Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)

Ramadhan Imamku (Menggapai Cinta Allah)
Hargailah Kami


__ADS_3

Happy reading❤️


"Maksud dan tujuanku kesini adalah meminta izin darimu, agar Naura sementara bisa selalu bersama dengan Khansa." Hilal tanpa basa basi langsung tebas ke inti pembicaraannya.


Deg!


Tatapan mematikan? Itu yang terlihat dari mata elang Ramadhan, sementara ekor mata semua orang yang berada disitu memandang Ramadhan dengan isi otak yang menduga-duga.


"Istriku Khansa sudah pernah menjelaskan hal ini kepadaku sebelumnya, aku akan menjawab ya- tapi kamu harus menyetujui persyaratan dariku juga." Ramadhan menatap tajam Hilal.


"Baiklah, berapapun dan apapun yang kau minta. Akan aku setujui, asal Naura bisa mendapatkan kebahagiaan sampai keadaannya membaik. Aku tidak akan pernah menyerah untuk kesembuhan Naura," Ucap Hilal mantap.


"Entahlah Hilal, ini bukan soal berapa dan apa yang akan kamu bayar. Aku paham jika kamu memiliki segalanya, tapi kita semua tidak akan pernah hidup selamanya didunia ini. Dan pasti kita semua juga takkan pernah siap untuk berpisah dengan orang yang kita kasihi. Aku mengizinkan Khansa bersama Naura hanya dari jam 16.00 sampai 19.00 selebihnya Naura harus kamu jemput dari sini. Dan satu lagi, yang berhak mengantar atau menjemput Naura adalah supir kamu, baby sitter Naura akan selalu bersama Naura bukan? Aku tak mau jika istriku sampai kelelahan. Aku tak ingin karena hal ini istriku akan sering bertemu denganmu. Jaga kepercayaan ku selama hal ini berlangsung, jika tidak. Akan ku pastikan Naura tidak akan pernah bisa bertemu istriku lagi."


"Baiklah, jika seperti ini. Aku bisa ke Singapure dengan tenang. Tenang saja tuan Ramadhan, aku akan mengirim satu baby sitter, satu ART dan satu supir untuk stay disini selama Naura disini. Dan aku akan menjadi donatur tetap untuk para santri yang mondok di pondok pesantren ini."


"Jika sudah tidak ada kepentingan lagi, saya harap kalian semua bisa yang merasa laki-laki bisa pergi bersama dari sini. Karena saya juga masih ada tugas yang harus saya selesaikan diluar."


Ramadhan melirik ponselnya yang bertengger di layar utamanya, notifikasi email dari Billar.


Sadari diri jika mereka sudah diusir halus oleh sang pemilik rumah, Hilal dan Hafiz pamit undur diri dari sana. Begitu juga dengan Ramadhan dan Boby yang juga bersiap untuk pergi.


Cup!


Ramadhan mencium kening istrinya, "Beristirahatlah setelah ini, mulai besok asisten koki Renata akan mengajarimu belajar memasak. Semoga kamu betah ya, aku pergi sebentar. Ada tugas mendesak dari Billar, jangan sampai terlalu dekat dengan Hilal. Cukup dengan Naura saja, aku takut setan yang akan menjadi pihak ketiga jika kalian sering bertatap muka."


"Aku mengerti sayang, jika sayang tak Ridha. Kita bisa menolak keinginannya tentang Naura." Khansa cemas, dan merasa sudah terlalu lembek bersikap kepada Hilal.


"Naura tak bersalah sayang, ingat kata "fastabiqul Khairot"? Jadikanlah ini sebagai dasar kita membantu yang membutuhkan sebagai ajang kita berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan." Kali ini Ramadhan mencakup kedua pipi istrinya, lalu mencium puncak kepala istri yang begitu ia sayang itu.


"Assalamualaikum,"


"Wa'alaikumsalam,"


Adegan itu begitu sederhana, adegan yang sangat wajar dari seorang suami kepada istrinya. Tetapi adegan sederhana ini berhasil menusuk relung hati Hilal yang paling dalam, terlihat guratan kekecewaan dari wajahnya. Apa daya ia hanya ibarat sebuah nampan nelayan yang dihantam ombak setinggi lima meter. Porak poranda tak lagi berbentuk.


Rindu tak bisa diatur Khansa...


Kamu dan aku berada dalam keadaan yang begitu menyakitkan...


Batin Hilal terasa teriris perih.


#*Umat Islam dituntut untuk senantiasa berkompetisi dalam hal kebaikan. Oleh sebab itu dalam berbagai ceramah kita sering mendengar anjuran untuk berkompetisi dalam kebaikan. Kalimat anjuran tersebut adalah “Fastabiqul Khairat” yang artinya kurang lebih berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.


Lalu kenapa umat islam harus berlomba-lomba dalam kebaikan? Setidaknya ada beberapa alasan yang mendasari anjuran berkompetisi dalam kebaikan tersebut, yakni sebagai berikut:


✓ Berkompetisi dalam hal kebaikan adalah perintah Allah SWT yang disebutkan langsung dalam ayat suci Al-Quran tepatnya pada Surah Al-Baqrah ayat 148. Mematuhi perintah Allah adalah sebuah kewajiban bagi umat Islam.


