Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)

Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)
Ikan Tengil Ikan Hiu


__ADS_3

Happy reading❤️


Khansa mengedipkan matanya beberapa kali, matanya berusaha sekuat mungkin untuk menerima pencahayaan yang masuk.


Setelah berperang dengan pengaturan retina didalam matanya, akhirnya Khansa bisa melihat jelas siapa saja yang berada diruangan ini menanti dan memandangnya.


"Dok! Sus! Sahabatku sudah sadar! Tolong segera di cek kondisinya!" Fitria teriak-teriak kegirangan diambang pintu kamar VVIP.


"Ya Allah Fitria, ntu bibir di rem sedikit kenapa. Cablak bener. Masih ingat ga kalau ini rumah sakit?" Yuta yang tengah menggendong Naura yang tertidur tergelitik untuk berkomentar dengan kelakuan sahabatnya ini.


Dokter dan suster yang berlari-lari kecil masuk ke ruangan VVIP itu kini tengah mengecek kondisi dan organ vital Khansa.


"Alhamdulilah, semuanya bagus. Bekas operasi penyambungan usus juga terlihat sudah mengering, segera makan ya- agar bisa segera mengkonsumsi obat dan vitamin. Agar jahitannya cepat sembuh." Karena tertidur terlalu lama, membuat otak Khansa loading dengan ucapan dokter saat itu.


"Sa-sayang," Panggil Ramadhan yang juga berbaring di brankar pasien disamping Khansa.


Ramadhan mengalami gagar otak ringan dan patah tulang lengan kiri sehingga ia juga terpaksa masih harus berbaring di ranjang pasien sementara ini.


Khansa hanya tersenyum simpul, entah masih enggan berkata-kata atau memang masih sulit untuk berbicara.


"Ikan tengil makan ikan hiu..." Ucap Fitria begitu antusias akan berpantun didepan Khansa yang baru saja sadar dari komanya selama 14hari.


"Eh- dodolipet! Ya impossible dong, mana ada ikan tengil makan ikan hiu? Yang ada itu ikan ****** cuma jadi selilit di giginya ikan Hiu." Sanggah Yuta. Dan disambut tawa riang oleh semua orang yang berada di ruangan itu.


"Yuta, keinginan Fitria itu cuma kita tinggal bilang cakep! begitu aja, jadi kita turuti saja apa kemauannya." Hafiz terlihat menjadi pribadi yang terlihat sabar jika berhadapan dengan Fitria sekarang.


"Ya udah deh, Cakep!" Ucap Yuta singkat.


"Telat ah-" Fitria sudah terlanjur ngambek.


Tok! Tok!


"Permisi, saya membawakan makanan untuk pasien."


"Silahkan sus," Fitria menyambut nampan untuk Khansa, sedangkan Hafiz menyambut nampan makanan untuk Ramadhan. Lalu sang suster berlalu pergi.


"Bismillah, baca doa sebelum makan dulu yuk kak Ramadhan." Hafiz memang lebih muda, tapi ia terlihat sudah begitu kompeten untuk menjadi seorang suami atau pemimpin keluarga kecil, Fitria membatin demikian.


"Ehem, jagalah pandanganmu kepada yang belum halal untukmu." Kak Ramadhan memergoki Fitria yang memandang dalam seorang Hafiz. Hafiz terkekeh dengan wajah Fitria yang langsung pucat pasi.


"Ayo makan Khansa," Fitria menyodorkan sesendok nasi dan sayur diatasnya.


"Sinta dimana Fit? Hilal dimana Yut?"


Pertanyaan itu sontak membuat Ramadhan yang tengah mengunyah makanan tersedak.


"Pelan-pelan bang, ini diminum dulu." Hafiz menyodorkan segelas air putih. Dengan kecepatan badai, air putih itu kini tandas tak bersisa.


Ruangan mendadak menjadi hening tak ada sedikitpun suara. Sementara Fitria mencuri-curi start agar Khansa makan beberapa suap terlebih dahulu.


"Nanti Yuta akan ceritain semuanya beb, tanpa ada yang tertinggal sedikitpun. Tapi dengan syarat ini makanan habis dulu."


Kampret emang dodolipet satu ini, kenapa harus gue yang jelasin sendiri ke Khansa. Batin Yuta menggerutu sambil menunjukan senyum masam dan mengancamnya ke arah Fitria.

__ADS_1


Tanpa menaruh rasa curiga Khansa benar-benar menghabiskan makanannya begitu saja.


"Obatnya nih minum dulu, biar ebeb gue cepet sembuh. Bosen tau lama-lama di rumah sakit."


Fitria berekspresi bermuka sebal, Khansa hanya tersenyum simpul melihat kelakuan sahabatnya itu. Dan sesekali melirik suaminya yang berada disebelah kanannya.


"Sudah habis semua, mana Sinta? Ajak aku ke kamarnya yuk. Boleh ya kak Ramadhan?"


