
Assalamualaikum reader
Maaf ya untuk beberapa bab ini author sedang menyuguhkan bab yang ringan terlebih dahulu.
Di dunia nyata author sedang di kejar lembur karena di sini umat Hindu sedang melangsungkan hari raya mereka selama sepekan, Galungan dan Kuningan. Jadi author kasih yang ringan-ringan dulu.
Untuk yang mengharapkan action dari seorang mantan mafia belum terlalu author tunjukan. Karena disini author ingin mengulik dunia rumah tangga seorang mantan mafia (Ramadhan) yang mencintai Khansa sedari dulu, terlebih dahulu. Nanti akan ada waktunya saya akan menyuguhkan action lebih dalam. So, tetap stay tune baca kelanjutannya ya.
Kau bisa patahkan sayap ku
Tapi tidak dengan mimpi dan Asa ku
Kau bisa membelenggu dan memenjarakan ragaku
Tapi tidak dengan hatiku
Happy reading❤️
Lelah,
Sungguh aku sangat merasakan itu
Bukan lelah ragaku, melainkan hatiku
Entah, aku tak bisa menjelaskannya
Pada intinya aku lelah
Aku yakin orang yang dekat denganku juga merasa lelah
"Bagaimana tidak lelah, kamu memaksakan hal yang orang lain tidak bisa memberikannya kepadamu." Suara berat Azka memotong protes seorang Kinara yang tengah duduk di taman rumah sakit.
Kinara menoleh kearah sumber suara namun ia kembali lagi menatap hijaunya rerumputan.
"Boleh aku duduk di sini?"
Kinara hanya terdiam, "Apa kamu tuli?" Tanya Azka lagi.
"Silahkan," Akhirnya Kinara membuka suara.
"Maaf, sebelumnya kita belum pernah berkenalan. Karena permasalahan ini, bahkan aku sudah membenci kamu lebih dulu sebelum aku berkenalan dengan kamu. Namaku Azka," Azka mengulurkan telapak tangannya.
"Kinara, Kinara Larasati Wijaya. Itu sudah biasa, banyak yang membenciku tanpa tau sebenarnya siapa aku." Kinara tersenyum kecut.
Aku bahkan tidak ada menanyakan nama lengkapnya. Gumam Azka
"Kamu harus tau nama lengkap aku, bukankah besok kamu akan menikah denganku?"
Kini Kinara memandang lekat sang pemilik wajah dengan lesung Pipit di kedua pipinya itu.
Ck! Benar-benar tidak punya malu sepertinya model perempuan yang satu ini.
"Aku kemari karena harus meluruskan sesuatu denganmu." Azka mulai membuka topik pembicaraan serius.
"Silahkan."
"Aku bersedia menikah denganmu, bukan karena aku suka atau apalagi mencintaimu. Ini semua aku lakukan semata untuk kebahagiaan Khansa, kebahagiaan wanita yang akan kamu rebut begitu saja." Kinara menoleh kearah Azka, dua detik kemudian dia menunduk lagi.
"Khansa, merupakan bagian dari hidupku. Aku tak bisa bersamanya karena ia lebih mencintai Ramadhan. Jadi jika kamu sampai menyakiti Khansa, kamu juga akan berhadapan denganku. Satu hal lagi, Pernikahan kita hanya berlangsung selama dua tahun! Aku sudah memikirkan ini matang-matang. Nanti pengacara ku akan membuatkan perjanjian tulis secara detailnya. Jangan meminta lebih! Karena waktu dua tahun itu sudah sangat merugikan saya, permisi!" Azka langsung beranjak dari tempat duduknya, pergi meninggalkan Kinara seorang diri.
Kinara hanya bisa mengelus perutnya yang masih rata, "Hallo dede bayi, yang barusan bicara disini itu. Akan jadi papah kamu besok, jangan nakal ya. Papah baru kamu itu seorang dokter, jadi mama harap dede ga keberatan memiliki papah seperti dia. Paling tidak, papah baru dede tidak jahat seperti orang yang membuat dede ada di perut mama."
"Kinara,"
Kinara mendongak, melihat sosok yang memanggilnya.
"Ayah," Dengan segera ia mengusap bekas air mata yang membasahi pipinya.
__ADS_1
"Apa kamu menerima pernikahan ini nak? Bukan Ramadhan yang kamu cinta yang akan menikahi mu. Tapi dokter itu, apa Kinara tetap mau?"
"Kinara harus mau menerima ini Ayah, setidaknya saat anak ini lahir dia punya seorang ayah yang baik."
"Maafkan Ayah yang gagal melindungi kamu nak." Pak Wijaya memeluk putrinya dengan erat. Setelah ini kita ke hotel di dekat sini saja nak, kita harus istirahat untuk mempersiapkan semuanya besok.
