Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)

Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)
Biar Aku Yang Menanggung Sakitmu


__ADS_3

Assalamualaikum,


Maafkan author yang durlena ini🥺


Lagi-lagi kita sebagai manusia hanya bisa berencana


Takdir dan hasil akhir tetap milik Allah semata


Kemarin ada kesalahan teknis bab ter up 2kali


Karena novel ini ikut dalam antrian banner rekomendasi maka bab ter up double itu tidak bisa di hapus🙏


Para reader jangan marah ya


Kemarin maksud hati mau up cerita sebelum sahur biar nanti lolos review pas di waktu sahur


Karena memang di bab kemarin scene dialog cuma sedikit.


Tak di duga dan tak di sangka suami author minta jatah😂😂


Sudah seminggu ga pernah bercocok tanam karena suami tugas malam terus


Dan kebetulan malam tadi suami ga tugas malam


Jam 2 dini hari pulang


Dan habislah aku...


Yang dibawah umur mohon di skip🤭🙏


Tepar deh badan author, lemes, lunglai


Ga bisa lanjut nulis dan mata merem dari abis Subuh sampe siang


Astaghfirullah mohon para reader lain jangan meniru🙏


Makanya author up bab hari ini setelah buka puasa saja ya, biar para reader ga punya pemikiran kemana-mana baca curhatan author🤣🤣


Author pernah membaca sebuah Quotes


**Saudari-saudariku muslimah yang selalu dalam lindungan Rahmat Allah Swt.


Puaskan lah dan jagalah suamimu dalam 3 hal penting.


1.Matanya


2.Perutnya


3.*************


Maka dari itu untuk yang domisili atau berasal dari jawa pasti tak asing dengan istilah kewajiban wanita yang sudah bersuami yaitu


Masak


Manak


Macak


Untuk bab kewajiban sudah pernah saya bahas pada bab-bab sebelumnya


*Jika laki-laki bajang / Perempuan sampela/dedara/single kewajibannya adalah keluarganya


*Jika laki-laki / perempuan yang sudah menikah kewajibannya istrinya atau sebaliknya suaminya.


Oh- ya disini ada reader yang sedang Promil ga?


Karena kedepannya akan ada pembahasan tentang Promil


Untuk wanita yang belum menikah membaca scene tentang Promil juga sangat bermanfaat, untuk persiapan suatu saat nanti jika sudah menikah.


Sekian dulu curahan hati author ya, jangan ngambek terus cakar-cakar author versi online yah...


Semoga Allah selalu melindungi kita semua, Amiin🙏


......................


Happy reading❤️


"Siapa dia dokter Azka? Apa istri anda? Setahu saya anda belum pernah menikah?" Tanya dokter Siska setelah memeriksa Khansa.


"Apa pertanyaan itu masih perlu aku jawab sekarang dokter Siska? Bagaimana keadaannya? Apa dia sakit penyakit tertentu?" Tanya Azka dengan memicingkan matanya ke arah Siska, di kondisi seperti ini sempat-sempatnya ia membahas Khansa siapa. Tanpa Azka sadari ia menggenggam telapak tangan Khansa dengan erat dan menciumi punggung tangan Khansa, wanita yang sedang tak berdaya itu. Orang yang tak mengerti pasti mengira jika mereka berdua adalah sepasang suami istri. Begitu sayangnya seorang Azka kepada Khansa sedari kecil, sehingga setiap perlakuan dan sikapnya kepada Khansa murni mengalir begitu saja.


"Analisaku wanita ini hamil, saya sudah mengambil sampel darahnya. Kita tunggu saja hasilnya. Sementara saya beri dia vitamin untuk meningkatkan energinya melalui cairan infus. Dia dehidrasi," Jelas dokter Siska.


"Apa! Hamil?" Hilal yang baru saja berada di ambang pintu ruang IGD terkejut mendengar penuturan seorang dokter wanita itu. Maksud hati ingin menegur Azka yang sudah menggenggam dan menciumi tangan Khansa, malah justru ia yang dapat surprise.


Teriakannya tadi sukses mendapat perhatian dari tiap orang yang berada di IGD.


"Ish- ini suaminya mungkin."


"Iya, kata dokter Siska kan, dokter Azka belum menikah." Bisik-bisik para Nurse yang sayup-sayup Azka dan Hilal masih bisa mendengarnya.


"Dimana Ramadhan?" Tanya Hilal sambil melepaskan tangan Azka yang menggenggam tangan Khansa.


