
Happy reading❤️
Benar dugaan Azka dan Yuta, di area parkir sudah banyak orang berkerumun membicarakan seorang wanita yang tengah duduk di atap gedung rumah sakit.
"Kak, jangan gegabah berbicara kak. Tolong bujuk Kinara agar mau turun." Yuta berbicara sambil menutup kedua mata Naura, Yuta tak ingin Naura melihat seorang wanita yang tengah duduk di atap gedung.
Azka berlari menuju atap gedung menggunakan lift, sesampainya ia di atap gedung. Ternyata ayah dan ibu Kinara sudah ada di sana, berusaha membujuk rayu Kinara. Namun hasilnya nihil.
"Nak Azka, tolong saya. Demi apapun, tolong selamatkan putri saya, pemadam kebakaran dan tim penyelamat masih dalam perjalanan. Tolong ulur waktu sampai mereka tiba."
"Ba-baik pak, saya akan berusaha sebisa saya." Tak bisa di pungkiri, jiwa seorang dokter mau bagaimanapun tetap akan melindungi dan menyelamatkan setiap yang bernyawa.
Kinara memandang indahnya pemandangan dari atap gedung, Azka memperkirakan keadaan Kinara yang sedang lengah, tak menyadari akan kedatangannya.
Sreet! Brugh! Azka meraih tubuh Kinara dengan cepat dan meraka tersungkur bersama di lantai atap gedung.
Dengan sigap Azka memeluk erat Kinara agar kepalanya tak membentur lantai.
"Alhamdulilah ya Allah Kinara," Pak Wijaya dan istrinya langsung memeluk erat Kinara.
Tangis haru seketika pecah. "Kamu tahu tidak Kinara, bunuh diri itu dosa besar! Langit dan bumi bahkan tidak mau menerima kita, banyak orang yang berjuang mati-matian untuk tetap hidup, ini malah punya hidup akan di sia-siakan." Azka masih sempatnya berceramah, padahal napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun cepat.
"Ma-ma'af"
"Cepat bereskan tampilan kami yang carut marut itu, bukankah dua jam lagi kita menikah?"
Bapak dan Ibu Wijaya saling tatap tak percaya, sedangkan mata Kinara berbinar-binar. Kinara tak menyangka jika dokter Azka sendiri yang langsung menanyakan pernikahan dengannya.
Apa ini pertanda akan adanya setitik harapan?
Kinara membatin, bertanya pada dirinya sendiri.
Perlahan Pak Wijaya dan Ibu Wijaya menuntun Kinara untuk melakukan persiapan pernikahan mereka.
Tak ada yang spesial, pada pernikahan itu.
Ijab Qobul berjalan sebagaimana setiap pernikahan terjadi.
Hingga teriakan kata SAH menggema, semua yang hadir pada ruangan itu mengusapkan kedua telapak tangannya di seluruh wajah.
Khansa bahkan sampai menitikan air mata, ia benar-benar tak menyangka jika Azka berani mengambil keputusan berat itu. Hanya demi melindungi pernikahannya dengan Ramadhan.
"Terima kasih..." Khansa berkata sangat lirih.
Yuta yang berada di balik kemudi kursi roda Khansa hanya bisa tersenyum mendengar itu.
Seminggu kemudian...
"Apa semua sudah di packing dengan baik Prita? Tidak ada yang tertinggal?" Tanya Khansa kepada Prita yang seminggu ini telah menemaninya membantu segala kebutuhan dan keperluannya sambil menjaga dan rutin terapi Ramadhan.
"Sudah kak Khansa, semuanya sudah masuk mobil."
"Terima kasih Prita."
Operasi pemasangan pen pada patah tulang yang di derita Ramadhan seminggu lalu berjalan sukses, sehingga kondisi Ramadhan sudah cukup membaik. Hanya saja, ia masih harus menggunakan tongkat untuk berjalan.
"Kak Khansa..." Suara yang sangat parau itu hadir.
"Ya Aisyah," Khansa berbalik badan dan membelai pipi Aisyah dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Kakak sungguh akan meninggalkan aku?"
Bulir-bulir air mata banjir membasahi pipi Aisyah.
"Kakak tidak meninggalkan Aisyah, kakak hanya berpindah tempat tinggal. Ibu Fatima sangat memohon Kak Ramadhan berada di dekatnya, jadi kakak juga harus tinggal di sana. Jangan khawatir, kakak pasti akan sering ke pondok. Jarak tempuh hanya 2 jam, jadi tidak mungkin kakak tidak sering pulang menjenguk adik kakak yang cantik ini."
"Janji kak?"
"InsyaAllah sayang."
"Reza, titip adikku ya. Jangan pernah kamu lukai hatinya, jika ia salah. Tegur lah adikku dengan cara yang paling halus yang kamu punya." Kali ini Khansa juga berlinang air mata.
"Tentu, tanpa perlu kamu menitipkannya. Aku pasti akan menjaga Aisyah, bahkan dengan nyawaku."
Aisyah mencubit lengan Reza, "Jangan mulai gombal kak Reza, masih pagi."
"Biarin, gombal sama istri sendiri juga. Hati-hati ya Kak Ramadhan, Khansa."
"Assalamualaikum,"
"Wa'alaikumsalam."
Sungguh berat, harus melepaskan sang kakak. Keluarga Aisyah satu-satunya yang masih ada di muka bumi ini.
"Sayang, kalau kaya gini. Kita gituan tiap malam kan ga malu ya- ga bakal ada yang dengerin kita sayang." Belum apa-apa bahkan otak Reza sudah mulai konslet.
