
Happy Reading❤️
Hari dan malam yang berat telah berlalu
Air mata dan sesak di dada juga terkikis
Sang mentari masih malu-malu untuk nampak,
Adzan subuh juga telah berkumandang setengah jam yang lalu.
Perlahan-lahan Khansa membuka matanya,
pandangannya mengedar ke penjuru ruangannya.
Nampak Fitria tengah melaksanakan shalat subuh.
Khansa meraih segelas air yang berada di Nakas. Meneguk dengan penuh gairah yang memburu dalam hitungan detik.
Khansa mencoba mencabut jarum infus yang dengan santainya menancap pada lengan mungilnya, "Aakkhhh," Terlihat sepele, tapi perih juga jika di paksa cabut.
Langkah kecil kakinya masih gontai menyusuri ruang inapnya menuju ke kamar mandi.
Khansa segera membersihkan badannya, mengambil air wudhu lalu melaksanakan shalat Subuh seperti yang telah Fitria lakukan.
Setelah Khansa selesai melaksanakan shalat subuh, Fitria memberanikan diri untuk membuka percakapan. "Khansa, kak Ramadhan baru saja siuman. Dia menanyakan keadaanmu, jika kamu sudah merasa lebih baik apa sekarang saja kita ke ruangannya?"
Walau tak dipungkiri jika itu juga hanya modus Fitria yang sudah kangen ingin melihat kekasihnya Boby. Pribadinya yang cerewet dan suka bercanda sementara Fitria tahan terlebih dahulu, melihat keadaan Khansa yang terlihat lebih pendiam dan murung. Fitria takut jika candaannya nanti justru membuat Khansa semakin kesal.
"Tidak, aku tidak mau melihat kak Ramadhan. Aku mau melihat Hafiz," Ucap Khansa datar sambil melipat kembali mukenah yang telah ia pakai baru saja.
"Ta-tapi, suami kamu itu kak Ramadhan, Khansa. Bukan Hafiz, apa kamu tidak khawatir kepadanya?" Fitria tercekat mendengar jawaban Khansa yang diluar dugaannya.
Khansa melirik tajam Fitria, "Apa aku terlihat sedang meminta persetujuan mu? Ini hidupku, kemana kaki ku melangkah itu adalah tanggung jawab dan keinginanku sendiri. Aku sudah muak dengan aturan-aturan dunia ini."
Khansa berjalan ke arah pintu tanpa memandang arah pintu, Reza sudah berdiri diambang pintu sedari tadi.
"Kak Ramadhan adalah suami kamu Khansa. Kemanapun kaki kamu berpijak, jika tanpa izin darinya sungguh dosa sekalipun kamu melakukan kebaikan didalamnya."
Tatapan tajam Reza memandangi gelagat sahabat yang sekarang menjadi kakak iparnya itu.
"Seperti itukah? Kalau begitu aku akan bercerai dari kak Ramadhan secepatnya." Khansa tak peduli dengan keberadaan Reza, ia tetap menerobos keluar menuju ruangan Hafiz.
"Astaghfirullah Khansa," Fitria sangat terkejut dan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Fitria berlari mengejar Khansa dan meninggalkan Reza sendiri yang masih berdiri mematung di pintu.
Khansa memutuskan untuk mengintip dari jendela, melihat Hafiz sedang bercengkerama dengan dua sosok perempuan bermata teduh dan sayu. Dari percakapan mereka, Khansa bisa menyimpulkan bahwa kedua perempuan itu adalah Ibu dan adik Hafiz.
__ADS_1
Mereka yang sudah selesai berkemas, berjalan menyusuri lorong-lorong dan pergi dari rumah sakit.
Dengan menggunakan Taxi Online Khansa membuntuti keluarga kecil itu dari belakang.
Fitria berlari-lari mengajak Reza untuk membuntuti kemana Khansa pergi.
Ternyata Hafiz berhenti di taman pemakaman Kristen mumbul.
Mereka bertiga duduk didepan pusara sebuah makam dan meletakan beberapa buket bunga diatasnya.
"Halo ayah, apa kabar ayah? Ayah sekarang sedang apa disana? Maafkan Hafiz yang telat mengunjungi ayah.
Ayah bisa lihatkan, kalau jagoan ayah ini habis berperang melawan ******* cyber. Aku dengan gagah berani melawan mereka satu persatu yah, dor dor dor hehehehe. Ayah sudah tentu tahu jika anakmu ini pengecut dan penakut." Hafiz tertunduk kebawah.
Khansa tersenyum kecil melihat kelakuan pria yang diam-diam ia buntuti itu.
Lalu sang ibu mendongakkan kembali wajah putra tersayangnya itu dengan lembut, "Siapa bilang anak mama pengecut? Putra kita yang satu ini sangat membanggakan bangsa dan negaranya ayah, ayah sekarang harus segera memberi perintah kepada putra ayah yang sudah dewasa ini untuk menikah. Mau sampai kapan ibu dan Alena kesepian dirumah, melihat kelakuan putra tampan ku ini yang jarang pulang dan keluyuran."
"Entahlah ma, wanita yang Hafiz cintai sudah menjadi istri orang lain. Jadi lebih baik ayah menunggu Alena saja untuk memberi perintah menikah, Hafiz masih butuh waktu untuk menyembuhkan hati. Dan ayah, apa memang selalu begini nasib kita jika menjadi seorang hacker? Diburu sana sini dan nyawa seolah selalu tidak aman? Aku akan menjadi dokter saja seperti wanita pujaan ku yah, Insyaallah nyawaku, nyawa ibu dan Alena tidak akan terancam lagi."
