Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)

Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)
Kebahagiaan sekaligus kesedihan


__ADS_3

Happy reading❤️


Dunia hari ini berlalu sarat arti


Berjalan cepat seolah tak peduli akan rasa


Lambat laun ku bertahan dengan keteguhan hati


Hari yang takkan pernah berakhir


Semua telah berubah sejalan dengan waktu


Setiap detik sangat berharga bagiku


Waktu pun ingin ku ubah, kembali tersenyum


Aku hanya bisa menangis, betapa bodohnya aku yang butuh waktu hanya untuk memilihmu atau mengambil langkah poligami


Maafkanlah diriku atas semua kesalahan


Yang kuperbuat selama ini kepada dirimu


Aku berjanji tak akan melepasmu walaupun itu hanya sebuah senyuman


Yang akan kau ingat dan kau kenang sampai mati


Selamanya...


Dug! Auu! Fitria mengusap keningnya yang merasakan sakit menabrak pintu kaca Bramedia.


"Seharusnya yang bilang Auu itu aku," Telapak tangan Hafiz terlihat memerah, menahan kening Fitria yang hendak menabrak pintu kaca Bramedia.


Fitria langsung memegang tangan Hafiz yang memerah karena ulahnya itu. Mengusapnya dengan lembut, "Maafin aku, sakit ya?"


Beberapa detik tatapan mereka bertemu, namun sesaat kemudian Hafiz tersadar dari bius tatapan Fitria, Hafiz menarik tangannya dari genggaman Fitria.


"Aish permisi dong, agak nanti kenapa adegan bucin-nya. Udah tau lagi puasa juga."


Komplain pengunjung yang menangkap basah mereka berdua.


"Ma- maaf." Ucap Fitria lirih.


"A-aku gapapa, makanya kalau jalan tu lihat-lihat. Gimana sih." Tiba-tiba Hafiz ngomel tak jelas. Dan meninggalkan Fitria yang masih berdiri terpaku, terlalu confused dengan sikap Hafiz yang tiba-tiba berubah.


Fitria mengejar Hafiz ke arah area parkir sepeda motor, "Loh ngapain ikut kesini, mobil kamu parkir disana itu. Bukan disini." Hafiz makin tak mengerti dengan Fitria.


"Ikut,"


"Ikut? Kan kamu bawa mobil, gimana si."


"Ajari aku balapan." Ucap Fitria lagi.


"Maaf aku ga bisa."


"Harus bisa..."


"Mau kamu apa si Fitria! Kamu ga pernah anggap aku ada disaat kamu senang. Tapi kamu selalu berada di dekatku jika kamu susah. Apa itu adil?" Dada Hafiz terlihat naik turun, terlihat jelas seorang Hafiz menyembunyikan unek-unek itu selama ini.


'Apa perlu aku jadi bad boy dulu seperti Boby baru kamu mau melihat aku ada Fitria!?


Aku jadi tukang selingkuh sana sini, jalan dengan wanita sana sini baru kamu mau mendengarkan aku berbicara?"


Mata Fitria seketika berkaca-kaca, pertahanannya mulai jebol. Air mata merembes begitu saja, mengalir deras di pipinya.


"Ma-maafkan aku Hafiz." Suara itu sangat lirih namun masih bisa Hafiz dengar.


"Tidak perlu minta maaf, aku yang salah. Memaksakan sesuatu yang tak bisa aku paksakan." Hafiz duduk di jok motornya, menggunakan helm lalu menyalakan stater sepeda motornya.


Tanpa di sangka, Fitria duduk di jok bagian belakang motor Hafiz.


Hafiz menghembuskan napas dengan berat, "Aku mau ke makam ayahku, apa iya kamu mau ikut. Turun!" Ucap Hafiz memberi perintah.


"Aku tetap mau ikut, titik!"


"Huft, beri aku kesabaran lebih Tuhan. Lalu mobil kamu bagaimana?"


"Biar itu jadi urusanku nanti."


"Pakai helmnya kalau begitu." Hafiz menyodorkan helm BOGO milik adik kesayangannya.


Hafiz melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang, ada perasaan mengganjal tak enak dihatinya. Maksud hati ingin ke makam ayah untuk sesi curhat, tapi wanita yang akan menjadi topik curhatnya malah ikut.


Akhirnya Hafiz memutuskan untuk menepikan sepeda motornya di parkiran pantai double six.


"Kenapa kesini? Katanya ke makam?"

__ADS_1


Tanya Fitria heran.


"Ga jadi, lain kali saja."


