
Empat belas hari berlalu ...
Di ruangan bercat putih, berukuran 3×4 meter. Menjadi saksi bisu masa-masa Ramadhan dirawat. Segala upaya dilakukan oleh para dokter-dokter ahli di rumah sakit itu. Tapi tetap saja, hasil akhir Allah yang menentukan.
Berurai air mata, napas dalam rongga dada sesak. Khansa menatap dalam-dalam pada suaminya yang baru saja siuman dari lima menit yang lalu, sang suami belum melakukan respon atau pergerakan apapun.
Dia hanya memandangi satu persatu orang yang berada dalam ruangan tanpa ekspresi apapun. "Kalian semua siapa?" di dalam ruangan itu ada beberapa orang yang terdiri dari Khansa, Fatimah, Hilal dan Hafiz.
"Kenapa kalian semua memandangku dengan tatapan seperti itu? Apa saya membuat masalah besar?" tanya Ramadhan lagi seolah ingin memastikan.
Dokter yang menangani operasi tempurung kepala Ramadhan langsung melakukan pemeriksaan menyeluruh. Ramadhan sama sekali tidak mengenali orang-orang di sekelilingnya.
Ramadhan mengalami Transient global amnesia Penderita jenis amnesia ini akan mengalami hilang ingatan secara total untuk sementara, dan dalam kasus yang parah juga sulit membentuk ingatan baru. Ini adalah kondisi yang sangat jarang terjadi. Para ahli berpendapat bahwa jenis amnesia ini terjadi sebagai akibat dari kejang, benturan yabg sangat keras atau penyumbatan singkat dari pembuluh darah yang memasok otak.
"Apa ini akan permanen atau hanya sementara dok? Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mengembalikan ingatannya kembali?" tanya Hilal yang semakin cemas dengan kesehatan fisik dan psikis Khansa menghadapi masalah pelik yang baru ini.
Dokter tidak bisa memberikan jawaban pasti untuk case seperti ini. Karena memang tidak ada jawaban pastinya.
__ADS_1
"Tetap jalani terapy pengobatan yang ada, dan tetap berusaha semaksimal mungkin melakukan usaha pendekatan, tentu tak lupa juga memohon kepada Sang Maha Kuasa. Terutama sang istri, karena sementara ini. Hanya ini yang bisa kita usahakan dan lakukan," ujar dokter memberi penjelasan segamblang dan sebaik mungkin agar dapat diterima dan dimengerti oleh para keluarga.
Dengan langkah lunglai Khansa keluar dari ruangan dokter tanpa pertanyaan apapun. Hilal hanya bisa mengikuti langkah kecil itu dari belakang. Ia ingin sekali memeluk dan merengkuh Khansa, hanya sekadar ingin mentransfer kekuatan kepada sahabat sekaligus cinta pertamanya itu.
"Assalamualaikum kak Ramadhan," ucap Khansa menyapa suaminya dan memegang kedua tangannya.
"Waalaikumsalam." Mimik wajah pria itu sangat datar, tanpa ekspresi sedikitpun menjawab salam dari Khansa. Perlahan ia melepaskan genggaman tangan Khansa. Berbicaralah, tanpa perlu menyentuh. Kamu seorang wanita, jagalah batasan-mu terhadap laki-laki.
"Bagaimana bisa kak, aku harus menjaga batasan ku terhadap suamiku sendiri?"
Ya Tuhan ... rasanya sangat sakit, Khansa bermonolog di dalam batinnya.
Dua tetes air mata jatuh berguguran di wajah ayu milik Khansa. Ini lebih menyakitkan, dari pada teriris pisau. Ini lebih membingungkan dari pada harus mencari alamat baru di sebuah google map. Ini lebih menyesakkan dada, dari pada terhimpit batu karang.
"Aku bahkan tidak mengingat kapan aku menikah? Dan satu lagi, aku sendiri bahkan tidak ingat namaku." Datar memang, tapi sangat menghujam relung hati yang terdalam.
Tak tega melihat Khansa sudah pada posisi yang begitu menyakitkan, Fatima mencoba membantu meluruskan.
__ADS_1
"Ramadhan, ini Mama. Seorang wanita tua yang sudah melahirkan kamu dulu. Mama percaya, kita terlahir di dunia ini dengan polos tanpa busana satupun. Dan kelak kita akan menghadap Sang Pencipta juga demikian.
Dan bagaimanapun keadaan anaknya, seluruh ibu di dunia ini pasti akan merentangkan kedua tangannya selebar mungkin untuk menerima sang anak. Mama tidak akan meminta apapun dari kamu nak, Mama hanya akan menunggu kamu. Tapi jika Mama boleh memohon, terlepas kamu tidak mengingat apapun. Bukalah sedikit hati kecil Ramadhan untuk mau menerima istri Ramadhan. Kita semua pamit ya, sementara Ramadhan di sini bersama Khansa dulu," ucap Fatima panjang lebar, berharap sang anak akan sedikit mengerti dan pelan-pelan akan mengingat semuanya kembali.
"Assalamualaikum ...." Fatima, Hilal dan Hafiz pamit mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam," Jawab Ramadhan dan Khansa datar.
Kini hanya mereka berdua yang berada di dalam ruangan itu. Sunyi, saling diam satu sama lain. Tak ada yang ingin membuka percakapan lebih dulu. Tak ada yang ingin memulainya lebih dulu.
"Turunkan sedikit ego-mu Khansa, jika terus seperti ini. Kalian berdua akan semakin sulit bersatu." Khansa bermonolog sendiri.
"Sekarang aku mengerti kak Ramadhan, perjalanan hidupmu bagaimana untuk sekadar sampai mencapai titik ini. Maka izinkanlah aku membasuh semua luka dan ketidakpahaman ini bersama. Aku yakin, kak Ramadhan akan segera mengingatku kembali," ucap Khansa sambil menyodorkan sesuap makanan ke hadapan Ramadhan.
Keningnya berkerut, ada tatapan yang tak dimengerti Khansa di sana. "Sudah cukup, aku akan mencari kebenarannya sendiri. Dan satu lagi, aku bisa menjaga dan mengurus diriku sendiri." Ramadhan menyingkirkan sodoran suapan itu, dan mengambil satu majalah yang berada di atas Nakas.
"I'm sure one day you will love and remember me again Ramadhan," Lagi dan lagi Khansa hanya bisa bermonolog sendiri dengan uraian air mata yang tak sedikitpun Ramadhan melihatnya.
__ADS_1
Bersambung ...