
Happy Reading😭
Hai para kakak atau anak sulung diatas muka bumi ini👋
Sebagai anak pertama, pundak kita harus sekuat baja.
Hati kita harus sekeras batu
Dan semangat kita harus selalu penuh dengan charger.
Dan sebagai anak pertama, pernah ga si kalian merasakan cemburu kepada adik kalian sendiri?
Pada bab ini akan sedikit membahas hal ini.
Selamat membaca☺️🥺
...****************...
Ramadhan harus menjalani operasi karena luka tembak yang ia alami.
Sedangkan Hafiz yang sudah selesai menerima perawatan di kakinya yang terluka tembak, sudah dipindahkan di ruang perawatan biasa.
Khansa yang sudah menerima obat penenang sedari satu jam yang lalu, kini ia hanya bisa terdiam memandang siluet matahari yang akan terbenam dari balik jendela kaca rumah sakit.
"Assalamualaikum kak Khansa," Dengan linangan air mata Aisyah menggenggam erat tangan kakaknya yang terlihat melamun itu.
"Lepaskan tanganku," Suara datar itu menghentakkan hati Aisyah dan Reza.
Bagaimana bisa seorang Khansa yang selama ini begitu menyayangi adiknya Aisyah kini tak mau disentuh sedikitpun oleh adiknya.
Aisyah memandang wajah suaminya, seolah butuh waktu dan berharap suaminya mau meninggalkan dia dan kakaknya untuk bicara empat mata sementara.
"Jika sudah selesai panggil aku sayang, aku akan melihat kondisi kak Ramadhan diruang ICU," Reza mengecup puncak kepala istrinya dan berlalu pergi dari ruang perawatan Khansa.
Aisyah berusaha mengumpulkan kekuatan dihatinya, berusaha tegar. Apapun yang kakaknya katakan kepadanya nanti, ia akan kuat dan bisa menghadapinya dengan sabar. "Kak, bagaimana kalau kita melihat kondisi kak Ramadhan? Sekarang kak Ramadhan sudah dipindahkan ke ruang ICU. Apa kakak tidak ingin melihat kondisinya?" Aisyah berusaha menahan bendungan air mata yang sudah berkumpul di pelupuk matanya itu.
"Tidak, apa kamu tidak bisa pergi dari sini dan biarkan aku sendiri Aisyah?"
Bendungan air mata yang sedari tadi ditahan tak mampu lagi di bendung, jatuh berurai begitu saja di pipi Aisyah.
"Apa kakak tidak membutuhkan aku sama sekali? Hanya kakak yang aku punya didunia ini kak, jika kakak menyuruh Aisyah pergi, Aisyah tidak akan pernah pergi. Berbagilah dengan Aisyah kak, apa ada sesuatu yang mengganjal didalam hati kakak? Aisyah tahu jika kejadian yang menimpa kakak dan kak Ramadhan begitu berat kak. Aisyah sangat siap mendengarkan."
Sekali lagi Aisyah memberanikan diri untuk memegang kedua tangan kakaknya, namun lagi dan lagi tangannya ditampik oleh Khansa.
Air mata semakin deras mengalir, tiada yang lebih menyakitkan selain ditolak dan diusir oleh kakak sendiri. Sedangkan mereka berdua kini tak punya bahu ayah dan ibu yang menjadi tujuan akhir untuk bersandar.
"Aku hanya seorang gadis biasa yang juga butuh sedikit kebahagiaan Aisyah," Tiba-tiba Khansa berkata demikian dan air matanya juga meleleh.
"Terkadang aku hanya ingin terlahir dari orang biasa dan keluarga yang biasa juga, sehingga disaat aku melakukan dosa aku tidak punya batin yang tersiksa," Mata Khansa hanya memandang jendela kaca yang semakin lama cahaya dari luar itu semakin temaram.
"Apa yang kakak katakan dan pikirkan? Semua manusia pasti pernah melakukan dosa kak, jangan berkata seperti itu lagi."
Aisyah memegang lembut bahu kakaknya, dan lagi-lagi tangannya yang lembut itu di tampik oleh Khansa.
