Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)

Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)
Orang Yang Aku Cinta


__ADS_3

Happy reading❤️


"Khansa!" teriak Fitria yang mendapati tubuh Khansa lunglai bak tak bertulang.


Semua laki-laki dalam keluarga ini mendadak habis, kini hanya tersisa Ayah Ali sebagai laki-laki dalam keluarga yang mendadak porak- poranda ini.


Ayah Ali langsung membopong tubuh Khansa menuju kamarnya, rumah megah milik Ali dan Fatima masih tersegel garis polisi untuk penyelidikan hingga tuntas.


"Khansa bangun nak," Air mata Bu Fatima terus saja mengalir. Masalah seolah bertubi-tubi menerpa keluarga kecilnya.


"Kak Khansa, bangun ...," ucap Sera lirih.


Ini pertama kalinya, Sera berkata sesuatu untuk Khansa. Mengkhawatirkan keadaan wanita yang tadinya begitu ia benci. Sera yang awalnya mempunyai pikiran jika Khansa akan selalu merebut perhatian kak Ramadhan, akan merebut kasih sayang seorang kakak kepada adiknya. Sera sadar, ia telah salah besar. Bahkan pada kenyataannya kini Khansa yang harus menerima kenyataan pahit, suaminya hilang dan anak yang di kandungnya juga diambil oleh Sang Pencipta. Sera bisa mengerti perasaan kedua kakak iparnya. Kak Khansa begitu kehilangan, sedangkan Kak Aisyah begitu terpukul karena suaminya berada di penjara.


Fitria langsung mengoles minyak kayu putih dan memijit di beberapa titik tubuh Khansa. Sepuluh menit lamanya, kini Khansa telah siuman.


Di kamar yang lumayan luas itu, Khansa menatap lemah wajah orang-orang di sekitarnya. Sera langsung berhambur memeluk Khansa yang masih setengah sadar itu.


Meraung-raung hingga tetes demi tetes air mata Sera membuat baju Khansa sedikit basah.


Sera mengusap air mata Khansa, ia mendekap tubuh Khansa dengan erat. Menatapnya lekat-lekat begitu hangat, belum tentu kejadian ini akan berulang lagi. Mengingat perlakuan tak sopan yang sudah Sera lakukan kepada Khansa selama ini. Apapun yang Sera lakukan, ia tau diri. Itu takkan mampu menutupi kesedihan yang tengah mengguncang hati sang kakak ipar.


"Kak Khansa harus kuat, kita pasti bisa segera menemukan kak Ramadhan," Sera terus saja berderai air mata.


"Maafkan Sera yang selama ini sudah berperilaku menyebalkan dan kasar kepada kak Khansa," Sera bahkan memeluk Khansa lebih erat dari sebelumnya.


"Kruuuk ...."


Semua orang saling menoleh satu sama lain.


"Kamu laper Sa?" tanya Fitria mencoba to the point.

__ADS_1


Khansa menggelengkan kepala, bukan perut aku yang bunyi.


"Maafkan, itu tadi bunyi perut aku ...."


"Bhahahaha ...."


Sontak tawa pecah di kamar Khansa tak bisa terelakkan.


"Ibu juga baru ingat, kita semua tidak ada yang makan sama sekali dari tadi pagi. Benar saja kalau perut Sera sudah bunyi jam segini. Kita semua memang bersedih, tapi perut kita tetap perlu makan. Ibu dan Sera masak dulu ya, Fitria tolong jaga Khansa dulu ya."


"Baik bu." Senyum manis Fitria mengulas sebagai pertanda ia meyakinkan ibu mertua Khansa.


"Sa, kamu harus kuat. Kamu harus kembali sehat dan tak berlarut-larut dalam kesedihan jika ingin menemukan kak Ramadhan. Hanya itu satu-satunya cara Sa. Kalau kamu sakit, bakal terus-terusan di kamar seperti ini. Justru menghambat dan memperlama kesempatan kita menemukan kak Ramadhan."


"Iya, kamu benar Fit. Aku harus segera pulih untuk segera menemukan kak Ramadhan. Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku yakin. Kak Ramadhan masih hidup. Sampai kapanpun, jika aku belum pernah melihat jasadnya. Aku akan tetap mengatakan dengan lantang, bahwa suamiku masih hidup di dunia ini."


"Iya Khansa, semoga kita bisa segera bertemu dengan kak Ramadhan."


Dua sahabat sejak kecil itu kini, berpelukan begitu erat. Bersiap menyongsong hari yang akan datang dengan penuh harapan dan optimis bahwa Allah pasti tidak akan menguji hambanya melebihi batas kemampuan hambanya.


Emosi yang begitu membara dari ujung kaki hingga ujung rambut, terasa terbakar menggerogoti tiap inchi kulit Alex. Ia bisa saja mati bunuh diri jika harus kehilangan Prita untuk kedua kalinya.


“Tuan!” Marco lari terbirit-birit menuju ke arah sang bos besar.