"Aku kan sudah minta maaf, apa kamu tidak memaafkan aku? Kenapa kamu jadi cuek begitu sama aku? Lebih baik aku di marahin sama kamu daripada aku di jutekin terus di diemin ngomong irit begitu." Muka memelas dan guratan khawatir terlihat.


"Memang susah jadi cowok, ga pernah benar. Aku banyak bicara salah. Aku bicara cuma sedikit juga salah. Terus aku harus bagaimana? Sudahlah lupakan saja, aku mau melihat matahari terbenam kali ini."


Tak ada balasan apapun dari Fitria, dia kini hanya mengekor dibelakang Hafiz menuju pantai yang indah dan damai itu.


Duduk termenung, melihat indahnya matahari yang mulai karam tertutup lautan. Sinar siluetnya tak bisa di tampik, begitu memesona tiap pasang mata yang memandangnya.


Tiap pasang mata yang takkan sanggup untuk menduakan-nya. Sesekali Fitria menatap wajah Hafiz yang terlihat begitu tenang, lalu kembali memandang hamparan pasir dan lautan lepas.


"Dulu aku dan ayahku sering kesini."


Hafiz mulai membuka percakapan diantara kesunyian.


"Lalu?" Jawab Fitria singkat.


"Tempat ini terlalu mempunyai banyak kenangan, aku banyak belajar pada ayah disini.


Hal yang bagi orang sangat tabu aku pelajari semua disini." Pandangan Hafiz dan Fitria bertemu lagi dalam beberapa detik, lalu setelah itu Hafiz kembali menunduk.


"Kebodohan aku dan ayahku juga sama, selalu gagal dalam urusan cinta. Entah karena gen yang turun temurun, atau apa. Kisahnya selalu sama, beruntung dulu ibu yang lebih dulu menyatakan cinta kepada ayah. Sehingga ayah dengan senang hati dapat memiliki ibu yang juga sangat mencintai ayah. Aku terlalu pengecut untuk menjadi seorang pemberani."


"Di dunia ini tidak ada istilah pengecut dan pemberani Hafiz. Yang ada hanyalah mau atau tidak mau, suka atau tidak suka. Niat atau tidak, hanya itu. Kamu terjebak dalam urusan mau atau tidak mau dan niat atau tidak. Setiap orang yang mempunyai cinta, akan punya jalan yang berbeda-beda dalam memperjuangkannya." Kali ini Fitria menatap begitu dalam pria dihadapannya itu.


"Lalu kamu?"


"A-aku?" Fitria menunjuk dirinya sendiri.


"Iya kamu, siapa lagi? Bule yang sedang berjemur ga pake baju itu masa mau aku tanyain." Ucap Hafiz meledek.


"Ish-" Muka Fitria terlihat kesal, karena bule itu benar- benar polos tak berpakaian satu benangpun.


"Percuma lo puasa kamu nanti,"


"Ye- aku kan cuma kasih tau kamu." Hafiz terkekeh.


"Aku juga pengecut sama seperti kamu, em maksud aku, aku ragu. Dan aku takut, aku takut jatuh lgi. Berkali-kali selalu berakhir sama, aku takut." Paras Fitria benar-benar menunjukan rasa takut yang amat sangat akan cinta.


"Bukankah jatuh dari sepeda saat pertama kali belajar itu sakit? Bukankah wanita yang melahirkan anaknya juga sakit?"


Fitria mengangguk. "Nyatanya yang bisa naik sepeda banyak ga? Yang sudah punya anak satu terus nambah lagi banyak juga ga? Kamu kan dokter kandungan."


"Terus?"


"Terus apanya? Kamu memang cinta sama aku?" Pertanyaan Fitria, telak membuat hati Hafiz semakin berdebar tak karuan.


"Iya, aku cinta sama kamu. Tapi-" Hafiz tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya.


"Tapi kenapa?" Pertanyaan Fitria seolah menuntut.


"Aku harus bertemu dengan ayah dan ibumu dulu. Agar kakiku mudah untuk melangkah kedepannya, aku juga belum memperkenalkan kamu dengan Ibu dan adikku." Jawab Hafiz dengan wajah tertunduk.


"Kita bisa pacaran dulu bukan?"


Reflek Hafiz menggeleng, "Tidak, aku tidak mau mengulangi hal yang salah kepadamu. Jika Ibuku , Ibumu dan Ayahmu setuju. Maka aku akan meng-khitbah kamu- langsung."


"Aku tidak mau berlama-lama menanggung dosa, sekarang kamu memegang tanganku seperti ini saja. Sudah memberatkan aku diakhirat nanti." Senyum simpul kini sudah mulai nampak.


Bodohnya aku, sejak kapan aku memegang tangannya seperti ini? Batin Fitria yang begitu merasa malu.