"Tidak! Dosa tidak berlaku untuk kamu Aisyah! Semua yang kamu lakukan selalu benar, aku yang selalu salah. Dari kecil bahkan Abah selalu lebih menyayangi kamu jika dibandingkan dengan aku, aku harus mengemis kasih sayang dari Abah. Oh tidak, jangankan mengemis kasih sayang, hanya sekadar untuk membuat Abah melihat aku saja, aku harus membuat masalah terlebih dahulu." Tetesan demi tetesan air mata mengalir begitu deras, Khansa sudah tidak bisa membendung perasaan iri dan sakit yang selama ini ia pendam sendiri.
Khansa mengingat bagian demi bagian, ketika Abah mau berbicara padanya, hanya disaat ada sesuatu yang begitu mendesak saja, atau disaat Abah akan memarahi dan memukul Khansa saja karena perilaku Khansa yang sudah keterlaluan.
Terlahir dan mempunyai ayah seorang pemuka agama, menuntut seorang Khansa untuk selalu patuh dan tidak boleh melakukan kesalahan sedikitpun. Khansa punya mimpi dan cita-cita yang sangat bertolak belakang dari keinginan Abah-nya, itu yang menjadi basic dasar selama ini Khansa selalu tidak cocok dengan almarhum Abah-nya.
__ADS_1
Disaat Khansa memutuskan menjadi seorang dokter saja, perdebatan hebat harus ayah dan anak itu lalui. Ummi menangis hebat dan bersujud kepada Abah, hingga akhirnya Abah mau mengalah dan menerima keputusan Khansa yang ingin menjadi seorang dokter.
"Hilangkan pemikiran-pemikiran seperti itu kak, itu semua tidak benar. Abah dan Ummi sama-sama menyayangi kita berdua kak. Aisyah tidak sempurna seperti yang kakak kira,"
Aisyah tercekat dengan apa yang dipikirkan oleh kakaknya selama ini.
"Lihatlah putaran waktu kembali Aisyah, dari kecil kamu selalu tersenyum dipangkuan Abah. Dan aku akan menangis di pelukan Ummi, kamu dengan mudah memiliki apa yang kamu inginkan. Sedangkan aku? Aku harus memutar otak agar bisa mempunyai uang sendiri dan membeli barang yang aku inginkan sendiri."
Khansa ingat bagaimana Aisyah ingin mempunyai kitab-kitab yang sangat ingin Aisyah pelajari, dan dengan cepat Abah membelikan semuanya. Dan saat Khansa menginginkan alat olahraga yang sudah menjadi hobinya yaitu Kondo dan Judo, Abah tak merespon sedikitpun.
"Bahkan aku masih mengingat jelas bagian demi bagian disaat Abah pulang dari ceramah luar kota, putri yang pertama dicarinya adalah Aisyah. Dimana Aisyah ku ya Ummi? Aku sudah membawakan makanan kesukaannya dari Malang, dan aku juga membawakan kitab yang sempat ia bahas bersamaku terakhir kali.
Terkadang aku bahkan ragu, apa aku ini benar-benar kakakmu Aisyah?
Tidak ada ruang dan kasih sayang untuk seorang Khansa. Yang ada hanya belas kasihan dari Ummi untuk Khansa yang tak dianggap oleh Abah."
Sesekali Aisyah melihat Khansa tersenyum beriringan dengan air matanya yang jatuh saat mengutarakan seluruh isi hatinya itu.
Aisyah menggelengkan kepalanya, "Stop kak, jangan berbicara seperti itu. Semua yang Abah dan Ummi berikan kepada kita sama kak, sekarang hanya kak Khansa yang Aisyah punya. Aisyah mohon, hilangkan pemikiran-pemikiran tidak benar seperti itu kak, jika Abah dan Ummi melihat kita seperti ini, pasti mereka akan sangat sedih kak. Sekarang apalagi yang membuat kakak iri dengan Aisyah? Bahkan kaki saja Aisyah tidak punya," Aisyah berusaha memeluk tubuh kakaknya walau kesedihan dan rasa sakit menumpuk di rongga dadanya, namun lagi-lagi Khansa mendorong dan menolak Aisyah.