"Beri tahu ayahmu, siapa nama gadis yang membuat putra mama ini tidak menikah-menikah hingga mendekati expired, hehehehe." Ibu bermata sayu itu mengusap pundak putranya dengan lembut.
"Ayah sudah tahu ma, gadis itu bernama Khansa. Adiba Khansa Az-zahra nama yang begitu cantik, secantik sang pemilik namanya."
Tak sengaja Khansa menginjak ranting pohon yang berada dibelakangnya, sontak suara itu membuat Hafiz, ibu dan adiknya menoleh ke arahnya.
"Khansa?" Hafiz heran, ia tak menyangka jika Khansa juga berada disana.
"Ayah, Hafiz pamit dulu ya. Ternyata wanita pujaan hati Hafiz juga berada disini, tunggu kedatangan Hafiz lagi ayah."
Hafiz, ibu dan adiknya langsung menghampiri Khansa yang berdiri tak jauh dari lokasi mereka.
"Assalamualaikum Khansa, perkenalkan ini Ibu Almira beliau ibuku yang sudah mengandung dan melahirkan putra tampan sepertiku. Dan ini adikku Alena yang super duper cerewet melebihi aku."
"Kakak!" Alena tak terima perkenalannya dengan orang baru sudah lebih dulu di jelek-jelekan oleh kakaknya itu.
Senyum mengembang dibibir Khansa lalu menyalami satu persatu ibu dan adik Hafiz.
"Khansa," Almira senyum sumringah melihat wajah ayu Khansa, putranya benar-benar tak salah dalam memilih seorang wanita.
"Almira, Alena." Alena tiba-tiba saja memeluk Khansa begitu erat.
Khansa terkejut, tiba-tiba Alena memeluknya begitu erat. Setahu Khansa, ini adalah pertama kalinya ia berkenalan dan bertemu dengan Alena.
"Aku sangat kagum kepada kak Khansa, aku sering melihat seminar-seminar kakak di setiap universitas atau acara-acara pribadi. Setiap event yang narasumbernya ada nama kakak, pasti aku ikut hadir bersama kak Hafiz. Aku termotivasi dengan banyak hal-hal baik yang kakak lakukan, ikut berkecimpung langsung dalam setiap kelahiran baru di dunia ini.
__ADS_1
Tahun ini aku akan lulus SMA dan akan masuk di Universitas Udayana seperti jejak kakak dulu."
"Wow very great." Senyum simpul seakan menjadi jawaban penyemangat dari Khansa.
"Sudah, sudah kita lanjutkan bincang-bincangnya dirumah saja. Matahari sudah mulai terik, nak Khansa tidak keberatan jika mengunjungi gubuk kecil kami?" Almira mengajak wanita cantik itu untuk mengunjungi rumahnya agar bisa mengenalnya lebih jauh.
Khansa mengangguk, senyum lebar menghiasi bibir Hafiz kali ini. Satu langkah ia merasa bisa lebih dekat dengan Khansa.
Fitria yang hendak menghampiri Khansa ditahan oleh Reza, "Biarkan saja Khansa sementara pergi dengan keluarga Hafiz, mungkin ia sedang butuh suasana orang-orang baru untuk sedikit mengobati luka traumanya Fitria."
"Lalu bagaimana dengan kak Ramadhan yang terus menanyakan istrinya Reza?" Fitria mulai merasa kasian dengan kondisi Ramadhan yang sama sekali tak diperhatikan oleh istrinya sendiri.
"Biar nanti aku yang jelaskan baik-baik kepada kak Ramadhan, keadaan yang memaksa mereka menyembuhkan luka mereka masing-masing." Walau sejujurnya Reza sendiri juga merasa terluka, ia juga baru tahu jika sang kakak adalah seorang detektif.
Selama ini sang kakak sering menghilang tak jelas, ternyata ia menyembunyikan pekerjaan yang berbahaya dibalik itu semua.
...----------------...
Moms, setiap berpergian wajib kamu lakukan untuk izin terlebih dulu dengan suami. Kalau suami enggak mengizinkan, jangan coba-coba untuk membantahnya ya. Kalau kamu melanggar, ini adalah salah satu perbuatan dosa yang sudah kamu lakukan.
Sabda Rasulullah Shallahu alaihi wasalam: "Siapa saja perempuan yang keluar rumahnya tanpa ijin suaminya dia akan dilaknat oleh Allah sampai dia kembali kepada suaminya atau suaminya redha terhadapnya." ( HR. Al Khatib ).
Seorang istri harus izin kepada suaminya untuk keluar rumah termasuk untuk ke rumah orang tuanya.
Begitu beratnya menjadi seorang istri. Jadi kepada para suami, mohon jangan ada pikiran terlintas sedikitpun untuk menyakiti sang istri ya.
Semoga rumah tangga kita semua selalu berada dalam lindungan-Nya.
...Cerbung...
...Hai semuanya!...
...Salam hangat dari penulis recehan, alias remahan rengginang yang masih gurih untuk jadi cemilan....
...Tolong tinggalkan jejak kalian disini ya, klik Like, comment dan Votenya. Mmm- Hadiahnya juga boleh kali ya....
...Jika berkenan jangan lupa untuk mampir juga di karyaku yang lainnya yang tak kalah serunya ya....
↘️↘️↘️↘️↘️↘️↘️
...~Terjebak Pernikahan Mr Bule Di Bali...
...~Siapakah Jodohku?...
...~Obsesi Tingkat Tinggi...
__ADS_1