Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)

Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)
Yusuf? Aldebaran? Hilal?


__ADS_3

Happy reading❤️


Bapak Yusuf Aldebaran Al-Hilal, silahkan lewat sini." Panggil Hafiz santai karena sama sekali tak mengenal siapa pasien terakhir Khansa ini.


"Selamat Si-siang,"


Perasaan gugup dan canggung menyeruak begitu saja, ketika Khansa melihat siapa pasien terakhirnya itu.


"Assalamualaikum Khansa," Tatapan itu, tatapan yang begitu membunuh. Tatapan yang sedetik kemudian mampu membunuh Khansa dalam keadaan diam dan canggung.


"Wa'alaikumsalam,"


Hafiz yang menyadari perubahan sikap Khansa mencoba mengurangi rasa canggung Khansa.


"Permisi, bisa dijabarkan apa yang anda keluhkan pak Yusuf? Aldebaran? Hilal? Agar kami mudah mengidentifikasi sakit anda."


Hafiz nyengir kuda dan menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.


Tanpa basa-basi Hilal menyodorkan cek bank berwarna merah muda itu menghadap pada Khansa.


Khansa dan Hafiz menaikan alisnya melihat pada selembar kertas itu bertuliskan nominal 100.000.000.-


"Siapa yang harus aku bunuh tuan Hilal? Anda menyodorkan cek dengan nominal sebanyak ini." Khansa berusaha memasang wajah se-datar mungkin.


"Bisakah kita bicara hanya berdua saja?"


Dengan kesadaran diri penuh Hafiz melenggangkan kaki dari ruangan itu. Gerakan cepat kilatnya langsung meraih ponselnya yang berada disaku dan lupa menutup penuh pintu ruangan Khansa, dengan pengetahuannya sebagai mantan hacker- Hafiz langsung mencari tahu, siapa itu sosok Hilal.


Hilal yang sadar jika pintu ruangan itu tak tertutup, langsung bangun dari tempat duduknya. Menutup pintu ruangan itu, menguncinya dari dalam lalu mengantongi kunci pintu itu kedalam sakunya. "Kamu tidak perlu membunuh orang, kamu hanya perlu melakukan operasi kecil untuk kembali atau keluar dari Vasektomi yang pernah aku lakukan di Paris."


"Jangan gila kamu Hilal, untuk apa kamu mengunci pintu ruangan ku! Berikan kunci itu padaku!"


"Aku memang sudah gila Khansa, dan orang yang menyebabkan aku gila adalah kamu. Semakin kamu berteriak, maka aku akan semakin gila dan akan semakin lama menyandera mu dalam ruangan ini bersamaku."


Ucap Hilal, tanpa rasa risih dan bersalah sedikitpun.


Dogh! Dogh! Dogh!


"Dokter Khansa! Apa kamu baik-baik saja didalam?"

__ADS_1


Hafiz yang menyadari pintu ditutup lalu langsung dikunci dari dalam, menjadi begitu kalut. Takut terjadi sesuatu dengan Khansa, bagaimanapun Khansa tetap seorang perempuan dan Hilal adalah laki-laki, nanti kalau ada setan lewat lalu nongkrong bersama mereka didalam bagaimana?


Pikiran Hafiz melalang buana memikirkan yang tidak-tidak.


Ah- tidak hanya nongkrong, nanti kalau setannya betah- terus ngasih Khansa kopi mengandung sianida gimana? Ah kacau, kacau!


"Khansa! What are you doing with her?"


Hafiz begitu khawatir dengan keadaan Khansa didalam.


"I am fine Hafiz, jika kami sudah selesai bicara- pasti kami akan segera keluar. Kamu tak perlu khawatir, kami hanya perlu privasi saja membahas hal ini." Ucap Khansa setengah berteriak untuk membuat Hafiz tidak khawatir.


Khansa menatap tajam Hilal, otaknya mulai berpikir. Mengingat bagian demi bagian, bahwa seorang Hilal memang tidak bisa dihadapi dengan penolakan dan kekerasan.


Ia akan jauh bersikap lebih keras dan lebih memaksa jika mendapatkan perlakuan demikian.


"Apa yang sebenarnya ingin mas Hilal ceritakan kepadaku? Katakanlah, aku akan mendengarkan. Aku yakin operasi vasektomi itu hanya alibi belaka darimu." Dengan suara yang manis, Khansa berusaha merubah mood dan terhindar arah pembicaraan yang memicu cekcok berkepanjangan.


"Aku serius dengan operasi vasektomi itu Khansa, aku memang akan membukanya. Kenapa kamu tiba-tiba menikah tanpa izin dariku Khansa?"


Kampret ini Hilal, makin dihaluskan malah makin ga tau diri. Izin dia, emangnya apa pangkat dia atas diri aku. Batin Khansa ngedumel tak karuan dengan tingkah Hilal.


Ucapan Khansa ini sejurus kemudian mengingatkan kembali tujuan utama Hilal menemui Khansa.


"Aku harap kamu mau menemani Naura, Khansa." Hilal menatap penuh harap kepada Khansa.


