
...Allahummarhamna bil Quran...
...Allahummarhamna Bil Quran...
...Waj’alhulanna Imaaman Wa Nuuran Wa Huda Wa Rohmah...
...Allahumma Dzikkirna Minhu maa Nasiiha...
...Wa’allimna Minhu maa Jahiilna...
...Warzuqna Tilaawatahu...
...Aana Al Laili Wa Aana An Nahaari...
...Waj’alhulanna Hujjatan...
...Yaa Rabbal ‘Alamin...
...Ya Allah Kasih Sayangilah daku...
...dengan sebab AlQuran ini...
...Dan jadikanlah AlQuran ini...
...sebagai pemimpin...
...sebagai cahaya...
...sebagai petunjuk...
...dan sebagai rahmat bagiku...
...Ya Allah ingatkanlah daku...
...apa-apa yang aku lupa dalam AlQuran...
...yang telah Kau jelaskan...
...dan ajarilah apa-apa yang aku belum mengetahui...
...Dan karuniailah daku...
...selalu sempat membaca AlQuran...
...pada malam dan siang hari...
...Dan jadikanlah AlQuran ini...
...sebagai hujjah bagiku...
...Ya Allah Tuhan semesta alam...
...Happy Reading❤️...
"Kamu tidak cuti Khansa?"
Pertanyaan Bude Aminah mengagetkan Khansa yang tengah bersiap-siap akan pergi, jadwal hari ini Khansa akan membantu Nara sumber apabila muncul pertanyaan tentang seputar alat reproduksi oleh mahasiswa nanti.
"Tidak bude, acara ini sudah di rancang jauh-jauh hari. Pernikahanku yang mendadak, jadi tidak mungkin Khansa tidak hadir."
"Pondok Pesantren akan di ambil alih Reza apa Khansa sudah tahu? Reza sudah membeli tanah belakang dan samping pondok, rencana Reza akan memperlebar dan memperluas pondok lagi."
"Alhamdulilah kalau begitu." Jawab Khansa santai sambil memakai sepatu.
"Lalu suamimu bagaimana? Apa dia hanya akan menjadi guru honorer di pondok lain?
Kenapa tidak mengajar disini saja?
Paling tidak kan, biar tidak jadi bahan omongan orang-orang Khansa?"
Khansa hanya sekilas melirik kak Ramadhan di daun pintu kamar, namun ia masih tak melihatnya.
"Itu urusan kak Ramadhan saja bu de, bukan urusan Khansa. Toh juga Khansa bisa menghasilkan uang sendiri tanpa meminta nafkah kepadanya. Khansa pamit, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Ramadhan yang sedari tadi tengah bersiap didalam kamar sudah mendengar percakapan kedua perempuan itu.
Maafkan aku Khansa, aku tidak bisa mengungkap semua jati diriku sekarang sebelum aku benar-benar bisa memastikan aku sudah clear dari dunia hitam ku dulu.
"Ramadhan pamit berangkat bu de."
__ADS_1
"I-iya." Bu Aminah tak mengira jika suami Khansa itu masih berada di dalam kamar.
"Bu de tak usah repot-repot memikirkan pekerjaan Ramadhan, insyaallah yang Ramadhan pilih itu sudah yang terbaik. Ramdhan permisi bude. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Hm terbaik dari Hongkong! berapa si gaji guru honorer? bahkan untuk beli skincare Khansa saja mungkin tidak akan cukup.
Gerutu bu Aminah seolah merendahkan Ramadhan.
...****************...
Acara seminar dikampus ternama di Bali berjalan dengan sedikit lama dari perkiraan waktu, karena rasa ingin tahu mahasiswa yang begitu tinggi. Bahkan hingga presentase hubungan suami istri saja sampai dipertanyakan dan minta dibahas detail oleh para pesertanya.
"Tunggu-tunggu ini saya heran sama kalian semua, pertanyaannya kenapa kearah sana semua? dr Khanza curiga kalau sebenarnya kalian semua sudah menikah disini ya?
