
Silahkan kasih vote di novel receh ini ya teman-teman. Bagi yang sudah memberikan like, comment dan vote saya mengucapkan terima kasih.
Happy reading❤️
Kegelisahan menghantui isi hati Fitria sebenarnya malam itu. Tapi ia tak bisa berbuat banyak. Nomor ponsel Boby benar-benar mati tak bisa dihubungi.
Malam itu Fitria mencoba mencari Boby ke apartemennya, namun ia sudah menekan bel beribu-ribu kali tak kunjung jua ada sosok Boby membuka pintu apartemennya.
Fitria bingung harus menceritakan hal ini kepada siapa. Jika harus menelpon Khansa untuk bertanya kepada kak Ramadhan dimana posisi Boby, Fitria sungguh sangat malu.
Sesekali nya Khansa mengirim pesan kepadanya hanyalah info jika dia tidak bisa praktek pagi.
"Ya sudahlah, mungkin aku akan tunggu Boby menghubungiku esok hari. Entah kenapa aku begitu mengkhawatirkannya kali ini, walaupun ia bukan anak kecil lagi sebenarnya." Fitria berbicara pada hatinya sendiri.
...****************...
"Kejujuran dan kebenaran tentang apa yang kak Ramadhan butuhkan dariku? Selama jalannya perjodohan dan pernikahan wasiat ini aku tidak pernah menyembunyikan dan berbohong apapun kepada kak Ramadhan. Justru kak Ramadhan yang banyak menyembunyikan sesuatu dariku." Khansa memicingkan matanya kearah suaminya yang seolah menuduhnya akan suatu hal.
"Sepertinya aku salah telah memberimu air kelapa utuh satu buah seperti ini. Kamu jadi punya kekuatan untuk menatapku dengan tatapan menerkam seperti singa kepadaku."
Elak Ramadhan yang kali ini dirinya terpojok oleh tatapan itu.
"Sejak kapan kak Ramadhan membuntuti ku?"
"Sejak awal kamu keluar dari rumah tanpa izin terlebih dulu kepadaku."
Khansa hanya terdiam, tak ada kata-kata yang tercerna didalam otaknya untuk menyanggah hal ini.
"Aku akan bertanya banyak pertanyaan kepadamu, bisakah kamu bersumpah akan menjawabnya dengan segenap kejujuran yang ada pada dirimu?"
"Tanpa disuruh bersumpah juga akan ku jawab dengan jujur, terus saja dingin seperti ini kepadaku kak Ramadhan. Jangan salahkan aku jika cintaku kepadamu aku tarik kembali dari hatiku." Khansa mencoba mengancam suaminya yang sudah keterlaluan dingin sikap ini.
"Apa sebelum menikah denganku, kamu sudah pernah tidur dengan pria lain?"
Khansa refleks berdiri, tapi desir aliran darahnya seolah macet. Jalur peredaran darahnya tiba-tiba lampu merah semua, motor-motor yang membawa aliran oksigen dalam darahnya otomatis berhenti. Hal itu cukup untuk membuat Khansa duduk kembali ditempat awalnya.
Tangan Khansa bergetar, ubun-ubun dikepala-nya serasa beku. "Jadi alasan kak Ramadhan berubah sikap kepadaku, karena kak Ramadhan menuduhku sudah tidak perawan? Menuduhku pernah tidur dengan pria lain? Astaghfirullah, hal yang pernah aku takutkan dulu ternyata benar terjadi." Hujan lokal langsung turun di wajah cantik Khansa.
"Aku tak menuduh, aku hanya bertanya Khansa."
__ADS_1
"Apa bedanya? Jika kak Ramadhan hanya bertanya seharusnya tak perlu menjauhiku seperti ini!"
Khansa yang sudah kehilangan kesabaran berpikir jika sejauh apapun ia menjelaskan, pasti suaminya tidak akan langsung percaya begitu saja dengan penjelasannya.
Ia langsung merogoh isi tasnya dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
📞 Assalamualaikum Azka,
📞 Wa'alaikumsalam Khansa, apa kamu tengah menangis? Kamu dimana? Apa yang terjadi denganmu? Share lokasi, aku akan segera menjemputmu.
Oh Azka, bahkan sikapmu sedari dulu tak pernah berubah padaku.
Kamu selalu mengkhawatirkan keadaanku jika aku menangis.
Aku wanita yang tak tahu diri ini bahkan tidak tahu bagaimana cara berbalas Budi kepadamu hingga kini 😭😭😭
Khansa mengusap kasar pedihnya air mata yang terus saja bercucuran.