Hari sudah mulai senja, siluet kuning berubah warna menjadi oranye.


"Sudah cukup tenang? Sebaiknya kita pulang, untuk masalah belajar balap mobil, akan aku atur waktu dengan temanku. Kebetulan dia mantan atlit balap mobil, semoga saja dia bersedia mengajari kamu."


Kali ini senyum merekah muncul dari wajah Fitria. Mereka berdua pulang dengan hati yang berbunga-bungan dan berpikiran lebih jernih.


"Kok macet banget ya Hafiz?" Sepeda motor yang mereka kendarai berjalan seperti kura-kura.


"Iya nih, perasaan Bali ga pernah macet deh. Kalau ga ada upacara atau sembahyangan."


"Ada kecelakaan didepan bang." Seorang yang mengendarai sepeda motor di sebelahnya ikut nimbrung. "Kayanya mobil mewah, adu jangkrik sama truk. Truknya lewat jalur.


"Darimana tahu?" Timpal Hafiz.


"Tuh keliatan dari sini, mobil mewahnya lagi di derek."


Dengan memposisikan diri agak berjinjit, Hafiz melihat mobil mewah uang diderek itu.


Deg! Hafiz bahkan mengucek matanya beberapa kali.


"Kenapa Fiz?"

__ADS_1


"Perasaanku ga enak, aku sepertinya tahu mobil itu punya siapa."


"Bang, titip motor sebentar ya. Mau lihat yang punya mobil."


"Aku ikut,"


"Oke."


Semakin dekat, semakin jelas plat nomor kendaraan yang tengah di evakuasi itu. Bagian depan terlihat ringsek gak beraturan.


Hafiz tanpa sadar menggenggam erat lengan Fitria, seolah mencari kekuatan disana.


Begitu juga dengan Fitria, yang sepertinya mengenali mobil ini milik siapa.


Mereka berdua kini saling pandang, berusaha lebih dekat dengan lokasi kejadian. Namun belum saja Hafiz mendekat, tubuhnya sudah ditahan oleh seorang polisi lalu lintas.


"Mohon maaf, anda tidak boleh melewati garis pembatas." Ucap pak polisi lalu lintas dengan tegas.


"Tapi pak, bisakah saya melihat korbannya sekilas. Saya sepertinya kenal dengan pemilik mobil mewah ini. Saya hanya ingin memastikan saja pak." Tawar Hafiz kepada sang polisi.


"Korbannya sudah dilarikan ke rumah sakit terdekat. Rumah sakit polri denpasar, kalau mau lihat saya ada video evakuasinya. Mau lihat? Tapi kalau ini bukan keluarganya tolong saya minta jangan disebar luaskan ya, kasihan korbannya. Ada yang meninggal di tempat satu orang."


Deg! Jantung Hafiz dan Fitria semakin berdegup kencang. Semoga ini tak seperti yang mereka pikirkan.


Video berdurasi 15 menit evakuasi itu di putar, mata Hafiz dan Fitria seperti akan keluar dari tempatnya. Melihat pria yang di evakuasi dari balik kemudi mobil mewah itu benar-benar seseorang yang mereka kenal.


"Inalilahi, astaghfirullah ya Allah." Hafiz dan Fitria menangis bersama. "Dia sahabat kami berdua pak. Saya mohon bantuannya agar motor saya bisa keluar dari jebakan kemacetan pak. Saya harus ke rumah sakit sekarang untuk memastikan keadaan sahabat saya pak."


"Baik-baik, dimana motornya."


Hafiz berlari sekuat mungkin mengambil sepeda motor yang ia tepi-kan tadi. "Terima kasih sudah menjaga motor saya mas."


Dengan wajah sendu dan basah Hafiz mengucapkan rasa terima kasihnya.


"Sama-sama bang. Kenal sama yang kecelakaan bang?" Hafiz hanya mengangguk lalu melajukan sepeda motornya dengan bantuan beberapa polisi yang membuka jalan.


"Bagaimana ini Hafiz, apa perlu aku menelpon yang lain?" Tanya Fitria masih dengan isak tangisnya.


"Jangan Fit, kita pastikan dulu keadaan yang sebenarnya di rumah sakit. Baru setelah itu kita hubungi yang lain."


Fitria memegang erat pinggang Hafiz yang melajukan motornya dengan kecepatan tinggi itu. Ingin Fitria berteriak karena takut, namun itu ia urungkan melihat wajah Hafiz yang tegang dan diliputi rasa cemas yang begitu besar, sehingga ia melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi.


...****************...


