Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)

Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)
Romantis Namun Menyebalkan


__ADS_3

Happy reading❤️


"Assalamualaikum,"


"Wa'alaikumsalam. Kok tumben pulangnya agak malam kak? Kakak sudah shalat Isya?"


Tanya Aisyah yang menyambut kakak tercintanya di ambang pintu. Entah mengapa setiap pertanyaan Aisyah yang terlontar ini selalu membuat Khansa merasa Dejavu dengan kejadian saat ia bertengkar dengan Abah.


Astaghfirullah Khansa merasa dirinya harus berubah, ia tak boleh menjadi pribadi yang akan mengulang lagi pada kesalahan yang sama lalu berujung pada penyesalan yang sama juga.


"Kakak? Apa kakak terlalu kelelahan? Kakak baik-baik saja?" Netra Khansa yang terlihat berkaca-kaca membuat Aisyah begitu khawatir jika kakaknya merasa terlalu lelah melalui harinya hari ini.


Khansa mendorong kursi roda Aisyah menuju ruang tamu yang berhias lampu-lampu cerah diatasnya. Dengan memposisikan badannya setengah berlutut Khansa mencakup kedua pipi adiknya yang ayu namun terlihat juga guratan kelelahan dari tatapan matanya.


"Kaka sudah shalat Isya tadi, pulang dari jenguk Fitria kakak mampir di masjid desa sebelah. Reza mana?" Khansa mencoba melontarkan pertanyaan ringan agar mereka berdua bisa sama-sama rileks.


"Masih ngecek hafalan alquran santri putra kak, kalau santri putri sekarang aku jadwalkan sore. Karena Aisyah sering merasa ga enak badan jika selepas Maghrib." Aisyah mencoba menjelaskan. Memang benar, keadaan pondok begitu mengkhawatirkan sekarang. Mulai terasa kekurangan tenaga pengajar. Semua kegiatan yang biasa di handle Abah dan Umi otomatis berpindah ke Reza dan Aisyah.


"Maafkan kakak, sering membuat Aisyah menghadapi ini sendirian. Jika keadaan klinik sudah stabil lagi, insyaAllah kakak akan banyak menghabiskan waktu kakak bersamamu."


"Kak," Terlihat wajah Aisyah begitu khawatir dan bercampur keraguan didalamnya.


"Ya? Bicaralah Aisyah, sepertinya ada hal penting?" Khansa mengelus-elus pipi tirus seputih susu milik Aisyah itu.


"Kurang lebih sebulan lagi mertua kita akan datang ke Indonesia kak," Khansa menaikan kedua alisnya. "Ya- kak Ramadhan pernah membahas ini, lalu kenapa? Ada hal yang mengganjal di hatimu? Terlihat kamu sangat khawatir Aisyah." Kali ini Khansa meraba kepala Aisyah yang berbalut kerudung berwarna peach itu.


"Aisyah khawatir, karena ayah ibu kak Reza belum tahu jika Aisyah tidak punya sepasang kaki." Setengah mati Aisyah mencoba meloloskan kata-kata itu dari kerongkongannya.


"Kenapa harus merisaukan hal itu Aisyah? Reza sudah menerima kamu apa adanya, jika mertua kita datang, ceritakan saja apa adanya. Kenapa harus begitu khawatir?" Jawab Khansa santuy, lalu beralih ke sofa dan merebahkan punggungnya disana.


"Yang ku dengar tentang beliau, Ayah dan Ibu mertua kita itu orang penting kak. Beliau orangnya perfect dan berwibawa jadi, Aisyah merasa takut jika beliau melihat keadaan Aisyah. Beliau akan meminta mas Reza menceraikan Aisyah."


"Astaghfirullah Aisyah, jaga bicaramu dek. Setiap perkataan adalah doa, bukankah kamu jauh lebih tau tentang agama dari pada kakak?


Kamu sudah sempurna Aisyah, kamu bisa masak yang enak, ilmu agamamu jangan jauh ditanya setiap inchi ayat dari Alquran pasti kamu hafal. Sedangkan kakak? Tinggal bagaimana nanti cara mertua kita melihat kita. Sempurna dari sudut mana? Sempurna hanya milik Allah."


Khansa mengusap air mata yang membasahi pipi adiknya itu. "Umi pernah berkata padaku Aisyah, perempuan itu ibarat sebuah batang tebu. Jika salah satu ujungnya sangat manis, maka diujung lainnya tidak akan terlalu manis. Percayalah tidak ada wanita sesempurna itu, setiap wanita punya sisi keunggulan dan kelemahan masing-masing."