...****************...
"Assalamualaikum," Reza dan Aisyah tiba
"Wa'alaikumsalam,"
"Bagaimana keadaanmu kak?" Reza terlihat cemas melihat Ramadhan berbalut gips dimana-mana.
"Sudah lebih baik," Jawab Ramadhan dengan senyum mengambang ke arah Khansa.
Reza mendorong kursi roda Aisyah ke arah Ayah dan Ibu yang tengah duduk di sofa, menikmati beberapa takjil untuk membatalkan puasanya.
Reza dan Aisyah bergantian mencium punggung tangan Ali dan Fatima.
"Ini memantu Ibu yang bernama Aisyah, Reza?" Tanya Ibu dengan lembut, "Benar bu," Jawab Reza dengan tersenyum manis.
"Dia lumpuh?" Pertanyaan dari Ayah Ali sangat menohok.
Aisyah sudah bisa menduga pertanyaan itu akan muncul. Reza yang melihat istrinya terkejut dengan pertanyaan itu berusaha mengalihkan arah pembicaraan.
"Nanti Reza ceritakan Ayah," Kini Reza mendorong kursi roda Aisyah menuju bed Khansa. "Aisyah di sini dulu dengan Khansa ya, biar mas Reza yang menceritakan semuanya kepada Ayah."
Khansa memegang erat tangan adiknya Aisyah.
"Aisyah, kakak ingin makan. Aisyah mau menyuapi kakak?"
"Mau kak, Aisyah suapin ya." Khansa tahu jika adiknya terpukul dengan pertanyaan itu. Khansa berusaha membuat Aisyah sibuk menyuapinya agar Aisyah tidak fokus mendengarkan pembicaraan Reza dengan Ayahnya.
*
"Cinta juga butuh logika Za, Kalau model menantu Ayah seperti ini. Bagaimana bisa Ayah menggelar resepsi pernikahan kalian dengan megah di Jakarta? Relasi-realasi perusahaan Ayah akan tertawa melihat joke seperti ini. Sepertinya anak-anakku memang tidak pandai mencari istri yang benar. Jika sudah selesai bermain-main bicara dengan Ayah. Akan Ayah cari kan calon istri yang perfect untuk kamu."
"Astaghfirullah Ayah, aku tidak sedang bermain-main Ayah. Aku memang mencintai Aisyah apa adanya."
"Ayah, Ibu tidak ingin membantah Ayah sebagai seorang pemimpin dalam keluarga ini. Tapi seorang pemimpin yang baik adalah membahagiakan dan menentramkan hati anak-anak dan istrinya, bukan malah menyakiti dan menyiksa pelan-pelan anak dan istri mereka. Surga ada di telapak kaki ibu, tapi bakti seorang istri ada pada suaminya, Fatima tidak ingin berbakti kepada suami yang lalai dari kepemimpinannya. Kelak di akhirat kita harus bertanggung jawab akan setiap perbuatan kita Ayah." Mata yang sendu, wajah yang tak berseri menggambarkan betapa kesedihan yang Fatima lalui hari ini.
Kebahagiaan anaknya selalu saja di usik oleh Ayahnya sendiri.
"Mereka sudah besar Yah, bukan anak kecil kita lagi. Biar mereka yang menentukan siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya hingga akhir hayat. Zaman sudah berbeda yah, kita tidak bisa lagi mengekang. Tugas kita hanya mengarahkan ke arah yang menurut kita baik. Bukan memaksa."
"Hah- iya dah, ngomong kalau sama ibu pasti Ayah yang selalu salah. Segera kemasi barang ibu. Kita tidur di hotel saja sekarang. Ayah sudah lelah."
"Tidak yah, Ibu mau disini saja menemani anak-anak dan menantu-menantu Ibu."
"Perintah suami, wajib istrinya kerjakan. Apa meminta tidur atau beristirahat di hotel itu melawan syariat agama?"
"Ikuti kemauan Ayah bu, biar Reza dan Aisyah yang menjaga Kak Ramadhan dan Khansa. Besok pagi ibu bisa kesini lagi."
"Ayah,"
"Ya," Jawab Ali saat berada di ambang pintu bersama Fatima.
"Jangan macam-macam ya Ayah, kasian Ibu terlihat sangat lelah."
"Maksud kamu apa Reza, Ayah tak mengerti." Elak Ali.
"Sera sudah besar yah, dia tidak butuh adik lagi. Kebiasaan Ayah kalau di hotel pasti minta gitu."
"Gitu apa Za?" Ramadhan juga tak mengerti akan maksud Reza.
