Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)

Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)
Gadis Kecil Yang Tak Pantas Untuk Dibenci


__ADS_3

Tak bosannya aku berkata, jangan lupa untuk selalu tinggalkan like dan comment di setiap bab-nya ya☺️


Happy reading❤️


Khansa dilanda kebingungan, saat keluar dari kamar mandi Khansa tidak menemukan sosok Ramadhan. Bahkan Khansa menunggu hingga terkantuk-kantuk berharap setelah shalat subuh ia menemukan sosok suaminya kembali. Dan ternyata tetap zonk, kak Ramadhan mengirim pesan jika ia langsung menuju kantor.


Tadinya Khansa tak ingin ambil pusing, tapi keadaan ini begitu menggelitik pikirannya.


Khansa merasa sikap kak Ramadhan berubah.


Ada apa dengan kak Ramadhan?


Apa karena aku kurang jago di ranjang?


Atau karena masalah Naura?


Aku harus segera selesaikan masalah ini satu persatu.


Batin Khansa berkata demikian.


Rasa kantuknya ia tepis, pagi sekali Khansa melajukan mobilnya menuju ke rumah Azka.


Ini masih jam 06.00 pagi, seharusnya Azka belum berangkat.


Tiiiin!


Seolah sudah kehilangan batas basa basi, Khansa langsung menakan klakson mobilnya agar si pemilik rumah bangun.


"Assalamualaikum non Khansa, tumben pagi sekali sudah kesini?" Sapa pak Bambang.


"Wa'alaikumsalam, tolong buka gerbangnya pak. Azka udah bangun belum?"


"Udah non- udah." Pak Bambang membuka gerbang dan Khansa memberikan kunci mobilnya kepada pak Bambang.


Cukup memakan waktu untuk berjalan menuju rumah Azka dari pintu gerbang ke ruang utama.


Azka tersenyum melihat kedatangan orang yang di sayangnya pagi-pagi buta seperti ini.


"Nyengir aja kamu kaya kuda, Assalamualaikum." Sergah Khansa yang melihat senyum Azka sedari tadi menyambutnya.


"Wa'alaikumsalam, Apa gerangan yang membuat seorang dokter yang sangat sibuk ini bertandang kemari pagi-pagi buta?"


"Ga usah banyak basa-basi deh Azka, kamu sekarang ceritain sedetail-detailnya tentang Naura! Nikah aja kagak, bisa-bisanya kamu sudah punya anak? Ga logika banget." Celetuk Khansa sambil duduk di sofa empuk walau Azka belum menawarkan untuk duduk.


"Aku buatin minum dulu ya? Mau minum apa?"


"Ga usah Azka, aku udah sarapan tadi."


"Aku buatin teh hangat dulu ya," Ucap Azka sambil berlalu pergi.


Khansa mencoba tak peduli, namun sebuah foto dari sudut ruang sebelah menggelitik dirinya untuk menelusuri lebih jauh.


Khansa terperangah, foto-foto dirinya terpajang rapi disana dari kecil hingga besar. Yang bahkan dirinya sendiri tidak mempunyai selengkap itu.


Senyum indah menjuntai, selalu absen disetiap foto-foto itu.


"Kenapa Khansa? Udah cocok belum aku jadi fotografer?" Tanya Azka yang baru saja tiba membawa secangkir teh.


"Kamu bisa aku laporkan lo Azka, menyimpan foto orang tanpa izin."


"Aku merasa lebih semangat jika sudah memandang senyum manis-mu, aku percaya dirimu adalah satu cintaku Khansa.


Aku menemanimu disaat suka maupun duka-mu sedari kecil, apa itu semua kurang cukup untuk mendapatkan izin menyimpan fotomu? Memang bukan salah jodoh, ternyata kamu akan menjadi milik Ramadhan. Terkadang aku ingin memohon kepada Tuhan agar kita tidak beranjak dewasa. Kamu akan selalu ada pada genggamanku jika kamu tidak dewasa Khansa."


Terlihat mata sipitnya itu sudah berkaca-kaca tapi Azka mencoba mengalihkannya dengan sebuah senyuman.


"Di-dimana Naura?" Khansa mencoba mengalihkan arah pembicaraan yang menyudutkannya ini.


