Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)

Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)
Sebuah Barter Kesepakatan


__ADS_3

Happy reading❤️❤️❤️


"Kak Ramadhan! Bangun kak!" Niko menoel-noel tubuh Ramadhan menggunakan ujung jari kaki kanannya, ia tak bisa menyentuh tubuh Ramadhan sama sekali. Karena tangannya juga terikat kuat.


"Hey kau, siapa namamu? Marco? Polo? Panggil bos kalian! Kak Ramadhan tidak bergerak dari semalam. Ga lucu kalau kalian nanti ditangkap polisi kalau ada mayat kita di sini!" Niko berusaha menakut-nakuti anak buah Alex, siapa tau juga kalau mereka bodoh. Niko mencoba mencari secuil kesempatan di situ. Hatinya berkecamuk perih, sangat khawatir dan sangat takut. Kak Ramadhan tak bergerak sama sekali selepas dihantam balok besi dan balok kayu oleh Alex dibagian kepala.


"Eh curut! Kita ga takut sama Polisi. Bawa aja mereka ke sini kalau kamu bisa, hahahaha."


"Njirrr, ternyata mereka ga goblok-goblok amat." Niko membatin.


"Hey semua yang mendengar teriakan aku! Tolong Aku! Eh, tolong kami! Tolooong!"


"Woi! berisik b*ngs*t!"


"Polo! Sumpel itu mulutnya pake kain, atau serbet dapur terserah! Nanti bos Alex marah!"


"Oke, oke!" Polo langsung menyumbat mulut Niko menggunakan kain.


"Hm ... hm ...."


"Makanya jangan berisik lu suek! Mampet, mampet dah tu mulut," ucap Polo kesal.


Sementara Prita yang sudah mendengar keributan dari raungan seseorang dari tadi membuat jiwa kepo-nya meronta-ronta. Niat hati ingin mengambil segelas air, malah justru mendengar teriakan seseorang minta tolong dari ruangan yang tak begitu jauh dari arah dapur.


Ceklek! Suara pintu di buka, mengejutkan Marco dan Polo yang tengah menyumbat mulut Niki dengan kain. Seluruh pandang Prita mengedar, mengamati seluruh penghuni dan isi dari ruangan yang persis seperti gudang itu.


Prita membelalakkan matanya, satu bulat penuh yang hampir mencelos keluar jika bisa. Pria bersimbah darah terkulai lemas dengan tangan terikat ke atas. Jangan ditanyakan lagi, seluruh kening mengalir hingga dagu. Darah segar terus saja merembes di sana tanpa pemberhentian sedikitpun. Sang pemilik tubuh juga hanya terdiam tak bergerak sedikitpun dengan mata terpejam.


"Kak Ramadhan?!" Prita begitu terkejut dan menutup mulutnya yang menganga dengan kedua telapak tangannya.


Pyaaar! Gelas kaca yang berada di tangan Prita jatuh begitu saja. Pecah berkeping-keping, bahkan beberapa pecahan itu juga berhasil melukai kaki mungilnya.


Alex yang tertidur, juga terbangun karena samar-samar mendengar suara pecahan kaca.


"Sayang ...? Prita ...?" Alex meraba-raba sisi lain kasurnya, sosok yang ia cintai tak kunjung ia dapatkan. Alex menoleh, lalu mencari di sekeliling ruangan dan kamar mandi. Prita juga tak ia dapati. Alex langsung berlari mencari belahan jiwanya ke berbagai ruangan.

__ADS_1


"Suara pecahan kaca itu, jangan-jangan Prita ...?" Alex berhambur menuju dapur, tetap tak mendapati Prita. Samar-samar kini Alex mendengar suara tangis Prita dari arah gudang.


Dan benar, kini Prita tengah menangis meraung-raung sambil berusaha melepaskan tali yang mengikat tangan Ramadhan sangat kuat dan kencang itu.


"Prita ...!" Suara Alex menggelegar di dalam ruang gudang itu. Alex kalap melihat Prita menangis dengan kaki yang terluka mengeluarkan darah juga.


Bugh!


Bugh!


Marco dan Polo harus terkena salam sapa sebuah pukulan terlebih dahulu dari Alex.


"Kalian mau mati? Menjaga dua cecunguk ini saja tidak becus! Kenapa istriku bisa sampai di sini?!" Alex langsung mendekati Prita, menggendongnya begitu saja bak seorang bayi.


"Lepaskan aku Lex! Lepas! Aku harus melepaskan kak Ramadhan! Kenapa dia bisa ada di sini dengan luka parah seperti itu?! Kak Khansa pasti sekarang sedang sedih dan khawatir!" Raungan Prita itu tak digubris sama sekali oleh Alex.