"Tolong Hilal, kita bahas Ramadhan setelah ini. Sekarang aku harus tahu apa Khansa benar-benar hamil atau tidak. Dokter Siska, tolong segera USG saja. Saya tidak punya waktu untuk menunggu hasil tes darah."


"Tapi pasien masih tidak sadarkan diri dokter Azka." Dokter Siska berusaha memperingati.

__ADS_1


"Saya tidak peduli, lakukan USG segera."


Jawab Azka ketus.


"Apa-apaan kamu Azka! Aku tidak mengizinkan, kita harus tanya Ramadhan dulu Ka!" Hilal yang masih tak mengerti akan pemikiran Azka, terus saja menyela dan berusaha menghentikan tingkah Azka.


"Aku sudah bilang diam Hilal! Jangan memancing amarahku. Jika kamu tahu keadaan sebenarnya tentang Ramadhan, kamu juga pasti tidak akan membelanya seperti ini."


Perlahan pupil mata Khansa terlihat mulai bergerak, Khansa siuman. Tapi ia masih kesulitan menggerakkan tubuhnya karena ia masih terlalu lemah.


"Azka, Hilal." Gumam Khansa lirih.


"Baru kali ini lo, mau USG laki-lakinya yang mendampingi ada dua. Sedangkan wanita yang mau di USG cuma satu. Ya hanya di novel Ramadhan imamku ini nih." Celoteh Dokter Siska yang terlihat sedang mempersiapkan layar monitor komputernya, dan seorang Nurse


tengah bersiap akan menyibak sedikit gamis di bagian perut Khansa.


"Tunggu dok, saya minta kedua laki-laki ini keluar dulu. Saya tidak mau menyakiti hati suami saya, dan saya juga tidak tahu, apa suami saya ridho atau tidak jika bagian perut saya terlihat oleh Azka dan Hilal." Terlihat Khansa begitu susah payah hanya untuk berkata demikian.


"Baiklah Khansa kami keluar, setelah itu tolong jelaskan kepada kami kondisi kehamilan Khansa secara detil dokter Siska."


"Hm- baiklah dokter Azka. Anda bisa segera pergi dulu dari ruangan ini."


"Usia kehamilan anda masuk pada 9 minggu, janin sudah berkembang hingga seukuran buah ceri. Mohon perhatikan asupan nutrisi yang dikonsumsi ya Bu. Hindari terlalu banyak mengonsumsi makanan manis serta makanan ringan yang tidak bergizi dan stress. Saya lihat nama anda yang di tulis oleh dr Azka anda adalah seorang dokter spesialis kandungan, jadi seharusnya anda sudah paham betul masalah ini.


Selain itu, saat hamil 2 bulan, waspadai juga risiko terjadinya keguguran. Kondisi ini bisa terjadi pada trimester pertama kehamilan. Gejala keguguran yang perlu ibu hamil waspadai antara lain perdarahan terus menerus.


Kendati pada hamil 2 bulan Bumil akan banyak merasakan gejala yang kurang nyaman, nikmatilah ini sebagai bagian dari proses yang indah untuk bertemu dengan Si Kecil. Seiring bertambahnya usia kehamilan, Bumil akan merasa lebih baik dan lebih mudah beraktivitas.



"Saya minta bu Khansa bed rest terlebih dahulu, mau pakai kamar biasa atau VIP? Biar langsung saya tulis disini untuk disiapkan ruangannya."


"Bisakah saya di jadikan satu ruang dengan suami saya dok? Suami saya ada di ruang VVIP Cemara."


"Oh begitu, baiklah. Tunggu sebentar ya, nanti akan ada Nurse yang mengantar anda jika bed sudah siap."


"Terima kasih dokter Siska." Ucap Khansa dengan senyum tipisnya.


"Sama-sama dokter Khansa, ingat kebahagiaan janin adalah kebahagiaan anda juga. Jika memang ada hal yang begitu menyakiti hati dan pikiran anda, lepaskanlah. Jangan terus menyimpannya, karena itu akan memperburuk kesehatan anda dan janin anda. Saya permisi."


Ucap dokter Siska saat berlalu.


...****************...


POV Azka


Perasaanku telah benar-benar karam


Di terjang tingginya ombak takdir


Meski aku tak rela


Kehamilannya, akan menjadi alasan kebahagiaannya dengan Ramadhan suatu saat nanti.


Jika aku salah mencintaimu


Apa aku akan benar jika selalu ada dalam bayang-bayangmu?


Melihatmu menangis


Melihatmu terluka


Melihatmu berada di ujung tanduk sebuah kesengsaraan


Aku juga sakit Khansa


Wajah ayu yang selalu menanggung banyak derita


Aku tak sanggup untuk terus melihat kamu demikian Khansa...


