Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)

Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)
Cara Cepat Untuk Move On


__ADS_3

Irama jantung Azka berdegup begitu cepat, keringat dingin seketika mengucur deras. Hati Azka gelisah, apa Khansa akan marah besar kepadanya? Terlebih ia mendengarkan setiap ucapan perkataannya kepada Fitria mengenai dirinya.


“Azka, kita ga perlu ke rumah sakit. Tadi Mama Fatima telepon, Kak Ramadhan sedang dalam proses administrasi buat pulang. Jadi aku mau beres-beres kamar sama ruang tamu dulu,”


Azka bisa sedikit bernapas lega, ia akan mengira jika Khansa akan marah-marah atau akan banyak menceramahi pemikirannya yang masih mencintai Khansa walau sudah mempunyai pasangan masing-masing.


“Gue bantuin ya Sa?” Fitria berdiri beranjak dari tempat duduknya.


“Ga perlu Fit, justru kalau dibantuin aku malah lama. Kalian berdua tunggu di sini aja ya.”


“Kalau gitu aku siapin makanan-makanan aja di meja makan ini yah Sa? Jadi kalau Kak Ramadhan sama Mamanya dateng bisa tinggal makan Opor Ayam buatan kamu.”


“Aku ga maksa ya beb, tapi kalau kamu mau melakukan itu. Aku sangat berterima kasih, aku tinggal ya."


"Oke Sa,"


Azka dan Fitria kini saling pandang, Azka mendongakkan kepalanya. Selaras Fitria juga mengangkat kedua bahunya.


"Kok Khansa ga marah sama gue Fit? Apa iya, dia ga denger pembicaraan kita dari tadi? Biasanya dia bakal marahin gue Fit." Azka kini mendekatkan lokasi duduknya dengan Fitria.


"Ih- gue juga heran nih, kalau mau bilang Khansa ga denger kayanya ga mungkin deh. Apa dia memang sengaja ga mau memperkeruh suasana aja ya, karena Kak Ramadhan mau pulang."


"Aku juga sepemikiran gitu, jujur Fit. Kalau mau bahas tentang Khansa, dia ga akan pernah hilang dari ingatanku. Sampai kapanpun, apa kamu ke boby kaya gitu juga?" Kali ini lirikan mata penuh menatap Fitria. Dalam sekejap Fitria kembali mengingat Boby.


"Aku akan mengingatnya sampai aku bosan, mungkin itu cara yang paling baik untuk aku melupakan. Tapi andai aku juga bisa lupa ingatan, mungkin sekarang aku tidak akan merasakan beban, begitu sulitnya melupakan mantan."


"Kan ... kan ...."

__ADS_1


Senyum tipis kini menghias di pipi Azka, ia bermonolog dalam hatinya. Ternyata dia tidak sendirian tentang selalu mengingat seseorang.


"Walau dia benar-benar membuat aku pernah kecewa, membuat aku sangat marah. Dan membuat aku menderita. Tapi mau bagaimanapun, dia tetap pernah membuat aku tersenyum bukan?


Aku memang masih menyimpan fotonya, tapi bukan berarti dia masih aku simpan di hatiku.


Jika waktu bisa diputar, pasti aku ingin dia tak hadir di dalam hidupku. Itu bisa merefisi dan menghemat waktu aku untuk tidak menjaga jodoh orang bukan?"


Azka mendehem beberapa kali, untuk mengembalikan fokus Fitria kembali padanya. Bukan pada lamunan mengingat Boby lagi.


“Aku tahu cara menghapus kenangan mantan dengan instan Fit,” ucap Azka dengan mimik wajah serius.


Fitria memicingkan matanya kea rah Azka, mencoba mencari keseriusan di wajah laki-laki tampan itu … karena keraguan begitu membuncah di pikirannya.


“Lo gaya-gayaan kasih gue saran, lo sendiri aja ga bisa lupain Khansa dari pikiran dan hati lo. Bijimana bisa lo beneran kasih saran mujarab ke gue?” ucap Fitria tegas dengan nada naik satu oktaf.


"Terus? Mau ga terima gitu? Suka-suka gue lah, mulut-mulut gue." Bantah Fitria.


"Iya juga sih, terus jadi mau tau ga saran dari gue?"


"Ya boleh lah, not bad juga kan pengen tau caranya bagaimana."


"Kita semua kapan-kapan ke pantai."


"Terus?"


"Lo langsung tulis tuh namanya si Boby yang gede pake batang kayu di pasir bibir pantai,"

__ADS_1


"Terus?"


"Terus, terus, udah bakat aja jadi tukang parkir lo Fit. Hahahaha,"


Bibir Fitria langsung monyong lima sentimeter, "Ga lucu lo, gue serius ni Azka."


"Iya gue juga serius, lo tinggal tulis tu namanya si Boby gede-gede di bibir pantai. Abis tu biarin air pantai yang akan menghapus namanya dari ukiran di pasir pantai itu. Selaras dengan itu, perlahan kenangan kamu dengan dia juga akan ikut terhapus."


"Emang bisa gitu?"


"Iya,"


"Lo udah coba memangnya?"


"Belum,"


Cubitan kecil segera mendarat di tubuh Azka,


"Auh, sakit Fit ... ampun,"


"Kapok ga, ngerjain orang aja bisanya ...."


"Iya, iya ampun."


"Kalian berdua sedang apa di sini?"


Azka dan Fitria seketika menoleh bersama ke arah sumber suara. Betapa terkejutnya mereka berdua, melihat Ramadhan dan Kinara bergandengan tangan.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2