"Astaghfirullah kak Reza, istighfar kak. Kak Ramadhan dan Kak Khansa baru saja pergi, pikiran kak Reza sudah kemana-mana."
Aisyah mendengus kasar, ia tak percaya jika otak sang suami begtu cepat traveling kemana-mana.
"Ye- ga kenapa kali, kan sama isteri sendiri itu pahalanya luar biasa."
"Ooh nantang nih?" Reza langsung menggendong Aisyah masuk.
"Astaghfirullah ampun kak, ampun. Bukan maksud Aisyah menantang kak. Jangan macam-macam kak, setengah jam lagi Aisyah mengajar."
"Huft, baiklah." Dengan langkah lunglai Reza kembali mengembalikan Aisyah duduk di kursi rodanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sayang, maafkan aku." Ramadhan menggenggam tangan Khansa begitu erat.
"Maaf untuk apa kak, tidak ada yang perlu di maafkan. Jangan menggenggam terlalu kuat, aku takut tangan kak Ramadhan masih sakit.
"Tanganku sudah tidak merasa sakit, hanya di kaki saja yang masih sakit. Maaf karena keinginan ibu, Khansa harus berpisah dengan Aisyah." Wajah Ramadhan terlihat begitu khawatir dengan perasaan istrinya. Hanya Aisyah yang menjadi satu-satunya keluarga yang tersisa.
"Aku akan sering menengoknya sayang. Hanya 2 jam waktu perjalanan dari rumah baru Ibu dan Ayah dengan pondok pesantren. Jadi tidak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan."
"Benar begitu? Di sini juga benar-benar mengikhlaskan itu?" Ramadhan meletakkan tangannya di dada Khansa, yang di maksud pertanyaan Ramadhan adalah hati Khansa.
"Benar sayang." Senyum simpul merekah, menghiasi bibir keduanya. Dengan lembut Ramadhan mencium kening Khansa yang sebagian tertutup jilbab berwarna hitam.
"Sudah kak, malu sama pak supir kalau begini."
Wajah Khansa merah merona menahan malunya. Sementara sang supir hanya tersenyum kecil mendengar pembicaraan itu, ia tetap fokus menatap jalur lalu lintas di depannya.
Tak terasa waktu bergulir, berlalu begitu saja.
Kini Ramadhan dan Khansa tiba di rumah megah milik mertuanya itu. Dua satpam yang menjaga rumah megah itu juga langsung membantu menurunkan barang-barang Khansa dan Ramadhan dari mobil.
__ADS_1
"Kok keliatannya rumah sepi pak Hakim?" Tanya Ramadhan yang melihat tak ada satu pun mobil yang terparkir di halaman, itu sudah jadi pertanda bahwa sang pemilik rumah tak ada di sana.
"Oh- iya den Ramadhan- Ibu, Bapak sama neng Sera lagi ikut ziarah makam ke Wali Pitu. Kata Bapak nanti habis Ashar sudah pulang."
"Oh begitu- minta tolong bapak angkat semua koper ke kamar saya ya pak. Istri saya sedang hamil. Perkenalkan pak Hakim, pak Teguh, ini istri saya namanya Khansa."
"Assalamualaikum pak Hakim, pak Teguh." Ucap Khansa sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Wa'alaikumsalam non Khansa."
Jawab Pak Hakim dan Pak Teguh bersamaan.
Tak hentinya Khansa berdecak kagum melihat pemandangan rumah yang begitu megah ini.
Bahkan disetiap sisi rumah mempunya tema dan corak tersendiri, jika Khansa boleh menilai di sudut ruang tamu menggunakan tema American classic desain modern dan megah memang wajib di tonjolkan pada tema yang satu ini.
Perlahan Ramadhan membuka pintu dengan menekan sejumlah angka pada layar datar berwarna hitam dan hijau di handle pintu. Benar saja, yang baru saja Ramadhan input itu sebuah pasword pintu kamar mereka.
"Hati-hati kak," Ucap Khansa saat melihat Ramadhan mulai membuka pintu besar itu.
"Iya sayang, kamu juga hati-hati. Ada Ramadhan kecil di perut ini." Senyum lebar pun mengambang.
"Kopernya saya taruh dimana pak?"
"Maaf sebelah sini saja pak, nanti biar saya mudah memasukkan baju-baju ke lemari. Terima kasih ya- Pak Hakim, Pak Teguh."
"Nggeh, sama-sama nona Khansa."
"Panggil Khansa saja Pak. Jangan nona,"
"Kami ga berani non, kami permisi kembali jaga didepan. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Kenapa harus panggil nona, kak Ramadhan?"
"Mungkin karena mereka sudah terbiasa memanggil Sera dengan panggilan nona."
"Kak Ramadhan istirahat saja, biar Khansa memindahkan baju-baju ke lemari dulu."
"Jangan sayang, kita istirahat saja dulu. Hari masih panjang. Setelah istirahat baru kita beres-beres sama belanja."
"Belanja?" Kening Khansa berkerut.
"Iya belanja, kita masak ya sayang. Biar nanti Ayah, Ibu dan Sera datang sudah tinggal buka puasa bersama."
"Akh- iya sayang benar." Kali ini mereka berdua sudah merebahkan diri di atas kasur bersama.
"Masak Ayam Opor lagi ya sayang, aku rindu." Ramadhan melirik Khansa dan tersenyum geli.
"Oke sayang."
"Baca doa sebelum tidur dulu, ini kamar baru kita. Semoga berkah dan selalu membawa kebahagiaan kepada penghuni barunya."
Khansa mengangguk.
"Bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut”. Artinya: Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup, dan dengan nama-Mu aku mati."
...****************...
__ADS_1