✓ Berkompetisi dalam kebaikan penting sebab kebaikan tidak bisa ditunda-tunda dan seharusnya disegerakan karena ajal manusia tak bisa ditebak, bisa datang kapan saja.


✓Anjuran berkompetisi dalam kebaikan adalah motivasi bagi umat islam untuk saling tolong menolong dan saling bahu membahu dalam berbuat kebaikan.


✓ Berkompetisi dalam kebaikan dan ketakwaan diperintahkan juga di dalam Surah Al-Maidah ayat 2.


Selain berkompetisi dalam kebaikan, Allah juga memerintahkan Umat Islam untuk bekerja keras. Alasan mengapa Allah Subahanahu Wa Ta’ala memerintahkan umat Islam untuk selalu bekerja keras,sebagai berikut:


✓ Kerja keras adalah usaha manusia dalam menjemput rezeki dari Allah.


✓ Kerja keras adalah bagian dari usaha manusia dalam mengubah nasibnya seperti yang Allah tegaskan dalam surah Ar-Ra’d ayat 11.


✓ Umur seorang muslim harus diisi dengan kerja keras agar bisa bersaing dengan manusia lainnya, tentu masih dalam konteks kebaikan.

__ADS_1


✓Seorang muslim ditakdirkan sebagai khalifah di muka bumi, takdir Allah tersebut harus dijalankan dengan cara senantiasa bekerja keras dan produktif beramal dalam kebaikan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


POV Khansa


Aku tak mau lagi menjadi obat, untuk orang yang tak mungkin sembuh.


Gerbang kehidupan mantan yang sudah berlalu kini datang kembali


Membawa sebongkah buah simalakama


Jika dihadapi salah


Dihindari juga salah


Sungguh ini tidak adil, kamu yang tak mampu melupakan, aku yang merasa keresahan.


Ku mohon pergi dari kehidupan kecilku Hilal,


Aku tak siap membuka kembali robekan luka yang telah ku tutup lama.


Cukup sebuah pengkhianatan saja yang pernah tersisa. Tak ada ruang baik untuk kita, hanya bergelimang dosa untuk aku kepada suamiku.


Kesalahanku adalah karena sering bertemu Hilal disetiap kesempatan, entah apa yang membuat aku sering bertemu dengannya.


Ketika kak Ramadhan mencoba menyelesaikan masalah Hafiz dan Boby, ku lihat Hilal beberapa kali mencuri pandang ke arahku. Bahkan hingga ia tertangkap basah oleh kak Ramadhan. Ya Allah, bagaimana perasaan suamiku melihat sikap Hilal seperti ini.


Ingin sekali rasanya ku cakar-cakar wajahnya yang sok polos itu. Akh- namun lagi-lagi itu hanya sebuah angan-angan.


Aku harus memutus mata rantai yang bisa membuat aku bertemu dengannya, namun apa daya. Naura membutuhkan support dariku sekarang.


Ayo Khansa, berubah menjadi lebih baik dan jangan sampai mengecewakan suami sendiri.


Diluar dugaan ku, kak Ramadhan tanpa ada ekspresi marah kepadaku. Justru beliau malah mencium kening dan puncak kepalaku yang tertutup hijab.


*Cup!


Ramadhan mencium kening Khansa "Beristirahatlah setelah ini, mulai besok asisten koki Renata akan mengajarimu belajar memasak. Semoga kamu betah ya, aku pergi sebentar. Ada tugas mendesak dari Billar, jangan sampai terlalu dekat dengan Hilal. Cukup dengan Naura saja, aku takut setan yang akan menjadi pihak ketiga jika kalian sering bertatap muka."


"Aku mengerti sayang, jika sayang tak Ridha. Kita bisa menolak keinginannya tentang Naura." Khansa cemas, dan merasa sudah terlalu lembek bersikap kepada Hilal.


"Naura tak bersalah sayang, ingat kata "fastabiqul Khairot"? Jadikanlah ini sebagai dasar kita membantu yang membutuhkan sebagai ajang kita berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan." Kali ini Ramadhan mencakup kedua pipi istrinya, lalu mencium puncak kepala istri yang begitu ia sayang itu*.


Kata-katanya begitu manis, dan lembut. Akh- aku baru mengingatnya, karena aku berbicara manis dan lembut. Aku jadi teringat kue brownis berselimut Nutella kesukaan kak Ramadhan. Aku langsung meraih ponselku dan memesan kue itu via aplikasi online yang ku punya.


POV Khansa selesai.


****


"Pesan apa beb?" Tanpa terasa Naura sudah menggelayut di gendongan Fitria. Mereka kini telah berjalan santai menuju taman Anggrek yang Khansa tanam bersama Aisyah.


"Pesan kue brownis berselimut Nutella, hehehe. Loh, tante kira Naura udah pulang bareng Papa tadi."


Naura menggeleng, "Naura maunya sama mama Khansa, nanti jam 7 Naura janji akan pulang sama om Hamid."


