
Happy reading❤️❤️❤️
Azka dan Fitria seketika menoleh bersama ke arah sumber suara. Betapa terkejutnya mereka berdua, melihat Ramadhan dan Kinara bergandengan tangan.
Azka terlonjak dari duduknya, seolah ingin menikam Ramadhan dan menyeret Kinara untuk pulang ke rumah segera. Khansa yang mengetahui apa yang ada di dalam pikiran Azka langsung menghampiri Azka seraya membisikkan sesuatu, "Aku mohon Azka, tahan amarahmu sedikit saja. Setidaknya sampai Kak Ramadhan mau makan Opor Ayam buatan aku ... aku memang tidak bisa berharap banyak pada sebuah Opor Ayam. Tapi setidaknya kita sudah berusaha dan mencoba,"
"Tapi Sa-" Suara Azka tercekat ketika melihat wajah Khansa yang begitu memelas, mencoba menahan bulir-bulir air mata yang akan terjun bebas.
"Kak Ramadhan, Kinara ... ayo duduk," ucap Khansa dengan senyum menahan luka penuh sayatan di dada itu mencoba berakting sekuat dan sebisa mungkin.
Azka, Fitria dan Mama Fatima hanya bisa terperangah dengan apa yang dilakukan Khansa. Keduanya sama-sama ingin memukul seorang Kinara yang memanfaatkan keadaan Ramadhan yang lupa ingatan itu.
Khansa ... kenapa kamu bisa begitu kuat
Aku yang tidak mencintai Kinara saja ingin marah dan menikam Kinara yang dengan beraninya bergandengan tangan dengan pria lain.
Kinara terlihat memanfaatkan keadaan yang ada,
Seperti yang Dere nyanyikan
Udara mana yang kau hirup ...?
Hujan di mana yang kau peluk ...?
Aku tak habis pikir Khansa, wajahmu tetap teduh ...
Matamu tetap sebening embun ...
__ADS_1
Sikapmu tetap santun ...
Padahal dahulu?
Kamu tipe orang yang suka memberontak dengan hal-hal yang tidak kamu sukai
Kamu akan cepat marah kepada orang yang suka membuatmu menderita atau menyakiti hatimu.
Kamu akan segera memukul mundur orang yang sudah mengambil sesuatu milik mu
Kemana Khansa ku yang dulu?
Khansa ku kini sudah berubah ...
Kamu menjadi pribadi yang begitu penyabar
Dengan kamu bersikap demikian, sama saja kamu memberikan Kinara peluang yang terbuka lebar.
Ucap Azka bermonolog sendiri, dan tanpa sadar ia juga mengepalkan tangannya sekuat mungkin. Mencoba menahan amarah yang bergelora, melihat Khansa mempersilahkan Ramadhan dan Kinara duduk untuk menyantap makanan yang sudah dipersiapkan oleh Khansa.
Ramadhan terlihat mulai mengamati makan-makanan yang ada di hadapannya. Kepalanya sedikit pusing, sepertinya otak Ramadhan mulai merespon apa yang dilihatnya.
"Aku tidak akan main-main dengan orang yang memanfaatkan keadaan sebenarnya, jangan salahkan saya jika saya akan membuat perhitungan dengan orang tersebut jika masalah ini sudah selesai nanti," celetuk Azka saat ia mendaratkan kembali tubuhnya pada tempat duduk meja makan itu.
"Sama Azka, aku juga. Aku paling ga suka sama orang yang ga tau diri. Ibarat dia sebuah barang bekas, udah kita pungut dan taroh di tempat yabg layak, tapi ternyata dia ga punya rasa terima kasih sama sekali. Bakalan aku buang ke tempat sampah, tapi sebelumnya udah aku injak-injak dan aku cabik-cabik terlebih dahulu." Sorot Mata Fitria kini tak kalah tajam mengarah pada Kinara.
Kinara yang menyadari bahwa dirinya tengah menjadi bahan perbincangan yang di maksud dan merasa posisinya sangat terpojok, langsung berakting berpura-pura batuk alias keselek air ludahnya sendiri.
__ADS_1
“Uhuk … uhuk ….” Akting Kinara
Ramadhan dengan sigap mengambil segelas air putih lalu menyodorkannya kepada Kinara.
“Apa kamu tidak apa-apa? Padahal kita belum makan, tapi kamu sudah batuk-batuk begini,” ucap Ramadhan lembut, menepuk lembut punggung Kinara seakan ingin sang pemilik punggung segera baik-baik saja.
Khansa yang melihat kejadian itu langsung meneteskan titik-titik basah kecil dari kelopak matanya, namun sesegera mungkin ia basuh dengan punggung tangannya. Mencoba menghapus dengan senyum yang terkesan dipaksakan.
Azka yang tak terima langsung mengepalkan tangannya dan menggebrak meja makan yang berada di hadapannya.
“Apa-apaan ini Kinara! Kamu dengan liciknya memanfaatkan keadaan yang ada. Apa kamu lupa? Status saya di mata hukum itu resmi sebagai suami kamu! Saya bisa tuntut kamu dengan dugaan perselingkuhan dengan Ramadhan! Apa kamu mau melahirkan di balik jeruji besi? Kalau tidak mau, segera bersikap sesuai alur mu dan kembali pada tabiat dirimu, yaitu tau diri!”
“Apa maksud kamu? Laki-laki itu tidak boleh bersikap kasar kepada perempuan!”
Ucap Ramadhan dengan dada yang terlihat mulai tersengal-sengal.
“Apa? Kamu ingat siapa namaku? Apa kamu tau siapa wanita yang sedang kamu bela itu? Dia adalah istriku! Dan wanita yang kamu acuhkan di sana, menitikan air mata tanpa suara menahan sakit, dia adalah istrimu!” Azka menodongkan jari telunjuknya kearah Khansa.
Dengan tatapan kosong Ramadhan menoleh ke arah Khansa, entah apa yang ada di otak Ramadhan kali ini.
Apakah Ramadhan akan mulai mengingat Khansa?
Atau malah sebaliknya?
Maafkan author ya, beberapa episode kali ini akan membuat kalian geregetan😁
Bersambung ...
__ADS_1