"Steven! Segera perintahkan dokter Adit ke sini! Kaki istriku terluka! Segera!" Perintah Alex di ujung telepon setelah merebahkan Prita di kursi ruang tamu.


"Bodoh kamu Prita! Kamu tidak lihat jika kakimu terluka?! Jangan buat aku khawatir!" cecar Alex mewanti Prita.


"Dari mana kamu mengenal Ramadhan? Jawab?!" Alex tak kalah murkanya kali ini.


"Mulai sekarang, aku tidak akan berbicara sepatah katapun dengan orang jahat seperti kamu. Sebelum kamu membawa Kak Ramadhan ke rumah sakit aku tidak akan berbicara dengan mu! Camkan itu tuan Alex!" Prita kali ini menyilang kan kedua tangannya di depan dada, lalu menutup mulutnya rapat-rapat.


"Terserah, saya tidak akan terpancing dengan gertakan bawang mu Prita. Untuk apa aku membawa Ramadhan ke rumah sakit? Sementara karena ulahnya, adikku gabriel harus meregang nyawa ditangannya."


Prita benar-benar diam kali ini, tak bergeming sedikitpun dengan ucapan Alex. Bahkan saat dokter Aditya membersihkan dan membalut perban kaki Prita yang terluka, tak ada percakapan sedikitpun di sana. Sungguh suasana yang mengerikan.


Satu jam ...


Dua jam ...


Tiga jam ...


Empat jam ...

__ADS_1


Finally, Alex sudah tak tahan didiamkan oleh Prita. Perutnya juga sudah kerucuk-kerucuk menandakan kosong dan lapar. Pasti Prita juga merasakan hal yang sama, namun Prita tak hanya mogok bicara. Ia juga mendadak mogok makan.


"Ini tak bisa di biarkan! Keterlaluan, seorang Mafia sepertiku harus kalah dengan ancaman teri seorang Prita! Kenapa cinta membuatku bodoh! Tapi aku juga tak berdaya karena cinta! B*ngs*t!" Alex memaki dirinya sendiri.


Brugh! Pintu kamar dibuka kasar oleh Alex, Prita yang tengah duduk di atas kasur juga tetap tidak menoleh ke arah Alex.


"Aku akan membawa Ramadhan ke rumah sakit! Tapi dengan dua syarat yang harus kamu penuhi," jelas Alex yang tengah berusaha membuat sebuah kesepakatan dengan istrinya.


Prita masih tetap diam. Terlihat Prita benar-benar tak tertarik dengan suara Alex.


"Berani-beraninya kamu mengacuhkan ku," batin Alex benar-benar tak bisa menerima itu.


"Dengarkan aku baik-baik, aku tidak akan mengulang perkataan ku lagi Prita. Aku akan segera membawa Ramadhan ke rumah sakit jika kamu mau makan sekarang, lalu yang kedua kamu mau melayani aku dengan hasrat cinta kamu. Bukan dengan diam saja seperti malam pertama kita kemarin."


Sekilas Prita melirik Alex dengan tatapan mata yang begitu membunuh, namun sejurus kemudian ia menunduk lagi.


"Semakin lama kamu tidak memberi keputusan makan Ramadhan semakin mendekati kematian, karena ia kehabisan darah."


Sorot mata khawatir kini terlihat, Prita bangkit dan berkata "Ya!" Terkesan tidak ikhlas memang. Tapi Prita langsung menuju meja makan dan menyantap makanan yang ada di hadapannya.


"Aku mau melayani kamu setelah aku benar-benar melihat kak Ramadhan dirawat di rumah sakit!" ucap Prita bernada ketus.


"Marco! Polo! Siapkan semuanya, bawa Ramadhan ke rumah sakit. Bilang dia korban kecelakaan, agar rumah sakit tidak curiga dengan kita. Saya akan menyusul kalian dengan mobil berbeda," titah sang baginda raja alex.


"Baik bos!" Marco dan Polo langsung mengerjakan apa yang diperintahkan sang bos.


"Apa kamu sudah senang sekarang Prita?"


"Belum! Saya tidak akan senang sampai kak Ramadhan benar-benar sembuh dan bertemu kembali dengan istrinya."


"Dengar aku baik-baik Prita. Jika saat kita di rumah sakit nanti kamu berusaha kabur atau memberi tahu polisi tentang keadaan ini, maka aku tidak akan segan untuk melukai kedua orang tua kamu juga. Aku memang mencintaimu, tapi aku tidak akan lemah lagi dengan berbagai ancaman mu. Anggap saja kali ini aku sedang berbaik hati kepadamu."


Seketika meja makan menjadi hening kembali.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2