Saya saja yang baru menikah ga begitu ngebet bahas begituan kok,hehehe."
"Yah,dokter sudah menikah. Kami semua disini patah hati nih dok. Patah hati masal hahahah.
Tapi serius dok, pertanyaan saya tadi untuk analisa saya kedepannya nanti jika sudah menikah dok."
"Hm-modusnya bocil zaman now nih.
Baik saya akan jabarkan sedikit saja ya, tidak terlalu mendetail. Karena space waktunya sudah sangat melebar dari analisa awal.
Presentase berhubungan badan jika dilakukan seminggu sekali berfungsi untuk mencegah stres (Uhuuy) , jika dilakukan seminggu dua kali itu berfungsi juga untuk meningkatkan daya tahan tubuh (Asek-asek jos) , Jika seminggu dilakukan sebanyak tiga kali itu akan membantu kita untuk bisa tidur nyenyak atau mendapatkan tidur yang lebih berkualitas (Tarik sis), jika seminggu empat kali itu berguna untuk mencegah ejakulasi dini pada pria ya (Hahaha biar ga gampang letoy ya dok), Jika dilakukan seminggu 5 kali berguna untuk kita menjadi lebih awet muda."
"Lalu kalau lebih dari itu berguna untuk apa dok? misal 10-15 kali dalam seminggu."
"Kalau presentasenya segitu ya berarti kamu ketagihan! Ya sudah dokter akhiri sampai disini ya, sampai ketemu lagi pada seminar-seminar selanjutnya. Assalamualaikum wr wb."
"Wa'alaikumsalam, I love you dokter Khansa!"
Dengan PD-nya mahasiswa itu berteriak demikian menggunakan Microfon ditangannya.
**
"Terima kasih atas waktunya yang dokter Khansa berikan di universitas kami, saya mewakili para peserta mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian tadi."
"Iya pak, tidak apa-apa saya maklum karena mereka semua jiwa muda yang masih berapi-api. Saya dan rekan-rekan pamit undur diri ya pak."
"Baik, sekali lagi terima kasih bu Khansa."
***
"Kita makan dulu kan beb?" Fitria bertanya namun seolah memaksa.
"Iya, kita makan beb."
"Oh iya beb, deket sini ada banyak resto yang enak-enak lo beb. kita ke IGOL yuk, itu resto baru aja buka."
"Iya deh iya, gue percaya kalau urusan resto enak sama seorang Fitria."
Hanya berselang beberapa menit, kini Khansa dan Fitria sudah sampai di resto dan memesan beberapa menu disana.
"Ngapain kamu senyum-senyum ga jelas gitu kampret?" Fitria terlihat senyam senyum sendiri sedari tadi, memang jika aura kebahagiaan itu sangat sulit untuk di sembunyikan.
"Apa si Khansa, emang salah kalau orang senyum ya?"
"Ga, aku kenal kamu bukan setahun dua tahun Fitria."
"Iya deh, ngaku. Pacarku Roby mau datang ke Indonesia Khansa, katanya si dia di tarik tugas di Indonesia lagi, gimana aku ga seneng coba. Udah capek la beb LDR terus. Indonesia - Dubai."
"Iya deh, aku doain cepet di halalkan juga sahabatku yang satu ini."
"Amiin." Makanan sudah siap di meja dua dokter cantik ini. Namun saat mereka baru memakan beberapa suap, Fitria terkejut melihat suami Khansa baru saja datang di resto tersebut bersama seorang wanita.
"Astaghfirullah, Khansa! itu bukannya laki lo?"
Fitria bahkan beberapa kali mengucek-ngucek kedua matanya, seakan ingin memastikan apa yang ia lihat itu, benar atau tidak.
Ramadhan begitu berbeda dari Ramadhan yang biasa dua wanita itu lihat.
Fitria dan Khansa sampai melongo, melihat begitu kontrasnya penampilan suami Khansa itu.
