Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)

Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)
Trauma


__ADS_3

Happy Reading❤️❤️


Brugh! Brugh! Brugh!


Kepingan serpihan beton bangunan terpental jauh dan berhamburan ke segala arah.


Setelah keadaan dirasa aman, tak ada lagi serpihan beton bangunan yang berjatuhan, Ramadhan memastikan keadaan Khansa.


"Kamu tidak apa-apa sayang?" Ramadhan mencoba memastikan jika sang istri baik-baik saja.


"Jangan sentuh aku! Bukankah kata kamu tadi tidak mengenalku! Oh iya aku baru ingat, tadi ada wanita berpakaian sexy sehingga kamu tidak mau mengakui aku adalah istrimu. Sekarang wanita sexy itu tidak ada jadi kamu berani memanggilku sayang!" Hati Khansa masih begitu sakit mengingat perlakuan Ramadhan kepadanya tadi di cafe.


"Bukan begitu Khansa, kamu salah paham."


"Cinta memang sebuah pengorbanan, tapi kalau pengorbanan terus ya namanya penderitaan." Ucap Khansa asal.


"Tolong dikondisikan, sekarang bukan waktunya berdebat masalah itu. Gabriel pasti akan segera terbang ke Amerika setelah ini." Mariska membuyarkan pertengkaran antara Khansa dan Ramadhan.


"Tenang saja Mariska, dia tidak akan bisa mengambil seluruh data negara tanpa pasword yang pernah aku buat untuk membobol sistem pertahanannya. Hafiz gitu loh, serumit apapun password alogaritma, aku merasa lebih rumit lagi dengan wajah Khansa yang tak pernah hilang dari pikiranku." Dengan senyum merekah Hafiz memasang wajah imutnya kepada Khansa.


Ceklek, Ceklek!


Ceklek, Ceklek!


Keempat anak buah Gabriel menodongkan senjata kepada empat orang yang berada didalam mobil.


Khansa, Ramadhan, Mariska dan Hafiz tak bisa berkutik.


"Aku sudah menyangka jika kamu tidak becus mengurus hal kecil ini Mariska!"


Dor! Dor!


Gabriel menembak tepat pada bagian dada Mariska sebanyak dua kali.


"Aakkhhh!" Khansa berteriak histeris, baru kali ini dia melihat secara langsung seseorang ditembak mati tepat didepan matanya.


"Diam kamu! Atau kamu ingin aku tembak seperti dia sekarang? Ayo bawa mereka semua ke dalam Van!"


"Baik bos!"


Khansa, Ramadhan dan Hafiz digiring masuk kedalam mobil Van bersama Gabriel dan tiga anak buahnya.


Mariska, maafkan aku yang tak bisa melindungi-mu.


Aku berjanji akan menghabisi ******* cyber ini dengan tanganku sendiri.


Pegang janjiku ini Mariska.


Semoga kamu tenang disana bersama Tuhan yang selalu mengasihi dan mencintai umatnya.

__ADS_1


"Tunggu apa lagi Hafiz? Segera beri pasword alogaritma yang kamu punya untuk memberi akses pemindahan data ini ke dalam hardisk ku segera! Atau ku ledakan kepala gadis ini sekarang juga!"


Khansa terlihat begitu takut melihat todongan pistol dikepala-nya.


Ingatannya masih begitu jelas ketika Mariska tewas ditempat. Khansa pasrah jika kematian memang sudah begitu dekat dengannya.


Hafiz mengusap setetes air mata yang melintas diujung kelopak matanya, "Baik akan aku lakukan, tapi jangan sakiti dia!"


"Hohoho, tentu- aku tidak akan menyakiti kelinci kecilmu ini. Maka dari itu cepat lakukan sekarang! Atau aku kuliti hidup-hidup gadis kecil ini!" Ancam Gabriel dengan suara bernada tinggi.


"Baiklah- baik, akan aku kerjakan sekarang,"


Lutut Hafiz juga ikut bergetar, ia takut terjadi sesuatu dengan Khansa jika ia tidak menuruti perintah Gabriel.


Sementara Ramadhan menunggu waktu yang tepat untuk bisa mengambil alih keadaan.


20 menit kemudian, mobil yang membawa mereka tiba di landasan pacu pribadi milik Gabriel.


Pintu gudang di buka, ternyata seonggok jet pribadi telah siap diterbangkan untuk membawa Gabriel dan sisa anak buahnya kabur dari Indonesia.


Diwaktu mereka turun dari Van, ini kesempatan yang epic bagi Ramadhan.