"Kakak tanya saja sendiri sama Ayah,"
__ADS_1
Jawab Reza merengut.
"Aish! Kamu ini Reza, dari dulu tak pernah berubah. Itu kejadian sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu. Kenapa kamu masih saja mengingatnya," Muka Ayah Ali memerah karena menahan malu. Posisi di ruangan itu ada kedua anak dan kedua menantunya.
Dulu sewaktu Reza berusia 10 tahun, Ali mengajak Fatima, Reza dan Sera jalan-jalan ke Malaysia. Di malam harinya ketika mereka menginap disebuah hotel, Sera sudah tertidur dengan lelap. Reza justru gelisah dan tak bisa memejamkan matanya. Di samping itu, Reza sejujurnya juga merasa takut. Karena kamar hotel yang begitu luas namun hanya ada Reza dan Sera saja di sana.
Perlahan Reza turun dari bed yang super besar itu, berjalan menelusuri lorong. Kamar yang di pesan Ayah saat itu merupakan 2kamar dan du bed namun tersekat oleh satu pintu di lorongnya, pencahayaan kamar yang begitu temaram. Namun Reza masih mendengar jelas percakapan kedua orang tuanya saat bercocok tanam. "Ayah, Ibu takut nanti kalau Reza atau Sera bangun nanti kesini."
"Tidak akan bu, mereka sudah tidur. Mumpung kita di hotel. Menikmati suasana baru dan gaya baru tentunya."
Bruk! Pintu sekat itu akhirnya Reza tutup. Maksud hati ingin tidur bersama Ayah dan Ibu karena dia takut, justru hal lain yang ia temukan.
Semenjak kejadian itu, Reza agak menjaga jarak dengan Ayahnya. Tidak se-akrab dulu, karena menurut Reza. Ayah selalu merebut waktunya dan Sera untuk dekat dengan Ibu.
"Jangan pernah membahas itu lagi di depan menantu Ayah Reza, atau kamu mau nama kamu Ayah coret dari KK?!"
Bersambung...
...****************...
Setiap yang sudah maupun yang akan berumah tangga, pasti menginginkan bahwa nanti hubungan rumah tangganya berjalan dengan harmonis dan menjadi Keluarga Sakinah, Mawaddah, Warahmah. Tidak hanya untuk 5 atau 10 tahun, tapi selamanya, seumur hidup. Tak jarang, ada halang rintangan yang turut mempegaruhi dalam hubungan Rumah Tangga. Oleh sebab berumah tangga artinya terdapat dua kepala (suami dan istri), maka kedua-duanyalah yang harus bisa saling memahami dan melengkapi sehingga terbina Keluarga Harmonis. Karena tujuan pernikahan dalam islam untuk mencapai ridho ilahi agar selalu berada di jalan yang lurus menuju surgaNya.
Lantas, bagaimana Keluarga Bahagia Menurut Islam untuk menjaga agar keharmonisan rumah tangga tetap terjaga? Berikut adalah beberapa Cara Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga menurut agama Islam:
Perlakuan Baik dan Ketaatan
Kewajiban Suami terhadap Istri dalam Islam yaitu memperlakukan istri dengan baik, bersikap lapang dada, serta sabar menghadapi istri sesuai dengan yang dianjurkan dalam syariat. Dan juga tahu bagaimana Cara Membahagiakan Istri Tercinta. Sementara Kewajiban Istri Terhadap Suami dalam Islam adalah mentaati perintah suami (selama perintah itu dalam hal kebaikan)
Saling Memahami
Latar belakang maupun lingkungan tempat pasangan tumbuh mungkin berbeda dengan diri sendiri. Sebagai istri/suami yang baik hendaknya dapat mengerti bahwa hal tersebut tidaklah seharusnya memengaruhi dalam berperilaku atau interaksi dalam rumah tangga, apalagi sampai memengaruhi dalam pengambilan keputusan untuk suatu tindakan. Kewajiban dalam Rumah Tangga bagi suami/istri yaitu saling memahami keadaan yang demikian demi mencapai keselarasan dalam berumah tangga.(Baca :Kewajiban Wanita Setelah Menikah)
Jujur Satu Sama Lain
Dalam kehidupan berumah tangga tidaklah luput dari yang namanya perbedaan pendapat dan ketidaksinambungan dalam berbagai hal. Kunci Rumah Tangga Bahagia yang harmonis yaitu saling memahami satu sama lain dan harus bisa bersikap terbuka dan jujur akan apa yang dipikirkan dan hendak dilakukan. Kejujuran merupakan pondasi penting dalam membangun rasa kepercayaan satu sama lain.