"Dari yang kita lihat, sudah jelas itu Tuxedo mahal.
Bukan kaleng-kaleng atau toples-toples.
__ADS_1
Jam tangan, ahh jam tangan itu jam tangan sultan.
Bukan level jam tangan level seperti kita yang hanya remahan rengginang Khansa.
Ya Tuhan, kenapa kamu bisa ga sadar Khansa. Kalau kamu punya laki se-perfect itu. Ampun dah.
Ini benar-benar bukan penampilan sederhana Khansa." Ucap Fitria geleng-geleng.
"Ya iyalah bukan sederhana, yang sederhana kan cuma rumah makan Padang!" Khansa masih mencoba menelan suapan nasi terakhirnya.
"Apaan si Khansa, garing deh. Tapi btw bukannya mas Ramadhan bilangnya sama kamu cuma guru honorer ya kan? Tapi kenapa bisa beda jauh begini.
Setelah menghabiskan minumnya, Khansa membatin.
Bagaimana mungkin guru honorer berpenampilan demikian dalam bekerja?
Oh tidak, dari rumah Ramdhan bahkan tidak pernah menggunakan baju seperti itu.
Hanya baju-baju koko biasa dan beberapa pakaian santainya.
"Dia bukan laki gue fit, mungkin hanya kebetulan mirip."
Ucap Khansa santai berusaha menyembunyikan kekhawatirannya.
"Please Khansa, walaupun kamu dan Aisyah kembar. Tetap ada bedanya, sedangkan ini. Kalau kataku dia benar-benar Ramadhan Khansa. Wuah suami kamu ganteng sekali Khansa, gue juga mau kalau di wasiat jodoh suami kaya mas Ramadhan."
"Mulai deh, fantasi liarnya ga bisa di rem sedikit." Ujar Khansa acuh.
"Eh beb, coba kamu telfon mas Ramadhan deh. Kalau dia angkat telfon berarti dia laki lo."
Tadinya Khansa sangat malas menuruti permintaan Fitria, namun dirinya juga penasaran. Apa benar, laki-laki berpenampilan keren tengah makan bersama seorang wanita itu adalah suaminya.
Drttt..!
Khansa Calling...
"Sebentar Winda, istriku menelpon. Aku angkat telfonnya terlebih dahulu."
"Hallo Assalamualaikum istriku?"
Fitria syok, hanya bisa menutupinya menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
"Wa'alaikumsalam, mas Ramadhan sedang apa?" Tanya Khansa dengan suara mulai agak bergetar.
"Aku sedang istirahat makan siang Khansa, apa kamu sudah makan?"
"Su-sudah, aku sudah makan. Baiklah kalau begitu, selamat bersenang-senang. Assalamualaikum."
Bahkan Ramadhan belum sempat menjawab Khansa sudah lebih dulu memutus sambungan telepon itu.
Jahat!
Pembohong!
Tukang Selingkuh!
Pura-pura polos!
Pura-pura Alim!
Teganya kamu membohongi dan membohongiku!
Tega sekali kamu mas!
Perkataan Nabi SAW bahwa dusta kepada istri atau kepada suami hukum asalnya tetap haram, namun terdapat pengecualian sebagaimana dalam kasus yang disebutkan, yaitu dusta untuk mendamaikan hati istri dan menyenangkan atau menghibur hatinya.
......Cerbung.........
...Hai semuanya!...
...Salam hangat dari penulis recehan, alias remahan rengginang yang masih gurih untuk jadi cemilan....
...Tolong tinggalkan jejak kalian disini ya, klik Like, comment dan Votenya. Mmm- Hadiahnya juga boleh kali ya....
...Jika berkenan jangan lupa untuk mampir juga di karyaku yang lainnya yang tak kalah serunya ya....
↘️↘️↘️↘️↘️↘️↘️
...~Terjebak Pernikahan Mr Bule Di Bali...
...~Siapakah Jodohku?...
__ADS_1
...~Obsesi Tingkat Tinggi...