
Hay semuanya para pembaca Ramadhan Imamku☺️
Maaf setelah banyak bab ini author baru sempat menyapa, untuk yang sudah comment aku usahakan balas satu per satu, tapi pelan-pelan ya. Selain bekerja, author juga punya 2 bocil yang harus bisa si bagi kasih sayangnya dengan hobi membuat novel ku ini😁
Untuk yang tanya visual Khansa dan Aisyah sebenarnya aku agak ragu untuk menunjukannya, author takut tak sesuai ekspetasi atau malah merusak imajinasi para pembaca nantinya.
Tapi setelah author pilih-pilih sepertinya yang ini menjadi pilihan hati author.
Yang kiri Adiba Khansa Az-zahra
Yang kanan Aisyah Khansa Az-zahra
Kalau para readers punya ekspetasi sendiri boleh kok kirim di group chat atau inbox☺️
Dan untuk si babang Ramadhan akhirnya aku pilih dia☺️ cie dia🤭
Kalau yang ini babang Reza ya- adiknya si babang Ramadhan
Ini untuk tri kwek kwek ya, urut dari yang paling kiri
Hafiz
Hilal
Dokter Azka
Sedikit tanya jawab biar kalian ga bosen yah☺️
T: Thor, kenapa novel ini ga total bahas pesantren saja. Kan di awal bab tu udah ceritain tentang pesantren?
J: Maaf semuanya teman-teman, yang ingin aku tonjolkan sedari awal memang seorang Khansa. Disini aku ingin memberikan gambaran bahwa tidak semua anak seorang kyai itu terlahir lalu menurut semua dengan keinginan dan perintah orang tuanya. Anak kyai juga seorang manusia biasa yang mempunyai rasa ingin tahu dan ketertarikan yang tak bisa ditentukan kepada hobi yang ia kerjakan, sama seperti anak-anak biasa lainnya. Itulah sosok Khansa, perbedaan yang mencolok antara Khansa dan Aisyah yang satu keras kepala dan suka membangkang sedangkan yang satu lagi lembut dan begitu penurut, itu benar adanya didunia nyata.
T: Terus tujuannya judulnya keagamaan gitu bagaimana maksudnya?
J: Maksud terselubungnya tetap saya sisipkan pengetahuan agama Islam, tapi secara random dengan pengaplikasian riwayat nabi Muhammad Saw dan para sahabat-sahabatnya, dalil dan hadist yang bisa dipertanggung jawabkan secara umum. Karena author ingin menyampaikan ilmu-ilmu yang sedikit ini dengan rileks, agar sekalipun orang awam yang membacanya ia tak akan bingung. Selama ini kesan menimba ilmu agama Islam hanya di pesantren titik ga pake koma😁 menurutku itu salah si, semua ilmu agama bisa kita ambil dari sisi manapun termasuk kehidupan kita sehari-hari, aku teringat ada reader comment ada yang dakwah lewat nyanyian dan ini aku mencoba dakwah lewat novel namun dengan gaya bahasa yang ringan, yang semua orang yang membacanya langsung bisa memahami.
Selama ini yang membuat orang malas belajar mungkin, jika melihat kitab yang tebal dan bertumpuk- tumpuk, itu rasanya udah malas duluan ga si?
Nah, aku sedang berusaha mengurai itu kedalam bahasa yang ringan dan mudah dimengerti kita semua. Beradaptasi dari kegiatan kita sehari-sehari agar lebih mudah penerapannya. Maka dari itu, aku juga sisipkan kisah dan pengetahuan seorang dokter juga untuk edukasi kesehatan dan pengetahuan tentang wanita. Siapa tahu, diantara banyak reader ini juga akan ada manfaatnya.
Sekian dulu cuap-cuap author remahan rengginang ini ya guys. Sekali lagi jika reader ingin request pembahasan edukasi apa, bisa comment atau inbox di group chat ya🙏
Terima kasih, semoga kita semua selalu berada dalam lindungan Allah SWT. Amiin.
...****************...
"Sudahlah Bob, tidak usah buang-buang waktu. Serahkan saja ke pihak kepolisian, biar mereka yang akan membuat pria ini mengaku. Kita pikirkan lagi nanti, cara apa yang cocok untuk membuat dia mengakui perbuatannya. Jika ditangan kepolisian masih tetap zero."