"Sepertinya kita harus sudahi pembicaraan ini Hilal, berikan kunci itu kepadaku!" Khansa beranjak dari tempat duduknya, berjalan hendak meraih gagang pintu ruangannya yang terkunci itu.


Hilal menggapai dan menggenggam erat pergelangan tangan kanan Khansa, "Dengarkan aku dulu Khansa, aku belum selesai bicara."


"Lepaskan aku mas Hilal, aku wanita yang sudah mempunyai suami. Jangan sentuh aku barang sedikitpun, kamu bukan suamiku! Haram hukumnya dan dosa besar bagiku!"


Kenapa pada dialog ini author tidak memakai kata bukan Muhrim! atau mungkin bukan Mahram! setelah kata jangan sentuh aku sedikitpun, seperti selentingan-selentingan yang tak asing sering kita dengar.


Kamu bukan Muhrim ku!


Kamu bukan Mahram ku!


Sangat salah kaprah kalau boleh aku bilang.

__ADS_1


Lantas, apa sih arti yang sebenarnya dari muhrim dan mahram?


Kebanyakan dari kita memaknai kata muhrim sebagai orang yang haram untuk dinikahi. Namun nyatanya, makna sebenarnya bukanlah seperti itu.


Makna secara istilah, muhrim adalah orang yang telah mengenakan pakaian ihram. Maka dapat dijelaskan bahwa, muhrim adalah orang yang mengenakan pakaian ihram ketika melaksanakan haji atau umrah dan telah memasuki daerah miqat. Jelas tidak ada hubungannya kata muhrim dengan hubungan laki-laki dan wanita.


Sedangkan mahram adalah makna sebenarnya dari kesalahpahaman perihal arti muhrim, yakni orang yang diharamkan untuk dinikahi karena nasab atau memiliki garis keturunan atau kekerabatan dalam syariat Islam.


"Setiap wanita yang haram untuk dinikahi selamanya, disebab sesuatu yang mubah (status hukum Islam), karena statusnya yang haram." (Shahih Muslim dan An-Nawawi)


So sekarang jadi udah pada tahukan arti dari kata Muhrim dan Mahram?


Kembali ke Khansa dan Hilal ya😁


"Lepaskan aku mas Hilal, aku wanita yang sudah mempunyai suami. Jangan sentuh aku barang sedikitpun, kamu bukan suamiku! Haram hukumnya dan dosa besar bagiku!"


Dengan segala rasa putus asa dihatinya, Hilal akhirnya melepaskan genggaman tangannya kepada Khansa dan berkata, "Naura menderita kanker otak Khansa, hidupnya tak akan pernah lama. Dia tak akan pernah bertemu dengan masa remaja atau dewasanya seperti seorang anak pada umumnya." Kerongkongan Hilal sangat sakit meloloskan kata itu kepada Khansa. Tikaman pisau bertubi-tubi seolah menembus organ hatinya yang telah tercabik-cabik oleh takdir.


Freeze!


Hanya itu yang bisa Khansa rasakan.


Takdir seolah begitu kejam kepada gadis kecil seperti Naura, yang bahkan diusia anak sepertinya tentu hatinya masih selembut kapas tak bernoda.


Khansa menoleh kearah Hilal, mencoba mencari kebohongan disana. Tapi matanya benar-benar mengutarakan, bahwa tidak ada kebohongan sedikitpun disana.


"A-aku mendengarkan." Khansa duduk kembali di kursi singgasananya.


Bersambung...


Vasektomi adalah operasi kecil (bedah minor) yang dilakukan untuk mencegah transportasi sperma pada testis dan penis.


*Vasektomi merupakan prosedur yang sangat efektif untuk mencegah terjadinya kehamilan karena bersifat permanen. Dalam kondisi normal, ****** diproduksi dalam testis. Pada saat ejakulasi, ****** mengalir melalui 2 buah saluran berbentuk pipa (vas deferens), bercampur dengan cairan semen (cairan pembawa ******), dan keluar melalui *****. Bila ****** masuk dan bergabung dengan sel telur wanita, maka terjadilah kehamilan.


Prosedur vasektomi mempunyai konsep bahwa saluran (vas deferens) tersebut dipotong dan kedua ujung saluran diikat, sehingga ****** tidak dapat mengalir dan bercampur dengan cairan semen*.


Dengan kata lain vasektomi adalah prosedur klinik untuk menghentikan kapasitas pria dengan jalan melakukan okulasi vasa deferensia sehingga alur transportasi ****** terhambat dan proses fertilasi (penyatuan dengan ovum) tidak terjadi.


Sejauh vasektomi itu dilaksanakan sesuai dengan syariat Islam, maka hukumnya mubah atau boleh,” kata Ahmad Rofiq, Rabu, 4 Juli 2012. Keputusan tersebut, kata Rofiq, diambil dalam sidang Komisi Fatwa MUI se-Indonesia yang digelar 29 Juni hingga 2 Juli 2012 di Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat.

__ADS_1


__ADS_2