Pandangan Khansa mengedar, dan benar saja. Baby sitter Naura tengah berdiri diujung sana.


"Yuta sekarang dimana ya Khansa?" Pertanyaan yang tak tahu jawabannya itu dilontarkan Fitria begitu saja.


"Kamu sendiri lebih tahukan Fit, kalau aku tidak punya jawabannya." Khansa melirik Naura yang sekarang tengah menciumi bunga anggrek berwarna merah. "Naura sayang, coba kesini sebentar." Dengan lembut Khansa memanggil putri sahabatnya itu.

__ADS_1


"Ya ma," Naura menghampiri Khansa lalu mencium pipinya dengan lembut. "Naura tahu ga, mama Yuta sekarang ada dimana?"


"Tahu ma, tapi kata papa ga boleh kasih tahu siapa-siapa. Yang papa bilang, mama Naura cuma mama Khansa bukan mama Yuta."


Benar saja, pantas jika Naura bersikeras Khansa adalah Mamanya, karena memang bocah ini sudah didoktrin demikian oleh Hilal.


"Mama Khansa, boleh Naura menyiram tanaman-tanaman ini? Kata papa, kita harus baik kepada semua makhluk ciptaan Allah. Bunga ini juga masuk ke daftar makhluk ciptaan Allah,"


"Tentu boleh sayang, pakai ember kecil ini saja yah. Naura kan masih kecil, jadi ember yang dipakai juga yang kecil."


"Oke Mama, bismillahirrahmanirrahim. Semoga kalian semua bisa terus hidup dan tumbuh subur mempunya warna bunga yang cantik-cantik seperti Naura yah."


Khansa dan Fitria tersenyum simpul, bagaimana bisa gadis kecil seperti Naura sudah mempunyai rasa asih yang begitu besar.


"Khansa!"


"Ga perlu teriak Fit, aku denger kok."


"Kesini bentar, duduk sini."


"Apaan si, serius bener kayanya." Khansa memutar kedua bola matanya, ia paham tingkah sahabatnya ini. Jika sudah seperti ini pasti ada maunya.


"Jujur Khansa, hatimu ini apa masih terasa sakit atau lain hal jika kamu melihat wajah Hilal?" Jiwa kepo Fitria meronta-ronta.


"Kamu melontarkan pertanyaan yang kamu sendiri sudah tahu jawabannya Fit, aku memang belum pernah cerita ke kamu Fit. Sebenarnya kak Ramadhan itu, adalah pria yang pernah bertemu denganku di taman kota 10 tahun yang lalu."


"Astaghfirullah, jadi-?" Fitria terkejut mendengar penuturan Khansa.


"Iya, kak Ramadhan adalah pria yang pernah menyita perhatian pikiran dan hatiku waktu itu Fit. Kalau kamu bertanya apa aku marah kepadanya perihal ia meninggalkanku disaat aku terkena luka tusuk? Aku bisa mengerti keadaanya juga Fit. Jika ia tetap bersamaku waktu itu, pasti ia sudah berada diakhirat kala itu juga."


"Khansa! Khansa! Khansa!" Bude tergopoh-gopoh.


"Astaghfirullah, ada apa Bude? Pelan-pelan saja Bude." Khansa memegang lengan Budenya yang terlihat agak sempoyongan karena berlari-lari itu.


"I-itu, ada ART 2 orang datang kiriman dari Hilal. Kenapa ga dari dulu begitu Khansa, suamimu Ramadhan itu keterlaluan. Tidak peka seperti Hilal, rumah kalian itu memang harus butuh Art yang bantu bersih-bersih. Kalau ngandelin Bude sama si mbok, sedangkan rumah kalian sebesar itu."


"Bude, maaf sebelumnya. Hanya tinggal Bude dan Pakde sisa keluargaku. Tolong hargai kami Bude, Khansa baru membicarakan hal itu dengan kak Ramadhan semalam. Bukan masalah kak Ramadhan tidak bisa membayar seorang Art Bude, tapi karena memang kami belum pernah membahasnya. Dimana para Art itu Bude?" Kini wajah serius Khansa membuat Bude tergagap.


"Di-di dapur Khansa." Ucap Bude terbata.


Seolah tak memperdulikan Naura yang masih sibuk menyiram tanaman Khansa menuju dapur dimana Art-Art kiriman dari Hilal itu berada.


"Assalamualaikum mba,"


"Wa'alaikumsalam, tolong mba berdua balik lagi ke tempat tuan kalian yang bernama Hilal itu ya. Katakan padanya, saya akan mencari Art sendiri."


"Ta-tapi Khansa!" Suara Bude sedikit lantang.


"Khansa sedang tidak ingin berdebat Bude."


Dengan wajah banyak memendam arti itu Khansa kembali ke taman belakang dimana Naura sedang menyiram tanaman tadi.


***


"Sejauh mana bom yang saya minta? Apa kalian sudah mulai meraciknya?"


"Kami sudah mulai merakitnya bos, tenang saja 4hari kedepan bom sesuai permintaan bos pasti sudah selesai kami rakit."


"Bagus!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2