“Katakan, apa kalian sudah menemukan istriku?” Tatapan mata Alex penuh dengan berbagai harapan.


“Bos, Nona Prita ada di halaman parker rumah sakit. Polo sudah menjaganya agar Nona tidak kabur lagi.”


Alex tak ingin membuang waktu sedikitpun, ia langsung melangkahkan kaki jenjangnya menuju area parkir rumah sakit. Ribuan pertanyaan berkecamuk di dalam otaknya. Apa Prita tidak bahagia menikah denganku? Apa ia kabur karena takut akan bernasib sama seperti Ramadhan? Dasar bodoh, aku begitu mencintainya. Tak mungkin aku akan menyakitinya seperti aku menyakiti Ramadhan. Prita belahan jiwaku, sedangkan Ramadhan musuhku. Jadi sangat mustahil aku akan memperlakukan kalian dengan perlakuan yang sama. Dasar Prita bodoh!


Bxngsxt!

__ADS_1


Alex mengutuk apa yang sedang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Istri yang begitu ia cintai sedang menggenggam tangan seorang pria yang tentu, Alex tak mengenalnya. Tapi jika ia harus menilai pria itu masih di bawah standar kegantengan seorang Alex.


“Luar biasa istriku, sedang apa kamu di sini bersama pria dengan wajah standar seperti dia Prita?”


Sontak pria berwajah oval itu menatap Alex dengan tatapan yang begitu menyelidik.


“Istriku?’ gumam pria itu lirih, tapi Alex masih bisa mendengar kalimat itu samar-samar.


Prita langsung menyingkirkan tangannya, raut wajah ketakutan sudah bisa terlihat. Alex berusaha menarik pergelangan tangan Prita. Namun pria cunguk itu berusaha menghalangi, dengan berulah menjadi benteng menutupi tubuh Prita dari jangkauan Alex.


“Siapa kamu? Jangan ikut campur urusan suami istri. Saya bisa menuntut anda ke jalur hukum, karena sudah menculik istri saya.”


Beruntung Prita tau diri dan langsung menyodorkan tubuhnya ke arah Alex. “Jangan hiraukan aku lagi kak Hilal, Prita akan pergi bersama suami Prita. Semoga kak Hilal segera menemukan kebahagiaan, jangan anggap lagi aku ada kak. Assalamualaikum.”


Alex langsung menyeret paksa Prita masuk ke dalam mobil. Marco langsung tancap gas menuju mansion besar sang bos. Marco dan Polo harap-harap cemas, pasti setelah ini akan ada pertumpahan barang-barang di mansion di dalam bantin mereka. Sama halnya dengan Prita, juga tengah menahan setengah mati rasa takutnya. Prita sudah bisa mengira jika setelah sampai mandion nanti dirinya akan menjadi perkedel kentang … dikukus, diulek dan digoreng.


“Tapi, Prita—“


**


Alex langsung menyeret paksa Prita masuk ke dalam mobil. Marco langsung tancap gas menuju mansion besar sang bos. Marco dan Polo harap-harap cemas, pasti setelah ini akan ada pertumpahan barang-barang di mansion di dalam bantin mereka. Sama halnya dengan Prita, juga tengah menahan setengah mati rasa takutnya. Prita sudah bisa mengira jika setelah sampai mandion nanti dirinya akan menjadi perkedel kentang … dikukus, diulek dan digoreng.


Alex langsung menampar Prita sesampainya mereka di dalam kamar. Prita hanya bisa meringis kesakitan, pipinya panas. Membanting pintu kuat, menyapu bersih setiap barang yang ada di meja. Beberapa Gucci dan Vas bunga mahal juga tak luput dari amukan Alex saat itu. Marco, Polo hanya bisa terdiam satu sama lain mendengar suara pecahan barang-barang yang bahkan terdengar sangat jelas dari lantai bawah.


Tanpa sengaja Alex juga menarik baju Prita hingga bagian lengannya sobek, Prita yang sudah takut setengah mati, langsung mengambil pisau buah yang tergeletak di lantai. Posisi siap, Prita sudah menempelkan pisau di pergelangan tangannya. Bahkan ujung mata pisau juga sudah sedikit melukai tanganya, darah segar sedikit sudah mengalir.


“Jangan bodoh Prita! Aku sangat mencintai kamu, tapi kamu yang sudah membuat saya berapi-apai seperti ini! Tangan itu harus di basuh berkali-kali agar jejak tangan pria itu tidak tertinggal.”


“Dia pria yang aku cintai sekarang, semua karena ulahmu! Aku harus meninggalkan orang yang sudah susah payah aku cintai!”


Bagai tersengat racun ular Cobra, hati Alex lemah tak berdaya. Dia seperti perahu yang sudah tak punya arah lagi untuk berlayar.

__ADS_1


*Bersambung ...


Jangan lupa untuk like, comment and vote setelah baca ya☺️*


__ADS_2