Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)

Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)
Membuat Braised Chicken in Coconut Milk (Opor Ayam)


__ADS_3

Sesuatu yang kita harapkan, kita inginkan, belum tentu akan terjadi. Kehidupan tidak akan mungkin berjalan sesuai dengan keinginan kita. Bukan hidup di dunia namanya jika kita tak punya masalah apapun, hidup lancar dan aman-aman saja. Itu tidak mungkin, hanya orang mati saja yang merasa demikian.


Kata demi kata terlontar begitu saja dari bibir Bude yang menasehati dan menyemangati Khansa.


Khansa yang tetap tenang berkutat di dapur, memasak Opor Ayam seperti yang ia masak kala itu. Sejuta harapan ia tumpu pada sebuah sajian Braised Chicken In Coconut Milk.


"Wah, sahabatku benar-benar fokus kalau sudah berhubungan dengan masak-memasak nih," goda Fitria ditengah-tengah suasana dapur yang begitu tenang itu.


"Fitria ...."


"Hmm ...."


"Dulu, cita-citaku ingin menjadi dokter ... agar aku bisa menyembuhkan luka banyak orang."


"Ya sama, aku juga kali Khansa," perhatian Fitria kini terpusat penuh pada sang sahabat.


"Kalau sekarang alasanku sudah sedikit berbelok,"


"Jadi apa tuh?" kening Fitria kini mengernyit.


"Alasanku menjadi dokter sekarang, karena keinginanku hanya ingin menyembuhkan luka dan membahagiakan sayang aku ... Kak Ramadhan," dengan seulas senyum menyungging di bibir Khansa.


"Aku mual Khansa, kayanya bukan Ramadhan aja yang terserang amnesia ini. Kamu juga kayanya Sa, terserang amnesia menjurus ke bucin, hahahaha." Fitria beranjak dari tempat duduknya, menyambar air mineral dari dalam kulkas lalu segera meminumnya.


Mata Khansa terlihat berkaca-kaca setelah Fitria berkata demikian, Fitria yang menyadari bahwa ada perubahan mimik pada wajah Khansa langsung berhambur mendekatinya.


“Aku ada salah ngomong ya?”

__ADS_1


“Ga kok, kamu ga salah ngomong Fit. Aku yakin Allah tidak akan membebani hambanya melebihi kesanggupannya, aku yakin … suatu saat nanti, ingatan suamiku pasti kembali.”


Bulir-bulir air mata itu luruh begitu saja, namun secepat mungkin Khansa menyekanya. Berharap, jika ia dengan cepat menyeka air matanya. Maka ia dengan cepat pula menyapu kenyataan pahit dan kesedihannya tentang suaminya yang sama sekali tidak mengingatnya.


"Bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin kan Khansa? Sesuatu yang terkadang kita anggap sangat tidak mungkin untuk terwujud, akan bisa dengan mudah Allah wujudkan jika kita yakin akan kuasa-Nya."


"Benar Fit, ni by the way udah mateng. Coba cicip dulu yuk." Secara bergantian Khansa dan Fitria mencicipi rasa dari opor ayam itu.


"Wah, enak banget Khansa ... ih- aku jadi ngiri deh. Kamu udah pintar masak sekarang,"


"Bisa aja deh, maaf aku ga punya uang receh Fit. Buat kasih tips ke kamu."


"Asem, kalau ga ada uang receh. Uang gede juga ga apa kok, dengan senang hati aku menerimanya ... ahahahaha," tawa kecil pecah dari kedua wanita beralis tebal itu.


Aroma harum masakan yang sudah matang itu memenuhi seluruh isi rumah, "Khansa, aku boleh makan ga? Laper nih ...." Fitria bertanya sambil memegangi perutnya yang mulai keroncongan.


"Ga usah Sa, aku bisa ambil sendiri." Fitria setengah berlari meraih sebuah piring, lalu perlahan mulai mengisi piring kosong itu dengan beberapa sendok nasi.


Deringan ponsel memecah keheningan di area dapur, Khansa melirik ke arah ponsel Fitria yang tergeletak di dekat kulkas.


"Fit, telepon dari Azka," ucap Khansa memberitahu kepada sang pemilik ponsel.


"Angkat aja dah, aku nanggung maem."


"Okey,"


Khansa dengan segera meraih ponsel Fitria, menekan tombol hijau untuk menerima panggilan masuk tersebut.

__ADS_1


"Hallo assalamualaikum Fit,"


"Waalaikumsalam Azka, ni aku Khansa."


"Oh, Sa. Gimana? Udah mateng? Aku udah selesai salat jumat nih, laper." Samar-samar Khansa bisa mendengar jika suara pria di ujung telepon sedang terkekeh lirih.


"Sudah matang Azka, ini Fitria juga lagi makan. Kamu kesini yah, makan dulu. Baru kita balik ke rumah sakit."


"Okey, siap tuan puteri. Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam." Betapa terkejutnya Khansa ketika sambungan telepon telah terputus.


Foto Boby masih terpampang jelas pada layar utama ponsel milik Fitria itu. Khansa kira jika Fitria sudah benar-benar melupakan Boby, tapi ternyata dugaannya telah salah.


"Ehem, fotonya masih ada di galeri ... masih jadi wallpaper di layar utama, tapi sayang. Orangnya sudah pergi tuh ...." Khansa meledek Fitria sambil menyiapkan satu porsi nasi beserta opor ayam untuk Azka. Lalu meletakan ponsel milik Fitria kembali di meja.


"Uhuk ... uhuk ... uhuk ...."


Fitria langsung tersedak dengan makanan yang masih ia kunyah.


"Khansa ...! Lo liat fotonya Boby ya? Mampus dah gue, please jangan bully gue Sa ...." Dengan pipi merah padam menahan malu Fitria berteriak-teriak.


*Bersambung ...


Jangan lupa untuk support author dengan like and comment di setiap bab-nya yah ...


Terima Kasih ...🙏🙏🙏*

__ADS_1


__ADS_2