Ramadhan langsung menembakkan pistolnya kepada dua anak buah Gabriel.


Dor! Dor! Kedua anak buah Gabriel tumbang seketika.


Dor!


"Arrghh!" Ramadhan terjatuh dan tersungkur terkena tembakan Gabriel.


"Kak Ramadhan!" Khansa berteriak histeris dan berderai air mata, namun lengannya di pegang kuat oleh anak buah Gabriel yang masih tersisa satu.


Gabriel menyeret Ramadhan yang bahunya sudah berlumuran darah itu.


"Aku sudah muak untuk bermain-main Hafiz! Segera masukan pasword Alogaritma kamu sekarang!"


Dor!


Gabriel kali ini menembak lutut kaki Hafiz.


"Argggghhh!" Hafiz berteriak kesakitan.


"Aakkhh! Aku mohon sudahi ini," Khansa semakin histeris lagi, tembakan demi tembakan melesat didepan matanya sedari tadi. Irama jantung berdegup sangat kencang melihat orang-orang disekitarnya terkena tembakan demi tembakan.


"Baik aku turuti mau kamu Gabriel," Dengan sangat terpaksa Hafiz kali ini benar-benar menuruti permintaan Gabriel.


Kakinya terasa nyeri cenat-cenut terkena tembakan Gabriel.


Helikopter kepolisian terlihat sudah dekat dan akan mendarat.

__ADS_1


Gabriel mulai panik, ia hendak menembak Khansa dan Ramadhan. Namun Ramadhan yang mengetahui itu dengan sigap meraih pistol yang akan diarahkan ke Khansa, lalu mengarahkannya ke bahu bekas Ramadhan tertembak tadi.


Ramadhan mengambil sudut 35° condong keatas bagian depan Gabriel, saat Ramadhan memutuskan menembak bahunya sendiri peluru itu tembus ke bagian dada Gabriel.


Dor!


"Arrrrggghh!" Ramadhan jatuh tersungkur dan begitu juga Gabriel seketika tewas karena dadanya tertembus peluru.


Satu anak buah Gabriel yang tersisa juga langsung ditembak agent kepolisian sehingga ia juga langsung tewas di tempat.


Ramadhan dan Hafiz langsung ditolong oleh petugas medis dan segera di bawa ke rumah sakit terdekat, sedangkan Khansa justru lebih terlihat trauma dengan kejadian ini.


Pandangannya kosong tatapan nanar tak berarah dan tak bertujuan, sangat sulit diajak berkomunikasi. Khansa lebih memilih diam-diam dan hanya diam.


Bahkan beberapa psikiater mencoba membantu Khansa mengatasi apa yang ia rasakan itu.


Rasa trauma yang terasa begitu berat, berkepanjangan dan tak berkesudahan itu seakan menggerogoti hati dan pikirannya yang kalut.


Aisyah dan Reza yang telah mendengar kabar yang menimpa Ramadhan dan Khansa langsung menuju ke rumah sakit tempat Ramadhan dan Khansa di rawat.


...----------------...


Sejatinya dalam hidup, kita tidak mungkin bisa sepenuhnya lepas dari masalah. Satu masalah selesai, maka bersiaplah dengan masalah lainnya yang bisa lebih ringan dan bisa lebih berat.


Tentang masalah hidup sebagai sebuah ujian ini, ingatlah bahwa Allah menguji hamba-Nya sesuai dengan kemampuannya.


Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 286:


Artinya: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."


(QS. Al-Baqarah: 286).


Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya, baik berupa ketentuan dalam beragama maupun musibah dalam hidup dan lainnya. Maafkanlah kami, yakni hapuslah dosa-dosa kami, ampunilah kami dengan menutupi aib kami dan tidak menghukum kami akibat pelanggaran, dan rahmatilah kami dengan sifat kasih dan rahmat-Mu yang luas, melebihi penghapusan dosa dan penutupan aib.


...Cerbung...


...Hai semuanya!...


...Salam hangat dari penulis recehan, alias remahan rengginang yang masih gurih untuk jadi cemilan....


...Tolong tinggalkan jejak kalian disini ya, klik Like, comment dan Votenya. Mmm- Hadiahnya juga boleh kali ya....


...Jika berkenan jangan lupa untuk mampir juga di karyaku yang lainnya yang tak kalah serunya ya....


↘️↘️↘️↘️↘️↘️↘️


...~Terjebak Pernikahan Mr Bule Di Bali...


...~Siapakah Jodohku?...

__ADS_1


...~Obsesi Tingkat Tinggi...


__ADS_2