Dengan langkah lunglai, Boby meninggalkan ruang interograsi dengan secercah harapan yang terputus.
"Duduk disini dulu," Ramadhan menyodorkan air putih kepada Boby.
"Terima kasih, tumben banget mau duduk disini. Biasanya ga pernah mau?" Boby memang tidak pernah salah dalam menilai kebiasaan sahabatnya yang satu ini.
"Sekalian nunggu Renata, dia mau mampir lewat sini katanya. Aku ada perlu dikit. Sekarang aku tanya sama kamu Bob, seandainya pria itu benar yang menjebak kamu dan Winda. Apa yang akan kamu perbuat? Menceraikan Winda? Menikah dengan Fitria?" Rentetan pertanyaan Ramadhan itu membuat relung hati Boby semakin sakit, matanya melebar dadanya terasa nyeri. Tapi pertanyaan itu benar sekaligus membuatnya sadar juga.
"Ga mungkin aku ceraikan Winda, dan ga mungkin juga Fitria mau menikah sama gue dengan kondisi gue yang udah seperti ini Ramadhan." Benar-benar tertunduk lemas wajah pria tampan bernama Boby kali ini.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” Q.S. Al Baqaroh 216
Kamu merasa kalau hidup itu rasanya, kok...menguras emosi, energi, pikiran, dan menguras lainnya. Rasanya hidup seakan tidak berpihak pada kita. Segala ketidakberuntungan seakan datang silih berganti. Sedangkan, adakalanya jika kita melihat kondisi orang lain, yang terlintas di pikir adalah...”Betapa beruntungnya dia, tidak melakukan apa-apa, tapi segala keberuntungan datang padanya. Itu semua tidak benar Bob, setiap orang pasti punya pengorbanan masing-masing yang kita tidak tahu untuk mencapai titik tujuannya."
__ADS_1
"Kamu bisa berkata demikian karena kamu sudah sukses mendapatkan Khansa, Ramadhan. Bahkan sekarang ia mencintaimu, betapa beruntungnya kamu, tidak seperti aku.
Eh- tunggu Ramadhan, kenapa aku merasa curiga kepada Sinta atas kemalangan yang menimpaku ini?" Boby mencurahkan yang hatinya rasakan.
"Astaghfirullah Bob, cukup Bob. Jika kita tertimpa kemalangan, jangan lantas menuduh orang lain."
"Tapi kecurigaan ku ini beralaskan Ramadhan, Sinta bukan tipe orang yang akan tinggal diam jika ia pernah dipermalukan. Bukankah kamu masih ingat dengan kejadian waktu itu, dimana Fitria pernah menampar Sinta karena berdebat denganmu masalah Khansa?"
Ramadhan memutar otak, dan mulai mengingatnya. "Tapi itu bukan landasan yang cukup kuat untuk kita menuduh dia Bob,"
"Entahlah, nanti akan ku coba bicarakan ini langsung dengannya jika sudah kembali ke kantor." Ucap Boby pasrah.
"Hai Ramadhan, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam, sahabatku. Bagaimana kabarmu Ren?"
"Alhamdulilah baik, ada apa gerangan kamu mencari ku? Aku seperti baru saja di cari presiden rasanya, hahahha." Ledek Renata kepada Ramadhan.
"Aku butuh bantuan kamu Ren," Ramadhan merasa agak ragu.
"Bantuan apa Ramadhan? Kamu seharusnya mengatakannya lewat telepon saja, aku tau kamu orang sibuk."
"Aku mau kamu mengajari istriku memasak," Akhirnya pertanyaan itu lolos dari mulutnya, yang sedari tadi terasa begitu alot.
"Hahahaha," Boby dan Renata tertawa bersamaan. "Kenapa kalian tertawa? Ada yang salah?" Ramadhan merasa heran, kenapa ia di tertawa kan.
"Aku kira kamu mau bicara penting apa, taunya hanya mengajari istrimu memasak. Baiklah, hari minggu pukul 3 sore nanti akan aku serahkan kepada asisten kokiku biar ia datang ke rumahmu. You know, jadwalku terkadang ada yang mendadak. Jadi aku berikan satu asisten kokiku kepadamu, apa ada yang lain lagi?"
"Tidak ada Ren, thanks."