📞Aku tidak apa-apa Azka, aku butuh alamat Hilal. Dimana dia berada jam segini? Rumah atau kantor? Tanya Khansa penuh keraguan.
📞Aku hubungi Hilal dulu, untuk memastikan dia dimana. Nanti langsung aku share lokasi dia Khansa. Jangan menemuinya sendiri, sebentar lagi jam praktek aku selesai. Aku akan menemani kamu menemui Hilal.
Sambungan telepon ditutup sepihak oleh Khansa.
"Kak Ramadhan butuh kejujuran dan kebenaran bukan? Aku tidak akan menjelaskannya sendiri. Hilal yang akan menjelaskannya langsung pada kak Ramadhan, ikuti mobilku dari belakang." Ucap Khansa dingin dan meninggalkan lebih dulu pria tampan yang masih tegak berdiri menanti sebuah jawaban itu.
Kenapa harus mencari Hilal Khansa?
Siapa lagi Hilal?
Setelah Hafiz dan Azka kini bertambah satu nama pria yang harus Ramadhan ingat-ingat yaitu Hilal.
Seharusnya bisa kamu jelaskan sendiri kepadaku tanpa perlu adanya campur tangan orang lain Khansa.
Ramadhan langsung berlari menuju mobil Khansa, beruntung istrinya belum melajukan mobilnya itu.
Brughh!
Pintu ditutup sedikit kencang lalu di kunci otomatis oleh Ramadhan, dan ia langsung menyambar- merebut kursi kemudi dari Khansa.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan kak Ramadhan? Kamu punya mobil sendiri, kenapa kamu merebut kursi kemudi-" Khansa yang belum selesai bicara itu, terpaksa tak dapat melanjutkan kata-katanya lagi.
Bibirnya menjadi target utama sambaran penuh kilat dari seorang Ramadhan.
Gairah besar begitu mengisi batin Ramadhan kala itu
Tak ia sadar dalam pelukan hangatnya membelai tubuh Khansa yang bergetar hebat
Membuatnya terhanyut dalam arus keindahan dibagian bibirnya
***** yang begitu tajam membasahi mulutnya
Seakan mengajak Khansa untuk masuk lebih dalam lagi
Dengan kedekatan yang semakin menjadi
Dan tak terasa bibir menyatu
Sentuhan bibirmu, membuatku melayang
Dunia pun berubah seakan surga. Amarah yang beku seolah mencair di peraduannya.
Khansa dan Ramadhan justru larut dalam ciuman yang tadinya bertemperatur dingin menjadi temperatur panas.
Awas diatas 37° indikasi terkena virus corona😁☺️
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Meneladani sikap Rasulullah dan istrinya, dalam buku Kisah-Kisah Romantis Rasulullah, diceritakan suatu ketika Aisyah berbicara keras dan lantang kepada Rasulullah dari balik kamar. Abu Bakar as-Siddiq yang saat itu bertamu ke rumah Rasulullah tahu kalau anaknya, Aisyah dan menantunya yaitu Nabi Muhammad SAW sedang bertengkar.
Mendapati hal itu, Abu Bakar meminta izin Rasulullah untuk menemui putrinya. Ketika Aisyah sudah di hadapannya, dia mengangkat tangan hendak memukul Aisyah karena sikapnya tadi. Namun, Rasulullah mencegah hal itu.
Keesokan harinya, saat dia datang lagi ke rumah mereka terlihat jika Aisyah dan Rasulullah sudah berbaikan. Mereka tidak lagi berselisih seperti kemarin.
Diceritakan juga bahwa suatu ketika, Rasulullah marah kepada Aisyah karena satu-dua hal. Lalu, Rasulullah meminta Aisyah menutup mata dan mendekat. Seketika hal itu membuatnya cemas karena mengira akan dimarahi Rasulullah. Tapi ternyata ketakutannya tak terbukti.
"Khumaira ku (panggilan sayang Rasulullah untuk Aisyah) telah pergi rasa marahku setelah memelukmu," Ucap Rasulullah.
Dari kisah di atas, bisa dipetik hikmah sikap bijaksana suami saat istrinya marah. Pertama, tidak melibatkan orang lain. Kedua, menghilangkan kemarahan dengan mendekap istrinya.
__ADS_1
Semoga kita bisa banyak belajar dan meneladani rumah tangga rasulullah hingga bisa mengaplikasikannya kepada kehidupan rumah tangga kita setiap harinya.