"Dia tidak ada disini, jika kamu ingin bertemu dengannya mungkin akhir pekan ini kita bisa bertemu."


"Bukannya Naura anakmu? Kenapa ia tak bersamamu?"

__ADS_1


"Bukankah kamu bilang aku tak punya istri, jadi tak mungkin punya anak? Tapi aku tidak mungkin menceritakan tentang Naura kepadamu Khansa."


"Kenapa?" Tanya Khansa, namun Azka terdiam.


"Azka? Jangan buat aku selalu dalam keadaan sulit, please?" Wajah memelas Khansa kini membuat hati Azka sedikit goyah.


"Aku ga sanggup jika anak sekecil dia akan mendapat rasa benci dari kamu Khansa.


Jika kamu mengetahui kebenarannya, kamu pasti akan membencinya. Dan Naura akan langsung mengingat seorang figur ibu yang membencinya hingga ia besar nanti."


"Kenapa aku harus membencinya? Dia gadis kecil yang sangat cantik dan menggemaskan Azka. Bagaimana bisa aku membencinya? Dan kenapa ia memanggilku mama? Aku tidak mungkin melahirkan anak tanpa menikah Azka."


"Apa kata-katamu itu bisa ku percaya?" Azka berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


"Apa masih kurang lama kamu mengenalku Azka?" Timpal Khansa yang mulai berkurang kesabarannya.


Disaat yang bersamaan terlihat mobil mewah juga ikut terparkir dihalaman rumah Azka.


Hal itu membuat percakapan mereka sementara terhenti.


Gadis kecil yang saat itu tengah menjadi topik pembicaraan berlari-lari kecil menuju ruang tengah dan langsung berhambur memeluk Azka.


Lalu diikuti pria dingin seperti es batu itu dibelakangnya.


"Gara-gara kamu Azka, Naura merengek sepanjang malam ingin bertemu Khansa. Apa yang sudah kamu lakukan kemarin bersa-ma-nya-" Suara Hilal tercekat, kerongkongannya terasa terganjal, ia baru menyadari bahwa sosok wanita bernama Khansa ada dan tengah duduk disana.


"Mama Khansa!" Naura kembali berteriak dan berhambur kearah Khansa.


Memeluk Khansa dengan penuh cinta.


Khansa tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa membalas pelukan gadis kecil itu dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa.


"Mama, Naura kangen banget sama mama Khansa. Naura ga mau pisah lagi sama mama, papah Hilal jahat. Papah Hilal bilang kalau mama Khansa sedang sakit, jadi tidak bisa tinggal dan bobo bareng sama Khansa." Naura seakan menumpahkan semua isi hatinya begitu saja kepada Khansa.


Gadis kecil seumuran Naura memang cenderung ekspresif, mengutarakan apapun yang ia rasakan.


"Ia mama Khansa masih sakit Naura, sekarang mama Khansa juga sudah mau berangkat ke klinik. Jadi Naura sama papah dulu ya, nanti kalau mama Khansa libur. Pasti mama Khansa akan mencari Naura." Ucap Khansa dengan lembut lalu sedikit mencubit hidung Naura yang sudah terlihat mancung itu.


"Tidak ma, Naura mau ikut. Naura mau terus sama mama Khansa." Naura menggoyangkan jubah dokter Khansa saat Khansa berdiri hendak meninggalkannya.


"Tunggu Khansa," Pria es batu bernama Hilal itu menarik tangan Khansa, mencegah wanita itu berlalu.


Khansa langsung menepis tangan Hilal,"Lepaskan tanganku, aku sudah bersuami. Yang boleh menyentuhku hanya suamiku, jadi tolong jaga batasan anda."


Ucap Khansa dengan nada kesal lalu melanjutkan langkahnya lagi.


"Apa kamu tidak mau tahu, alasan kenapa Naura memanggilmu Mama?" Hilal memancing percakapan.


Khansa tetap melenggang pergi meninggalkan dua pria tampak dan gadis kecil yang sangat cantik itu.


"Khansa, ingat jadwal cek up kamu nanti!"


Azka menaikan volume bicaranya 1oktaf, berharap Khansa masih mendengarkannya.


......................


Khansa bolos dari jam prakteknya pagi ini, seperti biasa Fitria sementara menggantikan posisinya di klinik.