__ADS_1


Senyum simpul mulai tersungging dari bibir Aisyah, "Bude pulang jam berapa tadi dek?" Membuyarkan suasana dan perbincangan haru adalah jalan terakhir yang harus di tempuh.


"Bude sebelum Ashar pasti sudah pulang kak, bude tadi sempat bilang apa kakak tidak cari ART untuk membantu membersihkan rumah? dan juga ibu-ibu pengajian meminta Aisyah bertanya kepada kakak, apa kapan-kapan kakak ada waktu untuk ikut mengisi acara pengajian tentang kesehatan wanita?"


"Nanti kakak bicarakan dulu dengan kak Ramdhan yah, Tanpa izin darinya. Setiap perbuatan kakak tentu hanya dosa bukan?" Khansa memasang wajah senyumnya yang berseri dibalik jilbab berwarna coklatnya.


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam," Jawab Khansa dan Aisyah bersamaan.


"Sepertinya setelah shalat kakak wajib memohon diberi umur panjang oleh Allah kak. Mengingat suami kakak itu berumur panjang, lagi di omongin main njedul aja datang, hehehehe." Aisyah kabur, menuju kamarnya sendiri.


"Bahas apa dengan Aisyah sayang? Sepertinya seru." Ramadhan kepo.


"Ada deh- dikamar aja yuk sayang bahas-nya." Khansa meraih jas yang dikenakan suaminya dan melepas dasi yang melilit leher sexy suaminya itu.


"Stop sayang!" Ramadhan menolak Khansa melepaskan dasi yang melilit lehernya itu.


Khansa kaget bukan kepalang, hm- dipikirannya sudah melalang buana bagaimana cara atau trik-trik menyenangkan suaminya. Namun pada kenyataannya malah kak Ramadhan tak menyukai itu. Sekalipun Khansa baru mencoba memulainya. Wajah Khansa dalam sekejap juga terlihat murung.


"Apa-" Jawab pujaan hatinya begitu lirih.


"Aku melupakan sesuatu untuk sayang di mobil. Aku mau mandi dulu, setelah itu kita shalat Sunnah bersama." Ramadhan menyerahkan kunci mobilnya kepada Khansa.


Dengan langkah terseok-seok malas Khansa meraih gagang pintu mobil suaminya. Pandangannya mengedar, disetiap penjuru ruangan mobil bagian depan. Tapi Khansa tak menemukan apapun, lalu dia mencoba membuka pintu mobil bagian belakang. Dan betapa terkejutnya dia, sebuket bunga mawar bertengger rapi di jok kursi belakang dan terdapat secarik kertas berupa pesan untuk sang tujuan bunga mawar yang indah ini.


Mata Khansa dalam sekejap berbinar-binar, ia tak menyangka jika suaminya bisa melakukan hal seromantis ini dibalik sikapnya yang kaku.



Dear My Life Khansa...


Aku memang tak sesempurna Rosul Allah


Aku memang tak sekuat Superman


dan tentu juga aku tak sehebat sang pujangga dalam merangkai kata cinta.

__ADS_1


Tapi didalam hatiku ada sebuah cinta yang besar untukmu.


Dan cinta ini tak bisa dibayar atau digantikan dengan apapun.


Aku ingin kita bercanda tawa ria bersama hingga sinar kehidupan kita redup.


Menjaga cinta kita bersama yang berbalut ibadah sepanjang masa


Demi dapat menggapai cinta Allah.


Dari hamba Allah


yang begitu mencintai istrinya


wanita cantik dan memesona


Adiba Khansa Az-zahra


I love you...


Love you more...


Khansa memeluk erat buket bunga mawar yang indah itu, lalu mencium aroma khas mawar yang tak dapat diungkapkannya dalam rangkaian kata-kata. Menutup pintu mobil, lalu berjalan cepat menuju rumah. Pandangannya mengedar ketika Khansa memasuki kamarnya, mencari sosok suaminya yang romantis sekaligus menyebalkan itu.


Rasanya ingin memeluk begitu erat, dan menciumi setiap inchi wajah suaminya yang begitu tampan dan perfect. Namun lagi-lagi itu hanya sekadar angan, Ramadhan yang akan menjadi praktek dari kegiatan angan-angannya itu masih sibuk didalam kamar mandi.


...***************...


"Ingat! Jika besok kamu tertangkap, jangan katakan tentangku. Apapun yang terjadi!


Jika sampai kamu mengatakan bahwa aku yang memerintah mu, akan ku pastikan anak dan istrimu berada di kamar mayat besok! Mengerti!?"


"Me-mengerti bos." Jawab pria itu dengan ras ketakutan yang hebat.


*Bersambung ...


Jangan lupa untuk selalu tekan tombol like, comment dan votenya ya🙏*

__ADS_1


__ADS_2