Melihat dua garis merah berbaris rapi di depan netra beningnya, dari ketujuh alat yang ia gunakan semuanya menunjukan dua garis yang sama.


Senyum lebar, wajah yang berbinar dan jantung yang berdegup kencang bertemu menjadi satu dalam diri Khansa saat ini. Kebahagiaan itu sangat meluap, hingga tak mampu Khansa kendalikan.


"Ramadhan junior, setelah ini kita cek kamu melalui USG sama tante Fitria ya. Mama ingin tahu, kamu sudah berapa lama ada di dalam perut Mama." Khansa mulai mengelus-elus bagian perutnya yang masih rata itu.


Khansa langsung membereskan alat-alat tes kehamilan yang ia pakai itu, maksud hati Khansa akan memperlihatkan itu semua kepada kak Ramadhan nanti.


Tok! Tok! Tok! "Khansa, ada tamu beb. Keluar dulu yuk." Terdengar suara Yuta dari balik pintu kamar Khansa.


"Iya beb, aku keluar." Khansa berhambur menuju pintu dan membukanya.


"Mertua lo dateng beb, tapi kok banyak bener ya keluarganya. Untung tadi aku udah masak banyak Sa, niat mau bawa pulang malah kamu punya tamu banyak hehehehe."


"Kak Ramadhan belum dateng Yut?"


"Belum dateng, temui aja dulu yuk di depan. Gue temenin, ga enak ada tamu banyak tapi yang nyambut cuma Bude. Aisyah masih ngajar, Reza masih ngisi ceramah di pengajian masjid. Kak Ramadhan juga di masjid, jadi sambil nunggu mereka semua kamu temenin dulu mertua kamu di depan." Jelas Yuta panjang kali lebar kali tinggi.


"Oke-oke, yuk ke depan." Ucap Khansa Sambil menepuk-nepuk dadanya karena deg-degan bercampur nervouse.


"Assalamualaikum," Ucap Khansa dengan lembut sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Wa'alaikumsalam," Jawab seluruh orang yang berada di ruangan, semua perhatian kini tertuju pada sosok Khansa seorang.


"Bapak Ali, Ibu Fatima. Ini yang namanya Khansa, Adiba Khansa Az-zahra. Istrinya nak Ramadhan, sedangkan adiknya bernama Aisyah Khansa Az-zahra masih berada di pondok pesantren untuk mengajar. Jika nak Reza dan nak Ramadhan masih berada di Masjid. Saya sudah meminta tolong beberapa anak santri untuk menyusul kesana agar memberitahu mereka untuk segera pulang." Ucap Bude Aminah basa-basi untuk mengisi keheningan di ruangan besar itu.


Khansa langsung berlutut di kaki Ibu Fatimah, mencium punggung kakinya, mencium punggung tangannya lalu berakhir dengan pelukan erat dari Ibu Fatimah kepada Khansa. Tentu juga dengan iringan air mata dari kedua perempuan itu yang menetes secara bersamaan.


Selesai sungkem dengan Bu Fatima, Khansa beralih ke arah bapak mertuanya. Bapak Ali, namun secara mengejutkan ketika Khansa mencium punggung tangan bapak mertuanya itu, Ali langsung menarik tangannya dengan cepat ketika Khansa mencium punggung tangannya.


Khansa agak kaget ketika bapak mertuanya bersikap demikian, namun hal itu buru-buru ia tepis dan lupakan dengan menyalami tamu yang lain. Yang Khansa sendiri tak tahu mereka semua itu siapanya kak Ramadhan.


"Mohon maaf sebelumnya, saya bukan orang yang suka banyak basa-basi. Saya bertanya kepadamu Khansa, apa sebelumnya Ramadhan sudah bercerita kepadamu. Bahwa ia akan menikah dengan Kinara?"


JEDER! Sambaran kilat petir berkekuatan tornado menyambar tubuh Khansa dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Apa Khansa tidak salah dengar? Batin Khansa berkata demikian. Pandangannya juga mengedar, mencari dan menebak sosok perempuan yang kira-kira dimaksud untuk kak Ramadhan yang akan menikah lagi.


Tangisan haru bahagia ketika memeluk ibu mertuanya tadi menjadi tangisan tanpa suara yang bertanya-tanya akan sebuah kebenaran.


Bi Karsih berlari-lari tergopoh-gopoh menuju ruangan utama yang sedang berisi penuh banyak orang. Bi Karsih terlihat sungkan, namun berita urgent ini harus segera ia sampaikan.

__ADS_1


"Ngamputen sedoyo, anu non. Anu, barusan ada telepon dari rumah sakit kalau tuan..."


Bersambung...


__ADS_2