Belum lagi jika Aisyah mengetahui ini semua


Mengetahui jika kamu akan di Poligami


Kesedihan Aisyah pasti akan memperparah hatimu yang sudah hancur


Mata Hilal yang penuh dengan tanda tanya juga memaksa Azka untuk menceritakan semua kepadanya.


Perkiraan MADESU (Masa Depan Suram)


"Kalian berdua pulang saja dulu, jika nanti malam tidak ada yang menjaga Khansa dan Ramadhan, aku minta tolong Hafiz mau menjaga mereka malam ini. Kita semua akan bergantian menjaga mereka, sama seperti insiden bom almarhum Shinta dulu." Titah Azka kepada Fitria dan Hafiz.


"Baik Azka, jangan rindu aku ya kalau aku tinggal pulang." Ledek Fitria


"Lagi tegang dan serius begini juga masih sempatnya bercanda."


"Kayanya lo harus cepat punya bini deh Azka, biar ga tegang terus bawaannya. Ga seru lo." Fitria masih saja meledek Azka.


"Hafiz...! Tolong bawa pergi cewe curut satu ini dari hadapanku!" Hafiz menarik tas Fitria dengan lembut. "Ayo pergi,"


"Tapi Hafiz,"


"Ayo pergi."


...****************...


Azka masuk ke ruangan bersama Hilal, "Terima kasih dokter Siska," sekilas Azka melirik ke layar monitor yang masih menyala.

__ADS_1


"Sama-sama, saya titip dokter Khansa. Tolong jangan ajak bicara yang berat-berat, usia kehamilannya masih trisemester pertama. Masih sangat rentan akan keguguran."


Azka mengangguk tanda mengerti.


Sesuai dengan kesepakatan yang Azka dan Billal bicarakan sebelum masuk, duo laki-laki ini berakting seolah tak terjadi apa-apa.


"Selamat ya Khansa, finally kamu sedang mengandung sekarang. Kamu akan jadi seorang ibu." Ucap Hilal dengan senyum lebarnya.


"Percuma aku menjadi seorang ibu. Karena sebentar lagi aku juga akan menjadi seorang janda." Kata-kata itu terucap lirih.


"Sa,"


"Lihat mataku, lihat wajahku. Sebentar saja. Aku mohon." Ekspresi memohon seorang Azka di pasang. Ingin sekali Azka meraih tangan Khansa, namun keinginannya itu berusaha ia tepis, Khansa hanya milik Ramadhan. Terlebih ada sosok Hilal juga saat ini, dia pasti akan mengecam Azka jika bertindak semaunya kepada Khansa.


Dengan ragu dan takut Khansa memandang pria yang sedari kecil sudah menjadi tumpuan curhatannya. Baik saat Khansa sedih maupun senang, Azka selalu ada untuknya.


"Sekarang hati Khansa maunya bagaimana? Kita harus runding kan sekarang, percayalah Khansa. Kamu tidak akan bisa melawan Pak Wijaya dan Ayah mertua kamu sendiri."


Belum ada sepatah kata yang Khansa jawab, lelehan air mata sudah lebih dulu menyapa.


Dengan sigap Hilal mengeluarkan sapu tangannya, mengusap perlahan air mata yang telah mengalir itu.


"Aku ga tau Ka, aku sangat mencintai kak Ramadhan. Tapi aku juga tidak mau jika harus di poligami. Jangankan untuk di poligami, untuk membayangkan kak Ramadhan di peluk, di cium dan di pandang saat tidur oleh wanita lain- membayangkannya saja aku tak sanggup. Jika keadaannya seperti ini, aku menyesal pernah membuka hati untuk menerima cintanya."


Derai air mata semakin deras.


"Cup jangan menangis Khansa." Hilal terlihat begitu khawatir.


"Jangan sedih terus Sa, ingat- sekarang ada janin di perut kamu. Kalau kamu stres dan sedih, sama saja kamu mengancam keberlangsungan hidupnya."


"Bagaimana caranya agar Pak Wijaya tak terus mendesak Ramadhan untuk menikahi anaknya?" Azka bertanya sekaligus berpikir, sesekali ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Berusaha akan menemukan jawaban disana.


"Bukankah yang diperlukan pak Wijaya hanya status?" Celetuk Hilal membuka pembicaraan


"Maksud kamu? Sekalian yang jelas gitu lo kalau ngomong."