"Sekarang buka mata kamu lebar-lebar Aisyah! Kamu dengan mudahnya berbahagia menikah dengan Reza, orang yang kamu cintai dan Reza juga mencintai kamu. Sedangkan kakak? Abah memberi amanah agar aku menikah dengan Ramadhan, lihat dia? Dia sudah membohongi kakak atas pekerjaannya, kami tidak saling mencintai. Bahkan nyawa kakak berada di ujung tanduk karena ulah kebohongannya! Apa ini semua adil?
Jawab aku Aisyah!
Apa semua ini adil?
Bahkan kebahagiaan tak mau bertegur sapa denganku sedikitpun!
Jangan panggil aku kakak lagi Aisyah, aku ragu jika aku kakakmu.
Tinggalkan aku sendiri!
Khansa menangis sekaligus meronta-ronta, bahkan gelas dan buah-buahan yang berada di Nakas tak luput dari serangan Khansa.
Dokter dan suster berlari menuju ruangan Khansa dan langsung menyuntikan obat penenang pada saluran infusnya, seketika membuat Khansa dengan mudah terlelap.
Reza yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka, memeluk Aisyah dengan erat. Tangis Aisyah pecah dengan kata-kata kakaknya yang dari tadi terlontar begitu saja dan sangat menyayat hatinya.
"Permisi, bapak dan ibu keluarga dari pasien?" Sang dokter menyapa Aisyah dan Reza ketika Khansa sudah tenang terlelap tidur.
"Betul dok, saya adiknya." Jawab Aisyah pendek.
"Kalau begitu, bisa ikut keruangan saya sebentar? Ada yang perlu saya sampaikan mengenai keadaan pasien,"
"Baik dok," Reza mendorong kursi roda Aisyah, mengekor menuju ke ruangan dokter yang menangani Khansa.
"Silahkan duduk," Dokter mempersilahkan Reza untuk duduk.
"Terima kasih dok,"
"Sebelumnya perkenalkan, saya dokter Rudi. Kebetulan sekali, ternyata saya juga pernah menangani sakit Dokter Khansa bersama rekan saya dokter Azka. Sebelumnya, apa saya boleh tahu apa saja yang tadi anda bahas dengan dokter Khansa hingga dokter Khansa menjadi histeris seperti tadi?"
Aisyah menceritakan kembali, apa saja yang tadi kakaknya katakan kepadanya. Berderai air mata menyelingi cerita Aisyah kepada dokter Rudi. Reza berusaha menguatkan istrinya dengan mengusap lembut bahu istrinya itu.
"Jika demikian, bisa saya simpulkan dokter Khansa mengalami trauma hebat dari kasus kejadian penyanderaan yang menimpanya. Pasien menjadi begitu membenci dengan orang-orang yang ia anggap menjadi sumber atau dalang dari segala penderitaan baginya, tidak mau disentuh dan mudah histeris jika mengingat hal-hal yang begitu menyakitkan baginya. Perasaan yang begitu tertekan dan takut menggiring pemikirannya membenci orang-orang yang menyakitkan hatinya."
"Lalu bagaimana cara menyembuhkan traumanya dok?" Tanya Reza serius.
"Sang waktu yang akan bisa menyembuhkan rasa trauma itu dengan sendirinya, kita akan coba bantu dengan beberapa langkah terapi. Dan sisanya, kesabaran lingkungan yang berperan besar membantunya. Kelilingi pasien sementara ini dengan orang-orang yang menyenangkan bagi pasien, melakukan hal-hal yang disukai pasien bisa dari kegiatan atau makanan-makanan kesukaannya, dan perlahan menyemangati pasien dari keadaan sedih atau menyakitkan yang pernah dialami pasien."
__ADS_1
Aisyah menatap dalam kedua mata Reza, butuh kekuatan menghadapi ini. Aisyah yakin, jika kakaknya tidak akan mudah begitu saja menerima keberadaan Aisyah didekatnya.
