam apa gimana sih? Ya kali sekarang belum puasa, pasti belum ada yang jualan kolak. Kecuali lu bikin sendiri.
Kolak sandal nih mau? Hehehehe ada-ada aja kamu Fit, aku mau mandi, mau ke rumah sakit nemenin Khansa. Kak Ramadhan mau ke Jakarta nanti malam. Jadi kalau mau makan kolak, ya mohon maaf ya Hafiz tolongin ibu hamil satu ini cari kolak. Dah ni no debat, gue mau mandi, sana kalian pergi- serius gue ngusir ini."
Fitria menatap Hafiz sedetik, lalu ia menunduk kembali. Fitria tahu, ia sedang di posisi yang tak bisa memaksa seseorang.
"Ayo kita cari, nanti kalau memang ga nemu ya kita buat sendiri saja." Ucap Hafiz sambil berlalu menuju teras, dan masuk mobil milik Fitria. Bak seekor kucing, Fitria mengekor di belakang Hafiz.
"Ini ada si resto yang punya menu Kolak, tapi lumayan jauh dari sini. Apa benar-benar pengen kolak?" Tanya Hafiz berusaha memastikan lagi.
__ADS_1
Fitria hanya mengangguk dan tak bersuara.
Sore hari ini, cuaca begitu cerah. Bahkan langit terlihat begitu bersih, tak terlihat adanya awan satupun yang menutupi langit.
Hafiz melajukan mobil melewati taman kota, merasa Dejavu dengan Khansa dulu. Karena jalan di taman kota satu arah. Terpaksa Hafiz mengikuti arus untuk memutar balik.
"Stop! Turun disini saja , aku pengen es krim." Potong Fitria sedikit membuat Hafiz terkejut dan segera menepikan mobil.
"Kolak nya, ga jadi? Udah berubah lagi pengennya?" Stok sabar Hafiz sedang diuji rupanya.
"Ia, udah ga pengen kolak. Aku mau es krim tung-tung itu, pake roti." Pinta Fitria masih dengan wajah juteknya.
"Baiklah tuan putri, tapi duduk di taman makannya ya, kasian mobil kamu kotor nanti kalau kita makan disini."
"Ya," Jawaban yang begitu singkat. Sesuai banget pasal 1 perempuan jika sedang badmood.
Pasal 1 perempuan selalu benar, pasal 2 jika jika perempuan salah maka kembali pada pasal 1 ☺️
"Bang, tolong es krim tung-tung dua ya, pake rasa bahagia ya bang. Biar yang makan nanti ikut happy." Pesanan Hafiz utarakan dengan komplit, sementara bibir Fitria mencebik masam. Merasa jika dirinya jadi sindiran dalam topik pembicaraan.
"Monggo tuan puteri es tung-tung dengan segenap rasa kebahagiaan telah siap untuk tuan puteri."
"Terima kasih,"
"Menurut riset es krim dapat berperan sebagai mood booster karena mengandung Thrombonin. Kandungan thrombonin merupakan hormon kebahagiaan dan membantu dalam mengurangi tingkat stres dalam tubuh. Semoga setelah ini kamu merasa lebih baik."
Tak butuh waktu lama rupanya, es krim tung-tung berlapis roti itu kini telah tandas.
"Mau nambah lagi gak?" Dengan sabar Hafiz mengikuti permainan yang diinginkan Fitria.
"Maaf," Saat kata itu terucap dari bibir Fitria, seketika Hafiz menoleh ke arahnya.
"Maaf untuk apa, kamu tidak melakukan kesalahan apapun. "Cintailah orang yang kamu cintai sekadarnya. Bisa jadi orang yang sekarang kamu cintai suatu hari nanti harus kamu benci. Dan bencilah orang yang kamu benci sekadarnya, bisa jadi di satu hari nanti dia menjadi orang yang harus kamu cintai.” [HR. At-Tirmidzi no.1997 dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 178]
Jadi aku bisa paham apa yang kamu rasakan sekarang, tapi aku harap jangan berlebihan."
"Terima kasih untuk semua nasihat kamu, dan maaf karena aku selalu merepotkan kamu. Beruntung bisa mengenal kamu. Jika tidak mungkin sekarang aku sudah sendirian kesepian dan mencoba bunuh diri lagi untuk kesekian kalinya."
"Aku harap itu tak akan pernah terjadi lagi."
"Amiin," Seulas senyuman sudah mulai muncul dari bibir Fitria.
...****************...