Tak ada jawaban dari Ramadhan, hanya tatapan sendu jawaban dari suaminya itu.


"Beb, sebelumnya aku mau minta maaf. Sekalipun aku tidak mendapatkan maaf darimu, aku akan tetap meminta maaf."


"Maaf untuk apa Yuta? Yang lalu biarlah berlalu."


Sreeet! Hafiz menggeser brankar milik Ramadhan mendekat kearah Khansa, kali ini Ramadhan bisa dengan mudah menggenggam tangan istrinya. Tangan seputih susu bertambah pucat karena koma 14hari.


"Maaf jadi memotong pembicaraan yang sedang serius." Ucap Hafiz tenang.


"Sebenarnya Hilal tidak pernah mengkhianati kamu Khansa, aku sama seperti almarhum Sinta. Cinta begitu membutakan mataku dan rasa ingin memiliki Hilal begitu menggebu-gebu, hingga akhirnya aku mempunya cara licik. Menjebak Hilal saat itu dan mencekoki Hilal dengan obat perangsang.


Aku malu padamu Khansa, dan aku juga tak pernah mendapatkan kata maaf dari Hilal. Bahkan Allah juga menegurku dengan memberikan Naura sakit yang memaksa hidupnya tidak akan lama😭😥" Pipi yang sedari tadi kering sekarang sudah banjir.


"Itu namanya sudah takdir Yuta, karena jodohku bukan Hilal, melainkan kak Ramadhan. Jika Hilal tak bersamamu, mungkin aku tidak bisa bersama kak Ramadhan sekarang. Tunggu-tunggu! Almarhum Sinta?!" Setelah sekian detik, otak Khansa baru loading.


"Iya, Sinta sudah ga ada Khansa😥."


"Innalilahi wainnailaihi rojiun😭,"


"Kita doakan saja yang terbaik untuk Sinta, semoga diampuni dosa-dosanya dan diterima segala amal baiknya. Khansa, peyuk😭 kamu maafin aku kan?" Ucap Yuta sedih bercampur manja.


Khansa menitikan air matanya sedari tadi. Dadanya terasa sesak, ia tak secara langsung juga kembali mengingat puzzle-puzzle kenangan saat ia kehilangan Abah dan Umi.


Khansa dsn Yuta berpelukan, saling menguatkan satu sama lain.


"Setelah mendonorkan sebagian usus halusnya kepadamu, Hilal pergi Khansa. Ia merasa sangat bersalah dan malu kepada kamu dan kak Ramadhan. Ia hanya meninggalkan sepucuk surat ini, dan menitip Naura kepada kita berdua. Entah sampai kapan, mungkin sampai ia sanggup berhadapan kembali dengan kamu dan kak Ramadhan?" Yuta berpendapat.


"Mau dibaca sekarang?" Tanya Ramadhan kepada istrinya.


Khansa mengangguk, "Boleh kak?"


"Tentu boleh," Jawab Ramadhan mantap.


"Tunggu Khansa, sepertinya Fitria, aku dan Yuta mendadak ada urusan penting. Kita pergi dulu ya-" Hafiz mengedipkan mata ke arah Yuta dan Fitria memberi kode.


"Akh- iya-iya aku juga pengen makan gado-gado, bang Hafiz kan janji mau traktir, hehehe."


"Iya-iya badan udah kaya bakso beranak gitu juga tetep makanan aja yang dipikirin,"


"Ya udah deh, males."


"Selain badan seperti bakso beranak, ternyata Fitria baperan juga ey, hahahahaha." Yuta tambah meledek.


"Kalian berdua ngeselin, pokoknya aku pundung sekarang."

__ADS_1


"Ayo-ayo pundungnya di simpen dulu buat nanti dijalan."


...****************...


Jika inilah akhir cerita kita


Bila kau bahagia aku kan bahagia


Jaga dirimu nanti saat ku tak ada


Sama seperti ketika aku meninggalkanmu dulu


Jika ini yang bisa ku lakukan untukmu


Aku bisa menatapmu


Tanpa perlu kau merasa bersalah


Bila kamu bahagia


Aku juga akan bahagia


Jaga dirimu


Setelah aku pergi


Kamu berhak bahagia Khansa...


Maafkan Sinta


Maafkan aku


Karena ulah kami berdua, kalian menderita.


Aku memang tak berhak mempunyai raga dan hatimu lagi Khansa...


Aku tak pantas


Aku sudah mengikhlaskan kamu dengan Ramadhan


Berbahagialah bersamanya


Segera miliki anak-anak yang cantik seperti kamu


Dan tampan seperti Ramadhan


Oya jika Ramadhan, menyakiti kamu


Langsung bilang sama aku


Aku sendiri yang akan menghajar Ramadhan, ya walaupun ujung-ujungnya aku yang bonyok heehehehe...


Khansa dan Ramadhan tertawa dan berpelukan bersama

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2