"Bagaimana ini kak Reza, kakakku sendiri bahkan begitu membenciku,"
Aisyah menunduk, kata-kata kak Khansa tadi masih begitu terngiang-ngiang diotak-nya.
"Sabar sayang, kita semua pasti bisa melalui semua ini. Cara Allah menyayangi kita dengan memberi ujian kepada kita, dan Allah tidak akan menguji hambanya melebihi dari batas kemampuan hambanya. Jadi kita semua insyaallah bisa melalui ini semua bersama." Reza memberikan secercah cahaya pada kelamnya gelap.
"Kalau begitu, kami permisi dok. Terima kasih atas informasinya."
"Baik, silahkan. Sama-sama pak Reza."
Setelah keluar dari ruangan dokter Rudi, Reza dan Aisyah bertemu dengan Boby, Sinta dan Fitria.
Reza menjelaskan keadaan Khansa kepada mereka bertiga, Sinta terlihat tersenyum sinis. Sedangkan Boby dan Fitria begitu khawatir terhadap keadaan Khansa.
"Kalau begitu begini saja Reza, bawa istrimu pulang untuk beristirahat. Hari sudah mulai malam, biar saya dan Sinta yang akan bergantian menjaga Ramadhan.
Lalu Fitria yang akan menjaga Khansa. Fitria adalah sahabat Khansa, jadi saya rasa Khansa tidak akan histeris jika terbangun ada Fitria dihadapannya. Besok pagi atau siang kalian bisa kesini lagi."
Boby memberi usul berbagi tugas.
"Tidak kak Reza, aku mau menunggu kak Khansa bangun. Aku tidak bisa meninggalkan kak Khansa sendiri." Keras kepala Aisyah sebelas dua belas dengan kakaknya Khansa.
"Yang diucapkan Boby itu benar adanya Aisyah, jika Khansa melihat kamu lagi, sudah pasti kemungkinan besar ia akan histeris lagi.
Bersabarlah Aisyah, beri waktu kepada Khansa untuk menghilangkan rasa traumanya secara perlahan. Aku juga tak mau jika nanti kamu sakit karena kelelahan disini Aisyah."
Reza mencoba menasehati istrinya.
"Baiklah kalau begitu, kak Boby aku mohon kabari aku jika terjadi sesuatu dengan kak Khansa," Tatapan sayu begitu terlihat dari kedua bola mata wanita bernama Aisyah ini.
"Siap komandan kompi Aisyah, saya sebagai prajurit akan langsung melaporkan keadaan pasien atas nama Khansa dan Ramadhan jika sudah siuman nanti. Laporan selesai, harap komandan segera beristirahat." Ucap Boby dengan nada bicara dan sikap bak seorang prajurit militer.
Sedikit senyuman muncul dibibir Aisyah, "Baik, laporan saya terima. Assalamualaikum wr wb,"
Aisyah juga tak mau kalah, menjawab ucapan Boby bak pemimpin pasukan kompi.
Paling tidak, akhir pembicaraan saat itu ada sedikit senyum yang terurai.
...Apabila Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menemui kesulitan, maka beliau segera mengerjakan sholat," (HR Abu Dawud)....
Setibanya Aisyah dirumah, ia langsung melaksanakan shalat Sunnah dua rakaat untuk menenangkan hati dan pikirannya yang kalut. Kesembuhan Khansa adalah permintaannya yang utama pada doanya kali ini.
...Cerbung...
...Hai semuanya!...
...Salam hangat dari penulis recehan, alias remahan rengginang yang masih gurih untuk jadi cemilan....
...Tolong tinggalkan jejak kalian disini ya, klik Like, comment dan Votenya. Mmm- Hadiahnya juga boleh kali ya....
...Jika berkenan jangan lupa untuk mampir juga di karyaku yang lainnya yang tak kalah serunya ya....
↘️↘️↘️↘️↘️↘️↘️
...~Terjebak Pernikahan Mr Bule Di Bali...
...~Siapakah Jodohku?...
__ADS_1
...~Obsesi Tingkat Tinggi...