"Set, emosian banget si kamu Ka. Lama-lama kena struk plus darah tinggi kalau kamu begitu terus."


"Malah merembet kemana-mana lagi."


"Kalau yang namanya Pak Wijaya itu hanya mencari status untuk anaknya dinikahi karena hamil, kenapa ga orang lain saja? Yang penting sama-sama di nikahin kan? Misalnya sama kamu mungkin Azka. Kan kamu belum ada pasangan, maksud aku belum menikah jadi ga masalah kan nikahin anaknya itu orang hanya untuk sebuah status. Nanti kalau anak itu sudah lahir bisa cerai." Usul Hilal dengan percaya dirinya.


"Enak aja, kalau kamu suruh aku nikahin Khansa oke-oke aja. Memang aku cinta sama dia, lah ini- kenal aja ga main asal nikahin aja. Emangnya dia ayam, setelah bertelur tinggal pergi terus telornya di jual." Sanggah Azka.


"Astaghfirullah kenapa malah jadi begini, pernikahan itu bukan mainan Azka- Hilal. Pernikahan itu suci dan sakral, sepasang manusia berjanji dengan Sang Pencipta."


Ucap Khansa lirih.


"Ha mau gimana lagi Sa, orang itu yang sudah memaksa kita memandang pernikahan seperti yang ia pandang. Seperti mainan, memangnya kalau Ramadhan yang menikah dengan anaknya itu juga tidak bertujuan untuk sebuah status?"


Tok! Tok!


"Permisi, pasien atas nama bu Khansa. Kita pindah ke ruang perawatan yah."


Deru bunyi roda-roda brankar di dorong mendominasi kesunyian lorong-lorong rumah sakit.


Ceklek!


Posisi orang diruangan itu masih sama.


Ayah , Ibu Ramadhan, Pak Wijaya dan Kinara.


"Astaghfirullah, apa kamu baik-baik saja menantuku?" Ternyata linangan air mata di wajah Ibu Fatima masih saja terus mengalir.


"Khansa..." Ucap Ramadhan lirih.


Kali ini tangan kiri Ramadhan mencoba meraih Khansa, namun terasa begitu sulit.


Bed mereka sengaja di dekatkan, agar mempermudahkan mereka untuk melihat satu sama lain.


"Khansa hamil Ramadhan, usia kandungannya sudah masuk ke minggu 9. Janin di perut Khansa sudah sebesar buah Ceri ini hasil cetak 4 dimensinya." Azka menyodorkan foto itu kepada Bu Fatima dan secara otomatis Bu Fatima menyodorkan ke arah wajah Ramadhan. Air mata bersamaan menetes, dan Fatima memeluk erat Ramadhan.


"Au.. Sakit Bu." Celetuk Ramadhan


"Hehehe, maafkan ibu nak. Ibu terlalu bersemangat akan mempunyai cucu." Senyum kebahagiaan kali ini terpancar dari wajah Bu Fatima.


"Lalu bagaimana dengan pernikahan Kinara, Ramadhan? Waktu saya hanya tinggal besok disini. Kasihan Kinara sedari tadi tidak bisa istirahat dengan tenang!"


Kenapa ga mati aja sekalian biar bisa istirahat dengan tenang, ga ada yang gangguin. Gerutu Hilal di dalam hatinya.


😡😡😡


"Stop Pak Wijaya, Jangan bicara masalah ini didepan Khansa. Dia hampir saja kehilangan bayinya karena psikisnya tertekan!"


Kali ini Azka tak bisa menyembunyikan rasa amarahnya lagi.


"Tapi saya butuh kepastian. Ali! Jawab saya! Saya mau pernikahan anak saya besok di lakukan disini! Pukul 10.00 Titik! Tidak ada perdebatan lagi!"


Sementara Pak Ali mengacak kasar rambutnya, Ali bingung dengan kondisi seperti ini. Di satu sisi dia sayang anaknya, tapi disisi logika lainnya dia juga harus membayar hutang budinya kepada Wijaya.


"Baik, memang tidak akan ada perdebatan lagi pak. Saya rasa sekarang sudah cukup anda terus membicarakan pemaksaan ini dihadapan Khansa. Jika Khansa sakit saya juga sakit.


Segera siapkan pernikahan dengan baik besok. Saya yang akan menikahi Kinara besok! Bukan Ramadhan!"


"Apa?!" Ucap Hilal, Ramadhan dan Khansa bersamaan.


Bukannya merespon sebuah jawaban, Kinara justru keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


Brak! Suara pintu tertutup agak kencang.


Bersambung...


__ADS_2