Sulit untuk memahami pasangan jika tidak ada rasa kepercayaan di antara keduanya. Jika suami atau istri ada yang melakukan kesalahan, janganlah sungkan untuk terlebih dahulu meminta maaf. Keberanian dalam mengakui kesalahan tentu akan meningkatkan rasa percaya oleh pasangan.(Baca : Cara Memilih Pendamping Hidup Dalam Islam)
Saling Menghormati
Tiap individu merasa perlu untuk dihormati dan dihargai, termasuk bagi pasangan suami istri. Istri diwajibkan untuk taat dan mematuhi suami, dengan kata lain ia juga harus menghormati suami selaku kepala keluarga. Begitu pula dengan suami harus menghormati istri. Sehingga tercipta rasa saling menghargai satu sama lain.(Baca : Kewajiban Laki-Laki Setelah Menikah)
Berusaha Menyenangkan Pasangan
Menyenangkan pasangan ada berbagai cara, termasuk saat istri berdandan cantik (yang memang seharusnya dilakukan hanya untuk suami) dan memasakkan makanan kesukaan suami, atau suami yang memuji masakan istri karena pada dasarnya manusia memang senang ketika mendapat pujian.(Baca : Wanita Cantik Dalam Islam)
Maka, saling memujilah satu sama lain namun agar bisa saling saling menyenangkan. Terutama apabila memuji dilakukan dihadapan orang lain misalnya Keluarga atau teman dengan menyebut kebaikan suami/istri. Memprioritaskan satu sama lain guna menumbuhkan rasa sayang Cinta di antara pasangan.
Mencari Solusi Bersama
Menikah berarti membangun hidup bersama, saling berbagi satu sama lain, begitu juga ketika ada masalah atau Konflik dalam Keluarga yang melanda harusnya dibicarakan berdua agar menemukan solusi bersama. Suami atau istri adalah partner dalam berbagai hal. Bahkan jika hanya masalah kecil saja, tidak ada salahnya untuk meminta pendapat pada pasangan untuk menemukan penyelesaian. Dengan begitu, hubungan antar suami istri akan semakin erat.(Baca : Cara Menghilangkan Stress Dalam Islam)
Qana’ah
Yang namanya hidup berumah tangga, artinya harus berusaha mandiri demi mencukupi kebutuhan bersama-sama. Jangan membandingkan dengan keadaan ketika sebelum menikah yang apa-apanya saja bisa didapatkan dari orang tua atau oleh pendapatan sendiri.
Saat berubah haruslah bisa membagi dengan tepat mana kebutuhan pribadi, mana kebutuhan bersama. Bersyukur terhadap apa yang telah diberikan oleh Allah atas rezeki yang diterima akan membuat kehidupan berumah tangga terasa lebih berkah.
Memanggil dengan Panggilan Sayang
Berpedoman pada Rasulullah SAW ketika beliau memanggil Aisyah RA dengan sebutan Humaira, yang artinya Merah Delima. Tiada salahnya jika suami juga memberikan panggilang kesayangan pada istri seperti halnya yang dilakukan oleh Rasulullah SAW tersebut. Istri pun juga bisa melakukan hal yang sama terhadap suami. Karenanya, pilihlah panggilan yang memang benar-benar baik dan pasangan juga menyukainya.
Tidak benar untuk menuntut kesempurnaan dari suami maupun istri karena pada dasarnya manusia tidaklah ada yang sempurna (kesempurnaan hanya milik Allah SWT). Baik suami maupun istri pasti tidak luput dari yang namanya berbuat kesalahan. Oleh sebab itu, penting untuk memiliki rasa toleransi demi menghindari kekeliuran apalagi kekerasan.
Bila masing-masing tidak ada yang mau mengalah, maka yang terjadi hanyalah rasa dendam dan rumah tangga pun jadi berantakan. Cara Menghilangkan Dendam dalam Islam yaitu dengan cara saling menguatkan satu sama lain merupakan bentuk nyata dari rasa peduli. Berusaha untuk selalu bisa berdiri disamping pasangan ketika ada permasalahan yang menimpa akan menumbuhkan rasa kepercayaan yang lebih dalam terhadap pasangan
yang dimaksud sakralitas di sini adalah di mana dalam berumah tangga segala sesuatunya harus didasari atas ketaatan terhadap syariat Allah SWT. Membangun rumah tangga jika hanya dipandang dari segi materi tentu akan terasa berat. Karena itu, ingatlah bahwa tujuan Membangun Rumah Tangga Dalam Islam adalah untuk mendapat kebaikan dengan berkah dari Allah SWT. Dengan begitu, masalah apapun yang dihadapi dalam lingkup rumah tangga insya Allah bisa dihadapi.
__ADS_1