Haru biru dan permasalahan kompleks antara hati dan pikirannya, membuat Khansa memutuskan untuk menghibur dirinya sendiri di hamparan pasir Kuta Baru.


Teriknya matahari tak dihiraukannya, Khansa tetap duduk termenung menunggu desiran ombak kecil menyapanya dibibir pantai.


Suasana pantai yang masih sangat asri dan sunyi, membuat Khansa lebih ringan menata hatinya ditempat ini.


Walau sang matahari perlahan membakar pesona kulit putihnya, tapi sang matahari tak mampu membakar rasa pelik dihatinya.


"Abah! Umi! Apa kalian mendengar, melihat dan selalu menemani Khansa?!" Khansa mulai berteriak untuk mengusir rasa sakit dihatinya.


Ah- Abah pasti hanya menemani Aisyah.


Aku memang selalu bernasib menjadi yang terbuang Ummi!

__ADS_1


Selalu dan selalu terbuang, hehehehe


Air mata telah mengalir namun Khansa tutupi dengan tawa renyahnya.


Umi lihat sendiri bukan?


Abah dan Umi meninggalkan Khansa selamanya


lalu dulu Hilal meninggalkan Khansa dengan kebohongannya


Dan sekarang Umi, suami Khansa mengacuhkan Khansa dalam diamnya.


Apa aku selalu salah ya Umi?


Tapi bahkan Khansa tak tau salah Khansa dimana kali ini Umi, apa Umi bisa membantu Khansa kali ini?


Khansa lelah Umi, sungguh lelah.


Kenapa Umi tak ajak Khansa juga waktu itu?


Khansa pasti tidak akan kesepian jika bersama Umi.


Air matanya kini semakin deras.


Umi sudah lihat gadis kecil bernama Naura?


Dia anak Yuta Umi, sudah besar dan sangat cantik seperti Yuta.


Tapi Khansa belum berani menanyakan keadaan Yuta dan dimana dia Umi.


Khansa tak ingin menambah runyam masalah didalam hidup Khansa.


Khansa merasa menyesal Umi, sangat menyesal.


Ketika Khansa tak mencintai kak Ramadhan, ia selalu menghujani Khansa dengan cinta.


Tapi ketika Khansa sudah luluh dan mulai mencintainya, kini Khansa hanya dihujani oleh hawa dingin dan selalu ditinggalkannya Umi.


"Aku tidak pernah meninggalkanmu Khansa, aku hanya butuh kejujuran dan kebenaran darimu." Seloroh pria tampan yang sedari tadi sudah mengikuti Khansa tanpa Khansa menyadarinya.


Khansa tak berani membalikkan tubuhnya, ia hanya diam dan tetap menunggu sapaan ombak membantunya menghadapi suaminya.


Ramadhan langsung menggendong tubuh Khansa begitu saja, tak ada penolakan sedikitpun dari Khansa.


Ramadhan membawa Khansa duduk bangku tepian pantai yang berpayung lebar dan telah tersuguh sebuah kelapa muda.


"Minumlah, berteriak-teriak sedari tadi pasti membuat tenggorokanmu sangat haus bukan?"


Entah Ramadhan sedang meledek Khansa atau apa, Khansa meminum air kelapa itu tanpa melihat Ramadhan sedikitpun.


...****************...


...Memandang Mendapat Pahala...


Menikah akan mengubah banyak hal dosa menjadi jika dilakukan berpahala. Ustad Hanan attaki mnuturkan


...“Memandang pasangan itu seperti memandang kabah. Seperti pahala orang sholat selama 2 rakaat”...


...Cerbung...


...Hai semuanya!...


...Salam hangat dari penulis recehan, alias remahan rengginang yang masih gurih untuk jadi cemilan....


...Tolong tinggalkan jejak kalian disini ya, klik Like, comment dan Votenya. Mmm- Hadiahnya juga boleh kali ya....


...Jika berkenan jangan lupa untuk mampir juga di karyaku yang lainnya yang tak kalah serunya ya....


↘️↘️↘️↘️↘️↘️↘️


...~Terjebak Pernikahan Mr Bule Di Bali...

__ADS_1


...~Siapakah Jodohku?...


...~Obsesi Tingkat Tinggi...


__ADS_2