"Aku yang seharusnya bilang terima kasih. Jika tanpa adanya dirimu, mungkin aku tidak bisa hidup sampai sekarang. Kalau begitu aku cabut ya, Ramadhan- Boby. Semoga kita bisa bertemu lagi dilain waktu. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Drrt...Drrt..!
📞Hallo
📞Benar, saya sendiri.
📞Saya Hilal, mantan Khansa- sekarang saya ada dirumah Khansa. Tapi hanya ada Aisyah dan Reza, apa kamu bisa pulang sebentar?
Saya ada perlu sangat penting denganmu dan sangat mendesak, ini mengenai Khansa dan Naura.
📞Baiklah, 15 menit saya akan tiba dirumah.
Assalamualaikum.
📞Wa'alaikumsalam.
***
"Bagaimana kak Hilal? Apa kak Ramadhan bisa pulang? Karena sebentar lagi saya dan kak Reza ada jadwal mengisi kelas di pondok."
"Bisa Aisyah, maaf sebelumnya saya mendadak kesini."
"Tidak masalah," Jawab Reza datar.
"Papa, mama Khansa mana? Kenapa belum datang juga?" Naura merengek menarik-narik lengan baju Hilal. Naura sudah begitu rindu kepada Khansa.
"Mama Khansa?" Reza dan Aisyah spontan berkata yang sama.
*Bersambung...
Syaikh Muhammad Bin Sholeh Al-Utsaimin dalam kitabnya At-Tahdzir min Tawassu’in Nisa’ fit Tabarruj menuliskan sebelas wasiat untuk kita, para wanita muslimah. Beliau berharap bahwa setiap wanita muslimah memegang teguh wasiat beliau ini, agar kita selamat dunia dan akhirat.
Berikut adalah sebelas wasiat berharga beliau untuk kita:
__ADS_1
Beribadah kepada Allah sesuai dengan syariat yang telah digariskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Menghindari perbuatan syirik, baik syirik dalam Aqidah maupun ibadah. Karena syirik dapat menghapuskan amal kebaikan dan mendatangkan kerugian yang sangat besar.
Menghindari perbuatan bid’ah (perbuatan yang di ada-adakan, tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam), karena perbuatan bid’ah sangat menyesatkan.
Memelihara waktu shalat dengan sempurna. Karena orang yang memelihara waktu shalatnya dengan baik dan disiplin, maka ia juga akan melaksanakan kewajibannya dengan baik dan disiplin pula. Sebagaimana yang kita ketahui, apabila rusak shalat seseorang, maka rusaklah seluruh amalannya.
Mematuhi perintah suami. Sepanjang suami tidak melanggar syariat Allah dan Rasul-Nya, maka suami memiliki hak untuk ditaati. Tidak boleh seorang wanita muslimah bersikap durhaka dan semena-mena terhadap suaminya, apalagi terlalu banyak menuntut.
Memelihara kehormatan diri dan kehormatan suami. Baik ketika suami ada di rumah, maupun jika ia tidak sedang ada di rumah. Begitu pula dengan hartanya.
Berbuat baik terhadap tetangga, dengan memelihara perbuatan dan lisan. Sebab dengan demikian, hal tersebut dapat menghindarkan kita dari perbuatan dan perkataan jahat mereka.
Lebih mengutamakan untuk tinggal di rumah. Tidaklah baik apabila seorang wanita muslimah terlalu banyak berada di luar rumah. Karena sebaik-baik tempat bagi seorang wanita muslimah adalah rumahnya. Jika pun ada keperluan yang mendesak, maka seorang wanita wajib menggunakan jilbabnya.
Berbakti kepada kedua orang tua dan mematuhinya dalam syariat. Tidak layak seorang wanita muslimah memperlakukan orangtuanya dengan semena-mena dan durhaka.
Mendidik anak-anak dengan sebaik-baiknya, serta menanamkan nilai-nilai akhlak yang baik dan terpuji. Sesungguhnya seorang wanita muslimah adalah guru yang utama dan pertama bagi anak-anaknya.
Memperbanyak dzikir dan sedekah.
Sumber rujukan:
__ADS_1
Kitab At-Tahdzir min Tawassu’in Nisa’ fit Tabarruj – Syaikh Muhammad Bin Sholeh Al-Utsaimin
Semoga perlahan namun pasti, kita semua yang terlahir sebagai seorang wanita bisa melaksanakan 11 point diatas dengan tulus dan ikhlas, Amiin🙏*