Nyanyikan kerasa ngetel yeh peningalan
Beli nyingakin adi, ring sirep pesarean
Mesaput putih kuning ragan adi ne sirep
Nyanyikan medaye amone tuwuh adi
Tau ke beli ngeling, tau ke beli sakit
Dini dipabahan adi ragan beli sigsigan
Yen dadi jani beli nyilurang
Depang suba ragan beli ne mati
Ketimbang beli hidup pedidi
Kerasa tanpa adi patuh tekening mati
Mejalan je mejalan melahang je melahang
Kalian suba beli hidup digumine
Cingakin je cingakin bintang sampun nyarengin
Becikang pemargin dan ngalahin gumi
Kerasa suung sepi jani hidup beli ne
Nadak sare langit peteng keampehang gulem mesawang selem
Beli sing ngidang, beli sing sanggup
__ADS_1
Beli sing ngidang hidup tanpa adi
Beli sing nawang, beli sing uning
Beli sing nawang amone tuwuh adi
Tak kusadari menetes air mata ini
Melihat kau terpejam dalam pembaringan
Ragamu tertidur diselimuti kain putih kuning
Ku tak kuasa, sebegitu singkatkah usiamu
Tangis hatiku yang pilu
Dalam pembaringan terakhirmu
Andai bisa kusilurkan nyawa ku ini
Biarkan aku saja yang mati
Ketimbang diriku hidup sendiri
Tanpamu kurasa sama seperti mati
Pergilah dan tenanglah dalam damaimu
Tinggalkanlah diriku yang hidup tanpamu
Lihat dan rasakan bintang tlah menantimu
Temukanlah tempat terbaikmu setelah tinggalkan dunia
Terasa sunyi sepi hidupku ini
Langitpun seketika terasa gelap diiringi awan hitam
Aku tak bisa, aku tak sanggup hidup tanpamu
Ku tak tahu harus bagaimana
Ku masih tak mengerti
Sebegitu singkatkah usiamu
Sayup-sayup lagu itu terdengar dari acara grand festival kota atau bisa disebut dengan pasar malam dalam skala besar.
Segala bentuk kesenian Bali di mulai dari lukisan, patung dan baju bercampur jadi satu lengkap dengan area food court yang luas dan arena bermain untuk segala usia tentunya.
Hiruk pikuk pengunjung bisa terlihat dari atas sini.
Hilal memilih duduk di atas tembok yang menjulang tinggi, sebagai pembatas antara event itu dengan jembatan besar yang terlihat indah kelap kelip lampu di malam hari.
"Woi bayar utang lo sekarang! Mau gua habisin disini lo hah?!" Ucap pria paruh baya berbadan cungkring kepada seorang gadis yang lebih terlihat penampilannya sebagai laki-laki.
Hilal mendengar keributan itu, namun ia tetap cuek dan memilih menenggak sisa minuman Soju yang ia bawa.
"Lo liat cowok yang duduk disana! Itu gebetan baru gue! Jangan buat keributan sekarang, nanti dia tau dan bakal ga ngasih gue duit. Please lepasin gue malam ini. Gue janji bakal bayar utang gue besok. Janji!" Ucap gadis belia yang cantik namun tomboy itu.
"Oke! Gue lepas lo hari ini. Tapi kalau besok lo kabur lagi plus ga bisa bayar utang lo, gue ga segan buat bunuh lo! Paham?!"
"Iya bang, janji gue pasti bayar." Srek! Genggaman kaos yang sedari tadi ditarik kencang oleh pria cungkring itu dan mereka semua berlalu pergi.
"Woi cowok ganteng! Tega banget lo, ada cewek di keroyok lo diam aja. Bantuin kek, kejam banget. Ga berperi keperempuanan."
Hilal menoleh, "Lo ngomong sama gue?"
"Siapa lagi cowok tampan disini, yang sendirian meratapi nasib atau kegalauannya? Perlu ditemenin?"
"Ck! Ga perlu!" Perkataan tak sesuai dengan keadaan, Hilal yang akan beranjak dari duduknya mulai limbung, tak bisa menyeimbangkan tubuhnya untuk berdiri dan brugh!
Hilal jatuh terkulai lemah dan tertidur di aspal.
"Woi ga lucu, gue pergi nih."
Ancam gadis tomboy itu. Ia terus melangkah, tapi sesekali menoleh, pria tampan itu tetap terdiam tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Ck! kok malah jadi gue yang dikerjain sih! Arrghh!"
Bersambung...